Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Hanya Dalam Mimpi


__ADS_3

Ayunda mengeluarkan tupperware berisi kimchi dari dalam kulkas lalu memasukkannya ke dalam tote bag. Baru tiga jam lalu dia kembali dari Korea. Kini, dia bermaksud memberikan oleh-oleh pada Sarah.


“Mau kemana Yun?” tegur Poppy.


“Mau ke rumah mama Sarah nganterin kimchi.”


“Sekalian kamu tengok papa Regan.”


“Emang papa Regan kenapa?”


“Papa Regan sakit. Katanya tadi pingsan di ruang operasi.”


“Ya ampun. Kalau gitu Yunda pergi dulu ya bun. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Ayunda bergegas menuju kediaman Regan. Gadis itu terlihat cemas setelah mendengar Regan yang dianggap sebagai ayah keduanya itu jatuh sakit. Hanya butuh waktu satu menit saja, dia sudah sampai di depan rumah bercat putih itu.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Eh Yunda, kapan pulang?”


“Tadi sore ma,” Ayunda mencium punggung tangan Sarah lalu menyerahkan tote bag di tangannya.


“Makasih ya.”


“Sama-sama ma. Hmm.. papa katanya sakit ma? Yunda boleh lihat papa ngga?”


“Boleh sayang. Papa lagi istirahat di kamar, kamu langsung aja ke kamar.”


“Iya ma.”


Ayunda melangkahkan kakinya menuju kamar Regan. Dia berdiam sebentar di depan kamar untuk mengetuk pintu. Setelah mendengar jawaban Regan, barulah gadis itu masuk ke dalam kamar. Melihat kedatangan Ayunda, Regan meletakkan buku dan kacamata bacanya di atas nakas. Ayunda menghampiri Regan, mencium punggung tangannya lalu duduk di sisi ranjang.


“Papa sakit apa?”


“Cuma kecapean aja. Kamu udah pulang lagi, gimana Ziel?”


“Menang dong pa. Sekarang dia jadi tunggal putra nomer 1 dunia loh.”


“Wah bagus itu. Kerja kerasnya selama ini ngga sia-sia ya.”


Ayunda mengamati Regan sejenak, wajahnya nampak sedikit pucat. Tanpa disuruh, Ayunda mulai memijat tangan Regan.


“Papa jangan terlalu capek. Papa kan udah tuir.”


Regan terkekeh mendengar ucapan Ayunda. Seperti biasa, gadis itu selalu saja membawa suasana ceria.


“Ih papa malah ketawa, dengerin Yunda pa. Mending papa pensiun, istirahat di rumah, main sama Nanaz, mesra-mesraan sama mama. Kalau urusan rumah sakit, serahin aja sama kak Rey.”


Regan tambah tergelak. Ayunda memanyunkan bibirnya. Dengan kesal dia memijit tangan Regan sedikit kencang hingga pria itu mengaduh.


“Rasain.. lagian papa dikasih tau malah ketawa-ketiwi. Papa udah minum obat belum?”


“Udah.. kamu dateng ke sini aja udah jadi obat buat papa. Apalagi pijatan kamu enak kaya gini.”


“Oh ternyata bener ya kebiasaan gombalnya kak Rey itu nurun dari papa.”


“Emangnya kamu suka digombalin sama Rey?”


“Bukan sama Yunda aja kali pa. Kak Rey itu kan suka tebar pesona, di rumah sakit aja banyak banget fans-nya, kak Bilqis aja sampai klepek-klepek sama kak Rey.”


“Tapi kamu kayanya ngga mempan tuh sama gombalannya Rey. Kalau kamu kemakan gombalannya Rey, pasti kamu bakalan jadi mantu papa.”


Ayunda mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. Regan mengulum senyum, jauh di lubuk hatinya dia sebenarnya berharap gadis di hadapannya ini menjadi menantunya.


Sementara itu di ruangan tengah, Reyhan baru saja pulang dari rumah sakit. Kedatangannya langsung disambut oleh Sarah. Setelah mencium punggung tangan sang mama, Reyhan menghempaskan tubuhnya di sofa. Tubuhnya cukup lelah karena harus melakukan operasi dan juga menggantikan jadwal Regan.


“Papa gimana ma?”


“Udah baikan. Sekarang lagi istirahat di kamar, ditemani Yunda.”

__ADS_1


“Yunda?”


“Iya dia ke sini nganterin kimchi terus ke kamar lihat papa. Udah setengah jam dia di sana, tau ngobrol apa aja sama papa. Dari tadi kedengaran papa ketawa mulu. Udah ah, Mama mau siapin makanan, kamu mandi dulu sana.”


