Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 2 : BITTER SWEET ROMANCE Mantan Terindah


__ADS_3

Hembusan air conditioner di mall The Ocean langsung terasa ketika Rain dan Akhtar memasuki bagian dalam mall tersebut. Ibu hamil yang kerap merasa kegerahan mulai merasakan kesejukan. Maklum saja udara kota Bandung saat ini sedang panas-panasnya karena sudah memasuki siklus musim kemarau.


Di tanggal muda seperti ini, suasana mall juga cukup ramai. Pengunjung dari berbagai usia dan kalangan berseliweran mencari barang-barang yang dibutuhkan. Ada juga yang sekedar jalan-jalan saja untuk mencuci mata alias window shoping.


“Kamu mau beli apa lagi sih Yang? Kan semuanya udah lengkap juga.”


“Aku mau beli gendongan mas.”


“Kan kemarin udah beli dua, masih kurang?”


“Itu kan gendongan samping sama hipseat. Aku mau beli gendongan kangguru.”


Akhtar hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kalau bumil satu ini sudah punya keinginan susah untuk dibantah. Bukan kebiasaan belanja yang diprotes Akhtar, tapi dia hanya tidak ingin istrinya kelelahan. Apalagi sekarang kandungan Rain sudah hampir mendekati tanggal lahir.


Setelah berkeliling sebentar, Rain masuk ke tenant yang menjual perlengkapan bayi. Ini adalah tenant ketiga yang dimasukinya. Di tempat sebelumnya stok barang yang dicarinya kosong. Rain juga enggan belanja online karena takut kualitasnya tidak sesuai ekspektasi.


“Mba, ada gendongan kangguru?”


“Ada bu, sebentar.”


Akhtar mengajak Rain duduk di bangku yang disediakan tenant sambil menunggu penjaga toko mengambilkan barang. Tak lama wanita itu kembali dengan membawa gendongan kangguru. Dia tertegun menatap Akhtar yang terlihat tampan dalam balutan kemeja body fit berwarna biru dongker. Rain yang menyadari tatapan wanita itu pada suaminya berdehem keras, membuyarkan lamunan pegawai wanita tersebut.


“Eh.. i.. ini bu barangnya.”


“Ada warna apa aja?” Rain meneliti barang yang ada di tangannya.


“Tinggal warna biru sama merah bu.”


“Ya udah saya ambil yang warna merah aja.”


“Baik bu.”


“Sekalian dibayar aja ya mba,” Akhtar mengambil kartu debit dari dompetnya lalu memberikan pada sang pegawai.


Selesai transaksi, Rain bergegas mengajak Akhtar keluar dari toko itu. Dia tak suka cara pegawai tadi melihat suaminya. Rain memeluk lengan suaminya erat seakan ingin menunjukkan pada semua orang kalau Akhtar adalah miliknya.


“Sekarang pulang ya.”


“Jangan dong. Aku mau nonton mas, boleh ya.”


“Pulang sayang. Mas ngga mau kamu kecapean. Inget loh kandungan kamu sekarang udah bulannya.”


“Ya ampun mas, kan cuma nonton film bukan nonton konser.”


“Tetap aja sayang.”


Rain terus merajuk agar diijinkan Akhtar untuk menonton di bioskop. Dia jenuh karena setiap harinya hanya menghabiskan waktu di apartemen saja. Saat mereka sedang berdebat, tanpa sengaja seorang wanita menabrak Rain hingga paper bag yang dibawanya terjatuh. Dengan cepat wanita itu mengambilkan tas belanjaan yang jatuh lalu mengembalikannya pada Rain.


“Maaf,” ucapnya. Rain dan Akhtar terkesiap melihat wanita di hadapannya yang ternyata adalah Chalissa.


“Sekali lagi maaf ya.”


“Eh, iya ng.. ngga apa-apa kok.”


Chalissa tersenyum ke arah Rain dan Akhtar kemudian berlalu pergi. Baru beberapa langkah, dia menengok kembali ke arah belakang. Menatap punggung Akhtar sejenak seraya memegangi dadanya.


Ada apa denganku? Kenapa jantung ini berdebar kencang saat melihatnya. Apa dia orang yang kukenal?


Chalissa mengarahkan pandangannya kembali ke depan namun pikirannya tak henti terus bermonolog. Ini pertama kali jantungnya berdetak kencang saat bertemu dengan orang asing. Sampai saat ini ingatan Chalissa memang belum kembali. Bahkan dokter Jeremy yang merawatnya memvonis kalau ingatannya tidak akan pernah kembali akibat cedera yang dideritanya pasca kecelakaan.


