
Akhtar terbangun ketika mendengar adzan shubuh dari ponselnya. Tangannya meraba posisi di sampingnya yang ternyata kosong. Dia bangun lalu mengenakan boksernya kemudian keluar dari kamar.
“Rain..”
“Rain... sayang..”
Tak ada jawaban, suasana di luar kamarnya juga masih gelap. Akhtar kembali ke kamarnya lalu mengambil ponselnya. Dia menghubungi Rain namun panggilannya terhubung pada kotak suara. Perasaannya mendadak tak enak, bergegas dia ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Waktu masih menunjukkan pukul enam pagi, namun Akhtar sudah berkeliling dengan mobilnya mencari keberadaan istrinya. Dimulai dari kediaman Regan, lalu ke rumah orang tuanya, bahkan dia juga mendatangi rumah Dimas dan Gara namun nihil. Tak ada mobil Rain terparkir di sana.
“Kamu di mana Rain.”
Akhtar terus berputar-putar dengan mobilnya menuju tempat yang mungkin dikunjungi oleh Rain sampai melupakan rapat penting di kantor. Dia baru sadar akan janji temu dengan klien ketika Nino menghubunginya.
Niatan Akhtar yang ingin mencari Rain setelah pertemuan dengan kliennya gagal karena Nino mengajaknya meninjau lokasi pembangunan perumahan. Seusai meninjau proyek, Nino mengajak Akhtar makan siang bersama. Dia menatap anaknya yang terlihat gelisah dan tak berselera makan.
“Kamu kenapa?”
“Rain pa, aku ngga tahu dia pergi kemana.”
“Apa lagi yang kamu lakukan? Kenapa kamu terus menyakitinya?”
“Kami memang sempat berdebat pa, tapi sudah berdamai. Malah kami bercinta setelah pertengkaran kami.”
Akhtar tanpa sadar menceritakannya pada Nino. Tapi kemudian menutup rapat mulutnya lalu membuang pandangannya ke arah lain. Nino tersenyum tipis mendengar ucapan anaknya.
“Ngga mungkin dia pergi begitu saja kalau kamu tidak melakukan kesalahan.”
“Kesalahan apa pa?”
“Mana papa tahu, kamu pikirkan saja sendiri. Papa pulang, kamu tidak usah kembali ke kantor. Cari saja Rain sampai ketemu.”
Nino menepuk pelan pundak Akhtar kemudian beranjak pergi. Otak Akhtar masih berpikir keras menerka-nerka di mana keberadaan Rain. Kampus dan kantor L’amour sudah didatangi tapi hasilnya nihil.
Akhtar keluar dari tempat makan lalu menuju mobilnya. Dia berencana mendatangi kampus dan kantor L’amour lagi. Berharap bisa menemukannya di sana. Ponsel Akhtar bergetar, dengan cepat dia mengambil ponsel dari dasboard. Namun wajahnya menunjukkan kekecewaan melihat bukan nomor Rain tetapi Chalissa yang menelpon. Dia langsung melemparkan ponselnya ke jok samping. Tak ada keinginan untuk menjawab panggilan apalagi bertemu dengan wanita itu.
Untuk kedua kalinya Akhtar menelan kekecewaan, Rain tak ada di kampus atau kantor L’amour. Dia menyandarkan punggungnya ke jok mobil. Mengusap wajahnya dengan frustasi. Akhtar mengambil ponselnya, terlihat 20 panggilan tak terjawab dari Chalissa ditambah pesan yang entah berapa banyak. Lagi-lagi Akhtar mengabaikannya. Dia mencari kontak Jayden, lalu mulai menghubunginya.
“Halo.”
“Halo Jay. Bisa minta tolong?”
“Tolong apa bang?”
“Lacak nomernya Rain dong.”
“Bentar....” terdengar suara tuts keyboard.
“Hp nya Rain mati bang. Gue ngga bisa ngelacak.”
“Ngga ada cara lain apa?”
“Ngga ada, kecuali abang naro alat pelacak di barang yang dia pake. Emang Rain kemana?”
“Kalo gue tahu gue ngga bakalan minta lo ngelacaknya pea!”
“Biasa aja dong kaga usah ngegas. Udah mendingan abang balik aja. Gue bakal usaha terus lacak si Rain.”
