Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 2 : BITTER SWEET ROMANCE Cemburu


__ADS_3

Rain memasuki lobi hotel Kencana, dia akan menemui klien L’amour di sana. Sesampainya di lobi, Rain mencari-cari orang yang hendak bertemu dengannya. Sebuah tepukan mendarat di pundaknya, ternyata Jayden yang datang.


“Jay, ngapain lo di sini? Jangan bilang elo kliennya.”


“Sembarangan lo. Gue habis dapet proyekan di sini.”


“Hehehe.. lagian cewek mana yang khilaf mau sama elo ya.”


“Meremehkan lo. Kaga lihat muka gue ganteng kaya gini.”


“Cih, ganteng dari Hongkong. Gantengan juga suami gue keles.”


“Dasar bucin.”


Pembicaraan mereka terhenti ketika seorang lelaki menghampiri mereka. Lelaki dengan wajah campuran melayu-chinese. Jayden memicingkan matanya, sepertinya mengenali lelaki di hadapannya.


“Dengan nona Rayna?”


“Ya. Dengan bapak Fredy?”


“Bukan, saya sepupunya. Dan tolong jangan panggil bapak, panggil nama aja. Aku Jordy.”


Rain dan Jayden saling berpandangan. Lelaki yang dicari-cari selama ini terpampang nyata di hadapan mereka.


“Kalau pak Fredy nya mana?”


“Dia ngga bisa datang, makanya aku yang mewakili saat ini.”


“Ok, kita ke cafe sana aja biar enak ngobrolnya.”


Rain berjalan menuju More & Most Coffie yang ada di hotel ini. Jayden mengikuti dari belakang, dia sedikit curiga dengan gerak-gerik Jordy. Mereka mengambil meja yang terletak di sudut. Jayden meletakkan sebuah kotak kecil di dekat Rain, lalu dia duduk di meja sebelah karena tak mau mengganggu pembicaraan mereka.


Jayden menarik kursi, menyalakan laptop lalu memasangkan earphone ke telinganya. Jayden langsung sibuk dengan laptopnya namun telinganya mendengarkan pembicaraan di meja sebelah melalui earphone.


Rain mulai menerangkan konsep pernikahan yang pernah mereka garap. Jordy mendengarkan penjelasan Rain sambil tak henti memandangi wajah cantiknya. Rain merasa sedikit jengah namun tetap berusaha bersikap profesional.


“Jadi, ada yang mau ditanyakan?”


“Saya kira cukup. Ternyata pilihan sepupu saya benar, mempercayakan pernikahannya pada L’amour. Kalian sangat profesional dan aku suka cara kerja kalian yang cepat. Kamu adalah calon penerus L’amour bukan? Kamu anaknya Sarah Amalia, pendiri L’amour.”


“Anda terlalu memuji. Banyak WO lain yang tak kalah bagus dibanding L’amour. Saya ucapkan terima kasih atas kepercayaannya.”


Jordy tersenyum seraya menyesap minuman di depannya. Matanya tak lepas memandangi Rain, membuat wanita itu sedikit jengah. Jayden yang melihat gerak-gerik mencurigakan dari Jordy, segera meraih ponselnya lalu menghubungi Akhtar.


“Kamu juga kan yang mengurus pernikahan Lissa dan Akhtar dulu?”


Baik Rain atau Jayden dibuat terkejut dengan ucapan Rain barusan. Di saat yang bersamaan Akhtar menerima panggilan Jayden. Terdengar suara pria itu memanggil Jayden yang masih terdiam. Saat Akhtar akan memutuskan panggilan, dia mendengar suara lain bercakap-cakap.


“Kali ini aku kalah start dari Akhtar. Laki-laki bodoh itu tidak tahu kalau aku sudah meniduri mantan kekasihnya entah sudah berapa kali. Kalau saja aku bertemu denganmu lebih cepat, aku mungkin akan menggagalkan pernikahan kalian.”


“Maaf, kalau tidak ada yang perlu disampaikan lagi saya pamit pergi.”


“Sebentar please sebentar lagi ok. Aku masih betah memandangi wajah cantikmu.”


Rain mendengus kesal, sikap Jordy benar-benar membuatnya muak. Andai saja sepupunya bukan klien L’amour mungkin sudah ditinggalkannya lelaki ini sedari tadi.


“Kamu benar-benar cantik nona Rayna. Lissa tidak ada apa-apanya dibanding dirimu.”

__ADS_1


“Kalau kamu bosan dengan permainan suamimu, kamu bisa mendatangiku dan aku akan memuaskanmu,” Jordy mengedipkan matanya pada Rain.


Habis sudah kesabaran Rain. Dia bangun dari duduknya. Melihat Rain berdiri, Jayden buru-buru membereskan barang bawaannya. Jordy tak mencegah kepergian Rain. Dia malah mengikuti wanita itu keluar dari cafe. Jordy mempercepat langkahnya, mensejajarkan diri dengan Rain yang berjalan dengan cepat.


