Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Anak Haram


__ADS_3

Dengan langkah panjang Agus berjalan menuju mini market tempat Azkia bekerja. Hari ini dia benar-benar kesal. Uang yang diambilnya dari Azkia sudah habis dipakai untuk berjudi, dia berkali-kali kalah dalam permainan itu. Agus bahkan meminjam uang pada sang bandar agar bisa terus bermain. Tapi dewi fortuna seakan menjauh darinya. Hanya kekalahan beruntun yang diterimanya.


Sialnya dia juga mendapat kabar kalau Fandy saat ini sedang terkapar di rumah sakit. Sebentar lagi pemuda itu juga akan masuk ke penjara karena kasus prostitusi dan pinjaman ilegal yang dijalankannya. Padahal Fandy adalah ATM berjalannya. Dia bisa meminjam uang pada pemuda itu dengan jaminan Azkia. Kemarin dia juga memberitahukan di mana Azkia bekerja demi memperoleh uang dari Fandy.


Sambutan selamat datang yang diucapkan Azkia untuk pelanggan yang memasuki toko terhenti ketika melihat Agus yang datang. Wajah Agus penuh dengan ekspresi kemarahan. Dia mendekati Azkia lalu menarik tangan gadis itu secara paksa keluar dari meja kasir.


“Pak.. lepas pak..”


“Ikut aku!!”


Agus terus menyeret Azkia keluar dari toko. Gia yang sedang membereskan barang-barang di rak berusaha membantu. Namun bentakan Agus membuat nyalinya ciut. Dia segera berlari ke dalam untuk memanggil teman-temannya.


Azkia terseok-seok mengikuti langkah panjang Agus. Pria paruh baya itu membawa Azkia melewati deretan ruko lalu berbelok menuju bagian belakang ruko yang kosong. Suasana di sana tampak sepi. Agus menghempaskan tangan Azkia seraya mendorong tubuhnya hingga jatuh tersungkur.


“Dasar anak tidak tahu diuntung!! Bukannya membantu malah membuatku susah!!”


“Salahku apa pak?”


“Uang!! Aku mau uang!! Berikan aku uang sekarang!!”


“Aku ngga punya uang lagi pak. Semuanya sudah bapak ambil.”


“Minta pada pacarmu cepat!!!”


Azkia menggeleng membuat Agus bertambah murka. Dia maju ke arah Azkia hendak menamparnya. Refleks Azkia mengangkat kedua tangannya untuk membentengi diri. Agus berteriak kesal. Berulang kali dia mengusap wajahnya dengan kasar.


“Aku butuh uang sekarang!!!”


“Kenapa bapak selalu meminta uang padaku? Harusnya bapak yang menafkahi kami!”


Ucapan Azkia sukses memicu kembali amarah Agus. Pria itu berjongkok di depan Azkia. Dicengkeramnya rahang gadis itu.


“Dengar anak sialan, berapa banyak pun uang kamu berikan padaku tidak akan cukup untuk membayar pengorbanan dan penderitaanku. Bahkan sampai mati pun apa yang kamu berikan tidak akan pernah cukup!!”


“Apa maksud bapak?”


“Jangan panggil aku bapak!!! Aku bukan bapakmu!!! Kamu hanyalah anak haram yang hadir sebelum pernikahanku dengan ibumu!!”


Azkia seperti tersambar petir mendengar itu semua. Kepalanya menggeleng-geleng, mencoba mengingkari semua yang didengarnya. Ditatapnya netra Agus, tak ada kebohongan di sana, yang ada hanyalah tatapan penuh kebencian.


“Hidupku hancur karena kehadiranmu. Seseorang sudah mendahuluiku meniduri ibumu!!! Sialnya kamu hadir dalam rahimnya. Dan aku... aku yang menutupi aib ibumu itu!! Kepada semua orang aku mengatakan kalau bayi dalam kandungan itu adalah anakku. Itu semua kulakukan demi ibumu!! Karena aku mencintainya!! Tapi kamu... aku membencimu, sangat membencimu... sampai mati pun aku tetap membencimu, dasar anak sialan!!! Carikan uang untukku secepatnya atau ibumu yang akan menerima akibatnya.”