Sarah berjalan menuju dapur. Reyhan membaringkan tubuhnya di sofa, mencoba mengistirahatkan otot-otot punggungnya sejenak. Mendengar kedatangan Ayunda, dia enggan kembali ke kamarnya.


“Papa, aku pulang dulu. Jangan lupa obatnya diminum, istirahat yang banyak. Besok aku ke sini lagi mau ngecek papa minum obatnya apa ngga.”


“Hahaha... kamu tuh cerewet banget.”


“Soalnya papa itu pantes buat dicerewetin.”


Ayunda mencium punggung tangan Regan lalu beranjak dari duduknya. Dengan gerakan pelan Ayunda menutup pintu kamar Regan. Ayunda bermaksud berpamitan pada Sarah. Namun langkahnya terhenti saat melintasi ruang tengah. Dia melihat Reyhan sedang berbaring di sofa.


Ayunda melangkahkan kakinya mendekati sofa. Dipandanginya Reyhan yang tengah terpejam, sebelah tangannya diletakkan di atas keningnya. Terlihat kelelahan di wajahnya.


“Kak Rey,” panggilnya pelan.


Lama Ayunda memandangi Reyhan, ingin rasanya membelai wajah tampan itu. Netra Ayunda menyusuri mata Reyhan yang masih terpejam, hidungnya yang mancung lalu berhenti di bibirnya yang sedikit bergelombang. Seketika ingatan saat dirinya berpikiran mesum berciuman dengan Reyhan seperti adegan di drakor berkelebat di kepalanya. Ayunda menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menghalau pikiran kotor itu.


Ish Yunda lo mikirin apaan sih. Inget sekarang lo tuh udah jadi calon istrinya bang Ilan. Tapi gimana dong, gue kepikiran kak Rey terus.


“Ya ampun nih anak disuruh mandi malah tidur.”


Suara Sarah membuyarkan lamunan Ayunda. Sarah menghampiri Reyhan, bermaksud untuk membangunkannya namun dicegah oleh Ayunda.


“Jangan dibangunin ma, kasihan kayaknya kak Rey capek banget. Lihat aja tuh tidur sampe ileran gitu.”


Sarah terkekeh mendengar ucapan Ayunda. Gadis itu lalu mengajak Sarah menjauhi Reyhan sambil berpamitan pulang. Sarah mengantarkan Ayunda sampai ke depan pintu.


Reyhan membuka matanya setelah gadis itu pergi. Dia terbangun saat Ayunda menghampirinya tadi. Dirabanya sudut bibirnya, kemudian tersenyum saat tahu kalau Ayunda hanya membual saja mengatakan dirinya ngiler.


🍁🍁🍁


Reyhan termenung di depan meja kerjanya. Matanya sedari tadi menatap layar laptop di depannya. Dia baru saja membuat surat pengajuan beasiswa ke TUM university, kampus yang diusulkan Helga tadi. Melihat kondisi Regan, Reyhan bermaksud mempercepat program fellowshipnya. Toh Ayunda juga akan menikah dengan Firlan. Tak ada hal lain yang menahannya lagi untuk pergi.


Dengan mantap Reyhan mengklik tombol send. Surat pengajuan dan biodatanya terkirim ke e-mail Helga. Reyhan mematikan laptopnya lalu duduk menyender ke kursi. Matanya terpejam membayangkan wajah cantik Ayunda. Gadis itu masih bertahta di hatinya, bahkan rasa cintanya tak berkurang sedikit pun.


Sebentar saja aku ingin dekat denganmu Ay, bolehkah? Sebelum aku pergi dan sebelum kamu menjadi milik orang lain.


Reyhan memejamkan matanya sejenak. Kemudian dia membuka aplikasi whats app. Jarinya mengetuk nomor Ayunda lalu mulai melakukan panggilan. Hingga deringan terakhir gadis itu tidak juga mengangkatnya. Reyhan meletakkan ponsel di atas meja kemudian kembali menyandarkan punggungnya.


Baru saja Reyhan memejamkan matanya ketika ponselnya bergetar, sebuah pesan dari Ayunda masuk.


From Ay..ang :


Ada apa kak?


To Ay..ang :


Boleh aku telpon?


Tak ada pesan balasan dari Ayunda walau centang abu pada pesannya sudah berubah menjadi biru. Reyhan menghela nafasnya, sepertinya Ayunda menolak keinginannya. Namun kemudian dia dikejutkan dengan getaran ponselnya. Ada panggilan masuk dari Ayunda. Reyhan tersenyum lalu menggeser tombol hijau pada layar.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Ada apa kak?”


“Ngga ada apa-apa. Cuma mau bilang makasih buat kimchi-nya.”


“Sama-sama kak.”


“Gimana kemarin pertandingannya Ziel?”


