Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Beautiful In White


__ADS_3

Sarah dan Rain berkeliling ballroom untuk pemeriksaan terakhir sebelum acara resepsi dimulai. Panggung pelamin untuk pengantin sudah tertata dengan indah dengan perpaduan warna putih dan pastel. Di meja prasmanan pun sudah tertara aneka makanan untuk para tamu. Selain makanan berat, sang tuan rumah menyediakan camilan manis yang bisa dimakan langsung atau dibawa pulang. Tak lupa disediakan pula gift berupa kopi yang bisa dibawa pulang.





Kue pangantin yang terdiri atas tiga tempat juga sudah terpajang cantik di tempatnya.



Kemudian Rain berjalan menuju meja penerima tamu. Empat pasang pagar ayu dan pagar bagus sudah stand by di tempatnya. Di meja juga sudah tertata buku tamu berikut souvenir. Untuk pernikahan kali ini, sang pemilik hajat menyediakan dua buah souvenir yang bisa dipilih oleh tamu undangan.




Sarah menemui MC yang akan memandu jalannya acara. Memeriksa lagi run down acara apakah sudah sesuai atau belum. Sarah kemudian memberi instruksi pada Damar untuk bersiap-siap karena tak lama lagi pasangan pengantin beserta orang tua akan segera memasuki ruangan resepsi.


Elang yang sudah selesai berpakaian memutuskan untuk memasuki ruangan tempat Azkia bersiap. Ketika masuk ke dalam ruangan, nampak seorang penata rias masih memberikan sentuhan akhir untuk istrinya itu. Elang memilih duduk di sofa seraya memperhatikan wajah cantik sang istri yang tengah dipoles bibirnya.



Begitu melihat riasan Azkia selesai, Elang segera menghampirinya. Dirinya terpana melihat kecantikan sang istri. Elang mengeluarkan ponselnya lalu meminta sang penata rias untuk mengambil gambar dirinya dan Azkia. Beberapa kali penata rias tersebut mengabadikan pasangan pengantin ini.


“Terima kasih ya mba. Sudah selesai kan?”


“Tinggal niqabnya.”


“Biar saya yang pasangkan.”


Penata rias itu mengangguk. Dia kemudian keluar dari kamar, memberikan waktu bagi pengantin baru tersebut. Elang berdiri di depan Azkia, tangannya menggenggam erat tangan Azkia. Perlahan diarahkan kedua tangan itu ke mulutnya dan kecupan lembut mendarat di kedua punggung tangan Azkia. Dada Azkia berdebar mendapat perlakuan yang begitu manis dari Elang.


“I love you my beautiful wife.”


“I love you too.”


Elang memegang bahu Azkia lalu mendaratkan ciuman di keningnya. Azkia memejamkan matanya. Elang kembali mendaratkan ciuman di kedua mata, kedua pipi, hidung, dagu dan terakhir memberikan kecupan singkat di bibir istrinya. Hanya sebuah kecupan singkat namun memberikan efek yang luar biasa. Tubuh Azkia meremang, dadanya bergemuruh kencang. Begitu pula dengan Elang, jantungnya bertalu-talu ketika bersentuhan dengan sang istri.


Azkia membuka matanya lalu mendapati Elang sedang menatap dalam ke arahnya. Dirabanya rahang tegas sang suami. Elang menangkap tangan Azkia kemudian kembali mendaratkan ciuman di sana.


“Kamu cantik banget Az. Aku hanya ingin menikmati kecantikanmu malam ini seorang diri. Aku bisa gila membayangkan banyaknya lelaki yang melihat wajahmu nanti. Aku ngga rela mereka melihatmu dengan penuh kekaguman. Kamu hanya milikku dan hanya aku yang boleh melihat wajah cantik ini. Karena itu, kecantikanmu harus ditutupi agar tak ada laki-laki lain yang menikmatinya selain aku.”


Elang memasangkan niqab di wajah Azkia. Merapihkannya sebentar lalu mengakhirinya dengan ciuman hangat di kening.


“Ayo sayang.”


Elang menggandeng tangan Azkia keluar dari ruangan kemudian memasuki ballroom. Di atas pelaminan kedua orang tua sudah bersiap. Irzal terkejut melihat Azkia yang mengenakan niqab. Dia melihat ke arah istrinya.



“Sayang, kenapa Kia pakai niqab?”


“Permintaan anakmu. Ampun deh si El posesifnya kebangetan. Dia ngga rela kalau tamu laki-laki lihat wajahnya Kia.”


Irzal terkekeh mendengarnya. Sepertinya anaknya itu sudah masuk dalam kategori bucin stadium akhir. Kedua mempelai sudah siap di tempatnya untuk menerima ucapan selamat dari para undangan. Mereka memang memutuskan meniadakan upacara adat demi mempercepat jalannya acara.


Pintu besar yang menjadi jalan masuk menuju ballroom terbuka. Para tamu yang sedari tadi sudah datang mulai memasuki ruangan. Mereka langsung menuju panggung untuk memberikan ucapan selamat. Para tamu cukup terkejut melihat mempelai wanita yang wajahnya tertutup niqab. Pupus sudah harapan mereka ingin melihat wajah nyonya Elang yang konon kabarnya sangat cantik.