“Ya udah, thanks.”
Akhtar mengakhiri panggilan lalu melajukan kendaraannya kembali menuju apartemennya. Dalam hatinya terus berdoa, semoga Jayden bisa menemukan keberadaan Rain.
🍁🍁🍁
Akhtar yang sedang tiduran di sofa langsung membuka matanya ketika mendengar suara pintu apartemennya terbuka. Tak lama kemudian masuklah sosok yang begitu dirindukan dan dicarinya seharian ini. Menyusul di belakangnya pria setengah bule yang tak lain adalah Jayden.
Akhtar segera berlari menuju Rain kemudian memeluknya erat. Rain terkesiap melihat reaksi suaminya. Jayden tersenyum tipis, seharian ini Rain berada di rumahnya membicarakan strategi yang diusulkan Elang.
“Kamu kemana aja seharian ini? Aku cemas nyari kamu kemana-mana,” cecar Akhtar begitu melepas pelukannya.
“Maaf kak, aku tadi keliling nyari spot-spot bagus buat pre wed.”
“Harusnya kamu bilang. Terus hp kamu kenapa mati?”
“Batrenya habis. Maaf kak.”
“EHEM!!!”
Jayden berdehem keras menyadarkan dua insan di depannya yang menganggapnya seperti pajangan saja.
__ADS_1
“Sorry Jay, berasa obat nyamuk ya. Ayo duduk dulu,” ajak Rain.
“Haus, minta minum dong.”
Rain berjalan menuju dapur, Akhtar dan Jayden mengikutinya lalu duduk di meja makan. Tak lama Rain membawakan segelas air putih dingin untuk tamunya.
“Dih bening amat nih air. Kaga ada yang berwarna apa?”
“Ada, air kencing mau? Kuning tuh warnanya,” celetuk Akhtar. Sebenarnya dia kesal mendapati Rain pulang bersama Jayden.
“Ck.. dari tadi bawaannya ngegas mulu, PMS bang? Sini gue pinjem hp lo.”
“Buat apaan?”
“Mau gue hubungin ke hp nya Rain. Jadi kalo bini lo ngilang lagi kaga ngerepotin gue.”
Akhtar dengan senang hati memberikan ponselnya pada Jayden. Pemuda itu mengeluarkan laptopnya. Akhtar memperhatikan apa yang dilakukan sahabat songongnya itu. Namun tetap saja tidak mengerti.
“Kak, mandi dulu sana.”
“Tapi siapin baju gantinya.”
“Iya.”
“Ck.. manja. Udah tua manja pula.”
Sebuah toyoran sukses mendarat di kepala Jayden. Rain tak dapat menahan senyumnya. Sepeninggal Akhtar, Jayden bergegas menyadap ponsel Akhtar kemudian menyambungkannya ke ponsel Rain. Hanya dalam waktu sepuluh menit, pekerjaan itu selesai.
“Thank you Jay,” ucap Rain senang.
“Sekarang tinggal nyari si Jordy ya.”
“Hmm..”
“Tenang aja, gue bakal cari tuh orang. Pokoknya Rain, hempaskan tuh si pelakor. Tebas abis tanpa bersisa. Kalau si bang Akhtar masih berani macem-macem sama si Lissa, gue sendiri yang bakal nyunat otongnya lagi.”
Tawa Rain meledak, membuat Akhtar yang sedang berpakaian buru-buru keluar karena penasaran apa yang membuat istrinya tertawa begitu kencang. Dada pria itu berdesir melihat Rain tertawa bersama Jayden. Ingin rasanya dia melempar bule songong itu keluar jendela unit apartemennya.
“Udah beres?”
“Udah, nih,” Jayden mengembalikan ponsel Akhtar.
“Kaga usah disuruh juga gue bakalan pulang. gue kaga mau jadi obat nyamuk tak berasap. Ngelihatin suami yang mulai bucin,” ledek Jayden.
Dengan cepat pemuda itu membereskan laptopnya kemudian bergegas pergi meninggalkan apartemen.
“Kakak udah makan?”
“Belum.”
“Udah jam sembilan tapi kakak belum makan?”
“Kamu udah makan?”
“Udah tadi di rumah. Ya udah aku masakin. Kakak mau makan apa?”
“Mie instan aja biar cepet.”
