
Ardi langsung memiting kepala Reyhan begitu pemuda itu keluar dari ruang operasi. Dia sangat kesal karena sudah dibohongi mentah-mentah selama bertahun-tahun oleh teman seprofesinya itu. Ardi baru melepaskan pitingannya ketika Reyhan menyiku perutnya. Dengan wajah meringis Ardi mengusap perutnya yang terasa ngilu.
“Bener-bener punya temen sadis bener. Udah bohongin terus nyiksa juga,” gerutu Ardi.
“Bohongin apaan?”
“Elo anaknya dokter Regan kan?”
Reyhan langsung membekap mulut Ardi lalu membawanya pergi dari depan pintu ruang operasi. Ditariknya tubuh Ardi masuk ke ruang istirahat para dokter bedah, baru kemudian melepaskan bekapannya.
“Lo mau bunuh gue ya.”
“Lagian mulut lo udah kaya ember bocor aja.”
“Emang kenapa sih kalau pada tahu elo anaknya dokter Regan? Pantes aja setiap ketemu dokter Regan, muka lo ditutup mulu pake masker.”
“Udah lo ngga perlu tahu, kepo banget jadi orang.”
“Bilang ngga? Kalau ngga gue bocorin nih. Sekalian gue pengumumannya pake toa masjid.”
“Rese lo. Gue sengaja tutupin identitas biar gue bisa diakui jadi dokter karena kemampuan gue bukan karena nama besar bokap. Lo tau sendiri kan waktu kita residen gimana. Si Krisna bisa dapet kesempatan masuk ruang operasi untuk kasus besar bukan karena kemampuannya tapi karena dia anaknya dokter Chandra. Kalau mereka tahu gue anaknya dokter Regan, gue kasihan aja, cacing kremi kaya elo tambah susah dapet kesempatan masuk ruang operasi.”
“Kampret lo, jelasin ya jelasin aja ngga usah pake hina gue,” sewot Ardi.
Reyhan hanya tergelak saja. Ardi memang teman sejati, bahkan bisa dibilang sahabat. Hanya dia yang mau berteman dekat dengan Reyhan sejak masih kuliah kedokteran dulu tanpa memandang status, walaupun saat itu Reyhan berpura-pura sebagai mahasiswa kere.
Reyhan mengganti pakaian di depan sahabatnya itu. Ardi memandang kagum padanya, tubuh Reyhan yang tegap lengkap dengan perut kotak-kotaknya terkadang membuatnya iri. Namun apa daya, mempunyai perut rata saja sudah cukup bagus untuknya.
“Rey, traktir gue makan. Gue pengen ngerasain duit anak konglomerat.”
“Eh jangan ngilangin rejeki lo. Gue kan sering traktir elo, kampret.”
“Iya, tapi waktu lo traktir gue, gue agak susah nelan makanan. Gue takut udah mendzolimi mahasiswa kere hahaha...”
“Dasar kampreto. Ya udah ayo.”
“Sekalian ajak Friska ya.”
Reyhan hanya mengangguk saja. Dengan semangat Ardi menelpon Friska. Dia sudah membulatkan tekadnya untuk mengejar Friska. Mencoba peruntungan, kalau berhasil Alhamdulillah, kalau ngga ya pasrah.
Reyhan dan Ardi keluar dari ruang istirahat. Mereka bertemu dengan Friska di koridor rumah sakit. Ketiganya bersiap untuk pergi.
“Rey..”
Reyhan menoleh ketika sebuah suara memanggilnya. Ternyata Bilqis yang memanggilnya. Gadis cantik anak dari Nino dan Kalila itu berjalan cepat ke arah Reyhan.
“Kamu ngapain di sini?”
“Abis nengok teman yang sakit. Udah beres, ini mau pulang. Traktir gue makan ya Rey, gue kan belum pernah ngerasain gaji elo sebagai dokter bedah.”
“Ayo bareng aja sama kita,” ajak Ardi.
Dari arah kejauhan terlihat dokter Agung melambaikan tangannya ke arah Reyhan. Lelaki itu bergegas menghampiri dokter kepala bedah tersebut. Bilqis mendekati Ardi, mencoba membujuk lelaki itu agar membiarkannya makan berdua saja dengan Reyhan.
“Dokter Ardi ngga usah ikut, sebagai gantinya aku pesanin makanan untuk kalian berdua deh. Mau dari restoran mana? Premium atau La Premiere?”
