
Elang berdiri di depan meja kerja Irzal dengan kepala tertunduk. Baru sepuluh menit dia sampai di kantor, Andri sudah menghubungi dan memintanya menghadap Irzal. Masih belum ada kata terucap dari pria paruh baya itu. Dia terlihat masih duduk menyender di kursi kebesarannya. Matanya menatap sang anak yang berdiri di hadapannya. Andri yang juga berada di ruangan yang sama hanya melihat dari arah sofa.
“Jelaskan kenapa kamu membatalkan kerjasama secara sepihak?”
“Ada butir-butir kesepakatan yang dirubah oleh mereka dan melenceng dari visi misi proyek yang kita ajukan.”
“Kenapa langsung memutuskan? Kenapa kamu tidak bernegosiasi terlebih dulu? Bukankah kamu handal dalam hal ini? Kenapa kamu memilih untuk melepaskannya sebelum mencoba negosiasi?”
“Maaf pak, tapi saya rasa kita tidak perlu bernegosiasi dengan orang seperti dia.”
“Orang seperti apa? Tatap mata saya ketika sedang berbicara!”
Elang mengangkat kepalanya, matanya bertubrukan dengan netra sang ayah. Wajah Irzal yang tanpa ekspresi membuat Elang kesulitan untuk mengetahui bagaimana reaksi sebenarnya sang ayah atas keputusan yang dibuatnya. Andri menghela nafasnya melihat drama ayah dan anak tersebut.
“Katakan apa alasanmu memutuskan kerjasama secara sepihak? Katakan dengan jelas sehingga saya bisa mengambil keputusan akan tindakanmu ini!” nada suara Irzal sudah mulai meninggi.
“Saya sudah jelaskan kalau semua dikarenakan butir-butir perjanjian yang mereka ajukan hanya mementingkan keuntungan semata dan bertolak belakang dengan visi misi kita. Saya mencoba untuk bernegosiasi tapi mereka meminta sesuatu yang tidak mungkin saya berikan. Selain itu dia juga sudah bersikap kurang ajar pada karyawan wanita yang menemani saya saat itu.”
“Apa yang mereka inginkan?”
“Mereka mau menukar butir perjanjian asalkan saya memberikan karyawan kita sebagai gantinya. Saya tidak bisa bernegosiasi dengan orang seperti itu.”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan? Proyek ini harus segera terlaksana karena perijinan sudah kita dapatkan. Apa kamu mau mengecewakan banyak orang yang berharap banyak pada proyek ini?”
“Saya akan mencari investor lain. Saya tidak akan berhenti sampai mendapat investor untuk proyek ini. Bapak bisa pegang janji saya. Kalau saya tidak berhasil mendapat investor, saya bersedia mundur dari jabatan saya.”
“Baik. Saya beri kamu waktu satu bulan. Buktikan janjimu dalam waktu satu bulan!”
“Baik pak.”
Elang keluar dari ruangan Irzal setelah tak ada lagi yang dibicarakan. Andri yang sedari tadi hanya memperhatikan mulai beranjak dari tempatnya duduk lalu menghampiri Irzal. Dia menarik kursi yang ada di depan meja kerja.
“Pak, apa bapak tidak terlalu keras pada Elang? Bapak sudah tahu bagaimana Pandu Wirayudha. Sejak awal kalau bapak mau, bapak pasti sudah menolak mereka. Tetapi kenapa bapak malah menerima dan meminta Elang melakukannya? Apa bapak tidak mempercayai Elang?”
“Saya cuma mau melihat bagaimana caranya menghadapi investor brengsek seperti Pandu. Jika dia hanya mendapatkan yang mudah, maka dia tidak akan pernah belajar dan berkembang. Saya tahu keputusannya untuk membatalkan kerjasama pasti sudah dipikirkan secara matang dan dia juga sudah mempunyai solusi untuk itu. Tapi ada faktor X yang tak terduga dalam masalah ini.”
“Maksudnya pak?”
“Siapa karyawan yang mendampingi Elang bertemu dengan Pandu?”
“Menurut Farel, dia adalah anak magang.”
“Anak magang? Siapa namanya?”
“Kalau tidak salah Azkia.”
“Azkia..” gumam Irzal.
Seketika ingatan Irzal tertuju pada gadis yang diajak Poppy makan bersama beberapa waktu lalu. Gadis yang begitu diinginkan istrinya untuk menjadi pendamping Elang.
