Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Cemburu Membawa Khitbah


__ADS_3

Tiga hari sudah Ayunda dirawat di rumah sakit. Gadis itu merengek minta pulang. Selain tak tahan dengan makanan rumah sakit, Ayunda juga ingin cepat-cepat dilamar oleh Reyhan. Akhirnya dokter yang merawat memperbolehkan Ayunda pulang dengan sejumlah catatan.


Ayunda melarang orang tua dan kedua kakaknya menjemput ke rumah sakit. Dia ingin Reyhan yang mengurus semua kepulangannya termasuk mengantarnya ke rumah. Gadis itu sengaja melakukan hal tersebut demi memperlihatkan pada semua penghuni rumah sakit, khususnya para penggemar Reyhan, kalau dokter bedah nan ganteng ini sudah menjadi miliknya. Semenjak identitasnya terbongkar sebagai putra mahkota dari dokter Regan, yang juga pemilik Rakan Putra Group, deretan penggemarnya semakin bertambah saja.


Reyhan mengepak pakaian Ayunda di tas kemudian merapihkan obat-obatan yang harus dibawa pulang. Ayunda duduk di atas bed sambil mengayun-ayunkan kakiknya, memperhatikan kesibukan calon suaminya. Reyhan memang melarang Ayunda banyak bergerak karena kondisi lambungnya belum pulih benar.


“Udah selesai. Ayo pulang sekarang.”


Reyhan mengambil kursi roda lalu mendorongnya mendekat pada Ayunda. Saat gadis itu akan turun, Reyhan sudah lebih dulu membopong tubuh Ayunda kemudian mendudukkannya di kursi roda. Hati Ayunda berbunga-bunga mendapatkan perlakuan manis dari calon imamnya itu.


Banyak mata memandang ketika Reyhan mendorong kursi roda yang diduduki Ayunda. Ada yang memperhatikan dengan pandangan penuh iri, ada yang mendelik kesal, ada juga yang terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya. Tapi Ayunda tidak peduli, dia bahkan menciptakan suasana lebih romantis lagi di depan semua orang.


Saat di dalam lift, semua yang ada di sana adalah kaum hawa dan sialnya semuanya adalah penggemar Reyhan. Tentu saja semua mata langsung mengarah pada Ayunda. Menilik gadis ini dari atas sampai bawah. Apa kelebihan yang dimilikinya hingga Reyhan bertekuk lutut padanya.


“Aaaaaauuu.”


“Kenapa sayang?”


Reyhan yang tengah berdiri langsung berjongkok di dekat Ayunda, meneliti apa yang membuat kekasih hatinya kesakitan.


“Perut aku sakit mas.”


“Sakit banget?”


Reyhan mengusap perut Ayunda membuat suasana di dalam lift mendadak panas. Berbagai reaksi ditunjukkan para wanita yang memperhatikan mereka. Ada yang langsung memalingkan wajahnya, ada yang mencibir, ada yang baper, ada juga yang terus memperhatikan sambil mengkhayal dirinya yang ada di posisi Ayunda.


“Masih sakit ngga?”


“Udah mendingan, makasih ya mas.”


Reyhan tersenyum lalu mengusap puncak kepala Ayunda. Para wanita itu bertambah baper bin keki. Pintu lift terbuka, Reyhan mendorong kursi roda langsung keluar melalui lobi rumah sakit. Dia meninggalkan Ayunda sebentar untuk mengambil mobilnya. Tiba-tiba datang seorang gadis menghampirinya. Gadis itu adalah mantan pasien Reyhan dan merupakan penggemar Reyhan garis keras.


“Eh.. lo tuh siapanya dokter Reyhan?”


“Kepo.”


“Denger ya, dokter Rey itu cuma milik gue, jangan berani ganggu dokter Rey.”


“Dih.. ngigo lo?”


“Mumpung gue masih bersikap baik, jauhin dokter Rey. Kalau ngga...”


Gadis itu menggerakkan tangan di depan lehernya dengan gerakan seperti menebas. Dua orang security yang melihat perdebatan mereka bersiaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Bukannya takut, Ayunda menanggapinya dengan santai.


“Lo yang harusnya hati-hati. Kalau berani deketin apalagi gangguin dokter Rey, siap-siap jadi almarhum. Jangan lo pikir karena gue duduk di kursi roda, gue ngga bisa bikin tulang lo patah ya.”


Ayunda menekuk jari-jari tangannya hingga terdengar bunyi gemeletuk. Wajahnya sudah seperti harimau yang siap menerkam mangsanya, membuat nyali gadis di sebelahnya sedikit menciut.


Mobil yang dikendarai Reyhan berhenti di depan mereka. Lebih dulu Reyhan memasukkan tas ke dalam mobil. Saking fokusnya pada Ayunda, Reyhan tidak menyadari keberadaan mantan pasiennya.


“Dokter Rey..” Reyhan menoleh pada gadis itu.