Para karyawan Humanity juga mulai berdatangan, namun mereka juga merasakan kekecewaan karena tidak bisa melihat wajah mempelai wanita.


Di depan meja penerima tamu seorang wanita dengan rambut panjang sebahu tengah memilih souvenir yang akan diambilnya. Seorang pagar ayu yang berjaga memperhatikan penampilan wanita itu. Dia mengenakan long dress dengan belahan sampai di atas lutut. Kulitnya putih mulus, namun wajahnya terlihat biasa saja walau dipoles make up tebal. Di lehernya terlilit syal dengan warna senada dengan gaunnya. Setelah memilih souvenir, dia bergegas masuk ke dalam.


Wanita itu berjalan menaiki panggung pelaminan kemudian menyalami Adit dan Debby. Setelah itu dia menghampiri pasangan pengantin. Mata Elang terus melihat ke wajah wanita itu, sepertinya dia pernah melihatnya namun entah di mana. Wanita itu tersenyum manis ke arah Elang dan Azkia lalu memberi selamat. Sebelum beranjak dia menyempatkan diri berselfie dengan pengantin. Setelah itu menyalami Irzal dan Poppy lalu turun dari panggung.


Dia melewati para karyawan Humanity yang berkerumun. Tak ada yang menyadari kehadirannya. Wanita itu berdiri sebentar di depan stall yang menyajikan dimsum sambil matanya berkeliling mencari seseorang. Setelah mengambil sepiring dimsum dia lalu berjalan menuju Farel yang sedang berkumpul dengan para sahabatnya.


“Malam pak Farel,” sapa wanita itu.


Farel menoleh lalu melihat wanita itu dari atas sampai bawah. Bukan hanya Farel, namun semua sahabatnya melakukan hal yang sama. Virza memandang wanita itu sekilas lalu mengarahkan pandangannya ke arah lain.


“Siapa ya?”


“Bapak ngga kenal saya?”


Farel kembali memandangi wajah itu kemudian menoleh pada teman-temannya. Yang lain hanya mengangkat bahu atau menggelengkan kepalanya. Virza yang sedari tadi duduk mulai berdiri kemudian berjalan menghampiri wanita tersebut. Dengan cepat ditariknya syal yang menutupi leher wanita itu.


“Aaawww.. pak Virza jangan main kasar dong.”

__ADS_1


“Nih si endes.”


Jawab Virza dingin tanpa ekspresi lalu kembali ke tempat duduknya. Farel dan yang lainnya tercengang saat mengetahui kebenarannya. Andi hanya senyam-senyum saja sambil sesekali mengedipkan mata ke arah Gara membuat pria itu bergidik.


“Aah pak Virza ngga asik nih. Yo wiss ekkeh pergi dulu ya. Bye ganteng,” Andi berlalu sambil menoel dagu Gara.


“Anjaaaayyy gue ditoel manusia setengah salmon!” teriak Gara.


“Hahahaha... ternyata penggemar lo makhluk labil,” ledek Jayden.


“Itu karyawan elo Rel?”


“Iya, somplak juga si Andi hahaha.”


“Dih untung di Gala kaga ada makhluk jadi-jadian kaya dia,” tukas Firlan. Ucapan Firlan disambut gelak tawa yang lain.


Elang membantu Azkia duduk setelah beberapa saat berdiri untuk menerima ucapan selamat. Karena tidak terbiasa memakai high heels, Azkia merasakan pegal dan sakit di betisnya. Dia mengurut pelan kakinya. Elang berjongkok, memasukkan tangannya ke dalam gaun lalu mulai memijat betis sang istri.


“Mas, jangan.”


“Ngga apa-apa. Gimana, udah enakan?”


Azkia mengangguk, untung saja dia mengenakan niqab, jadi wajahnya yang bersemu merah tidak terlihat. Poppy dan Irzal mengulum senyum melihat kelakuan anaknya. Aktivitas pijat memijat berhenti ketika beberapa tamu yang baru datang naik ke atas pelaminan. Elang segera berdiri, demikian juga dengan Azkia.


Mata Azkia membelalak ketika melihat Deski berjalan menaiki pelaminan. Lelaki itu menyalami Adit juga Debby kemudian berjalan ke arahnya. Dia menjabat tangan Elang untuk memberikan ucapan selamat.


“Selamat ya pak Elang. Saya ngga menyangka bapak memutuskan menikah di usia muda. Tapi saya ikut senang, semoga berbahagia.”


“Terima kasih pak Deski.”


Deski kemudian beralih pada Azkia. Gadis itu hanya menangkupkan kedua tangannya ke arah Deski. Tahu tak ingin berjabat tangan, Deski juga menangkupkan kedua tangannya kemudian berlalu meninggalkannya. Azkia menghembuskan nafasnya lega ternyata Deski tak mengenalinya.


“Itu siapa mas?”


“Itu pak Deski, rekan bisnis yang baru. Kenapa?”


