
Akhtar menyelimuti tubuh polos istrinya setelah percintaan panas mereka. Rain merebahkan kepalanya di dada sang suami. Tangannya membelai dada bidang itu dengan gerakan naik turun. Akhtar menciumi puncak kepalanya beberapa kali.
“Sayang, nanti pulang dari sini kita ke dokter kandungan yuk.”
“Ngapain mas?”
“Kita cek kesuburan aja. Kalau seandainya ada masalah kan bisa terdeteksi sejak dini.”
“Kok tiba-tiba gini?”
“Tadi mas sempet ngobrol sama yang di saung sebelah. Mereka udah nikah sepuluh tahun tapi belum juga punya anak, ternyata ada masalah dengan rahim dan kualitas ****** mereka. Jadi buat jaga-jaga kita periksa juga ya. Mas kan juga pengen punya Akhtar junior di dalam sini,” Akhtar mengelus perut rata istrinya.
“Terserah mas aja. Aku sih ikut aja. Mau periksa di mana?”
“Di rumah sakit tempat papa kerja aja.”
“Boleh mas.”
Rain mendaratkan ciuman di bibir suaminya, memagutnya lalu menghisap bibir bawahnya. Tangannya terus membelai dada bidang itu lalu terus turun ke bawah sampai pada pusatnya. Akhtar mengerang ketika Rain sedikit merematnya.
“Kamu sekarang udah nakal ya.”
“Tapi mas suka kan?”
“Hmm.. terus sayang.”
Akhtar menarik tengkuk Rain. Mereka kembali saling *******, memagut, menyesap dan mencecap. Tangan keduanya pun tak tinggal diam. Semakin lama Rain semakin berani menyentuh tubuh suaminya. Keduanya mulai terhanyut dalam hasrat yang kembali naik. Akhtar mengangkat tubuh Rain lalu mendudukkan di atasnya. Tangannya sibuk meremat bukit kembar kesukaannya. Mengetahui apa yang diinginkan suaminya, Rain mulai menggerakkan tubuhnya.
🍁🍁🍁
Lalu lalang petugas medis dan pasien yang hendak melakukan rawat jalan memenuhi lantai dua. Tempat di mana praktek dokter spesialis berada. Rain dan Akhtar memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan. Mereka duduk bersama pasutri lain di ruang tunggu. Rain melirik beberapa wanita yang ada di sana, memandangi perut buncit mereka. Dalam hatinya berdoa agar bisa secepatnya menyusul mereka.
Setelah menunggu sekitar satu jam lamanya, giliran mereka pun tiba. Sambil bergandengan tangan mereka masuk ke dalam ruang praktek. Seorang dokter pria berusia sekitar empat puluh tahunan duduk di kursi kerjanya. Kacamata bertengger di hidung mancungnya. Konon dokter Trevor adalah dokter kandungan terbaik di rumah sakit ini. Akhtar menarik kursi untuk dirinya juga Rain.
“Dengan bapak Akhtar dan ibu Rayna?”
“Iya dok.”
“Ada perlu apa nih?”
“Kita mau cek kondisi aja dok.”
“Sudah berapa lama menikah?”
“Empat bulan dok.”
“Oh masih baru. Saya rasa belum perlu konsultasi, nikmati saja kebersamaan kalian sebagai pengantin baru,” dokter Trevor tertawa kecil.
“Ya untuk jaga-jaga aja dok.”
“Hmm.. ok. Ibu Rayna ikut saya dan pak Akhtar silahkan ikuti suster ya. Kita perlu sample ****** bapak.”
Akhtar menuruti perintah sang dokter. Dia mengikuti suster ke ruangan khusus untuk dirinya mengeluarkan ******. Sementara itu Rain menjalani pemeriksaan bersama dokter Trevor. Butuh waktu setengah jam lebih bagi Akhtar untuk mengeluarkan spermanya. Dia memberikan tabung pada sang suster lalu kembali ke tempatnya semula. Rain juga sudah selesai menjalani pemeriksaan.
“Untuk hasilnya seminggu dari sekarang ya. Kalian bisa datang minggu depan untuk mendapatkan hasilnya. Saya sarankan memperbanyak makanan yang bergizi, mengatur pola hidup, jangan merokok, jangan kecapean untuk memperoleh kualitas ****** yang bagus.”
Akhtar manggut-manggut mendengarkan penjelasan dari sang dokter. Selesai memberikan pengarahannya, pasangan muda itu pun keluar dari ruang praktek. Dalam hati keduanya sungguh berharap hasil pemeriksaan akan baik-baik saja.