“Masih inget aku?”


“Hmm.. Kumala ya?”


“Ya ampun dokter masih inget aku. Aku jadi tersanjung.”


Kumala melirik pada Ayunda yang terlihat kesal. Reyhan hanya tersenyum menanggapi ucapan Kumala, membuat Ayunda bertambah dongkol. Reyhan beralih kepada dua security, meminta mengembalikan kursi roda yang digunakan Ayunda, yang diangguki oleh mereka.


“Ini siapa? Adiknya dokter Rey?” tanya Kumala.


“Ini Ayunda, istri saya.”


Sontak saja Kumala terkejut mendengar jawaban Reyhan, berbeda dengan Ayunda yang kegirangan. Reyhan berpamitan pada Kumala kemudian membopong tubuh Ayunda. Ayunda melihat ke arah Kumala kemudian menjulurkan lidahnya pada gadis itu. Setelah memasukkan Ayunda ke dalam mobil, Reyhan menyusul masuk kemudian menjalankan kendaraannya.

__ADS_1


“Itu yang tadi pasiennya mas Rey?” Ayunda mulai menginterogasi.


“Iya.”


“Kayanya spesial banget ya, sampai masih inget namanya. Jarang-jarang loh ada dokter yang inget nama pasiennya.”


Reyhan hanya tersenyum, Ayunda tengah cemburu padanya. Itulah sebabnya dia mengenalkan Ayunda sebagai istri pada Kumala, untuk meredam kecemburuan gadis ini. Tapi ternyata itu masih belum cukup.


“Dia itu anaknya dokter Chandra, makanya aku kenal.”


“Kalau bapaknya dokter kenapa berobatnya sama mas, bukan sama bapaknya aja.”


“Dia tuh sakit usus buntu dan harus dioperasi, sedangkan bapaknya dokter spesialis kulit dan kelamin, ya jadi berobatnya sama aku.”


“Kan banyak dokter bedah yang lain. Ada siapa tuh dokter yang pede gila sok kegantengan yang waktu itu ngajak kenalan.”


“Sammy.”


“Iya Sammy Simorangkir, kenapa ngga dia aja yang operasi.”


Reyhan hanya terkekeh, kenapa juga Sammy Simorangkir ikut dibawa-dibawa, apa salah dan dosanya mantan vocalis Kerispatih itu. Melihat Reyhan hanya tertawa membuat Ayunda bertambah kesal.


“Terus pasien kemarin yang cuma mau dioperasi sama mas, perempuan atau laki-laki?”


“Perempuan.”


“Pantes... makanya mas rela batalin pergi ke Munich karena pasiennya perempuan, pasti cantik juga.”


“Pasiennya memang cantik tapi pada masanya.”


“Maksudnya?”


“Pasien aku yang mau dioperasi itu umurnya sudah 55 tahun ayangku...” gemas Reyhan.


“Ooh.. tapi kan...”


“Mancing emosi mas gitu? Jadi mas marah aku tanya-tanya gini, iya?”


Reyhan menepikan kendaraannya, kemudian melihat ke arah Ayunda. Tubuhnya sedikit dicondongkan kepada gadis itu.


“Jangan mancing aku buat nyium bibir kamu, karena itu satu-satunya cara buat kamu diam.”


Pipi Ayunda merona, spontan dia mengarahkan wajahnya ke arah lain. Reyhan memegang dagu Ayunda kemudian mengarahkan wajah gadis itu agar melihatnya lagi.


“Aku mencintaimu Ay.. di luar sana memang banyak perempuan yang lebih cantik dan menarik, tapi cuma kamu yang aku mau. Sampai kapan kamu terus cemburu hmm..”


“Sampai mas benar-benar menjadi milikku.”


“Kalau begitu bersiaplah, nanti malam aku akan melamarmu.”


🍁🍁🍁


Kesibukan kembali terjadi di rumah Irzal. Saat mengantar Ayunda pulang, Reyhan mengutarakan maksudnya melamar Ayunda nanti malam kepada Poppy. Seperti sudah terbiasa menghadapi acara dadakan, Poppy terlihat santai saja. Dia langsung memanggil Dimas untuk membantunya mempersiapkan semuanya.


Jam tujuh lebih sepuluh menit Regan beserta seluruh keluarganya datang ke kediaman Irzal. Kedatangan mereka disambut oleh Irzal dan Poppy. Semua anggota keluarga Ramadhan sudah hadir, termasuk keluarga Rena, Dimas dan Kalila. Pasangan pengantin baru, Bilqis-Zahran dan Nara-Gara juga datang.


Tanpa menunggu lama, Regan langsung mengutarakan niatnya melamar Ayunda untuk Reyhan. Walaupun sudah tahu keinginan anaknya, Irzal tetap saja menanyakan jawaban pada Ayunda.


“Gimana Yun.. apa kamu mau menerima lamaran Rey?”


