Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
BONCHAP : FAREL & ARA Laler Pengganggu


__ADS_3

Kesibukan di pagi hari terlihat di kediaman Farel. Ara nampak sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Seragam sekolah terbalut celemek panjang untuk menghindari cipratan minyak. Kemampuan memasak Ara sudah menunjukkan kemajuan. Selain Farel yang telaten mengajarinya, dia juga selalu berguru pada Poppy.


Setiap akhir pekan Farel memang mengajak Ara menginap di kediaman Irzal. Selain untuk memberikan Ara kesempatan belajar masak. Berada di kediaman ayah angkatnya itu di hari libur bisa membantunya mengalihkan perhatian dari istri kecilnya yang terkadang tak pernah letih menguji libidonya.


Kehidupan rumah tangga pasangan ini memang sudah berjalan harmonis tiga bulan belakangan. Selain sudah tidur satu ranjang, mereka juga sudah tak sungkan melakukan kontak fisik. Pelukan atau ciuman sudah biasa mereka lakukan. Terkadang Ara memancing hasrat Farel untuk melakukan lebih jauh lagi. Namun sebisa mungkin Farel memegang janjinya pada sang mertua untuk tidak membuat Ara hamil sebelum lulus sekolah. Alhasil dia sering berakhir di kamar mandi untuk bersolo karir.


Ara meletakkan dua piring nasi goreng di atas meja. Kali ini dia yakin seribu persen kalau masakannya layak untuk dimakan. Tadi gadis itu sudah mencicipinya sedikit. Ara mengambil dua buah gelas lalu mengisinya dengan air putih hangat. Segelas susu dan teh madu lemon juga sudah tersedia di meja.


Baru saja Ara akan memanggil sang suami, ketika sebuah lengan kekar memeluknya dari belakang. Dari wangi tubuhnya sudah bisa dipastikan kalau suami tersayang yang tengah memeluknya. Ara membalikkan tubuhnya menghadap Farel.


“Pakein dasi dong by,” baby atau by adalah panggilan Farel untuk Ara sekarang.


Ara mengambil dasi dari tangan Farel lalu mengalungkannya ke leher sang suami. Karena perbedaan tinggi mereka yang cukup jauh, Ara sampai harus berjinjit.


“Abang tinggi banget sih, aku susah pakein dasinya.”


Farel mengangkat tubuh Ara lalu mendudukkannya di meja dapur. Dengan cekatan Ara menyimpul dasi di leher suaminya. Farel memeluk pinggang Ara erat dengan mata yang lepas memandang wajah cantik istrinya.


“Selesai... gantengnya suamiku,” Ara menepuk pelan dada Farel.


Saat Ara akan turun dari meja, Farel menahannya. Sebuah ciuman mendarat di bibir Ara. Dengan senang hati gadis itu membalas ciuman suaminya. Lidah Farel menerobos masuk ke rongga mulut Ara. Keduanya semakin terbawa dalam ciuman yang dikenal dengan sebutan French kiss.


Farel menghentikan ciumannya ketika merasakan pasokan oksigen mereka semakin menipis. Dia lalu menggendong Ara ke meja makan. Farel duduk di kursi dengan Ara berada di pangkuannya. Mereka mulai sarapan dengan saling menyuapi.


“Hari ini ujian terakhir kamu by?”


“Iya . Abang besok jadi kan ke Jakarta? Ketemu sama om Teddy.”


“Ngga tau by.”


“Ayo dong bang. Anggap aja menyambung tali silaturahmi yang putus. Om Teddy kan kakaknya mama Erika. Dia harus tahu kalau adiknya punya anak.”


“Abang ngga yakin aja bakal diterima baik sama mereka. Ayah sudah tahu soal mereka sejak lama. Pasti ada alasannya kenapa ayah baru sekarang kasih tahu abang soal mereka.”


“Ngga usah nebak-nebak bang. Pastiin aja langsung, datangi mereka, lihat dan dengar sendiri bagaimana reaksi mereka. Aku bakal nememin abang. Apapun reaksi mereka, aku akan selalu di samping abang.”


Farel meletakkan sendok di piring yang masih tersisa nasi goreng di dalamnya. Membicarakan tentang keluarga kandungnya selalu membuatnya kehilangan ***** makan. Ingatan tentang orang yang dulu mengasuhnya menelantarkan dirinya di jalanan serta sikap Valen yang berusaha mengambil keuntungan darinya membuat Farel sedikit pesimis akan semua hal yang berkaitan dirinya di masa lalu.


Ara sungguh menyesal membahas masalah keluarga sang suami sepagi ini, membuat mood Farel anjlok. Ara memegang rahang Farel lalu mendaratkan kecupan di bibirnya. Satu kali, dua kali, tiga kali sampai akhirnya Farel membalasnya dengan mengulum bibir sang istri.


“Abang udah sarapannya?” Farel hanya mengangguk.

__ADS_1


“Berangkat yuk.”


Ara baru saja akan bangun, namun Farel menahannya. Tangan Farel melingkar erat di perut Ara.


“Itu ATM sama kartu kredit yang abang kasih kenapa masih di lemari?”


“Aku belum butuh sekarang bang. Aku lebih senang dikasih jatah harian sama abang. Nanti kalau aku udah bisa jadi istri yang layak buat abang, baru aku akan terima kartu itu. Sekalian abang nanti ajarin aku kelola keuangan.”