Langkah Rain terhenti ketika melihat Akhtar memasuki lobi hotel. Matanya berkeliling mencari tempat keberadaan More & Most Coffie. Lalu mata keduanya bertabrakan. Dengan langkah cepat Akhtar menghampiri istrinya. Jordy yang ada di sisi Rain terkejut melihat kedatangan Akhtar.


“Mas.”


“Ayo pulang.”


“Sebentar, urusan saya dengan nona Rayna belum selesai. Anda pasti Akhtar, mantannya Lissa. Maaf saya telah mencicipinya lebih dulu.”


“Dasar brengsek!”


Akhtar yang memang sudah emosi saat mendengar percakapan Rain dan Jordy langsung merangsek maju. Dia langsung melayangkan tinjunya pada wajah Jordy, membuat lelaki itu jatuh tersungkur. Jayden buru-buru datang untuk melerai. Suasana lobi sedikit kacau, security yang bertugas segera melerai mereka.


“Cuih dasar brengsek. Apa kamu marah soal Lissa hah?? Dia bahkan sudah menjadi mantan terindahmu!”


Rain meremas ujung kaosnya melihat pertengkaran kedua pria di depannya. Terlebih Jordy membawa nama Chalissa. Wajah Akhtar nampak merah padam, hati Rain mencelos melihat itu semua. Ada rasa sakit di sudut hatinya.


“Aku tidak peduli kamu tidur dengan Lissa. Tapi jangan sekali-kali mendekati istriku. Aku ingatkan padamu! Sekali lagi aku melihat kamu mendekatinya, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!! Ingat itu!”


Akhtar menarik tangan Rain keluar dari hotel. Dia membukakan pintu mobil dan meminta Rain masuk. Setelahnya Akhtar ikut masuk dan langsung menjalankan kendaraan dengan kecepatan tinggi. Sepanjang perjalanan Rain hanya bungkam. Sesekali diliriknya Akhtar yang hanya menatap lurus ke depan. Wajahnya masih menyiratkan kemarahan. Baru kali ini Rain melihat suaminya seemosional ini.


Akhtar memutuskan langsung pulang ke apartemen. Begitu sampai dia masih saja diam membuat Rain serba salah. Akhtar duduk di sofa untuk meredakan dadanya yang masih bergemuruh setiap mengingat kata-kata Jordy pada istrinya. Rain ikut duduk di samping suaminya.


“Mas.”


“Kamu ada perlu apa ketemu sama dia? Dari mana kamu mengenalnya?”


“Sepupunya klien aku mas. Aku juga ngga tahu kalau dia yang akan ketemu sama aku. Aku pikir Fredy, sepupunya.”


Mata Akhtar menatap tajam pada Rain. Wanita itu menelan ludahnya kasar. Pandangan Akhtar begitu menusuk. Dengan pelan Rain menganggukkan kepalanya.


“Dari mana kamu tahu soal Jordy?”


“El..ang.”


“Wah ternyata Elang tahu banyak soal Lissa. Berarti di belakangku kamu sering komunikasi dengan Elang? Apa kamu lebih nyaman bersama dengan Elang?”


“Mas, bukan begitu. Mas tahu kalau El adalah sahabatku. Waktu itu keadaanku kacau karena mas masih saja terikat pada Lissa. Aku tidak punya tempat mengadu selain pada El. Karena ngga mungkin aku menceritakan pada mama atau papa. Bagaimana pun juga mas suamiku, aku ngga mau mereka berpikir buruk tentangmu. Dan itu terakhir kalinya aku komunikasi dengan El. Sampai sekarang kami belum komunikasi lagi.”


Akhtar bangun dari duduknya, berdiri membelakangi Rain dengan kedua tangan berada di pinggangnya. Setelah Jordy, kini Elang yang membakar perasaannya. Dia mengusap wajahnya dengan kasar. Rain bangun lalu mendekati Akhtar. Diberanikannya memeluk suaminya dari belakang. Kepala Rain menyandar di punggung Akhtar.


“Maafkan aku mas, soal El juga Jordy.”


“Apa kamu menyukai Elang?”


“Ngga mas. Aku dan dia murni hanya bersahabat.”


“Tapi dia mencintaimu Rain,” lirih Akhtar.


“Ngga mungkin mas. Dia hanya menganggapku adiknya, karena dia janji akan menjadi bang Rakan untukku.”


Akhtar berusaha semampunya meredakan kemarahan dan kecemburuan yang melanda hatinya. Dia membalikkan tubuhnya, menatap wajah wanita yang sangat dicintainya ini.


“Mas seorang laki-laki dan dari cara Elang melihatmu, mas tahu kalau dia mencintaimu.”

__ADS_1


“Tapi aku hanya mencintaimu mas.”