Rain kembali ke dapur kemudian dengan cepat membuatkan mie instan untuk suaminya. hanya dalam waktu sepuluh menit, mie instan dilengkapi telor, sosis dan sayuran sudah tersaji di atas meja.
“Aku mau mandi dulu ya kak, gerah.”
Akhtar hanya mengangguk, perutnya sudah teramat keroncongan dan aroma mie instan sudah memanggilnya untuk segera disantap. Walaupun hanya mie instan tapi Akhtar merasa kalau makanan itu begitu lezat.
Rain keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk saja karena lupa membawa pakaian ganti. Saat sedang mengambil baju di lemari, dia dikejutkan dengan pelukan Akhtar di pinggangnya seraya kecupan di bahunya.
“Kak, lepas.”
“Kamu wangi banget Rain.”
“Kak lepas, aku mau pakai baju.”
“Aku udah bilang panggil mas, jangan kakak lagi,” bibir Akhtar naik ke leher lalu mengecupnya lembut.
Untuk sesaat Rain terbuai tapi kemudian dia teringat kejadian semalam di mana suaminya membisikkan kata cinta untuk Chalissa. Rain melepaskan tangan Akhtar, kemudian beranjak menuju kamar mandi. Namun tangan Akhtar menariknya hingga tubuhnya berbalik. Dengan cepat dia memeluk pinggang istrinya.
“Kak lepas.”
“Kamu kenapa Rain? Apa aku ngga boleh sentuh kamu? Kamu istriku kalau kamu lupa. Bahkan kamu pergi tanpa seijinku. Kamu tahu kalau seorang istri tidak boleh keluar rumah tanpa seijin suaminya.”
__ADS_1
“Lalu apakah suami boleh menyatakan rasa cintanya pada wanita lain setelah berhubungan badan dengan istrinya?”
Akhtar terkejut, refleks pelukannya di pinggang Rain melonggar. Wajahnya terlihat bingung, mencoba mengingat apa yang terjadi setelah percintaan panas mereka.
“Kenapa kaget kak? Kakak pasti ngga inget kan ketika bibir kakak mengucapkan I love you Lissa tepat di telingaku setelah percintaan kita.”
“Rain aku...”
“Apa? Kakak mau bilang apa? Khilaf? Lupa? Ngga sadar? Tapi itu kenyataannya. Dalam hati dan pikiran kakak hanya ada Lissa, Lissa dan Lissa. Dan aku hanya dijadikan pemuas nafsu saja. Bahkan dalam keadaan tak sadar, hanya nama Lissa yang kakak ingat. Sebesar itukah cinta kakak untuk Lissa? Kalau kakak masih belum bisa melupakan Lissa kenapa kakak melamarku saat itu? Apa demi perusahaan? Demi papa Nino? Aku pikir aku bisa membuatmu melihatku, nyatanya ngga. Aku sama sekali ngga berharga di mata kakak, aku....”
Akhtar tak tahan lagi mendengar ucapan Rain hingga di memilih untuk membungkam mulut istrinya dengan bibirnya. Rain berusaha melepaskan diri, tapi Akhtar menahannya. Dia terus memagut bibir ranum itu dan melepasnya ketika merasakan istrinya sudah kekurangan oksigen.
“Maafkan aku Rain. Aku ngga sadar mengucapkan itu semua tapi sungguh aku tak pernah bermaksud melukaimu. Dan aku juga ngga pernah menganggapmu sebagai pemuas nafsuku. Kamu tahu Rain, aku ngga pernah suka melihatmu berdekatan dengan Elang, berbicara begitu akrab dengannya. Itulah yang membuatku begitu ingin memilikimu malam itu. Dan aku bahagia, sangat bahagia. Kamu tahu betapa paniknya aku tidak melihatmu begitu membuka mata? Aku takut kamu meninggalkanku.”
“Tapi kakak hanya mencintai Lissa.”
“Bantu aku Rain. Bantu aku untuk melupakannya.”
“Tolong lepaskan aku kak. Aku kedinginan.”
