
Hari ini keluarga Irzal dikejutkan dengan kedatangan Erik beserta Deski dan Iqbal. Setelah kondisi Deski pulih, Erik ingin segera menemui Azkia dan mengakui semuanya. Deski yang sudah bisa menerima kenyataan tentang Azkia juga ingin menemuinya. Selain untuk meminta maaf, dia juga ingin diberi kesempatan menunaikan kewajibannya sebagai seorang kakak.
Irzal segera meminta Elang yang sedang lembur pulang ke rumah. Ini mungkin akan menjadi pukulan berat untuk Azkia, oleh karenanya Elang harus berada di sisinya. Erik dan Deski nampak cemas menunggu kepulangan Elang. Irzal belum memperbolehkan mereka bertemu dengan Azkia sebelum Elang sampai di rumah.
Dua puluh menit berselang, orang yang ditunggu akhirnya datang juga. Dengan perasaan canggung Elang menyalami semua tamu. Kemudian dia segera menuju lantai tiga. Azkia yang tidak tahu menahu kedatangan Erik hanya berdiam diri di kamar sambil mencari-cari bahan referensi untuk skripsi.
Dia terkejut dengan kepulangan sang suami karena baru dua jam yang lalu Elang pamit berangkat ke kantor. Tumpukan pekerjaan membuatnya harus mengambil lembur di akhir pekan.
“Loh mas, kok udah pulang lagi? Ngga jadi lemburnya?”
“Sayang, di bawah ada tamu. Mereka mau ketemu sama kamu.”
“Sama aku? Siapa mas?”
“Ayo turun aja dulu, nanti kamu juga tahu.”
Azkia merapihkan pakaiannya lalu mengenakan hijab instannya. Elang menggandeng tangan istrinya memasuki lift. Pegangan Elang semakin erat ketika pintu lift terbuka sesampainya mereka di lantai bawah. Mereka segera menuju ruang tamu.
Langkah Azkia terhenti ketika melihat tamu yang menunggunya. Dia membalikkan badannya, berniat untuk kembali namun Elang menggelengkan kepalanya. Dengan terpaksa dia mengikuti Elang menuju ruang tamu. Mereka duduk berhadapan dengan Erik juga Deski.
Deski tak henti memandangi Azkia, namun tatapannya kali ini tampak berbeda dari sebelumnya. Begitu juga dengan Erik yang menatap penuh dengan kerinduan. Seandainya bisa, ingin rasanya dia memeluk anaknya itu.
“Kia, kedatangan pak Erik dan Deski kemari selain untuk meminta maaf atas kejadian waktu itu juga ada sesuatu yang ingin disampaikan,” Irzal membuka pembicaraan.
“Nak Kia sebelumnya saya minta maaf atas perbuatan Deski padamu. Tapi semua ada andil saya di dalamnya. Kesalahan yang dibuatnya dikarenakan saya. Saya benar-benar minta maaf.”
“Maksud om apa?”
Hati Erik mencelos mendengar Azkia memanggilnya dengan sebutan om. Batinnya menjerit, ingin rasanya berteriak mengatakan 'aku ayahmu', tapi lidahnya terasa kelu. Dia memandang pada Irzal, memohon bantuan padanya.
“Kia... apa sebelumnya ibumu pernah bercerita siapa ayah kandungmu?” tanya Irzal.
__ADS_1
“Ngga yah. Aku sempat menanyakannya tapi ibu bilang tidak mengenalnya.”
Hati Erik semakin tercekat mendengar jawaban Azkia. Bahkan Daniar tak mengakui keberadaannya. Tanpa sadar airmatanya menetes. Dia sudah tak bisa menahan perasaannya lagi. Dikumpulkan semua keberanian lalu mulai berbicara pada Azkia.
“Kia... maafkan saya. Maafkan atas sikap saya yang pengecut, membuat ibumu dan dirimu menderita.”
“Om kenal dengan ibu?”
“Saya adalah orang yang telah merenggut paksa kesucian ibumu. Malam itu saya benar-benar khilaf hingga memaksakan keinginan saya pada ibumu. Maafkan saya, maaf. Daniar pasti sangat membenci saya sampai dia mengaku tidak mengenal saya. Sejujurnya, ibumu bekerja di hotel milik saya dan kami memang telah saling mengenal sebelumnya. Sampai malam terkutuk itu terjadi dan dia menghilang.”
“Maksud om.. om.. itu..”
“Aku papamu nak. Kamu adalah darah dagingku dan Deski... dia adalah kakakmu.”
Azkia seperti terkena petir di siang bolong. Berulang kali kepalanya menggeleng mencoba menyangkal semua yang didengarnya. Jarinya meremat erat tangan suaminya. Kepalanya mendongak ke arah Elang.
“Dia bohong kan mas? Semua yang dia katakan ngga benar kan mas? Itu semua ngga benar kan mas? Jawab mas.”
“Ngga.. itu ngga benar. Dia bukan papaku dan Deski bukan kakakku. Mereka bohong!”
Tangis Azkia pecah, Elang menarik Azkia dalam pelukannya. Tangannya mengusap lembut punggung sang istri sambil membisikkan kata-kata untuk menenangkan hatinya. Azkia menghapus airmatanya lalu menatap ke arah Erik.
“Kenapa anda tidak mencari ibu? Kenapa membiarkannya sendirian di saat tersulitnya?”