“Pikirin dulu yang bener dek. Jangan langsung jawab iya.. iya.. aja tar heboh lagi,” celetuk Farel membuat Ayunda yang sudah bersiap membuka mulutnya menjadi tertahan.


“Ish bang Farel nyebelin banget sih.”


“Ya kali aja kamu ternyata cinta matinya sama mang Ihin”

__ADS_1


“Bang Farel!!”


“Farel..” tegur Irzal.


“Jadi gimana Yunda, apa kamu mau menerima lamaran anak papa?” tanya Regan.


“Iya pa.. Yunda mau.”


Jawab Ayunda seraya melihat ke arah Reyhan. Pria itu melemparkan senyuman manis, membuat Ayunda salah tingkah.


“Jadi kapan rencana pernikahannya?”


“Minggu depan ma,” jawab Reyhan yang tentu saja membuat semua yang ada di ruangan terkejut.


“Jangan bercanda Rey!”


“Aku ngga bercanda ma. Minggu depan aja. Kak, lo sanggup kan?” Reyhan menatap pada Rain.


“Lo ngeremehin gue Rey? Besok juga gue sanggup.”


Sarah memegangi kepalanya yang tidak pusing melihat tingkah laku kedua anaknya. Regan dan Irzal hanya mengulum senyum saja.


“Apa alasan kamu mau menikah secepatnya dengan Yunda?” tanya Irzal.


“Jujur yah.. aku capek ngadepin Yunda yang bawaannya cemburu terus. Aku ngga bisa kerja dengan tenang kalau Yunda selalu curiga sama aku. Jadi, satu-satunya cara buat ngeyakinin dia, ya nikah secepatnya.”


Poppy menutup wajah dengan kedua tangannya, kelakuan putrinya benar-benar membuatnya malu. Tapi Regan dan Sarah hanya tertawa saja menanggapinya. Mengingat awal hubungan mereka dulu, Sarah juga kerap dilanda cemburu terhadap pasien dan para koas yang dekat dengan Regan.


“Ok, kalau begitu minggu depan acara pernikahannya. Kamu mau mahar apa sayang?”


“Apa aja ma, yang penting bermanfaat dan tidak memberatkan. Asal jangan rumah sakit beserta dokter dan pasiennya.”


“Dasar pea!” celetuk Farel. Ayunda menyebikkan bibirnya ke arah Farel. Yang hanya ditanggapi tak acuh oleh kakaknya itu.


Akhirnya acara lamaran selesai dengan kesepakatan, pernikahan akan dilangsungkan seminggu lagi dengan mas kawin seperangkat alat shalat beserta satu set perhiasan.


Saat Ayunda sedang menikmati hidangan bersama dengan Nara dan Bilqis, Reyhan menghampiri dan memintanya ikut ke halaman belakang. Sesampainya di sana, keduanya duduk di kursi taman.


“Ay.. waktu kita mepet banget, dan aku juga sibuk di rumah sakit. Jadi semua urusan aku serahin sama kak Rain dan Bilqis. Kamu ngga apa-apa kan? Tapi untuk cincin pernikahan sama fitting baju, aku bakal sempetin.”


“Iya mas.”


“Selain beli cincin dan fitting baju, sebaiknya kita ngga usah ketemu dulu ya.”


“Kenapa?”


“Aku takut ngga bisa mengendalikan diri Ay. Semenjak malam itu, setiap melihatmu aku selalu ingin melakukannya lagi dan lagi. Jadi, lebih baik kita tidak bertemu dulu.”


“Tapi mas janji ya jangan lirik-lirik cewek lain.”


“Iya Ay.. kamu ngga percaya sama aku?”


“Aku percaya sama mas. Tapi aku ngga percaya sama para pemujamu. Bisa aja kan mereka melakukan berbagai cara untuk mendapatkanmu.”


“Aku bukan pria bodoh Ay. Butuh perjuangan untuk mendapatkanmu, dan aku ngga mau usahaku sia-sia. Kamu percaya aku kan?”


“Iya mas.”


Senyum mengembang di wajah mereka. Keduanya terus berbincang merencanakan masa depan mereka sambil ditemani cahaya rembulan yang sinarnya begitu terang di langit yang penuh bintang.


🍁🍁🍁


**Hadeuh neng Ay, waktu sama bang Ilan ngga pernah cemburu sampe segitunya. Tapi ke akang dokter, cemburunya stadium akhir😂


Inget ya acara nikahan Rey dan Ay Minggu depan, yang mau dateng cepet kirim alamat kalian ke Rain atau Bilqis biar dikirimin kartu undangan. Jangan lupa siapin juga kado sama angpau nya.

__ADS_1


Kalo sekarang siapin jempol aja buat kasih like, comment and vote-nya.


Hari ini kembali ke dosis semula, 3x aja. Ditakutkan jempol mamake cantengan kalau kebanyakan up😎**


__ADS_2