__ADS_1
Keduanya berjalan menuju pintu keluar. Saat melewati kantin, mata Rain menangkap Reyhan sedang duduk bersama dua orang temannya. Dia meminta Akhtar menunggu sebentar. Dengan menahan senyum Rain menghampiri adiknya.
“Honey.”
Rain melingkarkan tangannya di leher Reyhan begitu ada di dekatnya. Kedua teman Reyhan yang duduk di depannya hanya melongo melihat pemandangan di depannya. Dengan tenang Rain duduk di sisi sang adik. Wajahnya tak henti menampilkan senyuman semanis madu. Dalam hati Reyhan merutuki kedatangan sang kakak yang dia tahu pasti akan membuatnya malu.
“Ngapain lo ke sini kak? Jangan macem-macem ya,” bisik Reyhan di telinga Rain.
“Honey kamu kemarin kemana? Aku tunggu ngga dateng-dateng,” Rain mengusap pipi Reyhan dengan punggung tangannya. Perasaan Reyhan sudah dongkol tingkat tinggi.
“Honey?” tanya salah satu teman Reyhan.
“Kalian temannya Reyhan?” kedua pemuda itu mengangguk dengan cepat.
“Aku titip my honey ya. Jangan sampai dia kecapean. Kamu harus istirahat yang cukup ya honey, aku ngga mau kamu sakit.”
Sikap Rain yang seperti itu lengkap dengan nada suara yang sedikit ditinggikan jelas saja menarik perhatian beberapa koas yang sedang berada di sana. Tampak beberapa koas wanita berbisik-bisik sambil menatap Reyhan.
“Kak, lo ngapain sih. Pergi sana,” geram Reyhan masih dengan suara pelan.
“Kamu kok gitu sih honey. Aku kan kangen,” Rain merebahkan kepalanya di pundak Reyhan, membuat pemuda itu semakin salah tingkah.
“Nanti begitu beres jangan lupa mampir ke tempatku ya. Oh iya aku udah transfer buat uang jajan kamu loh. Jaga kesehatan honey, aku sangat puas dengan goyanganmu.”
Reyhan melotot ke arah Rain, tak percaya sang kakak akan mengatakan hal tersebut. Rain mengedipkan matanya lalu mengecup pipi Reyhan kemudian melenggang pergi. Wajah Reyhan langsung memerah. Buru-buru dia menghabiskan makanannya. Pandangan beberapa rekan koasnya sungguh membuatnya jengah. Dalam hatinya terus merutuki tingkah konyol sang kakak.
Sementara itu Rain yang baru saja keluar dari kantin langsung tertawa. Puas rasanya mengerjai sang adik seperti itu. Namun sebuah sentilan mendarat di keningnya, pelakunya tak lain adalah suaminya sendiri.
“Adaw!! Sakit mas.”
“Biarin, abis aku gemes sama dia kalo di kampus atau rumah sakit sok akting ngga jelas.”
“Ngerjain ngga harus sampe nyium dia kan.”
“Ya ampun mas, dia kan adik aku.”
“Tetap aja dia itu seorang laki-laki dan mas ngga suka. Awas aja kamu, mas akan hukum kamu nanti.”
Akhtar menarik tangan Rain menuju tempat parkir. Akhtar memasangkan seat belt ke tubuh Rain yang diakhiri dengan ciuman di bibirnya. Rain menangkupkan kedua tangannya ke wajah Akhtar lalu balas mencium bibirnya.
“Kamu tambah nakal sayang.”
“Nakal sama suami sendiri dapet pahala mas.”
“Siap-siap ngga turun dari kasur malam ini.”
“Ooh takut.”
Akhtar tersenyum, diusapnya puncak kepala sang istri. Kemudian dia kembali menghadap ke depan, memasang sabuk pengaman lalu mulai menyalakan mesin mobil. Tak lama kendaraannya melaju keluar dari rumah sakit.
🍁🍁🍁
Seminggu berlalu, kini Rain dan Akhtar sudah berada lagi di ruang tunggu dokter Trevor. Mereka menunggu giliran sambil berbincang riang. Sesekali terdengar tawa kecil Rain ketika mendengar gombalan receh suaminya. Terdengar suara suster memanggil nama Rain, keduanya bangun lalu masuk ke dalam ruangan.
Terlihat dokter Trevor sedang melihat hasil pemeriksaan pasangan di depannya. Beberapa kali dia berdehem sebelum mulai menerangkan hasil yang didapat.
“Bagaimana hasilnya dok?” tanya Akhtar tak sabaran.
__ADS_1
“Berdasarkan hasil pemeriksaan, tidak ada masalah dengan ibu Rayna. Anda subur dan semuanya ok.”
