Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 1 : DEAR UNCLE Istri Luar Biasa


__ADS_3

Sehari setelah resepsi usai, Dimas mengajak Firly untuk berbulan madu ke beberapa kota di Eropa. Namanya bulan madu, sudah pasti hanya berdua saja. Ara dititipkan pada Poppy, untung saja anak itu mengerti kalau papa dan mama barunya perlu waktu berdua untuk lebih mempererat hubungan mereka.


Milan, London dan Paris sudah mereka kunjungi. Rencananya di hari ke sembilan bulan madunya Dimas akan mengajak Firly ke Swiss dan menghabiskan masa bulan madu di sana. Namun rencana hanya tinggal rencana, saat akan berangkat ke Swiss tiba-tiba Firly mengeluh sakit perut. Dan hal yang Dimas takutkan terjadi, Firly kedatangan tamu bulanan. Dan di hari itu pula Dimas memutuskan untuk pulang ke Bandung.


Bulan madu di saat istri tidak bisa disentuh bukan bulan madu namanya. Dia bukan lagi anak muda yang senang jalan-jalan mengagumi keindahan alam. Dalam benaknya bulan madu itu 30% jalan-jalan dan sisanya tentu saja dihabiskan di atas ranjang. Walaupun kesal, Firly akhirnya mengikuti keinginan suaminya kembali lebih cepat.


Kehidupan pernikahan mereka berjalan tanpa hambatan berarti. Dimas yang sudah dewasa dan pernah menjalani biduk rumah tangga bersikap cukup sabar menghadapi istrinya yang masih labil. Firly pun terus berusaha untuk menjadi istri sekaligus ibu sambung untuk Ara. Pertengkaran kecil tak dipungkiri kerap terjadi, maklumlah menyatukan dua kepala dalam satu wadah bukan pekerjaan mudah bukan. Tapi lagi dan lagi ketika pertengkaran itu terjadi, Dimas menyingkirkan egonya jauh-jauh. Memilih untuk bersabar dan mengalah.


Tak terasa pernikahan mereka sudah berjalan enam bulan lamanya. Firly juga tetap melanjutkan kuliahnya seperti biasa. Namun dia membatasi waktunya di kampus hanya untuk kuliah saja. Tak ada acara nongkrong-nongkrong ngga jelas sepulang kuliah, karena kewajibannya di rumah sudah menanti. Dia juga jarang bergabung dengan para sahabatnya, hanya di saat tertentu saja. Walaupun Dimas tak pernah melarangnya, namun Firly cukup sadar diri dengan statusnya sekarang.


Pagi ini seperti biasa kesibukannya dimulai sejak sehabis shubuh. Setelah menunaikan ibadah shalat shubuh, dibantu bi Surti dia mulai menyiapkan sarapan untuk seluruh keluarga. Dilanjut dengan membangunkan Ara yang terkadang tidur lagi setelah shalat shubuh. Dimas kerap melarang anaknya untuk tidur lagi tapi Firly kadang membelanya, membiarkan Ara tidur lagi dengan alasan agar tidak ngantuk di sekolah. Setelah pindah dari Milan, Dimas menyekolahkan Ara di sekolah berbasis Islam dengan sistem full day school.


“Ara, dimakan dulu sarapannya,” tegur Firly yang melihat anak itu masih saja berkutat dengan ponselnya.


“Bentar ma,” jawab Ara tanpa menoleh pada Firly dan masih asik melihat salah satu aplikasi yang sangat digemari ABG yang menampilkan video-video lucu atau konyol.


Tiba-tiba ponsel di tangan Ara terlepas dari genggaman tangannya. Dimas yang baru datang mengambil ponsel tersebut. Ara langsung cemberut, dengan wajah ditekuk dia memulai sarapannya. Dimas menarik kursi lalu duduk di samping putrinya.


“Kalau Ara ngga mau nurut sama mama, papa akan sita hp kamu.”


“Papa jahat.”


“Ara sayang, waktu di pagi hari itu sempit sayang. Kamu harus siap-siap ke sekolah terus sarapan. Jadi jangan buang waktu dengan bermain hp. Karena otak kamu harus fresh saat menerima pelajaran nanti. Kalau pagi-pagi kamu udah main ponsel, kasihan mata kamu yang harus terkena radiasi. Takutnya nanti Ara juga ngga konsen pas belajar nanti, karena kepikiran konten video yang Ara tonton,” cerocos Firly panjang lebar.