“Maaf.. maafkan papa nak. Papa memang laki-laki pengecut. Papa pikir itu hanya kesalahan semalam yang tidak berdampak apapun. Papa akui, papa terlalu takut kehilangan istri dan Deski saat itu.”
“Maaf? Dengan mudahnya anda mengatakan maaf. Apa anda tahu apa yang ibu alami? Ibu terpaksa harus menikahi orang yang tidak dicintainya demi menutupi aib yang sudah anda torehkan. Apa anda tahu apa yang aku alami selama ini? Bagaimana perlakuan bapak padaku karena kebenciannya pada anda?”
Kesedihan Azkia berubah menjadi kemarahan mendengar pengakuan Erik. Tak ada lagi airmata, yang ada hanya tatapan penuh kebencian pada pria paruh baya di depannya ini. Erik tercekat melihat reaksi Azkia.
“Apa maaf anda bisa menebus semua yang terjadi pada kami? Apa maaf anda bisa mengembalikan ibu yang meninggal karena kekejaman bapak? Apa anda tahu sejak kecil bapak membenciku? Bukan hanya ingin membuangku ke panti asuhan, tapi bapak juga pernah berusaha menjualku pada komplotan penjual organ tubuh manusia! Hampir setiap hari dia menyiksaku juga ibu. Dia juga berusaha menjadikanku alat pelunas hutang pada rentenir. Di mana anda saat itu???! Di mana??!! Kalau bukan karena suamiku, mungkin aku sudah menjadi wanita penghibur!!!”
__ADS_1
Terbayang kembali dalam ingatan Azkia, masa-masa hidupnya dalam penderitaan dan tekanan Agus. Airmatanya kembali mengalir. Erik pun tak kuasa menahan tangisnya mendengar semua penderitaan yang dialami sang anak. Tangan Deski mengepal kencang, wajahnya memerah memendam amarah. Dengan bodohnya dia bekerja sama dengan orang yang telah menyakiti adiknya.
“Maafkan papa nak. Papa janji, mulai sekarang papa akan mengganti semua waktu kita yang hilang. Tolong beri papa kesempatan. Begitu pula Deski, berikan kesempatan padanya untuk menjadi kakakmu.”
“Papa? Kakak? Aku tidak membutuhkannya. Aku sudah punya keluarga yang menyayangiku. Ada suamiku yang mencintaiku. Papaku hanya ayah Irzal dan papa Adit, kakakku hanya bang Farel dan bang Gara. Aku tidak membutuhkan papa dan kakak yang lain. Tenang saja, aku sudah memaafkan kalian tapi tolong jangan ganggu diriku lagi.”
Azkia beranjak dari duduknya. Dia sudah tak sanggup lagi berhadapan dengan Erik juga Deski. Elang bergegas menyusulnya. Deski juga ikut menyusul, masih banyak yang ingin disampaikannya pada sang adik.
“Kia tunggu...”
Azkia menghentikan langkahnya, Deski mendekatinya namun Azkia beringsut mundur lalu bersembunyi dibalik tubuh suaminya. masih ada ketakutan dalam dirinya pada lelaki itu. Deski tak meneruskan langkahnya, dia berhenti dengan memberi sedikit jarak.
“Kia.. aku mohon maafkan aku juga papa. Aku tahu aku banyak melakukan kesalahan padamu, maafkan aku. Seharusnya aku sadar pertemuan kita adalah takdir di mana Tuhan berusaha menyatukan ikatan persaudaraan kita yang hilang. Tapi aku salah mengartikannya sebagai cinta. Maafkan aku, aku benar-benar bodoh. Ketika aku merasakan sesuatu yang lain saat di vila, aku justru mengabaikannya. Saat itu entah mengapa aku merasa kamu adalah bagian dari hidupku dan aku tidak mau menyakitimu. Maafkan aku Kia, tolong berikan aku kesempatan menunaikan kewajibanku sebagai seorang kakak.”
Deski menjatuhkan dirinya bersimpuh di hadapan Azkia juga Elang. Airmatanya mengalir seiring dengan penyesalan yang dirasakannya. Azkia meremat kemeja Elang dengan kencang, airmatanya pun jatuh membasahi pipi.
“Kalau kamu benar menyesal maka jangan temui aku lagi, anggap itu sebagai penebusan dosamu padaku. Dan aku membebaskanmu dari kewajibanmu sebagai kakak.”
Azkia menangis tersedu dibalik punggung suaminya. Tangannya masih meremat kemeja sang suami dengan erat. Perlahan Elang merasakan cekalan tangan Azkia mengendur. Elang membalikkan tubuhnya dan di saat bersamaan tubuh Azkia jatuh terkulai. Elang menangkap tubuh Azkia.
“Yunda! Panggil papa Regan atau Rey,” teriak Elang sambil membopong tubuh Azkia masuk ke dalam lift.
🍁🍁🍁
**Reaksi Azkia, kesedihan Erik dan penyesalan Deski bikin mamake agak² gimana pas bikin part ini. Mencoba memahami dari sisi mereka bertiga.
Kalau NT ngga error' dan mamake sempat, In Syaa Allah nanti mamake up lagi. Mohon maaf mamake masih ada kesibukan di RL. Biasanya ngejar kang sayur sekarang balik dikejar deadline😅
Dukungannya terus mamake tunggu. Tanpa dukungan kalian apalah arti diriku ini☺️
Like, comment and vote nya ya😉**
__ADS_1