“Lalu Jordy?”


“Ada apa dengan Jordy?”


“Mas takut kamu tergoda olehnya.”


“Aku bukan Lissa mas. Aku hanya mencintai dan menginginkanmu sampai maut memisahkan kita.”


Akhtar menarik pinggang Rain lalu memeluknya erat. Wajahnya menelusup ke ceruk leher sang istri. Dapat Rain rasakan deru nafas hangat menyentuh permukaan kulitnya. Dipeluknya punggung Akhtar lalu mengusapnya perlahan. Akhtar mengurai pelukannya, memberikan jarak di antara mereka kemudian menyambar bibir Rain. Akhtar ******* bibir itu dengan rakusnya.


Akhtar menggendong Rain, membawanya ke kamar tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Diturunkannya tubuh Rain, lalu dengan cepat dilucutinya pakaian yang menutupi tubuh indah itu tanpa bersisa. Akhtar pun melakukan hal yang sama pada dirinya. Dengan pelan didorongnya tubuh Rain hingga terjatuh ke kasur. Dia merangkak naik dan mengungkung Rain di bawahnya.


Pergulatan keduanya tak dapat terelakkan lagi. Didorong perasaan marah dan cemburu Akhtar menjamah tubuh istrinya. Permainannya bertambah liar dan menggila. Rain tak henti mendesah serta meneriakkan namanya. Peluh keduanya bercucuran mengiringi percintaan mereka.


Akhtar mengerang ketika sampai pada puncaknya. Dia terjatuh di atas tubuh istrinya. Nafasnya nampak tersengal, begitu pula Rain. Namun tak lama kemudian dia memulai lagi cumbuannya. Rain yang merasa lemas kembali terpancing dengan cumbuan sang suami. Mereka kembali bergelung menuntaskan hasrat yang masih membara.


Berkali-kali Akhtar membuat istrinya merasakan pelepasan. Sedang dirinya merasa belum puas hingga terus saja menggerakkan tubuhnya, mencium, menyesap hampir sekujur tubuh Rain. Membuat wanita itu mendongakkan kepalanya beberapa kali, meremas rambut suaminya dengan kencang. Rain pasrah saja mengikuti permainan suaminya dengan berbagai macam gaya. Akhtar memompa lebih cepat ketika merasakan hampir sampai ke puncaknya. Rain mencengkeram erat punggung lembab itu. Akhtar menghisap bukit kembar Rain dengan kencang ketika sampai ke puncaknya. Lalu jatuh terkulai di samping sang istri.


Rain memejamkan matanya, mencoba mengatur nafasnya yang kembang kempis. Sekujur tubuhnya serasa remuk, nafsu dan tenaga Akhtar begitu besar hingga membuatnya kewalahan. Lalu dia kembali merasakan sentuhan bibir suaminya menciumi wajahnya. Rain membuka matanya.


“Mas...”


“Aku masih menginginkanmu.”


“Tapi aku cape mas.”


“Kamu diam saja, biar mas yang bekerja.”


Akhtar kembali mengungkung Rain. Menghujani tubuh itu dengan ciuman dan sesapan yang memabukkan. Akhtar seakan ingin menunjukkan keperkasaannya, takut jika Rain berpaling pada Jordy seperti halnya Chalissa.


Akhtar yang belum sampai pada puncaknya menggendong Rain menuju kamar mandi. Dia ingin menuntaskannya di sana sambil mandi bersama. Di bawah shower Akhtar terus menggempur istrinya hingga akhirnya kedua mencapai puncak secara bersamaan. Setelah itu mereka mandi bersama. Lebih tepatnya Akhtar memandikannya, karena Rain sudah tak mempunyai tenaga lagi.


Sehabis mandi Akhtar pun memakaikan baju pada istrinya lalu menggendongnya kembali ke atas ranjang. Dikecupnya puncak kepala Rain beberapa kali. Bibirnya tak henti mengucapkan terima kasih dan kata cinta. Lalu membawa Rain ke dalam pelukannya.


“Sayang, minggu depan kita bulan madu ya.”


“Bulan madu?” Rain mendongakkan kepalanya.


“Iya, kita kan belum bulan madu. Kamu mau kemana sayang?”


“Kemana saja mas. Ngga usah keluar negeri, kita pergi ke vila aja.”


“Boleh. Kita ke vila yang di puncak aja ya.”


“Iya mas.”


“I love so much.”


“I love you too.”


Akhtar mengeratkan pelukannya. Rain yang sudah lelah dengan cepat masuk ke alam mimpi. Tak lama Akhtar menyusul, tangannya masih memeluk tubuh istrinya dengan erat.


🍁🍁🍁


**Duh beneran ngga ada maksud mamake bikin hareudang pagi2🙈🏃🏃🏃

__ADS_1


Jangan lupa ya like, comment n vote nya😎**


__ADS_2