“Cari tahu semua tentang gadis itu. Dari mulai kehidupan pribadinya, keluarga dan semua hal yang berhubungan dengan dia. Saya mau laporannya secepatnya, sore ini kalau perlu sudah ada di meja saya.”
“Baik pak.”
🍁🍁🍁
Elang menghempaskan tubuhnya ke sofa di ruangannya. Di sana Farel, Virza dan Jayden sudah menunggunya. Begitu mendengar kabar kalau atasan sekaligus sahabatnya itu membatalkan kerjasama dengan investor utama, mereka segera berkumpul di ruangan Elang. Tujuannya untuk mencari solusi dari masalah tersebut.
Farel menyodorkan sebotol minuman dingin pada sang adik. Elang menyambar botol tersebut dan langsung meneguknya sampai habis. Dengan kesal dilemparkannya botol tersebut ke tempat sampah yang berada di sudut ruangan.
“Santai mas bro, calm down,” Jayden menepuk pelan pundak Elang.
“Sebenernya apa alasan lo batalin kerjasama itu? Selain masalah poin-poin dalam surat perjanjian,” Farel mulai menginterogasi.
“Dia tuh brengsek. Dia minta poin itu dituker sama Azkia.”
“ Aje gila!!” seru Jayden.
“Masih untung tuh orang ngga gue bikin babak belur.”
“Terus sekarang rencana lo apa El?”
“Plan B seperti yang gue pernah bilang waktu itu.”
__ADS_1
“Tapi minta dia jadi investor itu susah El. Lo kan udah pernah ketemu dia waktu di London dan tahu dia seperti apa.”
“Cuma susah bukan mustahil. Mau ngga mau kita harus coba. Gue juga bakal ngelakuin pendekatan sama dia. Kalian siapin aja semua yang gue butuhin.”
Ketiganya hanya mengangkat jempol saja tanda setuju. Mereka juga sudah tahu bagaimana sepak terjang Elang. Kemampuan negosiasi Poppy sepertinya menurun pada sang anak. Selama di London, restoran Dimas bisa berkembang pesat bahkan berhasil membuka dua cabang sekaligus berkat hasil negosiasinya.
Jayden masih bertahan di tempatnya, ketika Farel dan Virzha sudah kembali ke ruangannya. Pemuda itu sengaja menunggu waktu berdua dengan Elang untuk melaporkan hasil penyelidikannya tentang Azkia. Dia menyerahkan sebuah berkas pada Elang yang berisikan semua informasi tentang Azkia.
Elang membaca semua yang berkaitan dengan Azkia. Dimulai dari informasi pribadi, keluarga, teman, sekolah, kuliah bahkan pekerjaan yang dilakukan gadis itu. Wajah Elang mengeras begitu membaca tentang insiden yang menimpa Azkia dulu. Saat sang ayah menjualnya pada Fandy untuk menutupi hutangnya.
“Sumpah ya bang, gue salut banget loh sama si Kia. Bisa dibilang dia tuh power puff girl atau wonder woman. Dia kerja banting tulang buat keluarganya karena bapaknya yang brengsek itu ngga mau kasih nafkah sama sekali. Bahkan tega ngejual dia buat bayar hutang. Ngga kebayang kalau gue jadi dia.”
“Azkia mengalami gangguan serangan panik setelah insiden dengan Fandy. Tapi kondisinya ngga separah dulu. Bisa dibilang sekarang udah lebih baik. Adi, seniornya di kampus yang kabarnya ngenalin Azkia sama psikiater yang akhirnya bisa bantu dia ngatasin serangan paniknya,” Jayen menambahkan.
“Emang apa yang dilakuin Fandy sampai Azkia begitu trauma?”
Jayden berdehem beberapa kali. Dia sengaja tak memasukkan informasi terperinci tentang insiden tersebut. Sebagai laki-laki dia malu sendiri untuk menceritakannya. Elang menatap Jayden dengan tajam membuat pemuda itu mau tak mau membuka mulutnya.
“Setelah bapaknya menjualnya pada Fandy, Azkia sempat melarikan diri tapi berhasil ditangkap. Dia dibawa ke sebuah gudang, bersama anak buahnya Fandy..... ehem... Fandy coba perkosa Azkia. Dia... hmm... dia....”
“Dia apa? Kalau cerita jangan dipotong-potong!”