Agus melepaskan cengkeramannya lalu pergi meninggalkan Azkia. Nyawa Azkia seakan terlepas dari raganya setelah mendengar pengakuan Agus. Terjawab sudah mengapa Agus kerap berlaku kejam padanya sejak masih kecil. Azkia bangkit, dengan langkah terseok dia meninggalkan tempat itu.


Pikiran Azkia benar-benar kacau. Hatinya seperti baru saja ditusuk oleh sembilu tajam. Beberapa kali tubuhnya hampir terjatuh. Dia memutuskan menuju taman, rasanya tak sanggup kembali bekerja. Azkia memasuki taman dan memilih sudut yang sepi. Tubuhnya jatuh di atas rerumputan. Tangisnya pecah seketika, beberapa kali dia menepuk dadanya yang terasa sesak.


Elang masuk ke dalam mini market. Keningnya berkerut melihat para pegawai sedang berkerumun. Dengan segera dihampirinya Arul yang terlihat kebingungan.


“Ada apa ini?”


“Oh mas Elang. Ini mas, Kia.. Kia menghilang.”


“Maksud kamu?”

__ADS_1


“Tadi kata Gia ada bapak-bapak datang dan menyeret Azkia pergi. Saya dan yang lain sedang di belakang. Tadi kami sudah berkeliling tapi tidak menemukannya.”


“Coba lihat rekaman cctv, saya akan bantu cari.”


Elang berlari keluar mini market. Dalam hati merutuki dirinya, mengapa tak meminta Doni terus mengawasi dan menjaga Azkia. Disusurinya jajaran ruko, dia yakin Agus tidak akan membawa gadis itu jauh. Semua tempat-tempat di sekitar situ dijelajahinya namun sosok Azkia tidak ditemukan. Elang kemudian menuju taman. Dia berlari memasuki taman seraya memanggil nama Azkia.


Langkah Elang terhenti ketika telinganya menangkap suara isak tangis perempuan. Dia mengikuti arah datangnya suara. Di sudut taman yang sepi terlihat Azkia sedang menangis tersedu. Untuk sesaat dia terpaku, ini kali pertama melihat gadis itu menangis. Elang berbalik pergi meninggalkan Azkia. Tak lama dia kembali dengan sebotol air mineral dan tisu di tangannya.


Elang mendekati Azkia lalu mendudukkan diri di sampingnya. Tangannya menyodorkan tisu. Azkia menoleh ke arahnya. Hati Elang berdenyut nyeri melihat wajah Azkia yang biasa tersenyum kini nampak sembab dengan airmata membasahi pipinya. Azkia mengambil tisu dari Elang lalu menghapus airmatanya. Elang membuka tutup botol, menyodorkan air mineral tersebut pada Azkia.


“Kamu kenapa?”


“Aku ngga apa-apa mas,” suaranya terdengar serak.


“Ngga apa-apa gimana? Ngga mungkin kamu nangis kalau tidak terjadi sesuatu. Apa bapak menyiksamu?”


Elang meneliti wajah dan tangan Azkia namun tak menemukan luka atau pun memar di sana. Azkia menundukkan kepalanya, rasanya malu sekali Elang melihatnya dalam keadaan seperti ini.


“Az...”


“Aku ngga apa-apa mas.”


“Apa kamu tidak mempercayaiku Az?”


“Maaf mas, bukan aku tidak mempercayaimu tapi aku malu karena selalu menyusahkanmu.”


“Ceritakan Az, ada apa?”


“Baik... sepertinya kamu memang tidak membutuhkanku. Ternyata aku tidak cukup dipercaya olehmu.”


Elang berdiri, hatinya kecewa karena Azkia memilih untuk memendam semuanya sendiri. Saat kakinya akan melangkah pergi, tangan Azkia mencengkeram ujung kaosnya. Elang menoleh, kepala Azkia terdongak ke arahnya dengan airmata yang terus mengalir di kedua pipinya. Elang kembali mendudukkan diri di samping gadis itu.


Dengan suara terbata-bata Azkia menceritakan apa yang tadi dikatakan Agus padanya. Deraian airmata mengiringi kalimat demi kalimat yang terucap dari bibirnya. Isak Azkia kembali terdengar ketika ceritanya berakhir. Dia menutup wajah dengan kedua tangannya, punggungnya nampak bergetar. Elang memandang sendu padanya. Ingin rasanya menarik gadis cantik itu dalam pelukannya.