Ardi meneguk ludahnya kasar membayangkan kelezatan makanan dari dua restoran bintang lima tersebut.
__ADS_1
“Beneran?”
“Iya, mau yang mana? Aku pesenin sekarang nih.”
“Terserah, yang penting enak.”
Bilqis mengambil ponselnya kemudian segera mendial nomor delivery service restauran Premium. Letak Premium lebih dekat dengan rumah sakit Ibnu Sina, itu yang menjadi bahan pertimbangan Bilqis. Dia takut dokter muda itu keburu salatri karena telat makan.
Reyhan yang telah selesai berbicara dengan dokter Agung, kembali menghampiri teman-temannya.
“Ayo..”
“Kapan-kapan aja deh lo traktir gue. Kebetulan ada yang udah pesenin gue makanan, takut mubazir kalau ngga dimakan.”
“Yakin?”
“Iya, udah sana lo pergi aja.”
Akhirnya Reyhan hanya makan siang berdua dengan Bilqis saja. Dia memilih makan di cafe yang terletak di seberang rumah sakit. Senyum Bilqis merekah mengikuti langkah Reyhan.
“Kita tunggu makanannya di ruang istirahat aja yuk. Kata si Bilqis pesanannya sampe sekitar dua puluh menit lagi.”
Friska mengangguk kemudian mengikuti langkah Ardi menuju ruang istirahat para dokter bedah. Ardi menghempaskan tubuhnya di sofa, sedangkan Friska memilih duduk di kursi sebelahnya.
“Itu yang tadi kecengannya Reyhan ya?” Ardi membuka percakapan.
“Bukan, kecengannya dokter Rey itu Ayunda.”
“Tau dari mana?”
“Ya tahulah. Waktu itu Ayunda pernah dateng ke rumah sakit sama ponakannya. Terus aku juga pernah nganterin obat buat Ayunda ke rumahnya. Dokter Rey cemas banget kalau menyangkut Ayunda.”
“Hmm.. kalau menurut aku sih cantikkan Ayunda.”
“Terus kamu ngga cemburu sama Ayunda?”
Wajah Friska merona mendengar pertanyaan Ardi. Apa rasa sukanya terhadap Reyhan tergambar begitu jelas di wajahnya hingga dokter muda itu bisa mengetahuinya.
“Aku sih realistis aja dok. Buat apa ngejar-ngejar cowok yang ngga suka sama kita.”
“Betul itu. Masih banyak cowok di dunia ini, salah satunya aku,” Ardi menaik turunkan alisnya.
“Kalau kamu pilih aku, dijamin kamu ngga akan nyesel deh. Aku tuh tipe setia dan penyayang.”
“Percaya deh dok. Doakan aja aku khilaf terus terima dokter jadi pendamping hidup aku.”
Friska tergelak mendengar ucapannya sendiri. Walaupun sedikit keki tapi tak urung Ardi ikut tertawa. Setidaknya Friska tak menolaknya mentah-mentah. Berarti ada kesempatan untuk mengejar dokter residen tahun kedua itu.
🍁🍁🍁
Bilqis asik memandangi wajah Reyhan yang sedang memilih-milih menu. Walaupun gadis itu tahu jika ada ikatan saudara sesusu antara dirinya dengan Reyhan. Namun dia tak mampu menahan gejolak cinta yang dirasakannya pada pemuda itu. Berbeda dengan Reyhan yang menganggap Bilqis sebagai adiknya walaupun usia mereka hanya berjarak empat bulan saja. Sejak kecil, kedua orang tuanya sudah menanamkan pemikiran tersebut padanya.
“Mau makan apa Qis?” tanya Reyhan dengan mata masih melihat ke arah buku menu.
“Tomyam aja sama tropical punch.”
Reyhan melambaikan tangannya, seorang pelayan bergegas menghampiri. Dengan cepat dicatatnya pesanan tamunya ini. Setelah itu dia bergegas pergi menuju dapur.
__ADS_1
“Gimana kerja di L’amour? Betah?”
“Hmm.. lumayan. Aku masih harus menyesuaikan diri aja, soalnya WO kan bidang baru buatku.”