“Di depan semua anak buahnya, Fandy melepas semua baju Azkia, kecuali pakaian da*a*nya aja. Beruntung saat itu ibu dan beberapa orang tetangga berhasil menyelamatkannya. Sejak saat itu Azkia trauma sekaligus malu karena banyak orang yang melihat tubuhnya. Mungkin juga itu salah satu alasan dia berhijab saat ini. Dan setiap ada laki-laki yang tiba-tiba mendekatinya, dia pasti langsung kena serangan panik. ”
Rahang Elang semakin mengeras, tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih. Kertas yang ada di tangannya pun sudah tak berbentuk lagi.
“Cari tahu semua tentang Fandy, jangan sampai ada yang tertinggal sedikit pun.”
“Siap bos.”
Sementara itu di ruangan lain, Irzal juga baru saja menerima laporan yang sama dari Andri. Semua hal tentang gadis itu diceritakan oleh Andri tanpa tertinggal sedikit pun. Dipandanginya foto Azkia yang diberikan oleh Andri.
“Dan Elang juga meminta informasi tentang Azkia dari Jayden. Sepertinya dia juga sudah menerima soal ini.”
“Cari tahu soal Fandy juga ayah dari gadis itu.”
“Baik pak.”
“Halo pak.”
“Bara, siapkan dua orang anak buahmu terbaikmu. Satu untuk mengawasi orang yang bernama Agus, saya akan kirimkan datanya padamu. Dan satu lagi untuk mengawasi Elang.”
“Mas Elang?”
“Hmm.. jangan sampai anak itu tahu kalau sedang diawasi.”
“Baik pak.”
Irzal mengakhiri panggilannya kemudian mengirim pesan pada Andri untuk mengirim data Agus pada Bara. Bukan tanpa alasan Irzal menyuruh Bara mengawasi Elang. Jika benar Elang memiliki perasaan pada Azkia, maka anaknya itu pasti akan mengejar Fandy.
🍁🍁🍁
Irzal masuk ke dalam kamar setelah berdiskusi dengan Elang tentang investor yang diusulkan oleh anaknya itu. Irzal banyak memberikan masukan pada Elang. Sedikit banyak dia mengetahui sosok yang akan dijadikan mitra bisnisnya. Di kantor, Irzal bersikap tegas layaknya atasan pada bawahan. Tapi di rumah dia adalah seorang ayah yang selalu siap memberikan dukungan untuk sang anak.
Irzal merangkak naik ke atas kasur. Poppy yang sedang berbaring menegakkan tubuhnya kemudian menyenderkan kepala ke dada suaminya. Dia sudah mendengar dari Andri apa yang terjadi antara Irzal dan Elang di kantor tadi.
“A, apa aa ngga terlalu keras sama El?”
“Ck.. pasti Andri ngadu sama kamu.”
“Kenapa? Keberatan kalau aku tahu? El itu anakku, aku ngga rela kalau dia ditindas orang walaupun itu ayahnya sendiri.”
“Bukan menindas sayang. Aa cuma mau Elang belajar banyak hal. Dia tidak pernah merasakan bekerja merangkak dari bawah, makanya dia perlu menghadapi berbagai situasi untuk menguatkan dirinya dalam mengelola perusahaan nanti. Akan banyak nantinya masalah berat yang menerpa. Kalau mentalnya ngga kuat, bagaimana dia bisa menjadi pemimpin yang baik.”
Dalam hati Poppy membenarkan apa yang dikatakan suaminya. Namun tetap saja sebagai seorang ibu, tak tega rasanya melihat anaknya dalam keadaan susah. Elang memang tak pernah mengeluh, tapi dia tahu kapan saat anaknya sedang menghadapi masalah. Terlebih janji yang Elang ucapkan pada sang ayah, jika tak bisa mendapatkan investor, sebagai gantinya dia akan mengundurkan diri. Hal ini cukup menganggunya.
“Kalau Elang gagal, apa aa akan tetap menerima pengunduran dirinya?”
“Apa kamu tidak percaya pada anakmu sendiri?”
“Aku percaya. Tapi kalau seandainya dalam satu bulan dia ngga bisa dapet investor, apa aa akan terima surat pengunduran dirinya?”
“Hmm..”
__ADS_1
“Aa!!” Poppy mencubit pinggang suaminya.
“Kalau dia mengundurkan diri, dia kerja di mana?”