Aslinya Firly itu memang cerewet. Hal itu tergambar dari bentuk bibirnya yang tipis ditambah ada tahi lalat di dekatnya. Yang kata orang, tahi lalat di sekitar bibir menandakan kalau pemiliknya adalah orang yang cerewet. Entah benar atau tidak, nyatanya pada Firly benar adanya. Kini setelah menyandang status ibu sambung untuk Ara, kadar kecerewetannya bertambah.


“Iya ma.”


“Mulai hari ini Ara cuma boleh main ponsel akhir pekan aja,” tegas Dimas dengan nada suara tidak ingin dibantah.


“Iya pa,” jawab Ara pelan.


“Hari ini kamu ada kuliah sayang?”


“Ngga mas, dosennya lagi ada seminar di luar kota jadi minggu depan kuliahnya dobel waktunya.”


“Hmm.. oh iya ma. Hari ini abis pulang sekolah Ara diajak sama kak Yunda sama kak Farel nonton pertandingannya kak Ziel, boleh kan?”


“Ziel tanding hari ini?”


“Belum mas, baru seleksi aja. Dari 10 orang cuma dipilih 3 orang aja buat perwakilan.”


“Jadi gimana boleh ya?”


“Iya sayang boleh.”


Wajah Ara yang tadi tertekuk gara-gara ponsel yang disita kini sudah kembali ceria. Ara dan Dimas sudah selesai sarapan, keduanya bersiap untuk berangkat. Setelah mengambil tasnya, Ara mencium punggung tangan Firly baru kemudian masuk ke dalam mobil. Firly menghampiri Dimas, merapihkan sebentar posisi dasinya yang miring.


“Udah rapih, ganteng banget sih suamiku,” Firly menepuk pelan bahu suaminya. Dimas melingkarkan tangannya di pinggang istrinya, menarik tubuhnya lebih dekat lalu ******* bibirnya sebentar.


“Mas ih, nanti Ara lihat.”


“Mas berangkat ya.”


Firly mengangguk, diraihnya tangan Dimas lalu diciumnya punggung tangan suaminya itu. Dimas balas mencium kening Firly mesra. Kemudian masuk ke dalam mobil lalu melaju dengan kecepatan sedang.


🍁🍁🍁


Firly sudah selesai dengan tugas kuliahnya yang harus dikumpulkan besok. Untung saja hari ini libur, kalau tidak bisa dipastikan dia akan bergadang untuk menyelesaikan tugas tersebut. Firly melihat jam digital di ponselnya, pukul 11.04. Dia bergegas membereskan laptop dan buku yang berserakan.


Firly masuk ke dalam walk in closet, memilih-milih baju yang akan dikenakannya. Dia ingin memberikan kejutan pada suaminya, mendatanginya di kantor untuk makan siang bersama. Kalau istri yang lain akan membawakan makan siang lalu mereka makan bersama. Lain dengan Firly yang datang dengan perut kosong dan tampilan secantik mungkin.


Setelah memilih-milih, akhirnya dia menjatuhkan pilihan pada dress selutut warna lavender. Firly memulas wajahnya dengan make up tipis plus liptint berwarna sama dengan dressnya. Sekali lagi nyonya Dimas itu mematut dirinya di depan cermin. Perfect, batinnya. Kemudian dia bergegas turun ke bawah. Taksi online yang dipesannya sudah menunggu di depan rumah.


Butuh waktu sedikit lebih lama untuk sampai di kantor suaminya. Hari ini jalanan memang sedikit macet karena ada demo buruh di beberapa tempat. Firly turun dari taksi kemudian masuk ke dalam gedung. Resepsionis yang mengenalinya melemparkan senyum seraya menundukkan kepalanya tanda hormat. Beberapa karyawan yang melintas pun melakukan hal yang sama. Ada yang tersenyum tulus, ada juga yang karena terpaksa. Sebagian dari mereka memang belum merelakan penyemangat mereka telah mengakhiri masa dudanya dengan menikahi gadis belia.


TING

__ADS_1


Firly melangkah keluar dari lift lalu berjalan menyusuri koridor. Terlihat Arini tengah sibuk dengan laptopnya sampai tak menyadari kedatangannya. Firly berdehem, membuat mertua dari Ringgo itu mengangkat kepalanya.


