
“Sekarang kita kemana pa?”
“Ke klinik Keluarga Bahagia di jalan Riau. Nanti papa kasih tunjuk jalannya.”
Akhtar mengangguk, keduanya berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman depan rumah sakit. Dengan kecepatan sedang Akhtar memacu kendaraannya. Selama dalam perjalanan keduanya membahas kemungkinan siapa orang yang menjadi dalang semua ini.
“Apa mungkin om Tombak pa pelakunya.”
“Kenapa kamu berpikir ke arah sana?”
“Beberapa waktu yang lalu, tante Kanaya pernah menemuiku dan memintaku menikahi Lissa secara sirri.”
Regan langsung menatap tajam pada menantunya. Melihat pandangan sang papa mertua, Akhtar kembali melanjutkan perkataannya.
“Tapi aku menolaknya pa. Dan setelah itu aku ngga pernah berhubungan lagi dengan Lissa atau keluarganya. Karena itu mungkin saja ini ulah mereka untuk memisahkan aku dan Rain. Padahal keadaan kami sudah jauh lebih baik.”
Akhtar mengesah panjang. Dia mengusap wajahnya dengan kasar. Terbayang kembali saat-saat indah bersama sang istri sebelum ditutup dengan pertengkaran hebat keduanya dan kepergian Rain. Regan menepuk pelan pundak menantunya ini.
“Sabar... kalau kalian memang berjodoh, In Syaa Allah akan ada jalan kalian untuk bersatu kembali.”
“Gimana kalau Rain ngga memaafkanku pa?”
“Rain mencintaimu. Saat ini dia memang sangat marah dan kecewa padamu. Kamu harus bersabar untuk dapat meluluhkan hatinya.”
“Iya pa. Terima kasih sudah mendukungku.”
Pembicaraan terhenti ketika mobil yang mereka kendarai sudah sampai di tujuan. Akhtar memandangi bangunan di depannya yang dominan dengan nuansa putih. Regan mengajaknya masuk ke dalam.
“Pagi pak, ada yang bisa dibantu?”
“Saya mau bertemu dokter Ilham.”
“Sudah ada janji sebelumnya?”
“Sudah. Bilang saja dokter Regan yang datang.”
“Oh baik dok, sebentar.”
Petugas resepsionis segera menelpon ruangan dokter Ilham. Tak lama kemudian dia mempersilahkan Regan dan Akhtar menuju ruangan dokter Ilham yang berada di lantai dua. Tanpa membuang waktu, kedua pria itu segera naik ke lantai dua. Kedatangan mereka langsung disambut dokter Ilham.
“Dokter Regan, apa kabar?”
“Alhamdulillah baik,” kedua dokter itu bersalaman.
“Ada keperluan apa ini?”
“Saya mau dokter memeriksa menantu saya. Ini hasil lab pemeriksaan sebelumnya. Tapi saya curiga kalau hasil ini sudah dimanipulasi.”
Regan menyerahkan dua amplop di tangannya. Dokter Ilham membaca hasil lab tersebut kemudian memanggil salah seorang perawat. Dengan dipandu perawat, Akhtar menuju tempat untuk melakukan pemeriksaan. Setengah jam kemudian Akhtar kembali.
“Bisa saya minta hasilnya cepat dok?”
“Bisa, tenang saja dok. Besok hasilnya akan keluar.”
“Terima kasih. Kalau begitu, saya permisi dulu.”
Regan kembali menjabat tangan dokter Ilham disusul oleh Akhtar. Kemudian keduanya keluar dari ruangan. Jayden sudah mengirimkan lokasi keberadaan suster Nia dan Rani. Regan memutuskan untuk menemui suster Rani lebih dulu karena lokasinya lebih dekat. Kini keduanya akan menuju daerah Ciparay, tempat suster Rani berada saat ini.
Setelah menempuh perjalanan panjang ditambah kemacetan di beberapa tempat, akhirnya mereka tiba di alamat yang dituju. Mereka masih harus berjalan kaki memasuki gang kecil untuk sampai di kediaman suster Rani. Tibalah mereka di depan sebuah rumah kecil yang tampak usang. Regan mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya pintu itu terbuka.
Suster Rani termenung melihat Regan tapi kemudian wajahnya memucat ketika melihat Akhtar berdiri di samping Regan. Dia hampir saja menutup pintu kembali kalau Regan tak segera menahannya.
“Kita perlu bicara suster Rani.”
__ADS_1
“Ma.. maaf.. ka.. kalian sa.. sa.. lah orang.”
“Kita bicara baik-baik di sini atau di kantor polisi!” ancam Akhtar yang sudah tak bisa menahan amarahnya lagi. Regan menenangkan menantunya ini melihat suster Rani yang bertambah panik.
“Bisa kita bicara?”
