
Azkia memandangi paper bag yang berisikan jaket Elang. Sudah seminggu lamanya hanya teronggok di dalam loker. Sampai saat ini sang empu belum menampakkan dirinya lagi. Baru saja Azkia kembali ke meja kasir, Arul menghampirinya.
“Kia, tolongin aku ya.”
“Tolong apaan?”
“Aku ada urusan mendesak, ngga lama kok cuma dua jam. Gantiin aku satu jam aja. Please,” Arul menangkupkan kedua tangannya.
Azkia melihat jam di pergelangan tangannya, waktu menunjukkan pukul setengah enam sore. Itu berarti shift-nya akan berakhir satu setengah jam lagi. Kalau dia menggantikan Arul selama satu jam, dia baru bisa pulang jam delapan malam.
“Satu jam aja ya.”
“Iya, aku pergi sekarang. Makasih banyak ya Kia.”
Azkia mengangguk lalu kembali pada pekerjaannya. Sudah ada pembeli yang hendak membayar belanjaannya. Setengah jam kemudian terdengar adzan maghrib menggema. Masjid kompleks Orchid Village letaknya memang tak jauh dari tempatnya bekerja. Azkia memanggil Nana, meminta untuk menggantikannya sebentar.
“Titip kasir ya Na. Aku mau buka puasa sama shalat maghrib dulu.”
“Iya mba.”
Azkia melangkah menuju ruang istirahat pegawai. Terlebih dulu dia membatalkan puasanya dengan meminum segelas air putih hangat lalu memakan roti yang sudah disiapkan untuknya. Akhtar memperbolehkan para pegawainya yang menunaikan puasa sunat untuk berbuka dengan makanan atau minuman yang dijual di mini market.
Azkia kembali ke tempatnya selesai ibadah shalat maghrib. Nana yang dititipi untuk menjaga kasir tampak baru saja masuk.
“Kamu dari mana Na?”
“Maaf mba, barusan aku abis nganterin minuman pesenan tamu di depan. Cogan mba, ampun meleleh aku lihatnya.”
Jari Nana menunjuk ke sebuah meja yang ditempati dua orang pria. Mata Azkia mengikuti arah telunjuk Nana. Seketika dadanya berdebar saat mengetahui lelaki yang duduk di sana adalah Elang. Dia bergegas menuju ruang ganti untuk mengambil jaket Elang. Azkia menaruh paper bag di bawah meja kasir. Sesekali matanya melihat ke arah meja yang terletak di teras mini market, menunggu waktu yang tepat untuk mengembalikan barang milik Elang.
Akhirnya kesempatan yang ditunggunya tiba. Pria yang berbicara dengan Elang telah pergi. Bergegas Azkia mengambil paper bag lalu menghampiri Elang, sebelum pria itu pergi. Elang baru saja akan beranjak pergi ketika Azkia sampai di hadapannya.
“Maaf kak, ini,” Azkia menaruh paper bag di atas meja. Kening Elang mengernyit melihat paper bag tersebut.
“Itu jaket kakak yang dulu dipinjamkan ke saya. Maaf kalau lama mengembalikannya.”
Azkia bergegas pergi meninggalkan Elang yang masih kebingungan. Diraihnya tas kertas tersebut lalu mengeluarkan isinya. Elang tercenung melihat jaket miliknya. Ingatannya langsung kembali pada peristiwa pertemuannya dengan seorang gadis yang sedang dikejar para preman.
Jadi dia gadis itu, pantas saja wajahnya ngga asing.
Elang memasukkan kembali jaket ke dalam paper bag. Dia ingin menghampiri Azkia, namun begitu melihat antrian pembeli yang hendak membayar belajaan, Elang mengurungkan niatnya. Dia memilih duduk kembali sambil menunggu waktu yang pas.
Waktu hampir menunjukkan pukul delapan malam, namun Azkia belum juga selesai bekerja. Mini market malam ini juga cukup ramai, sedari tadi tak berhenti pembeli yang datang, hingga Azkia belum bisa mengakhiri pekerjaannya. Arul yang baru saja tiba, bergegas masuk setelah meletakkan helmya. Melihat Arul, Elang segera memanggilnya.
“Ada apa mas?” Arul menghampiri Elang.
“Bisa tolong bilang ke yang jaga kasir kalau pekerjaannya sudah selesai saya tunggu di sini.”
“Oh ya baik mas. Sebentar lagi dia selesai kok.”
__ADS_1
Elang mengangguk lalu kembali ke tempatnya. Diperhatikannya Arul yang tengah berbicara dengan Azkia. Tak lama Azkia meninggalkan meja kasir lalu tubuhnya menghilang tak terlihat lagi. Sepuluh menit kemudian, Azkia keluar dari mini market. Seragamnya telah berganti dengan gamis berbahan kaos dan hijab instan yang panjangnya menjuntai sampai ke batas perut. Dengan langkah pelan dia menghampiri Elang. Lelaki itu berdiri lalu mempersilahkan Azkia untuk duduk.
“Ada apa ya kak?”
“Kamu... kamu gadis yang waktu itu kan?”
“I.. iya kak. Ternyata kakak masih ingat, saya pikir kakak lupa.”
“Maaf saya tidak mengenalimu karena penampilanmu juga berubah.”
Azkia menanggapinya dengan senyuman tipis lalu menundukkan kepalanya. Sesaat suasana menjadi hening. Entah mengapa Elang jadi grogi sendiri berhadapan dengan gadis itu. Padahal dia yang memintanya untuk datang.