“Eh ada bu Firly.”


“Ish...” Arini tertawa, Firly memang tidak suka dia memanggilnya ibu.


“Paksu ada di dalam, masuk aja.”


“Lagi sibuk ngga kak?” semenjak menikah dengan Dimas, Firly mengubah panggilan untuk Arini dari tante menjadi kakak.


“Ngga.. kalau kalian mau makan siang plus yang lainnya juga bisa kok,” goda Arini membuat wajah Firly merona.


Dengan cepat Firly mengetuk pintu lalu membukanya tanpa menunggu jawaban dari dalam. Dimas duduk di kursi kebesarannya dengan tumpukan dokumen di hadapannya yang baru saja selesai ditanda tangani. Melihat kehadiran istrinya, matanya langsung berbinar. Firly berjalan mendekat lalu duduk di pangkuan suaminya.


“Kok ngga bilang-bilang mau ke sini.”


“Surprise sekalin pengen tahu aja. Siapa tahu mas diam-diam ketemu cewek lain di sini.”


Dimas tergelak mendengarnya lalu tangannya memencet hidung istrinya itu dengan gemas. Firly melepaskan hidungnya dari capitan suaminya lalu memukul dadanya pelan.


“Sakit tau.”


“Sini mas obatin,” Dimas mengecup hidung Firly.


“Mas, laper.”


“Kebiasaan kalau ke sini selalu laper. Kalau istri yang lain ke kantor suaminya bawa makanan ini malah bawa perut kosong.”


“Kan aku bukan istri biasa mas.”


“Emang, istriku ini luar biasa cantiknya, luar biasa seksinya dan luar biasa hotnya,” bisik Dimas di telinga Firly.


“Mas iiihh,” wajah Firly merona membuat Dimas terkekeh.


“Mau makan apa sayang?”


“Beneran mau makan di sana?”


“Bener, aku mau buat penggemar mas kesedak pas lagi makan lihat kita.”


“Kamu tuh,” Dimas kembali mencubit hidung istrinya sekilas. Firly bangun dari duduknya lalu bersama-sama keluar ruangan. Sebelum makan siang, mereka melaksanakan shalat dzuhur terlebih dulu.


🍁🍁🍁


Seusai makan siang, Firly dan Dimas kembali ke ruangannya. Senyum mengembang di wajah Firly, keinginannya membuat karyawan wanita tersedak saat makan menjadi kenyataan. Tanpa malu dia bersikap romantis pada Dimas saat makan siang. Ada yang gemas, ada yang baper dan selebihnya dongkol.


“Kenapa senyum-senyum sendiri?”


“Ngga apa-apa, lagi seneng aja.”


“Seneng karena udah bikin karyawan perempuan kesedak gitu?”


Firly terkekeh tebakan suaminya benar seratus persen. Dimas mendaratkan bokongnya di sofa lalu menarik tangan Firly hingga duduk di pangkuannya.


“Mas minggu depan kita kemana gitu.”


“Emang ada apa minggu depan? Bukannya kamu kuliahnya dobel ya buat gantiin yang hari ini.”


“Aku males mas masuk matkulnya pak Deka. Tuh dosen nyebelinnya tingkat akut.”


“Emang kenapa?”


“Euuh nyebelin banget. Udah galak, judes, pelit nilai, telat dikit potong nilai. Pokoknya nyebelin abis deh. Kalau ngomong juga ngga ada manis-manisnya pait mulu kaya jamu. Aku sering kena semprot dia.”


“Mas tebak deh, pasti udah tua, kepala botak, perut buncit sama kumisnya baplang,” Dimas tergelak mendengar ucapannya sendiri.


“Salah banget. Dosennya masih muda, hmmm.. sekitar 25 tahunlah, ganteng juga jadi banyak fansnya dia. Penampilannya keren, gayanya cool juga sih. Yaa bisa dibilang antara benci dan cinta gitu kalau ketemu dia.”

__ADS_1


Firly tak menyadari perubahan wajah suaminya ketika tanpa sadar menyebutkan kelebihan dosen yang katanya menyebalkan itu. Dia terjengit ketika merasakan rematan di bukit kembarnya. Lalu matanya bertubrukan dengan netra Dimas yang sudah menunjukkan aura kegelapan.