Suster Rani hanya mengangguk menjawab pertanyaan Regan. Dibukanya pintu lebih lebar. Regan dan Akhtar segera masuk dan duduk di kursi tamu.
“Kamu pasti tahu kan maksud kedatangan kami ke sini?”
“Sumpah saya ngga tahu apa-apa. Saya cuma diminta suster Nia menukar hasil lab dengan imbalan uang. Saya minta maaf tapi saya memang sangat membutuhkan uang itu untuk pengobatan ibu saya.”
“Apa kamu tahu siapa orang yang telah menyuruh suster Nia?”
“Saya ngga tahu pak. Saya dihubungi suster Nia dan ditawari pekerjaan itu. Dia kasih saya uang setelah menukar hasil lab. Tolong jangan laporkan saya ke polisi pak,” suster Rani menangkupkan kedua tangannya.
“Sepertinya dia tidak tahu apa-apa. Lebih baik kita temui suster Nia saja.”
Regan mengeluarkan kartu nama dari dalam dompetnya lalu memberikannya pada suster Rani. Ragu-ragu wanita tersebut menerima kartu nama itu.
“Kalau suster Nia menghubungimu atau ada informasi yang bisa kamu berikan, tolong hubungi saya di nomor itu.”
“Ba.. baik pak.”
Regan dan Akhtar pun beranjak pergi. Suster Rani menghembuskan nafas lega. Dengan segera ditutupnya pintu rumah lalu kembali ke kamar. Dia takut ibunya mendengar percakapan mereka dan kondisinya bertambah parah.
🍁🍁🍁
Penyelidikan terus berlanjut esok harinya. Dikarenakan posisi dokter Trevor yang terus berpindah, Regan memutuskan untuk menemui suster Nia terlebih dulu. Pagi-pagi sekali dia dan Akhtar sudah berkendara menuju Bantarujeg yang ada di daerah Majalengka. Karena perjalanan yang cukup jauh Regan memutuskan untuk menggunakan jasa supir.
Di perjalanan Regan menerima hasil pemeriksaan Akhtar yang dikirimkan oleh dokter Pramana melalui e-mail. Sesuai dugaan, kondisi Akhtar subur. Tidak ada masalah dengan spermanya. Akhtar semakin merasa bersalah mengetahui keadaan dirinya. Kata-katanya ketika menuding sang istri berselingkuh kembali melintas di kepalanya.
“Aku subur pa, aku ngga mandul. Ya Allah apa yang sudah kulakukan. Aku menyakiti istriku dengan tuduhan tidak berdasar,” Akhtar menutup wajah dengan kedua tangannya.
“Setelah kita mengetahui siapa dalang dibalik semua ini, papa akan mengantarkanmu pada Rain, bersabarlah.”
“Bagaimana kalau dia tidak mau memaafkanku pa? Bagaimana kalau dia membenciku dan memilih berpisah dariku? Aku ngga mau hidup tanpanya pa, aku ngga bisa.”
“Kalau begitu berusahalah. Kejar dia, luluhkan hatinya seperti dulu dia meluluhkan hatimu. Kali ini adalah perjuanganmu. Rain mencintaimu tapi dia kecewa padamu, yakinkan dia kalau kamu menyesal. Apalagi di saat hamil seperti ini dia sangat membutuhkanmu, luluhkan dia.”
“Iya pa, terima kasih.”
Perjalanan terus berlanjut. Tempat yang dituju memang cukup jauh, sepertinya suster Nia benar-benar berniat untuk bersembunyi. Setelah hampir empat jam lamanya berkendara, mereka tiba di Bantarujeg. Berbekal titik koordinat yang diberikan oleh Jayden, sang supir terus menjalankan kendaraannya.
Mobil berhenti di sebuah desa yang diyakini sebagai tempat persembunyian suster Nia. Regan dan Akhtar turun dan mulai menyusuri jalanan. Mereka bertanya-tanya pada penduduk setempat tentang keberadaan Nia. Regan menunjukkan foto Nia sebagai petunjuk. Salah seorang nenek mengenali Nia dan mengantar mereka menuju sebuah pabrik pembuatan oncom.
“Aya Nia neng?” tanya sang nenek pada salah satu pegawai.
“Aya wa, sakeudap.”
Wanita itu masuk ke dalam untuk memanggil Nia. Tak lama mereka keluar bersama. Mata Nia memicing melihat ke arah Regan. Dia cukup terkejut dokter bedah di tempat bekerjanya dulu menemuinya di sini. Tapi kemudian langkahnya terhenti ketika melihat Akhtar muncul dari belakang Regan. Nia bermaksud untuk kabur, tapi Akhtar membaca pergerakannya dan segera menyusul lalu mencekal lengannya.
“Berani kamu kabur, aku akan membawamu ke kantor polisi sekarang juga. Aku juga akan mengekspos keberadaanmu pada depth collector yang mengejarmu!”
