Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 2 : BITTER SWEET ROMANCE Nikah Sirri


__ADS_3

PRANG!


PRANG!


Chalissa memecahkan barang-barang yang ada di dekatnya. Pemberitaan tentang konferensi pers menyebar dengan cepat. Adegan Akhtar dan Rain berciuman juga terus muncul di media sosial. Chalissa benar-benar geram melihat kemesraan Akhtar dengan Rain. Usahanya beberapa hari ini seolah sia-sia terbungkam dengan aksi mereka.


Kanaya datang tergopoh-gopoh mendengar suara gaduh dari kamar anaknya. Begitu pintu terbuka nampak pecahan vas, gelas, cermin berserakan di lantai. Chalissa yang masih kalap terus berusaha menghancurkan apa saja yang ada di sana. Dengan cepat Kanaya dibantu dua orang asisten menahan aksi anaknya.


“Lepas ma! Lepas!”


“Sadar Lissa! Sadar!”


“Lepas!!”


PLAKK!!


Tak dapat mengendalikan Chalissa, Kanaya menampar anaknya dengan kencang hingga terjatuh. Chalissa menangis tersedu sambil memegangi pipinya yang terkena tamparan sang mama. Kanaya menyusul Chalissa duduk di lantai lalu memeluknya erat. Hatinya miris melihat anaknya yang kehilangan keinginan untuk hidup. Setiap harinya hanya Akhtar yang ada dalam pikirannya.


“Sadar Lissa, lepaskan Akhtar. Dia bukan jodohmu, lanjutkan hidupmu. Carilah lelaki lain yang lebih baik darinya.”


“Aku hanya mau Akhtar ma! Akhtar! Aku ngga mau yang lain. Mama tahu bagaimana perjuanganku mendapatkan Akhtar dulu. Aku ngga rela harus melepaskannya demi perempuan murahan itu!”


“Sadar sayang, kamu jangan seperti ini terus.”


“Aku cuma mau Akhtar ma. Aku hanya menginginkan dia, cuma dia yang mengerti dan menerima diriku apa adanya hiks.. hiks..”


Chalissa terus menangis, Kanaya sudah tak tahu harus bagaimana lagi menghadapi anak gadisnya ini. Tak lama Tombak datang beserta dokter keluarga. Dokter segera menyuntikkan obat penenang pada Chalissa. Tubuh Chalissa perlahan mulai kehilangan tenaga kemudian jatuh tertidur. Tombak membopong tubuh Chalissa kemudian menidurkannya di kasur.


Semua meninggalkan kamar Chalissa. Di ruangan keluarga, Adam sudah datang. Tombak mengajak Kanaya berbicara perihal anak gadisnya. Istri dan anak Adam memilih bermain di halaman belakang, tak ingin ikut campur dalam masalah keluarga mertuanya.


“Ma, besok kamu ke Bandung.”


“Ngapain pa?”


“Temui Akhtar, minta dia untuk menikahi Lissa. Nikah sirri untuk sementara. Pada waktunya nanti minta dia mensahkan pernikahannya dengan Lissa.”


“Papa ngga ngigo kan? Papa minta Akhtar menikahi Lissa? Dia itu sudah punya istri pa.”


“Karena itu minta dia menikah sirri saja dulu. Yang penting Lissa bisa tenang. Kita ngga bisa membiarkan Lissa terus-terusan seperti ini.”


“Dari awal papa yang salah karena membatalkan pernikahan mereka. Sekarang kondisi Lissa seperti ini papa kasih solusi nikah sirri. Solusi macam apa itu?”

__ADS_1


“Untuk saat ini ngga ada cara lain ma. Emang mama tega lihat Lissa terus-terusan seperti itu. Dia emang cinta mati sama Akhtar. Jangan salahkan papa ma, papa melakukan semua awalnya demi kebaikan Lissa dan keluarga kita,” Adam yang awalnya diam mulai ikut berkomentar.


“Kamu dan papamu sama saja. Bukannya mengingatkan papamu, kamu malah mendukungnya. Mama ngga setuju, lagi pula belum tentu Akhtar mau. Kalian ngga lihat bagaimana dia dan istrinya saling mencintai?”


