Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Insecure


__ADS_3

Tiga hari menjelang masa magangnya usai dirasakan Azkia lebih berat dari pada sebelumnya. Karena ocehan Sandra di EDR, banyak karyawan wanita menatap tak suka padanya. Penyebabnya tak lain karena kedekatannya dengan Elang. Terkadang sindiran dan nyinyiran kerap diterimanya. Beruntung teman satu timnya di lantai sebelas bersikap biasa padanya. Entah karena tidak peduli atau takut terkena amukan Elang, mereka tetap memperlakukan Azkia seperti biasa.


Di hari terakhir magang, semua pemagang dikumpulkan oleh Andri. Seperti biasa, Humanity akan memberikan insentif atas pekerjaan mereka selama sebulan. Tentu saja hal tersebut disambut gembira oleh semuanya, tak terkecuali Azkia. Seusai jam kerja, Elang mengajak semua tim, baik yang sekarang atau yang terdahulu untuk makan malam. Selain untuk merayakan keberhasilan proyek, juga sebagai pesta perpisahan untuk Azkia. Mereka bahkan memperoleh bonus yang berasal dari saku pribadi Elang.


Selepas maghrib semua yang bekerja di lantai sebelas segera menuju restoran yang telah dipesan oleh Elang. Mereka bebas memesan hidangan yang diinginkan. Tak ada batasan antara mereka dengan Elang, semua berbaur, berbincang, bercanda dan tertawa lepas bersama. Jayden dan Farel yang pada dasarnya supel dan humoris, banyak melontarkan kata-kata yang mengocok perut. Sedang Elang dan Virza hanya diam menyimak, sesekali terlihat senyum mereka.


“Aku bakal kangen sama kamu Kia. Kapan-kapan kalau ada waktu, kita hangout bareng ya,” ucap Dita. Diantara karyawan yang lain, Dita memang yang paling dekat dengan gadis itu.


“Iya bu. Saya juga bakal kangen sama ibu.”


“Kalau aku boleh kangen ngga sama kamu Kia,” celetuk Deri, salah satu karyawan paling tengil.


Jayden sontak melihat ke arah Elang. Pemuda itu tampak tenang, namun ada ketidaksukaan dalam tatapannya. Matanya melihat ke arah Azkia, seperti ingin tahu bagaimana gadis itu akan bereaksi.


“Jangan pak. Kangen itu berat, biar Dylan aja, jangan bapak,” jawab Azkia yang disambut gelak tawa lainnya.


Elang tersenyum samar mendengar jawaban Azkia. Pembicaraan pun kembali berlanjut. Beberapa kali tawa Azkia pecah mendengar gombalan receh Jayden pada Fitria.


“Elang..”


Mendengar sebuah suara lembut memanggil nama Elang, semua yang ada di sana menolehkan wajahnya. Seorang gadis berbalut tunik dan hijab dengan warna senada berdiri di dekat Elang. Dandanan gadis itu begitu modis, sepadan dengan wajahnya yang cantik.


“Syifa,” panggil Farel.


“Boleh gabung?”


“Silahkan.”


Gadis yang bernama Syifa itu mengambil tempat tepat di samping Elang. Melihat itu dada Azkia bergemuruh. Kecemburuan seketika menyergapnya. Tanpa sadar Azkia memandangi Syifa dari atas hingga bawah. Wajahnya yang cantik, cara berpakaiannya yang modis, tubuhnya yang tinggi semampai membuat sempurna penampilannya. Tiba-tiba Azkia merasa insecure. Dia melihat ke arah dirinya sendiri. Tingginya tak sampai 160 cm, dia juga tak bisa berdandan, caranya berpakaian jauh dari kata modis. Sungguh dirinya dan Syifa seperti bumi dan langit.


“Kamu seriusan El mau gaet Mr. Miller sebagai investor? Dia kan susah-susah gampang orangnya.”


Syifa menanggapi pembicaraan Farel tentang investor yang akan diajak Elang bergabung untuk proyek Humanity. Sebenarnya kedatangan Syifa ke sini bukan kebetulan, tapi Farel yang mengundangnya. Syifa adalah teman mereka saat kuliah di London, mereka mengambil jurusan yang sama.