“Az... tidak ada yang namanya anak haram di dunia ini. Semua anak yang terlahir ke dunia itu suci, begitu juga kamu. Haram hanya disematkan pada perbuatan kedua orang tuanya. Lebih baik kamu tanyakan kebenarannya pada ibu. Apapun kebenaran yang kamu dapat nanti, kamu harus menerimanya dengan ikhlas. Ingatlah, Allah memberikanmu cobaan seperti ini karena kamu mampu. Kamu harus kuat, ada banyak orang yang sayang dan peduli padamu, termasuk aku.”


“Apa salahku mas? Kenapa masalah dan kesedihan tak pernah beranjak dariku?”


“Az, berprasangka baiklah pada Allah. Percayalah akan ada pelangi sesudah hujan. Kesedihan dan penderitaan yang kamu alami sekarang akan terbayar dengan kebahagiaan suatu saat nanti. Tersenyumlah, karena kamu terlihat cantik saat tersenyum.”


Perasaan Azkia sedikit membaik mendengar nasehat pemuda itu. Elang mengajak Azkia untuk pulang, karena tak mungkin melanjutkan kerja dengan wajah bengkak. Sebelum pergi Elang mengambil tas Azkia terlebih dulu sekaligus mengabarkan pada rekan kerjanya.


🍁🍁🍁


Airmata Azkia kembali mengalir mendengar kisah pilu ibunya. Keduanya saat ini sedang berada di kamar Daniar. Azkia memang tidak ingin Hanin mengetahui tentang hal ini. Daniar awalnya terkejut ketika Azkia menanyakan perihal asal usulnya. Tapi begitu tahu Agus sudah mengatakan hal yang dia sembunyikan selama ini, wanita itu tak punya pilihan selain menceritakan kebenarannya.


Daniar adalah kembang desa di kampungnya. Banyak lelaki yang mengejarnya dan ingin mempersuntingnya, tak terkecuali Agus. Beberapa kali lelaki itu melamarnya namun belum ada keinginan Daniar untuk menerimanya. Dia masih ingin bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya yang morat-marit.


Hidupnya berjalan seperti biasa sampai malam naas itu terjadi. Sepulang kerja beberapa orang pria menculiknya dan membawanya ke sebuah hotel. Seorang pria yang tengah mabuk sedang menunggunya. Tanpa banyak bicara pria itu langsung melampiaskan nafsunya pada Daniar. Malam itu kesucian yang selama ini dijaganya terenggut begitu saja.


Pagi harinya, Daniar berhasil melarikan diri dari hotel saat pria yang menidurinya masih tertidur. Daniar tak berani menceritakan malam terkutuk itu pada siapapun. Hingga akhirnya dirinya ketahuan hamil. Di saat kebingungan Agus datang menawarkan pertolongan. Dia bersedia menikahi Daniar dan mengakui kalau anak yang dalam kandungan adalah anaknya.


Terpojok dengan keadaan, Daniar menerima tawaran Agus dengan harapan pria itu dapat bertanggung jawab dan menyayangi anaknya setulus hati. Namun harapan tinggal harapan. Saat kandungan Daniar semakin membesar, sikap Agus mulai berubah. Dia menjadi pria yang kasar dan menunjukkan kebenciannya pada anak yang dikandung Daniar. Bahkan setelah Azkia lahir, Agus sempat beberapa kali hendak membuang atau menjualnya.

__ADS_1


Agus menuntut Daniar untuk hamil anaknya. Daniar pun menyetujuinya, dua tahun berselang Hanin lahir. Wanita itu berharap sikap Agus akan berubah terhadap Azkia begitu Hanin lahir. Tapi itu tak pernah menjadi kenyataan. Semenjak terkena PHK massal, Agus bertambah kasar. Kerjanya hanya minum minuman keras dan berjudi. Dia juga sering menyiksa Azkia. Sampai kini kebenciannya pada gadis itu tak pernah luntur sedikitpun.


“Maafkan ibu nak. Seandainya saja waktu itu ibu lebih berani, mungkin ibu tidak akan menikahi bapakmu. Lebih baik ibu menjadi orang tua tunggal kalau tahu kenyataannya akan seperti ini.”


“Jangan berkata seperti itu bu. Kalau Hanin mendengarnya dia pasti akan sedih. Aku ikhlas menerima semua perlakuan bapak. Tapi apa ibu tahu siapa ayahku?”