Tak mau ambil pusing, Chalissa segera membuang rasa penasarannya jauh-jauh. Dia melanjutkan langkahnya menuju lantai atas. Tempat di mana dia akan bertemu dengan seseorang yang diperkenalkan oleh kakaknya, Adam.


“Mas, itu Lissa kan?”


“Hmm..”


“Dia benar-benar kehilangan ingatannya.”

__ADS_1


“Itu lebih baik. Biar dia ngga ganggu kita lagi.”


“Kamu jahat banget sih mas. Lupa ya kalau dia itu mantan terindahmu,” goda Rain.


“Ngga lucu Rain!”


Rain auto mingkem mendengar nada bicara Akhtar yang sedikit naik. Semenjak kejadian percobaan penusukan dirinya, suaminya itu sudah menghapus nama Chalissa dari hidupnya.


“Oh iya mas, kabar Didi gimana? Vonis hukumannya udah keluar?”


“Hmm.. tiga hari yang lalu dia ditemukan tewas di selnya. Sepertinya bunuh diri.”


“Ya ampun.”


“Kamu laper ngga? Kita makan dulu.”


“Tapi abis itu nonton ya.”


“Iya.”


“Makan di cafe itu aja,” Rain menunjuk sebuah cafe di depannya.


“Kamu ke sana duluan ya, mas mau ke toilet dulu.”


Rain hanya mengangguk. Akhtar berlari kecil menuju toilet. Rain terus berjalan menuju ke cafe. Di dekat pintu masuk cafe terlihat seorang pria paruh baya sedang berbicara dengan seorang gadis berhijab.


“Maaf, mulai hari ini kamu dipecat.”


“Dipecat pak? Salah saya apa?”


“Karena kamu ngga mau merubah cara kamu berpakaian.”


“Maksud bapak?”


“Ibu Dian ngga suka cara kamu berkerudung. Kalau kamu mengurai kerudung kamu seperti ini, nama cafe yang ada di seragam kamu ngga terlihat. Saya sudah menyarankan untuk menyampirkan kerudung kamu ke bahu, diiket ke belakang biar nama cafe di seragam bisa terlihat.”


“Tapi pak, di belakang kasir kan sudah terpampang nama cafe yang tulisannya besar dan cukup jelas dibaca pengunjung saat membayar. Masa karena cara saya berhijab saya dipecat.”


Pria paruh baya yang merupakan manager cafe tempat gadis itu bekerja bergegas masuk kembali ke dalam cafe. Gadis itu menghela nafas sambil memandangi amplop coklat di tangannya. Baru seminggu bekerja, tapi sudah dipecat gara-gara caranya berhijab. Cukup lama dia termenung, memikirkan nasibnya yang lagi-lagi kehilangan pekerjaan.


“Kia...”


Gadis itu terkesiap ketika mendengar sebuah suara memanggilnya. Dia menoleh ke arah datangnya suara. Matanya menatap pada Rain sejenak, kemudian senyum merekah di wajahnya.


“Ya Allah mba Rayna.”


Gadis berhijab yang ternyata adalah Azkia segera menghampiri Rain. Mereka bercipika-cipiki lalu berpelukan. Rain tak percaya bisa bertemu dengan Azkia. Dia meliti gadis di hadapannya dari atas sampai bawah.


“Masya Allah Kia, kamu cantik banget. Sejak kapan kamu berhijab?”


“Mba Rayna bisa aja. Habis lulus sekolah aku langsung berhijab. Mba sendiri gimana kabarnya? Lama ngga ketemu eh udah mau jadi calon ibu aja.”


“Kamu menghilang tanpa jejak. Aku nyariin kamu, mau aku tarik lagi di L’amour.”


“Maaf mba. Tapi sekarang kayanya udah ngga bisa deh. Eh duduk di sana yuk mba,” Azkia mengajak Rain duduk di bangku yang letaknya tak terlalu jauh dari cafe.


“Kamu ngapain di sini?”


“Tadinya aku kerja di cafe itu mba. Tapi barusan aku dipecat.”


“Kenapa?”


Azkia menceritakan alasan pemecatan dirinya. Rain hanya menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan alasan yang dikemukakan sang pemilik cafe.


“Emang kamu kerja di bagian apa sih?”


“Aku di kasir mba.”