“Seru kak, Ziel menang walaupun harus main tiga set. Wah pokoknya seru, deg-degan juga. Eh ada Lee Hyun Woo juga loh di sana, dia nonton pertandingan juga. Aslinya ganteng banget. Ah pokoknya seru deh kak. Aku pengennya sih lama di sana tapi bang Gara cuma kasih waktu dua hari buat Nara, jadinya aku ikutan pulang deh.”


Reyhan terkekeh mendengar ocehan Ayunda. Gadis itu baik bertemu langsung atau via telepon tetap saja bawel. Tapi itu yang disukainya, bahkan mungkin akan dirindukannya. Reyhan terus mendengar ocehan Ayunda. Sesekali dia menimpali juga, walau pembicaraan lebih didominasi oleh Ayunda.


Reyhan bangun dari duduknya lalu berbaring di atas ranjang. Ponsel masih bertengger di telinganya, mendengarkan cerita Ayunda yang tak ada habisnya. Tak terasa sudah satu jam lebih mereka berbicara.


“Hoaamm.. kak, udah dulu ya. Yunda ngantuk nih.”

__ADS_1


“Iya Ay.. jangan lupa sebelum tidur minum air putih dulu. Tenggorokan kamu pasti kering dari tadi nyerocos terus.”


“Ish kak Rey. Met tidur ya kak, mimpi indah.”


“Mimpiin kamu boleh?”


Hening... tak ada jawaban dari Ayunda.


“Walau kamu bilang ngga boleh, aku akan berdoa semoga Allah mengirim kamu ke dalam mimpiku. Hanya dalam mimpi Ay.. karena aku ngga bisa memilikimu di dunia nyata.”


“Tapi janji ya, walau dalam mimpi aku harus tetap kelihatan cantik.”


Reyhan terkekeh, namun dia menangkap keanehan pada suara Ayunda. Suara gadis itu terdengar serak, apa dia menangis, gumam Reyhan dalam hati.


“Udah dulu ya kak, assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Reyhan tercenung setelah Ayunda memutuskan panggilan. Dia bangun lalu berjalan menuju balkon. Seandainya saja dia bisa melihat kamar gadis itu dari tempatnya berada. Namun sayang rumah mereka terhalang rumah Firlan. Seperti hubungan mereka yang terhalang Firlan di tengah-tengahnya.


TING


Terdengar notifikasi pesan masuk ke ponsel, menarik kesadaran Reyhan kembali. Sebuah kiriman audio dari Ayunda. Kemudian pesan berikutnya masuk, lagi-lagi dari gadis itu.


From Ay..ang :


Dengerin lagu itu ya kak. Aku lagi suka lagu itu.


Sementara itu di kamarnya, Ayunda tengah menangis. Kata-kata terakhir Reyhan begitu menusuk hatinya. Hanya dalam mimpi, ya.. hubungan mereka memang hanya bisa terjalin dalam mimpi. Ayunda kini menyadari kemana hatinya berlabuh, namun semua sudah terlambat. Dirinya sudah menerima lamaran Firlan, tak mungkin dia memutuskan lamaran tersebut. Akan banyak orang yang tersakiti, belum lagi hubungan dua keluarga yang mungkin akan rusak karena ulahnya.


I love you kak Rey.. harusnya aku lebih cepat menyadari perasaanku. Aku harap kakak bisa menemukan perempuan lain yang bisa membahagiakanmu. Dan aku juga akan menjalani hubungan ini dengan bang Ilan walau aku ngga yakin akan bisa bahagia. Maafin aku atas semua kebodohanku. Biarlah kusimpan perasaan ini dalam hati saja.


Tangis Ayunda semakin menjadi. Gadis itu memeluk gulingnya erat, buliran bening terus mengalir dari pelupuk matanya. Diiringi sebuah lagu lawas milik Adele. Lagu sama yang dia kirimkan pada Reyhan.


I will leave my heart at the door


I won’t say a word


They’ve all been said before, you know


So why don’t we just play pretend?


Like we’re not scared of what’s coming next


Or scared of having nothing left


Look don’t get me wrong


I know there is no tomorrow


All I ask is


If this is my last night with you


Hold me like I’m more than just a friend


Give me a memory I can use


Take me by the hand while we do what lovers do


It matters how this ends


‘Cause what if I never love again?


**🍁🍁🍁


Mamake nyesek nulis part ini🤧 ditambah sambil denger lagu Adele jadi melow abis🥺


Neng Ay tetep mau nikah sama bang Ilan walau cintanya sama kak Rey. Kak Rey juga mau ke Jerman nerusin fellowshipnya. Piye Iki? mamake pusing🥴


Tinggalin jejak dulu lah, like, comment and vote-nya**.

__ADS_1


__ADS_2