Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 1 : DEAR UNCLE Apa Salahku?


__ADS_3

Kawasaki Ninja merah milik Elang memasuki pekarangan rumahnya. Ara yang duduk di belakangnya segera turun setelah Elang memarkirkan motornya. Ara mengurungkan niatnya masuk ketika melihat Alea melintas. Dengan wajah sumringah dia menghampiri Alea. Anak itu tak tahu menahu perihal konflik yang terjadi antara ayahnya dengan Alea.


“Mami Alea,” panggilnya dengan nada ceria. Alea menoleh, dia hanya melihat Ara dengan tatapan datar, tak sedikitpun membalas panggilan anak itu.


“Kak Ily ada? Ara mau main sama kak Ily boleh?”


“Ngga boleh. Kak Ily lagi sibuk sebentar lagi mau kuliah,” Alea bergegas menuju rumahnya. Tangan Elang mengepal melihat sikap Alea pada adik sepupunya itu. Dengan menahan amarah, dia mendekati Ara.


“Ara, ayo masuk sayang. Bunda baru beli es krim kesukaan Ara, Ara mau ngga?”


“Maaaauuuu,” Ara segera berlari memasuki rumah. Elang tersenyum getir melihatnya. Anak itu bahkan tidak menyadari perubahan sikap Alea padanya.


Di rumah sebelah, hati Azriel mencelos melihat interaksi maminya dengan Ara. Dari balkon kamarnya dia bisa melihat dengan jelas bagaimana sikap Alea terhadap Ara. Dengan kesal dia keluar dari kamarnya. Langkahnya tampak tergesa menuruni anak tangga. Alea yang melihatnya langsung menegur.


“Ziel, mau kemana kamu?”


“Mami ngga usah tahu!”


“Ziel! Jangan kurang ajar kamu!”


“Bodo!”


Tanpa menggubris Alea, Azriel segera keluar dari rumah. Dia melangkahkan kakinya menuju rumah Irzal. Melihat pintu rumah yang terbuka, tanpa mengetuk Azriel langsung masuk ke dalam.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Hey Ziel, tumben jam segini udah di rumah. Ngga latihan?”


“Ngga bunda, libur dulu,” Azriel meraih tangan Poppy kemudian mencium punggung tangannya. Diliriknya Ara sedang asik menikmati es krim, sepertinya dia tak terganggu dengan sikap maminya tadi.


“Mas El mana bun?”


“Ada di dojo.”


Azriel bergegas menuju dojo. Irzal memang sengaja membangun dojo untuk anggota keluarganya berlatih taekwondo. Rumah Irzal yang berada di ujung, membuatnya memiliki lahan lebih untuk membangun dojo. Azriel masuk ke dalam dojo, tampak Elang sedang berlatih jurus taekwondo. Sepertinya pemuda itu tengah melampiaskan amarahnya.


“Mas El,” Elang menghentikan latihannya ketika mendengar suara Azriel.


“Sparing partner sama aku ya. Aku lagi pengen latihan juga.”


Azriel menuju loker, mengenakan seragam taekwondo yang terdiri dari dobok (baju dan celana) serta ti (sabuk). Azriel tersenyum getir melihat kerah seragamnya yang masih berwarna putih, sedang Elang sudah berwarna hitam. Setelah dobok, ti dan hogo terpasang di badannya, dia segera menghampiri Elang. Tanpa aba-aba Azriel langsung menerjang Elang. Pertarungan langsung terjadi.


Beberapa kali Azriel terkena pukulan dan tendangan Elang. Maklum saja tingkatan mereka memang berbeda. Azriel yang baru memegang sabuk merah, sedang Elang sudah sabuk hitam Dan 1. Elang seperti menemukan samsak hidup untuk melampiaskan kekesalannya. Namun tak butuh waktu lama untuknya menyadari kalau tujuan Azriel bukanlah untuk berlatih tetapi menyerahkan tubuhnya menjadi pelampiasan Elang.


“Cukup Ziel! Kamu ngga konsentrasi hari ini, pulang sana!”


“Ngga! Aku mau naik tingkat mas. Ayo latihan lagi!”


“Pulang Ziel.”

__ADS_1


“Ngga! Aku masih mau latihan!”


“Kamu mau latihan apa minta dihajar hah?!” Elang mulai hilang kesabarannya.


“Hajar aja aku mas! Pukul aku! Tendang aku! Hatiku aja sakit melihat Ara diperlakukan seperti itu sama mami apalagi mas El!”


Elang terhenyak, dihampirinya Azriel yang masih berdiri dengan nafas yang memburu. Pancaran kemarahan dan kesedihan menjadi satu di matanya. Elang menepuk pelan bahu Azriel.


“Hentikan Ziel.”


“Lanjutkan mas, pukul aku! Pukul aku!”


“Ziel!!”


“Aaaaaaggghhhh!!!!”


Azriel berteriak kencang, dia nampak begitu frustrasi. Elang meraih belakang kepala Azriel kemudian menariknya dalam pelukannya. Poppy yang mendengar teriakan Azriel memasuki dojo sambil berlari.