__ADS_1


“Kasir ya. Eh bentar deh. Kamu mau ngga kerja di mini market? Suamiku baru aja ambil alih mini market dan kita lagi butuh pegawai. Kebetulan kita lagi perlu kasir, kalau kamu berminat nanti aku ngomong sama suamiku.”


“Aku mau mba, tapi aku juga masih kuliah.”


“Gampang itu, bisa diatur.”


Akhtar yang telah selesai menuntaskan hajatnya datang menghampiri sang istri. Rain segera memperkenalkan Azkia padanya. Gadis itu hanya menangkupkan kedua tangannya saat berkenalan. Matanya hanya sekilas melihat Akhtar lalu menundukkan pandangannya.


“Mas, Kia lagi butuh kerjaan. Kebetulan pekerjaan sebelumnya dia itu kasir. Gimana kalau dia kerja di mini market? Dia itu dulu suka part time di L’amour.”


“Silahkan aja kalau kamu berminat. Kita lagi butuh pegawai soalnya. Kapan kamu bisa mulai kerja? Rencananya minggu depan mini market akan mulai buka.”


“Kapan aja bisa pak.”


“Tapi mas, mas ngga keberatan kan dengan cara berpakaiannya?”


“Emang apa yang salah?” Akhtar memperhatikan penampilan Azkia.


“Itu kalau kerudungnya diurai begitu apa ngga ada masalah?”


“Sayang, yang kita butuhin itu pegawai yang bisa bekerja dengan baik, jujur dan profesional bukan cara dia berpakaian.”


“Syukur deh. Gimana kalau lusa kamu dateng ke mini market di depan kompleks Orchid Village? Kamu tahu kan kompleks itu?”


“Tahu mba. In Syaa Allah lusa aku akan dateng.”


“Ok. Ya ampun Kia, aku seneng banget bisa ketemu lagi sama kamu. Sekarang ikut kita makan yuk.”


“Makasih mba, tapi aku harus pulang, soalnya ibu lagi ngga enak badan. Sekali lagi terima kasih ya mba, pak. Saya permisi dulu, assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Sepeninggal Azkia, Rain mengajak Akhtar makan ke cafe lain. Setelah mendengar cerita Azkia, dia jadi malas makan di cafe tersebut.


“Kamu kayanya seneng banget ketemu dia.”


“Iya mas, udah lama aku sama mba Lita nyari dia. Dia itu anaknya baik banget, pinter lagi. Tadinya aku mau jodohin dia sama Rey, tapi tuh anak udah punya kecengan sendiri.”


“Emangnya kecengan Rey siapa sih?”


“Yunda.”


“Yunda adeknya Elang?”


“Bukan, Yunda tukang seblak. Ya iyalah Yunda adeknya El.”


“Terus Yunda nya gimana?”


“Mana aku tahu. Lagian ayah Irzal kan ngga bolehin anak-anaknya pacaran. Yakin deh Yunda tuh masih belum kepikiran ngeceng cowok. Cowok yang deket ma dia cuma Ziel doang.”


“Bagus dong, berarti Rey ngga punya saingan.”


“Eh mas, aku mau bikin seragam khusus buat Kia. Dia ngga nyaman kalau harus pake seragam yang sekarang. Aku mau bikin yang model gamis buat dia. Terus kerudungnya yang ada bordiran nama mini marketnya. Gimana mas?”


“Terserah kamu aja sayang, asal kamu bahagia.”


“Dih kaya judul lagu aja.”


Akhtar tergelak, diusaknya puncak kepala sang istri. Bibir Rain mengerucut, kesal karena rambutnya sedikit berantakan karena ulah suaminya. Keduanya terus berjalan mencari cafe untuk mengisi perut.


🍁🍁🍁


**Yang nanyain Azkia, tuh udah nongol. Tinggal satu episode lagi ya kisah Rain and Akhtar. Dan di penghujung cerita akan ada mas El yang udah pulang dari London.


Ngga sabar nunggu kisahnya Elang? Sama mamake juga ngga sabar🤭


Tapi jangan lupa, kasih dukungan dulu buat mamake. Like, comment and vote nya selalu mamake tunggu. Oh iya ada yg mau kasih usul nama anaknya Rain & Akhtar? Tulis di kolom komentar ya. Belakangnya harus ada nama Keenan yg jadi nama marga keluarga kecil itu.

__ADS_1


Love you all😍😍


Happy Weekend😎**


__ADS_2