Syifa adalah anak dubes Indonesia yang ditugaskan di Perancis. Lewat Syifa juga, Elang mendapatkan koneksi untuk membuka cabang restoran Dimas. Kini Farel meminta bantuan orang tua Syifa untuk mempertemukan mereka dengan Mr. Miller. Syifa yang mendengar hal tersebut dengan senang hati ingin membantu. Dia berharap bisa lebih dekat lagi dengan Elang. Sudah sejak lama gadis itu menaruh hati padanya.


“Mudah-mudahan ada jalannya ketemu dengan Mr. Miller.”


“Minggu besok aku dengar dia ada di Singapura. Coba kamu kejar ke sana El.”


“Hmm.. akan kucoba.”


Azkia tersenyum getir melihat interaksi Elang dan Syifa. Walaupun sikap Elang terbilang biasa saja tetap saja membuat Azkia tak nyaman. Syifa lebih dari mampu untuk mendukung Elang, sedang dirinya tak bisa berbuat apa-apa untuk pemuda itu. Wajahnya berubah menjadi sendu.


Sampai acara makan malam berakhir, Syifa tak beranjak dari duduknya. Dia terus saja menempel pada Elang. Bahkan Syifa mengajak meneruskan pembicaraan di kedai kopi tak jauh dari restoran. Mengingat betapa pentingnya proyek yang dipercayakan ayahnya, Elang tak mempunyai pilihan selain mengikuti keinginan Syifa.


Sebelum menuju kedai kopi, Elang menghampiri Azkia yang sedang bersiap-siap untuk pulang. Sebisa mungkin Azkia menahan perasaannya. Dia berusaha bersikap biasa walau hatinya sakit.

__ADS_1


“Az, maaf aku ngga bisa nganter kamu pulang. Kamu naik taksi online aja ya.”


“Santai aja mas. Aku dianter bu Dita kok.”


“Bener pulang sama Dita?”


“Iya mas,” Azkia tersenyum.


Saat yang bersamaan Dita datang dan mengajaknya pulang. Mengetahui Azkia pulang bersama Dita, hati Elang sedikit tenang. Dia segera menyusul Elang dan yang lainnya ke kedai kopi.


🍁🍁🍁


Keesokan harinya Azkia mulai bekerja di mini market seperti biasanya. Walaupun selama magang dia tetap bekerja di akhir pekan. Namun rasanya kangen saja dengan suasana di sana, bercanda dengan rekan-rekan kerjanya. Mood Azkia yang sempat turun kemarin malam kini sudah mulai membaik setelah bertemu dengan teman-temannya.


Azkia juga membelikan mereka semua makan siang dan camilan. Insentif dan bonus yang diterimanya cukup besar, jadi dia memutuskan berbagi bersama teman-temannya. Sambil menikmati makan siang dia mendengarkan cerita tentang Sari yang akan menikah bulan depan. Tanpa terduga temannya yang janda beranak satu itu dilamar oleh pemuda yang baru saja lulus kuliah.


Menjelang jam pulangnya, Azkia melihat mobil Elang berhenti di depan mini market. Senyumnya mengembang melihat pemuda itu. Tapi kemudian senyumnya memudar ketika melihat Syifa turun dari kendaraannya. Nampak keduanya berbincang sejenak, tak lama kemudian mereka kembali ke mobil masing-masing dan melaju pergi.


Azkia memandangi ponselnya, tak biasanya Elang tak memberinya kabar. Dia sengaja tak langsung pulang setelah shift-nya usai karena berharap Elang kembali dan mengantarkannya pulang. Tapi harapan tinggal harapan, setelah satu jam menunggu pemuda itu tak kunjung kembali, bahkan satu pesan pun tak ada darinya.


Azkia baru saja akan memesan layanan ojek online ketika melihat mobil Adi berhenti di dekatnya. Pemuda itu turun lalu menghampirinya.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


“Udah kang. Akang sengaja ke sini?”


“Iya. Ayo aku antar pulang. Tapi kita mampir dulu ke cafe ya.”


“Tapi kang..”