“Dia bisa melamar ke Gala Corp atau Rakan Putra Group. Belajar bekerja di bawah pimpinan orang lain, supaya dia bisa tahu bagaimana rasanya menjadi bawahan.”
Poppy benar-benar kesal dengan suaminya. Tak ingin melanjutkan percakapan yang membuat kepalanya mengepul, Poppy segera berbaring dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
“Sayang, kamu ngga mau dengar kabar selanjutnya?”
“Kabar apa?!” jawabnya dari balik selimut.
“Soal Azkia.”
Mendengar nama Azkia, Poppy menyibakkan selimutnya. Kepalanya mendongak ke arah sang suami. Irzal menepuk dadanya, Poppy bangun lalu kembali merebahkan kepalanya di dada Irzal.
“Apa yang kamu tahu soal Azkia, sayang?”
“Ngga banyak. Aku cuma tahu kalau Azkia tinggal bersama ibu dan adiknya. Kondisi ibunya yang sakit-sakitan membuatnya harus bekerja mencari nafkah. Bapaknya di penjara karena kasus penipuan. Aku juga pernah dengar dari Rain kalau Azkia terkena gangguan panik karena trauma, tapi aku ngga tahu trauma karena apa.”
“Azkia pernah dijual oleh bapaknya untuk membayar hutang. Dia hampir diperkosa dan dipermalukan di depan banyak orang. Itu trauma yang dialaminya.”
“Aa tahu dari mana? Apa aa menyelidikinya? Kenapa? Apa aa ngga percaya sama pilihanku untuk Elang?”
Irzal tak langsung menjawab, diciumnya bibir sang istri yang memberinya rentetan pertanyaan. Poppy melepaskan dirinya dari pagutan Irzal seraya menepuk lengannya. Suaminya itu hanya terkekeh.
“Aa harus tahu semua tentang gadis itu. Karena orang yang mau kamu jodohkan itu dan yang sedang dekat dengan El saat ini adalah orang yang sama.”
“Maksud aa, perempuan yang lagi dekat sama El itu Azkia?”
Irzal mengangguk. Poppy menepuk tangannya dengan senang. Sepertinya keinginan untuk menjadikan Azkia menantu akan menjadi kenyataan.
“Kalau gitu aku mau kasih tahu sama El.”
“Jangan dulu.”
“Kenapa?”
“Biarkan mereka berproses sendiri. Saat ini El masih ragu dengan perasaannya. Perasaannya untuk Rain masih belum sepenuhnya hilang. Jadi jangan paksakan apapun saat ini. Aa percaya, pada saatnya nanti El akan menyadari siapa yang dia cintai dan diinginkannya menjadi pendamping hidup.”
“Semoga aja a. Aku ngga mau dia terlalu berlarut-larut dengan rasa cintanya pada Rain. Tapi melihat dia akhir-akhir ini, sepertinya Azkia sudah berhasil membuatnya melupakan Rain sedikit demi sedikit.”
“Semoga saja. Makanya biarkan saja untuk saat ini. Kita hanya perlu mengawasinya saja.”
“Ya ampun suami siapa sih ini? Selain ganteng, pinter juga bijak banget.”
Poppy mencubit kedua pipi Irzal sambil menggoyang-goyangkannya. Irzal menangkap kedua tangan istrinya lalu langsung mencium bibirnya. tak ada penolakan kali ini. Irzal mendorong tubuh Poppy hingga berada di bawah kungkungannya. Ketika Irzal hendak membuka baju tidur yang dikenakan istrinya, Poppy menahannya.
“Tapi soal di kantor gimana? Aa serius mau pecat El?”
“Makanya kamu bantuin El supaya bisa mendapatkan investor itu. Gunakan kemampuan negosiasi kamu untuk membantunya.”
Senyum Poppy mengembang. Ditariknya tengkuk sang suami kemudian mendaratkan ciuman di bibirnya. Tangan Irzal bergerak melucuti pakaian yang menutupi tubuh istrinya. malam ini sepertinya kedua pasangan paruh baya itu akan terlambat tidur.
🍁🍁🍁
**Bener buah jatuh ngga jauh dari pohonnya. Irzal bisa prediksi apa yang bakal dilakuin El. Fandy hati² ya, kalau ketemu mas El, kelar hidup Lo😂
Jangan lupa
Like..
Comment..
Vote..
Irzal versi kehaluan mamake saat ini**.
Ekspresi mas El pas denger soal trauma Azkia
__ADS_1