“Segitu mempesonanya ya dosen kamu itu.”


“Eh.. mas kenapa?”


“Kenapa hem? Apa pantas kamu memuji laki-laki lain di depan suamimu?”


“Aku ngga muji, cuma bilang faktanya aja.”


“Oh berarti dosen kamu memang ganteng, masih muda, penampilannya keren, gayanya cool juga. Jadi bikin kamu merasa benci tapi cinta gitu?”


Firly tergelak, suaminya ternyata sedang cemburu pada dosen menyebalkan itu. Dia mengalungkan tangannya ke leher Dimas, memandang wajahnya lekat-lekat lalu mencium bibirnya dengan sangat lembut.


“Bukan aku yg bilang benci tapi cinta, itu kata temen-temen aku. Dia emang ganteng dan mungkin punya banyak kelebihan, tapi buatku cuma mas yang paling ganteng, cuma mas yang buatku nyaman, cuma mas yang mengerti diriku, cuma mas yang aku cintai dan cuma mas yang bisa buatku melayang.”


Firly mengedipkan matanya setelah menyampaikan rayuan pulau kelapanya. Namun Dimas bergeming, tak ada respon terhadap ucapan dan sikap istrinya barusan. Firly semakin mendekatkan tubuhnya hingga dada keduanya menempel. Lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Dimas.


“I love you my sexy husband,” Firly menggigit kecil ujung telinga suaminya sambil meniup lubang telinganya. Dimas menggeram mendapatkan perlakuan nakal dari sang istri.


“Jangan memulai atau kamu akan menyesal,” suara Dimas mulai terdengar serak.


“Kalau begitu buat aku menyesal,” tantang Firly.


Dimas meraup bibir Firly lalu ********** dengan rakus. Firly membalas pagutan suaminya tak kalah garang. Lidah mereka pun sudah bermain dengan saling menarik, membelit dan bertukar saliva. Firly mengubah posisi duduknya yang semula miring kini menjadi berhadapan. Dress-nya tersingkap dan memperlihatkan pahanya yang mulus.


Tangan Dimas bergerak turun naik mengusap paha mulus itu. Kemudian tangan yang satu lagi menelusup ke balik rambut Firly, menarik tengkuknya untuk memperdalam ciuman mereka. Keduanya mengakhiri ciuman panas tersebut ketika terdengar ketukan di pintu. Buru-buru Firly turun dari pangkuan Dimas lalu berlari masuk ke kamar mandi. Tak lama Ringgo muncul dari balik pintu.


“Bos, sorry nih dokumen satu lagi ketinggalan belum ditanda tangan.”


“Kenapa ngga sekalian aja sih,” ketus Dimas yang merasa kesal momennya bersama Firly terganggu. Ringgo hanya mengendikkan bahunya saja seraya memasang tampang tak berdosanya. Dengan cepat Dimas menanda tangani dokumen tersebut.


“Rapat sore ini lo aja yang handle, gue mau pulang.”


“Dih, katanya lo sendiri yang mau meriksa laporan mereka.”


“Ngga jadi, udah sana keluar.”


s


Sambil bersungut-sungut Ringgo keluar dari ruangan. Dimas melangkah menuju meja kerjanya, mengambil ponsel dan jas dari kapstok lalu mengetuk pintu kamar mandi. Firly muncul dari dalamnya.


“Ayo pulang.”


“Pulang? Emang kerjaannya mas udah selesai?”


“Ada kerjaan yang lebih penting di rumah.”


“Apaan?”


“Nerusin yang tadi.”


Dimas menarik tangan Firly dengan lembut kemudian membawanya keluar dari ruangan menuju lift yang akan membawanya turun. Dengan posesif Dimas memeluk pinggang istrinya berjalan melewati lobi membuat beberapa karyawan yang melihatnya didera perasaan iri. Tak lama tubuh keduanya menghilang masuk ke dalam mobil diiringi pekikan beberapa karyawan wanita.


🍁🍁🍁


**Keren Firly dateng ke kantor suami cukup dandan yang cantik dan bawa perut kosong😂


Eh hampir 2000 kata nih, jangan lupa ya ritualnya sehabis baca..


Like..


Comment..


Vote..


Love you😉**

__ADS_1


__ADS_2