Farel memandangi Ara dengan tatapan penuh cinta. Istrinya telah banyak berubah. Sedikit demi sedikit sifat kekanakannya mulai berkurang. Dimas yang kerap menerima laporan perkembangan sang anak dari menantunya juga merasa senang.


“Bang.. sampai kapan kita kaya gini? Nanti aku terlambat.”


“Ayo.”


Ara turun dari pangkuan Farel kemudian mengambil tas sekolahnya. Setelah mengunci pintu, dia masuk ke dalam mobil. Kendaraan roda empat milik sang suami segera meluncur meninggalkan kediaman mereka.


Sudah lima menit lamanya mereka sampai di depan gerbang sekolah, namun Ara masih saja terpaku di tempatnya. Belum ada keinginan dari gadis itu untuk turun.


“By.. kenapa ngga turun?”


“Bentar lagi bang. Nunggu lalernya pergi dulu.”


“Laler?”


“Ya kan abang ngga turun, jadi ngga akan dikerubutin sama mereka.”


“Tetep aja bang, nih kuping panas ditanyain mulu sama mereka. Ara.. bang Farelnya mana? Kok ngga turun? Bang Farel udah punya pacar belum sih? Ya ampun Ra, bang Farel ganteng banget. Ish.. sumpah ya pengen aku sumpel mulut mereka pake sumbu kompor.”


Farel tergelak mendengar celotehan sang istri. Diusapnya puncak kepala sang istri dengan gemas. Mata Ara terus mengawasi teman-temannya. Ketika gerombolan yang disebut laler olehnya mulai beranjak, barulah Ara bersiap turun. Ara mencium punggung tangan Farel yang dibalas dengan ciuman di bibirnya. Setelah itu Ara turun, namun gadis itu tak menyadari kartu ujiannya terjatuh di dekat jok.


Ara berjalan pelan di belakang teman-temannya. Sebisa mungkin mereka tidak mengetahui keberadaannya. Namun Ara terjengit ketika mendengar suara Farel memanggilnya.


“By.. baby..”


Ara menoleh dan gerombolan teman-temannya juga ikut menoleh. Langsung saja kehebohan terjadi. Ara buru-buru menghampiri Farel yang hanya berjarak beberapa meter darinya.


“Abang ngapain turun sih?”


“Ini kartu ujian kamu jatuh. Nanti kamu ngga bisa ujian gimana?”


“Hehehe.. makasih ya bang. Udah sana masuk ke mobil, bahaya lama-lama di sini. Abang ngga lihat apa tuh laler udah mulai berdengung.”

__ADS_1


Farel melihat ke arah teman-teman Ara yang terpaku di tempat mereka sambil memandang ke arahnya. Ada yang tersenyum, ada yang memandang tanpa berkedip, ada yang memanggilnya dengan sebutan calon imam, pacar dunia akherat bahkan ada yang mengajak kencan. Ara memutar bola matanya jengah mendengar celotehan teman-temannya.


“Abang ke kantor dulu ya. Jangan lupa berdoa sebelum ngerjain soal.”


“Iya bang.”


“Nanti mau abang jemput?”


“Ngga usah, Ara naik ojeg aja ke kantor.”


“Ya udah. Abang pergi ya, assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Sebelum pergi, Farel menarik pinggang Ara kemudian mendaratkan ciuman di kening istrinya cukup lama. Sontak saja terdengar keriuhan di belakang Ara. Farel tersenyum ke arah Ara yang wajahnya sudah memerah seperti tomat. Sebelum pergi dia sempatkan mengusap bibir sang istri dengan ibu jarinya.


Ara segera berbalik begitu mobil Farel meluncur pergi. Dia langsung disambut berondongan pertanyaan dari teman-temannya. Awalnya gadis itu membiarkan saja. Namun teman-temannya itu terus bertanya seperti lebah yang berdengung. Setelah meletakkan tasnya di meja, Ara menunjukkan cincin pernikahan di jarinya.


“Gue sama bang Farel udah tunangan, puas lo? Jadi jangan ada yang berani curi-curi pandang lagi sama dia apalagi ngerayu. Kalau ngga... nih!”


Ara mengepalkan tangannya ke hadapan teman-temannya. Bukannya berhenti, dengungan teman-temannya terus saja berlanjut. Ada saja pertanyaan yang keluar dari mulut mereka.


“Kok bisa sih Ra?”


“Bang Farel bukannya sepupu lo?”


“Emang boleh nikah sama sepupu?”


“Please Ra batalin pertunangan lo sama bang Farel. Dia itu soulmate gue.”


“Bang Farel terlalu ganteng buat lo Ra.”


Ara yang sudah kesal mendengar celotehan teman-temannya, menatap wajah mereka satu per satu. Sambil berkacak pinggang dia berkata dengan lantang.


“BODO AMAT!!!”


🍁🍁🍁


**Astaga bang Farel tuh cowok ganteng apa keresek sampah, kok dikerubungi laler sih🤣


Yang pengen tau bang Farel buka segel sabar ya... Aranya masih ujian😎

__ADS_1


Mending sekarang goyangin jempolnya buat like, komen and vote. Ok readersku tercintah😍**


__ADS_2