“Ibu ngga tahu nak. Ibu tidak mengenalnya. Sejak hari itu ibu tidak pernah melihatnya lagi. Maafkan ibu.”


“Ibu tidak perlu minta maaf. Terima kasih sudah mau mempertahankanku di tengah beratnya hidup ibu saat itu. Aku menyanyangi ibu. Bagiku ibu adalah yang terpenting.”


Daniar menarik Azkia dalam pelukannya. Airmatanya terus mengalir membasahi pipinya. Kekecewaannya pada Agus, kisah masa lalunya yang kelam membuat dada wanita ini terasa sesak. Kesedihannya bertambah dalam saat Azkia menanyakan siapa ayah kandungnya.


Maafkan ibu nak, ibu tidak bisa mengatakan siapa ayahmu. Keluarganya belum tentu mau menerima dirimu. Lebih baik kamu tidak perlu tahu lelaki pecundang itu. Cukup bapakmu saja yang menyiksamu. Ibu tidak mau ada orang lain yang menyiksamu lagi.


Lelah menangis, Azkia tertidur di pangkuan Daniar. Diusapnya puncak kepala anak gadisnya itu. Hanya doa yang mampu dia panjatkan. Daniar percaya Tuhan akan menjawab doa-doanya dan memberikan kebahagian pada putrinya suatu saat nanti.


🍁🍁🍁


Di sebuah gedung pencakar langit, tepatnya di lantai teratas, nampak seorang pria patuh baya menatap deretan lampu kota melalui kaca jendela. Sebatang rokok terselip di tangannya, sesekali dihisapnya batang bernikotin itu.


Seorang lelaki usia pertengahan masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu sebelumnya. Yonas, nama lelaki itu. Lelaki berwajah oriental itu mendekati pria yang masih asik dengan lamunannya.


“Malam pak.”


“Ada perkembangan?”


“Sampai saat ini saya belum menemukan ibu Daniar. Tapi saya sudah berhasil menemukan suami ibu Daniar. Namanya Agus Sulaiman, dia baru saja keluar dari lembaga pemasyarakatan atas kasus penipuan.”


“Apa dia tidak tinggal bersama Daniar?”


“Tidak pak. Sehari-harinya dia menghabiskan waktu di club malam murahan untuk berjudi dan menyewa wanita pekerja malam.”


“Dekati dia, cari tahu soal Daniar darinya.”


“Baik pak.”


“Dia itu penjudi. Tawarkan sejumlah uang padanya, pasti dia akan membuka mulutnya. Berapa pun yang diminta berikan saja, asalkan dia memberi info soal Daniar.”


“Baik pak.”


Yonas menundukkan kepalanya kemudian keluar dari ruangan tersebut. Pria itu masih terdiam di tempatnya, mengingat sosok wanita yang telah mencuri hatinya bertahun-tahun lalu. Gadis yang bekerja di salah satu hotelnya.


Dua puluh satu tahun silam dia bertemu dengan Daniar. Wanita cantik yang berhasil membuat jantungnya berdegup kencang. Dirinya begitu tergila-gila pada gadis lugu itu dan membuatnya ingin memilikinya. Walaupun saat itu dia telah beristri dan memiliki seorang anak.


Malam di mana dirinya tak dapat menahan hasratnya lagi, dia memerintahkan anak buahnya untuk menculik Daniar. Berkali-kali dia menuntaskan hasratnya. Namun keesokan harinya dia kehilangan gadis itu. Kesibukannya bekerja dan pengawasan ketat dari sang istri membuatnya tak bisa mencari keberadaan gadis itu.


Tapi kini, dia ingin sekali menemuinya. Hatinya bertanya-tanya bagaimana keadaannya setelah bertahun-tahun berlalu. Penyesalan selalu menderanya mengingat kejadian malam itu. Pria itu berjanji pada dirinya sendiri akan menebus semua kesalahannya. Memohon maaf pada wanita itu, kalau perlu bersujud di kakinya. Dia ingin memberikan kehidupan yang layak padanya.


🍁🍁🍁


**Kira² siapa ya ayah kandungnya Azkia?


Terima kasih buat semua yang masih betah mengikuti kisah cinta mas El dan neng Az. Kalau kalian suka jangan pelit buat ninggalin jejaknya. Like, comment n vote nya please**.

__ADS_1


__ADS_2