Tombak menyandarkan punggungnya ke sofa, tangannya memijat pelipisnya yang terasa pening. Andai dia tahu masalahnya akan seperti ini, mungkin dulu dia memilih menutup mata akan latar belakang Akhtar.


Adam, anak Kanaya hasil pernikahannya dengan lelaki lain sebelum Tombak mencoba membujuk sang mama. Sejak kecil Adam memang dekat dengan Tombak. Maka dia akan melakukan apapun yang membuat papanya senang dan bangga padanya.


“Ma, Akhtar itu kan orangnya ngga tegaan. Coba mama ngomong sama dia, ceritakan soal kondisi Lissa. Kalau perlu mama berlutut padanya, minta dia menikahi Lissa. Yang penting bisa menenangkan Lissa dulu. Kalau mama nangis-nangis sambil memohon, aku yakin ma, Akhtar pasti akan luluh. Bilang juga kalau Lissa beberapa kali mencoba bunuh diri, aku yakin deh cara ini akan berhasil.”


“Benar kata Adam ma. Kalau Akhtar dan Lissa sudah menikah, percayakan sisanya pada anak kita. Lissa pasti akan bisa membujuk Akhtar untuk menceraikan Rain dan melegalkan pernikahan mereka. Yang penting bagaimana caranya Akhtar mau menikahi anak kita.”


“Keluarganya pasti ngga akan tinggal diam pa.”


“Lakukan diam-diam ma. Akhtar itu laki-laki, dia ngga perlu wali untuk menikah. Jangan sampai keluarga Akhtar atau Rain tahu soal pernikahan sirri mereka. Ayo ma, demi anak kita. Papa antar mama besok ke Bandung.”


Kanaya terdiam, hatinya masih menimbang-nimbang usulan dari anak dan suaminya. Melihat kondisi putrinya, tentu saja dia tidak tega. Tapi menikahkan anaknya secara sirri pun bukan pilihan yang bijak. Untuk sesaat Kanaya bimbang. Adam dan Tombak terus saja menghasutnya.


Di tengah-tengah perbincangan, Liam, anak bungsu Tombak baru saja pulang dari kampusnya. Tanpa sengaja dia mendengar percakapan orang tua dan kakaknya. Liam melangkahkan kakinya mendekati mereka.


“Jangan ganggu ketentraman keluarga orang lain ma. Bang Akhtar sudah bahagia dengan istrinya, jangan ganggu mereka. Biar kak Lissa menerima kenyataan kalau bang Akhtar bukan jodohnya. Menyayangi anak bukan berarti harus selalu menuruti keinginannya.”


“Liam!! Tahu apa kamu? Jangan ikut campur urusan orang dewasa! Dari dulu kamu selalu saja membangkang. Jangan ikut campur soal hidup kakakmu!” hardik Tombak.


Liam bergegas pergi dari ruang keluarga lalu masuk ke dalam kamarnya. Liam memang selalu bertentangan dengan Tombak. Berbeda dengan Adam yang mengikuti jejak sang papa dalam segala hal, Liam justru tumbuh sebagai seorang pembangkang.


🍁🍁🍁


Setelah semalaman terus saja dicekoki oleh anak dan suaminya, akhirnya Kanaya menyerah. Dia memilih mengikuti rencana Adam, berbicara dengan Akhtar dari hati ke hati. Berharap Akhtar bisa luluh dan menuruti keinginannya menikahi Chalissa.


Di sinilah sekarang Kanaya, sedang duduk cemas menunggu kedatangan Akhtar. Dia memilih bertemu di Marigold restauran. Akhtar berjanji akan menemuinya saat jam makan siang. Berulang kali Kanaya melihat jam di tangannya. sudah lewat sepuluh menit dari waktu yang dijanjikan, namun Akhtar belum juga datang.


Terdengar sapaan pelayan ketika seorang pelanggan masuk, dan ternyata itu adalah Akhtar. Kanaya tersenyum menyambut bakal calon menantunya tersebut. Akhtar menghampiri Kanaya, mencium punggung tangannya lalu duduk berhadapan dengannya.


“Apa kabar tante?”


“Alhamdulillah baik Tar, tapi Lissa...”


Seorang pelayan datang untuk mencatat pesanan. Kanaya segera memesankan makanan kesukaan Akhtar. Tak lama kemudian pelayan itu berlalu setelah mencatat pesanan. Kanaya berdehem beberapa kali sebelum memulai pembicaraan.