“Ayolah Kia, kali ini aja. Anggap itu hadiah ulang tahun buat aku.”


“Akang ulang tahun hari ini?”


Adi mengangguk pelan seraya melemparkan senyuman manis. Karena tak enak hati, Azkia menuruti keinginan Adi. Pemuda itu membukakan pintu untuk Azkia. Tak berapa lama kemudian mobil yang dikendarainya mulai melaju.


Azkia dan Adi memasuki Rose cafe. Keduanya memilih meja yang berada di bagian luar cafe. Setelah memesan makanan, Azkia pamit sebentar pada Adi. Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa amplop coklat di tangannya. Azkia menyerahkan amplop itu pada Adi.


“Kang, makasih ya atas bantuannya waktu itu.”


“Kia, aku kan udah bilang ngga usah buru-buru kembaliinnya.”


“Alhamdulillah aku dapet insentif magang plus bonus kang.”


“Simpan aja uang ini. siapa tahu kamu butuh untuk berobat ibumu atau keperluan sekolah Hanin. Seperti yang aku bilang, kamu bisa mencicilnya.”

__ADS_1


“Ngga kang. Mumpung aku ada, aku mau lunasin aja semua. Tolong terima ya kang, biar bebanku berkurang.”


Walaupun enggan Adi menerima amplop tersebut dan langsung memasukkannya ke dalam tas tanpa menghitungnya. Pelayan datang mengantarkan pesanan. Keduanya mulai menyantap hidangan tersebut.


“Gimana skripsinya kang?”


“Alhamdulillah sejauh ini lancar. Minggu depan aku seminar draft, doain ya.”


“Mudah-mudahan lancar ya kang.”


“Aamiin... Kia.. apa kamu masih mau mempertimbangkan soal lamaranku? Aku serius Kia ingin menikah denganmu.”


“Kang... aku..”


“Kita tidak akan menikah sekarang. Asalkan kamu menerimaku, aku akan menunggumu sampai selesai kuliah. Bagaimana?”


“Tolong beri aku waktu ya kang.”


“Berapa lama pun waktu yang kamu butuhkan, aku akan menunggu.”


Azkia mengaduk-aduk minuman di hadapannya. Dirinya mulai dilanda kebimbangan. Jika menuruti perasaannya, ingin rasanya menolak. Tak dapat dipungkiri, hatinya sudah sepenuhnya dimiliki oleh Elang. Tapi terkadang kenyataan tak sesuai harapan. Melihat Elang yang begitu jauh dari jangkauan, sepertinya mustahil mimpinya akan terwujud. Di satu sisi, keberadaan Agus memberikan ancaman tersendiri untuknya. Menikah dengan Adi bisa menyelamatkan dirinya dari Agus.


“Mau pulang sekarang?” pertanyaan Adi menghentikan lamunan Azkia.


“Iya kang.”


Adi membayar tagihannya, termasuk makanan yang dibawa pulang untuk Daniar dan Hanin. Melihat kebaikan dan perhatian Adi pada keluarganya membuat Azkia merasa bersalah. Seharusnya dia bisa membuka hatinya untuk pemuda itu.


Adi menurunkan Azkia di depan gang rumahnya. Azkia menawarkannya untuk turun tapi ditolaknya karena akan segera pulang ke Ciwidey. Azkia berjalan memasuki jalanan kecil itu dengan kepala tertunduk. Jantungnya berdegup kencang ketika melihat sandal bapaknya teronggok di depan pintu. Perasaannya langsung tak karuan.


🍁🍁🍁


**Kira² Agus mau bikin masalah apalagi nih?


Usaha Syifa deketin Elang berhasil ngga?


Ayo dong mamake mau denger kehaluan kalian juga. Ketik di kolom komentar ya..


Selamat Hari Kemerdekaan, semoga kita bisa bebas dari Corona dan bisa beraktivitas seperti biasa. Tujuh belasan kali ini istimewa sekali ya gaessss, di tengah ppkm kita diharuskan ikut berlomba, lomba bertahan hidup😜


Jangan lupa buat tinggalkan jejak kalian ya..


Like..


Comment..


Vote**..

__ADS_1


__ADS_2