“Hmm.. preman yang waktu itu apa masih mengganggumu?”
“Alhamdulillah ngga kak. Saya dengar mereka ditangkap polisi.”
“Syukurlah. Oh iya, kita belum kenalan. Nama kamu siapa?”
“Saya Azkia kak.”
“Saya Elang, kamu bisa panggil El aja.”
Kembali suasana menjadi hening. Azkia mengambil ponselnya lalu memesan layanan ojek online. Sedang Elang mengarahkan pandangannya ke arah lain sambil sesekali berdehem untuk menghilangkan kegugupannya.
“Sudah mau pulang?”
“Iya kak.”
“Eh ngga usah kak. Saya sudah pesan ojek.”
“Batalin aja.”
“Jangan kak. Takutnya dia butuh uang buat keluarganya, kasihan kalau dibatalin.”
Elang tertegun mendengar ucapan gadis tersebut. Sesaat kedua mata mereka saling bertabrakan, untuk kedua kalinya Elang merasakan desiran di dadanya. Tiba-tiba hujan deras membasahi bumi. Cuaca memang sudah mendung sedari tadi, tapi hujan yang turun tanpa adanya gerimis cukup mengejutkan keduanya.
Azkia melihat tetesan air yang terus turun dari langit yang menggelap. Ada perasaan cemas menyusup dalam hatinya. Harus pulang malam menggunakan jasa ojek online di tengah hujan deras seperti ini membuatnya sedikit bergidik. Lamunan Azkia buyar saat mendengar notifikasi di ponselnya.
“Kenapa?”
“Pesanannya ojeknya dibatalin sama dirivernya, katanya ngga bawa jas hujan.”
“Hujan deras gini, pasti banyak yang ngga mau narik. Saya anterin aja, lagian udah malem juga. Agak riskan kalau naik kendaraan umum malam-malam. Tapi tunggu hujannya agak reda, gimana?”
Azkia hanya mengangguk. Sepertinya dia harus mengucapkan terima kasih pada driver ojek yang telah membatalkan pesanannya. Azkia bisa mengulang kembali momen pulang diantar Elang. Tanpa disadarinya Elang tersenyum tipis. Azkia mengusap lengannya saat angin malam menerpa tubuhnya.
“Kamu pasti kedinginan, ini pakai aja jaketnya.”
“Ngga usah kak.”
__ADS_1
“Pakai aja, nanti kamu sakit.”
Elang menyodorkan paper bag yang berisi jaket ke arah Azkia. Setengah ragu, Azkia mengambil tas kertas tersebut lalu mengeluarkan isinya. Dipakainya jaket yang selalu menemaninya selama tiga tahun belakangan ini. Tubuhnya mulai terasa hangat.
“Jaket itu untukmu saja, ngga usah dikembalikan.”
“Makasih kak.”
“Sama-sama.”
Hujan mulai mereda, Elang bangun dari duduknya lalu berlari kecil menuju mobilnya disusul Azkia di belakangnya. Elang menyodorkan tisu ketika mereka sudah berada di dalam mobil. Azkia mengusap wajah dan tangannya yang terkena percikan air hujan. Elang menstarter kendaraan dan tak lama kemudian roda kendaraan mulai bergulir menembus rintik hujan yang belum sepenuhnya hilang.
“Rumahmu apa masih di tempat yang dulu?”
“Oh iya, aku udah pindah kak. Sekarang aku di Dago Biru.”
“Oh berarti dekat ya.”
Azkia mengangguk, dia mulai menunjukkan arah jalan menuju rumahnya. Elang membelokkan kendaraannya ke arah kanan, melewati jalan yang hanya cukup dilewati oleh dua mobil saja. Dia kembali berbelok ke kiri, melewati selokan yang cukup besar lalu menanjak naik. Azkia menunjuk sebuah gang yang terletak tepat berhadapan dengan masjid. Pemuda itu menghentikan kendaraannya.
“Makasih ya kak udah nganterin aku pulang.”
“Sama-sama. Kamu mau pake payung?”
“Ngga usah kak, rumahku cuma selang tiga rumah dari sini.”
“Ok.”
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Azkia turun dari mobil lalu berlari kecil menembus hujan yang sepertinya akan kembali deras. Setelah tubuh Azkia menghilang, Elang kembali menjalankan kendaraannya. Sepanjang perjalanan pulang, bibirnya tak henti menyunggingkan senyuman.
Ketukan terdengar di pintu kamar Elang. Tak jua ada jawaban, Farel membuka pintu lalu masuk ke dalamnya. Nampak Elang baru saja keluar dari kamar mandi seraya mengusak rambutnya yang basah.
“Lo abis dari mana jam segini baru pulang?”
“Tadi ketemuan dulu sana Pay. Katanya mau ada reuni fakultas.”
“Hmm... ditanyain bunda tuh. Dah makan belum?”
“Belum. Bunda masak apa?”
“Semur kuda nil.”
Elang melemparkan handuk ke arah Farel. Dengan sigap ditangkapnya kain berwarna coklat tersebut lalu balik melemparnya ke arah Elang. Sambil terkekeh dia keluar dari kamar sang adik. Elang segera memakai baju lalu bergegas turun ke bawah, perutnya memang sudah keroncongan.
🍁🍁🍁
__ADS_1
**Maaf baru bisa up sore gini. Mamake sibuk ngejar kuda Nil buat dimasak semur😂
Jangan lupakan buat kasih like, comment n votenya ya readers terkecehku. Apalagi sekarang hari Senin, bolehlah vote nya dikasih buat mamake😉**