“Akhtar, tante minta maaf sebelumnya kalau tante lancang meminta hal ini padamu. Tapi jujur, tante bingung harus bagaimana lagi. Tante terpaksa melakukan ini semua demi Lissa.”

__ADS_1


“Ada apa tante? Tante mau minta apa?”


Kanaya menangis mendengar nama Chalissa disebut. Tentu saja ini adalah bagian dari sandiwaranya demi menarik simpati Akhtar. Akhtar menyodorkan tisu untuk Kanaya yang masih belum berhenti menangis.


“Lissa sakit Tar, dia depresi. Setiap hari hanya namamu yang disebut. Bahkan sudah tiga kali dia mencoba bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya. Beruntung tante dapat menemukannya tepat waktu, jadi nyawanya masih bisa tertolong. Tolong Lissa, Tar. Tante ngga sanggup melihatnya seperti itu, tante ngga sanggup.”


Kanaya kembali meneteskan airmatanya. Hati Akhtar menjadi tak tega. Berulang kali dia mengusap punggung tangan Kanaya untuk meredakan tangisnya.


“Lalu apa yang bisa aku lakukan tante?”


“Tante mohon Tar, kamu mau menikahi Lissa.”


Akhtar terkejut. Tangannya yang semula menyentuh tangan Kanaya segera terangkat. Matanya menatap tak percaya pada wanita paruh baya di hadapannya. Bagaimana mungkin Kanaya memintanya untuk menikahi Chalissa sedangkan dirinya sudah menikah dengan Rain.


“Tante bercanda kan? Mana mungkin aku menikahi Lissa, tante tahu kalau aku sudah menikah dengan Rain.”


“Nikahi dia secara sirri Tar. Tante tidak memintamu menikahinya secara resmi, cukup secara sirri demi menenangkan dirinya. Kita lakukan diam-diam tanpa sepengetahuan istri dan keluargamu. Tante mohon Tar, demi Lissa.”


“Tapi itu ngga mungkin tan.”


“Tante mohon Akhtar. Apa perlu tante berlutut di hadapan kamu? Demi Lissa tante akan lakukan apapun itu, berlutut bahkan bersujud di kakimu akan tante lakukan.”


Kanaya menggenggam tangan Akhtar, mencoba meyakinkan betapa putus asa dirinya hingga meminta Akhtar melakukan ini semua. Akhtar menghembuskan nafas panjang, dia tak mungkin menerima usulan Kanaya tapi di sisi lain dia pun tak tega melihat penderitaan seorang ibu.


“Tolong tante Akhtar. Tolong tante, nikahilah Lissa.”


“Tapi tante...”


“Kalau sesuatu terjadi pada Lissa, tante lebih baik mati Tar.”


“Tolong beri aku waktu untuk berpikir tan. Jujur aku sebenarnya ngga bisa melakukan ini. Aku mencintai istriku dan aku ngga mau mengkhianatinya.”


“Tante tahu. Tapi jika sesuatu terjadi pada Lissa, apa kamu yakin dapat hidup bahagia bersama Rain? Jika Lissa bunuh diri karenamu, apa kamu masih bisa melanjutkan hidup? Tante mohon demi masa lalu kalian, demi masa indah yang pernah kalian habiskan bersama, tolong pertimbangkan permintaan tante.”


“Ya tante, aku akan memikirkannya. Nanti aku akan menghubungi tante.”


“Terima kasih Akhtar, terima kasih. Maaf tante harus pergi, jangan lupa dimakan makananmu ya. Tante pergi.”


Setelah mendapat janji Akhtar untuk mempertimbangkan permintaannya, Kanaya pun pamit pergi. Tinggalah Akhtar yang termenung memikirkan pembicaraan mereka tadi. Bahkan pesanan yang sudah tersedia pun tak disentuhnya. Pikirannya benar-benar kacau. Perkataan Kanaya sedikit banyak mempengaruhi pikiran dan hatinya.


🍁🍁🍁

__ADS_1


**Maaf dua hari mamake ngga bisa up karena sibuk pindahan. Semangat terus ya readers.. Jangan lupa like and comment nya sama vote kalau belum terpakai, lempar ke sini aja😁


Happy Tuesday😎**


__ADS_2