Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 2 : BITTER SWEET ROMANCE Demi Rain


__ADS_3

Rain berjalan setengah terhuyung keluar dari kamarnya. Semalaman berada di atas sajadah tanpa memejamkan mata sedikit pun ditambah tak ada makanan yang masuk ke perutnya membuat tubuhnya terasa lemas. Sambil pergangan erat pada pinggiran tangga, dia menuruni anak tangga satu per satu.


Bi Mirna yang melihat Rain berjalan ke dapur segera membantunya. Dituntunnya tangan Rain lalu membantunya duduk di kursi makan. Terlihat lingkaran hitam di sekitar matanya yang sembab. Bi Mirna cukup prihatin melihat keadaan anak majikannya yang sudah dirawatnya sejak kecil.


“Non Rain mau makan apa? Biar bibi buatkan.”


“Aku mau teh manis hangat aja bi.”


“Sebentar ya non.”


Bi Mirna bergegas membuatkan minuman yang diinginkan Rain. Tak lama teh manis pesanannya siap. Rain menyesap teh manis hangat itu sampai tandas.


“Mau dibuatkan yang lain non?”


“Ngga bi, aku ngantuk. Tolong anter aku ke kamar.”


Bi Mirna mengangguk lalu memapah Rain kembali ke kamarnya. Diselimutinya tubuh Rain yang sudah berbaring di atas kasur. Tak butuh waktu lama gadis itu memejamkan matanya. Perlahan bi Mirna menutup pintu kamar kemudian kembali ke tempatnya.


Tidur nyenyak Rain terusik ketika merasakan sentuhan di pipinya. Perlahan dia membuka matanya lalu mendapati sang mama duduk di sisi ranjang sambil menatapnya. Matanya memicing menahan kantuk yang masih menderanya.


“Rain, makan dulu yuk sayang.”


“Aku ngga laper ma.”


“Dari kemarin kamu belum makan apa-apa sayang. Ayo makan dulu habis itu tidur lagi.”


“Ngga ma, Rain ngantuk. Nanti aja makannya.”


Rain membalikkan badannya memunggungi Sarah. Menarik selimut sampai ke batas lehernya kemudian kembali tertidur. Sarah menghela nafasnya, melihat Rain kembali tertidur dia memilih keluar dari kamar.


Terdengar suara langkah kaki Rain menuruni anak tangga. Setelah mandi dan menunaikan shalat dzuhur, dia memutuskan untuk turun ke bawah. Mengisi perutnya yang kosong sejak kemarin. Tanpa bersuara dia menarik kursi lalu duduk berhadapan dengan Sarah.


Rain menyendokkan nasi beserta lauknya ke dalam piring tanpa menghiraukan tatapan mama dan papanya. Regan sengaja tidak pergi ke rumah sakit hari ini. Dia ingin mencoba berbicara dengan Rain lagi. Tapi sikap anaknya terlihat tak peduli. Rain menikmati makannya dalam diam.


“Rain, mama buat soto betawi kesukaanmu, kenapa ngga dimakan?”


“Lagi ngga pengen ma.”


“Rain, habis makan papa mau bicara.”


“Maaf pa, ada tugas kuliah yang harus aku selesaikan. Aku duluan ma, pa.”


Rain mengakhiri makan siangnya yang hanya beberapa suap saja. Kemudian bergegas kembali ke kamarnya. Regan menyusul anaknya, masalah ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Setelah mengetuk pintu Regan masuk lalu duduk di sisi ranjang. Rain mulai sibuk dengan laptopnya.


“Rain, mari bicara nak.”


“Ngga ada yang harus dibicarakan lagi pa. Aku mengikuti semua keputusan papa. Abaikan saja semua yang kukatakan kemarin, anggap saja aku sedang mengigau.”


“Apa kamu begitu mencintai Akhtar nak? Sebesar itukah rasa cintamu padanya sampai kamu tidak bisa berpikir jernih? Hatimu hanya akan terluka jika memaksakan menikah dengannya.”