Rain mengucapkan syukur seraya mengusap wajah dengan kedua tangannya. Kemudian dokter Trevor beralih pada hasil pemeriksaan Akhtar. Untuk beberapa saat dia terdiam memandangi kertas putih di tangannya. Setelah menarik nafas panjang, dia memulai penjelasannya.
“Untuk bapak Akhtar. Berdasarkan hasil uji ****** diketahui bahwa ada masalah dengan kualitas ****** bapak. Terdapat kelainan enzim pada ****** yang membuat ****** sulit mencapai sel telur dan tidak terjadi pembuahan.”
Akhtar terdiam mendengar perkataan dokter Trevor. Mencoba mencerna apa yang baru aja didengarnya. Demikian juga Rain.
“Jadi intinya gimana dok?”
“Ada kemungkinan bapak Akhtar tidak bisa membuahi ibu Rayna. Atau dengan kata lain mandul karena masalah enzim pada ******.”
Akhtar terhenyak, dia begitu terpukul mendengar kenyataan yang terjadi pada dirinya. Rain menggenggam erat tangan sang suami. Dengan langkah gontai dia keluar dari ruangan praktek. Pandangan Akhtar nampak kosong, beberapa kali dia hampir terjatuh kalau Rain tidak menahannya.
Sesampainya di tempat parkir Rain mengambil kunci mobil. Dia berinisiatif menyetir melihat kondisi Akhtar yang tidak memungkinkan. Beberapa kali Rain melirik ke arah suaminya. Lelaki itu masih bertahan dengan kebisuannya. Beberapa kali Rain mengajaknya bicara namun diabaikan begitu saja.
Sesampainya di apartemen, Akhtar langsung masuk ke dalam kamar lalu dudu di sisi ranjang dengan kepala tertunduk. Rain dengan cepat menyusulnya. Dia berjongkok di depan Akhtar. Meraih tangannya, mengecupnya beberapa kali. Akhtar mengangkat kepalanya.
“Aku mandul Rain.”
“Mas.. itu belum tentu benar.”
“Kamu dengar sendiri tadi penjelasan dokter Trevor. Aku mandul Rain, mandul! Aku ngga bisa memberikanmu anak.”
“Kita periksa ke dokter lain mas.”
“Untuk apa? Untuk memperjelas semuanya?”
“For second opinion. Ngga menutup kemungkinan kalau semua itu salah.”
“Ngga mungkin salah Rain. Yang memeriksa kita adalah dokter Trevor, salah satu dokter kandungan terbaik. Dan rumah sakit yang kita datangi adalah rumah sakit besar yang berstandar internasional.”
Akhtar bangun dari duduknya. Dia berteriak kencang melampiaskan rasa frustasinya. Dijatuhkannya beberapa barang yang ada di dekatnya. Telapak tangannya memukul-mukul dinding kamar hingga terdengar gemanya. Rain segera menghentikan aksi suaminya. Dipeluknya erat tubuh Akhtar dari belakang.
“Istighfar mas. Aku mohon jangan seperti ini. Ayo kita cari solusinya bersama. Aku mencintaimu mas.”
“Aku mandul Rain. Sebagai pria aku ngga sempurna.”
Tubuh Akhtar melorot jatuh ke bawah seiring dengan tangisnya yang pecah. Dia benar-benar rapuh mendapati kenyataan tentang dirinya. Rain memeluk Akhtar, membawanya ke dalam dekapannya.
“Aku ngga peduli bagaimana keadaanmu mas. Bagiku kamu tetap suamiku. Soal anak, ngga ada yang ngga mungkin selama Allah berkehendak. Kita sebagai manusia hanya bisa berdoa dan berusaha.”
“Aku tidak bisa memberikanmu keturunan. Papa pasti sangat kecewa padaku.”
“Kita bisa mengangkat anak mas. Aku mohon jangan seperti ini. Kamu harus kuat mas, demi dirimu, demi aku, demi kita.”
Akhtar semakin tersedu, tangannya melingkar di punggung Rain dengan erat. Dia semakin mengeratkan pelukannya seiring dengan buliran bening yang jatuh membasahi pipinya. Akhtar membenamkan wajahnya di ceruk leher Rain, punggungnya bergetar akibat tangisannya. Tak henti Rain mengusap punggung suaminya, perasaannya pun jauh dari kata baik. Namun Rain berusaha untuk tetap kuat.
🍁🍁🍁
**Ngga kerasa ya udah Sabtu lagi nih. Happy weekend for you all jangan lupa ya buat goyangin jempolnya abis baca episode ini.
Like..
Comment..
Vote**..
__ADS_1