Setelah mengundurkan diri dari kantor papanya, Bilqis bergabung dengan Rain mengelola L’amour. Baginya, bekerja di Traum Design itu membosankan. Selain itu Bilqis juga tidak bisa bergerak bebas, karena Nino dan Akhtar selalu mengawasinya. Tahun depan Fikry juga sudah mulai bergabung dengan perusahaan. Itulah sebabnya dia memilih mundur dan mencoba peruntungan di L’amour.
“Atau mending kamu nikah aja Qis. Udah ada yang siap ngelamar kamu.”
“Siapa? Ngga usah halu deh Rey.”
“Siapa yang halu. Beneran, orangnya ganteng, mapan juga dan yang penting dia pria yang baik dan bertanggung jawab. Gimana? Mau ngga?”
“Kamu alih profesi Rey jadi mak comblang?”
Reyhan tergelak. Bilqis memanyunkan bibirnya, Reyhan terlihat bersemangat sekali menjodohkannya. Padahal lelaki yang diinginkannya menjadi pendamping hidupnya adalah Reyhan. Seandainya Reyhan memiliki perasaan yang sama dengannya. Maka Bilqis akan melawan semua orang yang menentangnya. Dia bahkan siap melanggar norma agama.
Makanan pesanan mereka datang. Keduanya menikmati makanan sambil sesekali berbincang tentang kegiatan mereka sehari-hari. Karena kesibukannya di rumah sakit, Reyhan jarang sekali bertemu dengan Bilqis.
“Kamu masih ada jadwal ngga Rey?”
“Ngga ada.”
“Anterin aku pulang ya. Aku ngga bawa mobil.”
“Aku kan cuma bawa motor Qis.”
“Ngga apa-apa. Sekali-kali boleh lah ngerasain naik si butut.”
Reyhan berdecak sebal. Kata butut terus saja menyertai tunggangannya yang sudah setia menemaninya selama sepuluh tahun. Bilqis hanya terkikik geli.
“Hai.. ketemuan di sini kita.”
Reyhan dan Bilqis kompak menolehkan kepalanya. Di samping meja mereka sudah berdiri Zahran lengkap dengan senyuman tengilnya. Tanpa menunggu ditawarkan, dia langsung menarik kursi di samping Reyhan.
“Bang Za di sini juga?” sapa Reyhan.
“Iya, tadi abis ketemu klien. Ngga sengaja lihat kalian di sini. Udah pada makan?”
“Ngga lihat tuh piring kotor? Cari basa-basi yang lain napa sih.”
Zahran hanya terkekeh mendengar jawaban Reyhan. Kemudian matanya menatap Bilqis yang nampak tak acuh padanya. Sejak melihatnya di cafe The Citizen, Zahran langsung jatuh hati pada Bilqis. Awalnya dia ragu karena Bilqis sudah memiliki pujaan hati. Tapi begitu tahu hubungan Bilqis dengan Reyhan, semangatnya kembali berkobar. Apalagi Elang juga mendukungnya.
Reyhan mengambil ponsel di saku kemejanya. Terlihat melihat ponsel tersebut untuk beberapa saat kemudian memasukkannya kembali.
“Bang, masih ada acara ngga?”
“Ngga, kenapa?”
“Tolong anterin Bilqis pulang. Qis, kamu pulang sama bang Za aja ya. Mendadak dokter Agung minta ketemu, kayanya urgent. Lagian lebih enak pulang naik mobil dari pada motor butut. Bang, aku titip Bilqis ya.”
Tanpa menunggu persetujuan Bilqis, Reyhan segera meninggalkan meja mereka. Dia mampir di meja kasir sebentar untuk membayar makanan setelah itu bergegas kembali ke rumah sakit. Reyhan memang sengaja memberikan kesempatan pada Zahran untuk lebih dekat dengan Bilqis.
Reyhan bukan tidak menyadari perasaan Bilqis untuknya. Oleh karenanya dia senantiasa menjaga jarak dari Bilqis, tidak memberikan perhatian berlebih seperti dulu. Dia takut Bilqis akan semakin tenggelam dengan perasaannya. Reyhan berharap Bilqis dapat membuka hati untuk Zahran.
🍁🍁🍁
**Bang Za nongol lagi nih. Kalau Bang Za jadian Ama Bilqis, Irzal n Fahri bakalan jadi saudara besan😁
__ADS_1
Tapi saingan bang Za berat nih, si akang dokter bedah.
Berhubung mamake udah up 3x, jangan segan² buat like, comment n vote ya😘😘😘**