Akhtar melepaskan pelukannya, membiarkan Rain masuk ke kamar mandi untuk berpakaian. Selepas itu Rain naik ke atas kasur tanpa berbicara atau melihat Akhtar lagi. Dia menutupi tubuhnya dengan selimut sampai sebatas leher. Akhtar menghela nafasnya, lalu menyusul berbaring di kasur. Ingin rasanya memeluk tubuh di sampingnya tapi dia hanya bisa menatap punggung Rain.
TING
Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Akhtar. Dengan malas pria itu mengambil ponselnya di atas nakas. Sebuah pesan dari Lissa masuk.
From Lissa :
Akhtar, besok aku tunggu di tempat biasa jam 7. Kita sarapan bersama.
Akhtar hanya membacanya kemudian meletakkan kembali ponsel ke atas nakas. Pesan yang sama juga masuk ke gawai Rain. Dengan gerakan pelan, dia membuka ponsel lalu membaca pesan tersebut. Dengan tanpa suara dan gerakan mencurigakan Rain mengirim pesan pada seseorang.
To Mama :
Ma, aku kangen. Kangen pengen sarapan buatan mama. Mama ke apartemen aku ya, kita sarapan bareng. Jangan lupa ajak papa juga.
From Mama :
Iya besok pagi-pagi mama sama papa ke apartemen kamu.
Rain tersenyum membaca pesan balasan dari sang mama. Perlahan diletakkannya lagi ponsel kemudian memejamkan matanya.
Rain terbangun di tengah malam ketika mendengar suara Akhtar. Dia membalikkan tubuhnya, melihat sang suami meracau dalam keadaan tertidur. Terlihat keringat membasahi keningnya yang berkerut.
“Rain maafkan aku, tolong jangan pergi. Rain... Rain...”
“Kak, bangun kak. Kakak..”
Rain mengguncang pelan bahu Akhtar hingga pria itu terbangun dari tidurnya. Matanya langsung menangkap sosok istrinya duduk di sampingnya. Dengan cepat Akhtar menarik Rain dalam pelukannya.
“Kamu di sini sayang, kamu ngga pergi kan? Jangan pergi, jangan tinggalkan aku.”
“Aku ngga kemana-mana kak,” Rain mengusap punggung suaminya. Kaos yang dikenakan Akhtar terasa basah akibat keringat.
Rain melepaskan pelukannya kemudian berjalan menuju lemari. Diambilnya kaos dari dalam sana kemudian kembali pada suaminya.
“Kak, buka kaosmu ganti dengan ini. Nanti kakak masuk angin.”
Akhtar menurut saja, dia membuka kaos di hadapan Rain. Seketika Rain memalingkan wajahnya karena malu. Belum terbiasa melihat dada bidang suaminya tak terbalut pakaian. Rain menyodorkan kaos di tangannya tapi Akhtar justru menarik tangan tersebut hingga tubuh Rain menimpa Akhtar.
“Kak.”
“Maafkan aku Rain.”
Akhtar menarik tengkuk Rain lalu mendaratkan bibirnya di bibir Rain. Untuk beberapa saat keduanya saling mencecap dengan penuh kemesraan. Tangan Akhtar menarik pinggang Rain hingga tubuh mereka tak berjarak. Kemudian Akhtar membalikkan posisi hingga tubuh Rain berada di bawah kungkungannya. Dia mulai mencumbui sang istri lewat bibir dan sentuhan tangannya.
Akhirnya pasangan suami istri tersebut mengulang kembali percintaan mereka. Helaan nafas, desahan dan keringat bercampur baur dalam pergulatan mereka. Beberapa kali terdengar lenguhan Rain ketika berhasil mencapai pelepasan. Akhtar terus memacu tubuhnya, dia mengangkat pinggang Rain, menekannya lebih dalam padanya ketika berhasil sampai ke puncaknya. Untuk kedua kalinya dia menyemburkan benihnya di rahim Rain.
Akhtar mengakhiri percintaan mereka dengan memberikan ciuman di seluruh wajah istrinya baru kemudian membaringkan diri di sampingnya. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh polos mereka lalu mengecup lembut kening Rain.
“I love you... Rayna.”
🍁🍁🍁
**Jiaaah sekarang udh bilang I love you Rayna. Kira2 Akhtar beneran sadar atau cuma tobat sambel ya???
Jangan lupa ya ritualnya habis baca buat like, comment n vote.
Selamat berkumpul bersama keluarga, happy Sunday😎**
__ADS_1