__ADS_1


“Aku menikah dengannya atau tidak, hatiku tetap sakit pa. Kalau dia menikah dengan kak Lissa, aku bisa berhenti mengharapkannya. Tapi kenyataannya dia tidak jadi menikah dan aku hanya bisa mencintainya dalam diam seperti dulu. Karena untuk menghilangkan perasaan ini begitu sulit. Melihat dia tak memiliki hubungan dengan perempuan manapun membuat hatiku tidak bisa melepaskannya. Jadi apapun keputusan papa, semuanya sama saja bagiku.”


“Rain...”


“Kalau aku menikah dengannya setidaknya aku bisa berjuang meraih cintanya. Sudah halal bagiku untuk berdekatan dengannya, menunjukkan perasaanku padanya. Kalau pun dia tak membalas perasaanku, setidaknya aku sudah berusaha. Tapi sekarang, aku tidak bisa berbuat apa pun. Karena aku tidak mau terjerumus dalam dosa, mengejar laki-laki yang bukan muhrimku.


Aku juga mengerti kekhawatiran mama dan papa dan aku sudah memutuskan untuk mundur. Berharap perasaan ini akan hilang seiring waktu. Jadi tidak usah dibahas lagi pa. Maafkan aku sudah membuat kalian cemas.”


“Apa kamu yakin bisa membuatnya jatuh cinta padamu?”


“Aku tidak bisa menjanjikan itu pa. Aku hanya bisa berusaha dan berdoa.”


Regan mengangkat tubuhnya kemudian berjalan menghampiri Rain. Diusapnya dengan lembut puncak kelapa anaknya itu. Rain mendongakkan kepalanya melihat papanya yang berdiri tepat di sampingnya.


“Anak papa sudah besar. Papa akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.”


Dikecupnya puncak kepala Rain kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar sang anak. Sambil menuruni tangga, tangannya mengambil ponsel dari saku celananya.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Nino, aku tunggu kamu dan Akhtar untuk melamar Rain malam ini.”


“Mas...”


“Katakan pada Akhtar, Rain siap menjadi pengantin pengganti untuknya. Tapi tolong hormati kami. Lamarlah anak kami secara baik-baik. Aku tunggu kedatangan kalian malam ini.”


“Mas, terima kasih atas kebesaran hati kalian. Aku dan keluarga akan datang malam nanti untuk melamar Rain. Sekali lagi terima kasih mas.”


“Baik mas, waalaikumsalam.”


Sarah memandangi suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan. Regan menarik Sarah dalam pelukannya. Setidaknya saat ini dekapan hangat dari sang istri sangat dibutuhkannya setelah mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Menyerahkan hidup sang putri di tangan pria yang entah bisa membuatnya bahagia atau justru membuatnya menderita.


“Kuatkan aku sayang. Berat untukku mengambil keputusan ini. Tapi anak kita mencintai Akhtar. Percayalah, dia anak yang kuat.”


“Aku percaya keputusanmu mas. Doa kita akan memberikan kekuatan padanya.”


Sarah mengeratkan pelukannya di tubuh Regan seiring dengan bulir bening yang jatuh membasahi pipinya.


🍁🍁🍁


Akhtar pulang ke rumah dengan keadaan kacau. Kemeja kusut, rambut acak-acakan. Wajahnya pun menampakkan gurat kelelahan. Dengan lemas dia menghempaskan tubuhnya ke sofa. Nino sudah datang sejam lalu segera menghampirinya.


“Bagaimana hasilnya Tar?”


“Maaf pa, aku belum berhasil membujuk mereka. Tapi aku akan terus berusaha, papa ngga usah khawatir.”


“Jangan pikirkan masalah itu dulu. Ada masalah yang lebih penting untuk kamu putuskan.”


“Soal apa pa?”

__ADS_1


“Pernikahanmu.”


Akhtar menegakkan tubuhnya mendengar kata pernikahan. Setahunya masalah tersebut sudah selesai. L’amour juga sudah mulai mengurus masalah pembatalan tersebut.


“Bukannya udah selesai pa? Semua pembatalan ke pihak terkait sudah diurus oleh L’amour kan?”


“Pernikahan ini akan tetap berlangsung.”