“Ziel, kamu kenapa?”


“Ngga apa-apa bun. Dia cuma kesel salah terus belajar jurus baru.”


“Bener Ziel?” mata Poppy menyelidik ekspresi Azriel.


“Iya bunda hehehe.. maaf udah buat bunda panik. Ziel ngga apa-apa kok bunda sayang.”


“Pulang Ziel.”


“Mas El udah ngga marah? Kalau masih marah silahkan, Ziel masih kuat kok.”


“Mas udah ngga marah. Maaf kalau tadi memukulmu terlalu keras. Sekarang kamu pulang.”


Azriel mengangguk. Dia berjalan menuju loker, melepas hogonya kemudian meletakkannya kembali ke dalam loker. Diambilnya baju yang tadi dipakainya lalu menyampirkan ke pundaknya. Setelah itu Azriel berjalan keluar dojo.


“Ziel!” Azriel menoleh pada Elang.


“Mas El ngga marah sama kamu dan mas sayang sama kamu.”


Azriel mengulas senyum tipis, sambil melambaikan tangan dia meninggalkan Elang yang masih berdiri menatap kepergiannya.


🍁🍁🍁


“Dari mana kamu?” langkah Firly terhenti saat akan menapaki anak tangga begitu mendengar suara Alea.


“Abis main sama temen,” jawab Firly tanpa menengok ke arah maminya.


“Siapa? Sisil atau Ara?”


Alea melemparkan lembaran foto di tangannya, seketika lembaran foto itu bertebaran di lantai. Firly membalikkan tubuhnya kemudian memunguti foto-foto tersebut. Foto dirinya dengan Sisil juga Ara. Firly menghembuskan nafas lega tak ada gambar dirinya dengan Dimas. Alea berdiri sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya. Matanya menatap tajam pada putri satu-satunya itu.

__ADS_1


“Mami mata-matain aku?”


“Iya, karena kamu ngga bisa dipercaya.”


“Mami lihat sendiri kan foto-foto itu? Aku cuma ketemu sama Sisil dan Ara. Aku ngga ketemu sama om Dimas seperti keinginan mami.”


“Mami bukan hanya melarangmu bertemu dengan Dimas, tapi dengan semua orang yang berhubungan dengannya. Sisil adalah anak dari sahabat Dimas, kamu pikir mami ngga tahu? Mulai saat ini kamu ngga boleh bertemu dengan Dimas, Ara atau orang yang berhubungan dengannya!”


“Berarti Ily juga ngga boleh bertemu dengan keluarga ayah Irzal, papa Regan, tante Rena, tante Kalila dan oh Ily juga ngga bisa bertemu dengan keluarga mama Debby, karena mereka semua berhubungan dengan om Dimas.


Mami sadar dengan aturan yang mami buat? Semua yang berhubungan dengan mami dan papi itu ada kaitannya dengan om Dimas! Mami mau aku menjauhi mereka semua? Fine! Aku akan lakukan, dan hari ini aku menyadari kalau mami itu kacang yang lupa kulitnya!”


“Ily!! Jangan kurang ajar kamu!”


Firly tak mengggubris teriakan Alea. Bergegas dia menuju kamarnya di lantai atas. Firlan dan Azriel yang mendengar keributan di dekat tangga keluar dari kamarnya masing-masing. Mereka berpapasan dengan Firly yang akan masuk ke kamarnya.


“Kak lo kenapa?”


Firly melihat pada Azriel. Dia melangkahkan kakinya mendekat pada adiknya. Dengan emosi dia berbicara pada Azriel.


“Ini semua gara-gara elo!!” Firly mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Azriel.


“Maksud lo apa kak? Salah gue apa?”


“Salah lo apa? Semua yang terjadi karena elo!! Karena impian elo!! Waktu lo bilang sama mami kalau ingin jadi atlit bulu tangkis, semuanya berubah. Dan semenjak elo jadi juara untuk pertama kalinya, mami mulai berubah. Mami mulai haus dengan pujian, mami menginginkan semua anaknya bisa membanggakannya dan mami mulai bersikap otoriter mengatur semua sesuai keinginannya. Semua gara-gara elo!!


Apa lo tahu kalau mami memaksa Ilan buat belajar lebih giat supaya apa? Supaya dia menjadi juara umum dan jadi lulusan terbaik! Itu semua demi gengsi mami. Dan gue, hubungan gue dan om Dimas ngga mendapat restu karena di mata mami status dan umur om Dimas itu sebuah aib!! Itu semua karena elo!! Karena elo!! Puas lo sekarang hah??!!”


“Ily!!”


“Apa?!! Lo ngga usah belain dia, karena dia hidup lo juga susah kan? Biar dia tahu kalau impiannya udah ngerusak hidup kita!!”


“Ily cukup!!”


Firlan segera menarik Firly masuk ke dalam kamarnya. Azriel terhenyak mendengar semua penuturan kakaknya.


🍁🍁🍁


**Kira2 apa ya reaksi Ziel begitu denger kata2 Firly barusan?


Jangan lupa ya


Like..


Comment..


Vote..


Danke😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2