“Ngga apa-apa.”


Elang kembali mengajak Azkia duduk. Keduanya memperhatikan para tamu yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang menikmati makanan, berbicara atau berfoto ria. Tangan Elang menggenggam tangan Azkia. Sesekali dia mencuri cium di pipi istrinya itu.


Tepuk tangan terdengar ketika artis ibukota yang didapuk menjadi pengisi acara usai menyanyikan lagu hitsnya. Tak lama personel Soul Castle naik ke atas panggung. Mereka akan mempersembahkan lagu untuk sahabat mereka yang tengah berada di atas pelaminan. Firlan menggantikan Elang sebagai vocalis. Sebuah lagu dari Ed Sheeran mulai mengalun. Suara serak Firlan terdengar seksi saat menyanyikan lagu tersebut.


“I love you,” bisiknya di telinga Azkia seraya meninggalkan kecupan kecil di sana membuat tubuh Azkia meremang.


Para tamu wanita tak melepaskan pandangannya dari keempat cowok ganteng yang sedang bermusik itu. Sudah tiga lagu yang dimainkan oleh mereka. Firlan kembali bersiap di depan stand mic.


“Gimana masih mau nambah lagi?” tanya Farel.


“Mauuuu..” jawab orang-orang di sana.


Firlan melihat ke belakang, ketiga temannya mengangguk. Dia lalu melihat ke arah pengantin baru yang sedang asik bercengkrama.


“Rasanya ngga afdol kalau sang vocalis utama tidak ikut bernyanyi. Untuk mempelai pria silahkan bergabung ke mari dan nyanyikan lagu untuk kita semua. Jangan mesra-mesraan mulu.”


Elang menatap kesal ke arah Firlan. Gara memberi tanda pada para undangan untuk memanggil pengantin pria turun dari pelaminan sembari memainkan drumnya. Azkia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya ke arah Elang. Dia memang rindu ingin mendengar suara merdu suaminya. Elang turun dari panggung namun tangannya menarik sang istri agar ikut dengannya. Azkia menggeleng tapi seperti biasa, lelaki itu tidak menerima penolakan.


Pasangan pengantin itu turun dari pelaminan lalu menuju ke panggung tempat pengisi acara diiringi tepuk tangan para undangan. Elang berbicara sebentar dengan sahabatnya. Tak berapa lama petikan gitar Firlan terdengar. Perlahan lampu ballroom meredup dan hanya satu cahaya terang yang menyorot ke arah pengantin baru itu. Elang mengambil mic, tangannya masih menggenggam tangan Azkia. Sambil menatap istrinya, dia mulai bernyanyi.


Not sure if you know this


But when we first met


I got so nervous I couldn’t speak


In that very moment


I found the one and


My life had found its missing place


So as long as I live I love you


Will have and hold you


You look so beautiful in white


And from now ‘til my very last breath


This day I’ll cheris

__ADS_1


You look so beautiful in white... tonight


What we have is timeless


My love is endless


And with this ring I


Say to the world


You’re my every reason


You’re all that I believe in


With all my heart I mean every word


So as long as I live I love you


Will have and hold you


You look so beautiful in white


And from now ‘til my very last breath


This day I’ll cheris


You look so beautiful in white... tonight


Semua yang hadir begitu menikmati suara merdu Elang ditambah kemesraan yang ditampakkannya pada sang istri membuat lagu bertempo sedang yang tengah dinyanyikan terasa begitu romantis. Elang mengecup punggung tangan Azkia membuat yang menatapnya berteriak iri.


You look so beautiful in white, yeah yeah


Na na na na


So beautiful in white... tonight


Azkia menatap dalam mata sang suami. Senyum selalu mengembang dari balik niqabnya. Selama bernyanyi Elang tak melepaskan pandangan serta genggamannya. Tapi kemudian dia melepaskan tautan tangan mereka kemudian tangannya berpindah ke pinggang Azkia. Menarik tubuh istrinya lebih dekat dengannya.


And if a daughter is what our future holds


I hope she has your eyes


Finds love like you and I did


Yeah, and if she falls in love, we’ll let her go


I’ll walk her down the aisle


She’ll look so beautiful in white, yeah yeah


So beautiful in white


So as long as I live I love you


Will have and hold you


You look so beautiful in white


And from now ‘til my very last breath


This day I’ll cheris


You look so beautiful in white... tonight


Na na na na


So beautiful in white... tonight


Elang mengakhiri lagunya dengan kecupan di kening Azkia kemudian memeluk tubuhnya. Lampu ruangan kembali menyala. Gemuruh tepuk tangan diselingi teriakan iri terdengar ke seluruh ruangan. Elang menuntun Azkia untuk kembali ke tempat mereka.


🍁🍁🍁


**Neng Az yang dinyanyiin, mamake yang baper😍


Akad udah, resepsi juga udah berati tinggal Malam Pertamanya🙊


Awas jangan pada ngintip ya😁


Sebelum menuju malam pertama, jempolnya digoyang dulu dong buat like, comment and vote**.

__ADS_1


__ADS_2