“Maksud papa, om Tombak berubah pikiran?”


Wajah Akhtar yang tadi kusut kini mulai sedikit cerah. Nino menghela nafasnya. Setelah dikecewakan, anaknya masih saja berharap pada Chalissa.


“Bukan dengan Lissa, tapi dengan Rain.”


“Maksud papa?”


“Rain yang akan menikah denganmu. Dia bersedia menjadi pengganti Lissa untukmu.”


“Papa bercanda kan? Gimana bisa dia jadi pengganti Lissa? Ini ngga mungkin pa, aku ngga mencintainya. Aku menganggap Rain hanya adik saja.”


“Oh ya? Lalu kenapa Rain yang kamu ajak untuk menemui ayahmu, bukan Lissa? Di mana kekasihmu itu ketika kamu dalam keadaan terpuruk? Kalau dia benar mencintaimu, dia pasti akan berjuang untukmu. Tapi dia dengan mudahnya menerima keputusan papanya.


Tapi Rain... sedikit pun dia tidak punya tanggung jawab atas kejadian yang menimpa kita tapi dia justru maju untuk menyelamatkan kita. Dia rela menjadi pengantin pengganti untukmu demi nama baik papa, demi kelangsungan perusahaan dan demi kamu. Papa yakin tidak mudah baginya meyakinkan orang tuanya mengambil keputusan ini, tapi dia tetap melakukannya. Dan yang lebih penting, dia mencintaimu.”


Akhtar terkejut, sungguh dia tidak tahu perihal perasaan Rain padanya. Kedekatan dirinya dengan Rain karena entah mengapa kehadiran gadis itu selalu membuatnya nyaman. Bahkan mampu memberinya kekuatan ketika harus bertemu dengan ayah kandungnya sendiri.


“Tapi papa tidak akan memaksa, semua papa serahkan padamu. Kalau kamu mau melanjutkan pernikahan ini, nanti malam kita akan melamar Rain. Tapi kalau kamu menolaknya tidak masalah. Karena yang akan menjalani pernikahan ini adalah kamu dan papa juga tidak mau gadis sebaik Rain harus tersakiti karena dirimu yang terpaksa menikahinya.”


Akhtar terdiam, otaknya terus berpikir dan menimbang keputusan apa yang harus diambilnya. Dia tak memungkiri pernikahannya dengan Rain akan mengatasi permasalahan perusahaan lebih cepat. Posisi Regan sebagai pemegang saham terbesar Rakan Putra Group pasti memberikan dampak positif untuknya. Tapi apakah dia mampu melupakan Chalissa dan menggantikannya dengan Rain.


“Pikirkan matang-matang semua ini. Papa kasih kamu waktu kamu satu jam. Ingat baik-baik Tar, jika kamu menerima pernikahan ini maka kamu akan mendapatkan berlian. Rain wanita baik-baik, selain pintar dia juga gadis yang bisa menjaga kehormatan dirinya. Setidaknya jika kamu bersama Rain, kamu tidak mendapatkan barang bekas.”


“Apa yang terjadi pada Chalissa itu kecelakaan pa, dia dijebak.”


“Dan kamu percaya? Coba kamu selidiki ulang semuanya. Dan juga cari tahu kemana dia belakangan ini. Apa benar dia bekerja atau menghabiskan waktunya dengan lelaki lain.”


“Pa...”


“Pikirkan saja soal pernikahanmu dengan Rain, jangan buang waktumu untuk memikirkan Lissa karena waktumu tidak banyak.”


Nino beranjak meninggalkan Akhtar seorang diri. Kepala Akhtar semakin terasa berdenyut. Menikahi Rain, gadis yang tidak dicintainya tentu bukan hal yang mudah. Dia meremat rambutnya dengan kasar. Terdengar helaan nafasnya penuh frustrasi.


🍁🍁🍁


**Akhtar senengnya sama batu yg ada di Empang makanya keukeuh pengen sama Lissa😁


Salam perdamaian dari mamake untuk readers semua✌️😁


Like..

__ADS_1


Comment..


Vote**..


__ADS_2