Mendengar ancaman Akhtar, Nia hanya pasrah. Dia mengikuti kemana Regan dan Akhtar membawanya. Mereka memutuskan berbicara di sebuah warung nasi. Setelah memesan minuman, keduanya mulai menginterogasi Nia.
“Siapa yang sudah menyuruhmu menukar hasil pemeriksaanku?”
Tak ada jawaban dari Nia. Wanita itu hanya menundukkan wajahnya. Bagaimana pun juga dia sudah berjanji untuk tutup mulut dan sudah menerima pembayaran atas pekerjaannya. Akhtar menjadi tak sabar, dia mengambil ponselnya lalu menunjukkan foto Tombak padanya.
“Apa dia yang menyuruhmu?”
“Bukan. Siapa dia?”
__ADS_1
“Jangan bohong!”
“Saya ngga bohong, bukan dia orangnya.”
“Apa dia? Dia? Dia? Atau dia?”
Berturut-turut Akhtar menunjukkan foto Ganjar, asisten Tombak, Adam, Kanaya dan terakhir Lissa. Namun Nia terus saja menggeleng, membuat Akhtar semakin geram. Dia melakukan panggilan pada Jayden, rupanya wanita ini tidak bisa diajak bicara baik-baik pikirnya.
“Halo Jay, sebar keberadaan suster Nia pada orang-orang yang sedang mencarinya. Setelah itu buat laporan ke kantor polisi, aku mau dia mendekam di penjara dalam waktu lama.”
“Jangan pak, saya mohon.”
Nia menangkupkan kedua tangannya pada Akhtar, matanya menatap penuh harap padanya. Akhtar memutuskan panggilan lalu kembali fokus pada Nia.
“Ceritakan secara detil sekarang!”
“Saya hanya menjalankan perintah dari dokter Trevor. Dia yang membuat laporan palsu itu dan saya disuruh menukar hasil tersebut ke rumah sakit Permata Medika dengan bantuan suster Rani.”
Regan dan Akhtar terkejut mendengarnya. Ternyata dugaannya salah, orang yang mereka cari adalah dokter Trevor.
“Bagaimana kamu tahu kalau saya melakukan pemeriksaan di Permata Medika?”
“Saya tahu dari dokter Trevor. Sumpah saya ngga tahu apa-apa, dokter Trevor yang mengatur semuanya. Setelah menukar hasil lab dengan Rani, saya dan Rani diminta mengundurkan diri dan menerima bayaran darinya.”
“Apa kamu bersedia menjadi saksi jika kasus ini dibawa ke pihak berwajib?”
“Saya...”
“Kalau kamu bersedia, saya akan melunasi semua hutangmu,” sela Akhtar yang tahu kebimbangan Nia.
“Saya minta nomor kamu.”
Dengan ragu Nia mengeluarkan ponselnya. Sebuah ponsel jadul yang chasingnya sudah mengelupas. Nia menyebutkan nomor ponselnya, Akhtar melakukan panggilan. Tak lama ponsel Nia berbunyi.
“Saya akan menghubungimu jika sudah saatnya bersaksi. Awas, jangan berani untuk melarikan diri lagi. Saya akan mengejarmu sampai ke lubang semut sekalipun.”
“Baik pak. Saya minta maaf, benar-benar minta maaf. Saya terpaksa melakukan ini semua. Maafkan saya juga dokter Regan. Kalau saya tahu pak Akhtar adalah menantu dokter, saya tidak akan mau melakukannya.”
“Sudahlah, saya tahu kamu terpaksa melakukannya. Kalau begitu kami pergi dulu. Ingat, tepati janjimu.”
“Baik dok, terima kasih.”
Regan mengeluarkan dompetnya lalu mengambil beberapa lembar uang berwarna merah muda dan memberikannya pada Nia. Wanita itu hanya diam memandang tak percaya pada Regan.
“Ambillah, kamu pasti butuh untuk anakmu.”
“Terima kasih dok.”
Nia mengambil uang dari tangan Regan. Sungguh dia merasa malu akan perbuatannya dulu. Nia menangis terisak seraya mengucapkan maaf. Regan dan Akhtar kembali ke tempat mereka memarkirkan mobil. Sambil menunggu kabar tentang dokter Trevor, mereka memutuskan untuk pulang.
🍁🍁🍁
**Ternyata yang nyuruh suster Nia itu dokter Trevor sendiri ya. Tombak minta semua orang yang sudah menuduh dia dan keluarganya segera meminta maaf sebelum melaporkan kasus ini ke jalur hukum dengan pasal pencemaran nama baik😁
Ayo terus dukung mamake biar level karya ini terus naik ya.
Like..
Comment..
Vote..
Happy Saturday😎**
__ADS_1