Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Menebar dan Menuai


__ADS_3

Azkia menangis tersedu dibalik punggung suaminya. Tangannya masih meremat kemeja sang suami dengan erat. Perlahan Elang merasakan cekalan tangan Azkia mengendur. Elang membalikkan tubuhnya dan di saat bersamaan tubuh Azkia terkulai. Elang menangkap tubuh Azkia.


“Yunda! Panggil papa Regan atau Rey,” teriak Elang sambil membopong tubuh Azkia masuk ke dalam lift.


Mendengar teriakan Elang, semua bergegas menghampiri. Yunda berlari keluar rumah menuju kediaman Regan. Sesampainya di kamar, Elang membaringkan Azkia di kasur. Poppy masuk menghampiri menantunya.


“Ambil minyak kayu putih atau pafum El,” titah Poppy.


Elang berlari menuju walk in closet, tak lama dia kembali membawa botol parfum lalu memberikannya pada Poppy. Poppy menyemprotkan parfum pada sapu tangan lalu mendekatkan ke hidung Azkia. Beberapa saat kemudian Azkia tersadar, Regan yang sudah datang langsung memeriksanya.


Irzal mengajak Erik juga Deski turun. Dia tak ingin kondisi menantunya bertambah drop jika kembali melihat ayah dan anak itu. Regan merapihkan peralatannya seusai memeriksa Azkia. Elang mendekat padanya.


“Kia ngga apa-apa kan pa?”


“Ngga, dia cuma shock aja. Memang ada masalah apa sampai dia shock begitu?”


“Panjang ceritanya pa. Tanya ayah aja kalau kepo.”


Regan mengeplak kepala Elang lalu keluar dari kamar itu. Poppy memeluk Azkia sebentar lalu meninggalkannya.


“Bunda ke bawah dulu. Temani Kia, tenangkan dia.”


“Iya bunda.”


Sepeninggal Poppy, Elang merangkak naik ke atas kasur lalu berbaring di samping istrinya. Azkia langsung memeluk Elang, tangisnya kembali pecah.


“Sabar sayang, jangan menangis lagi,” Elang mengusap punggung Azkia.


“Kenapa dia harus datang di saat aku sudah melupakannya. Aku sudah lama mengubur keingintahuanku tentang papa kandungku, kenapa dia harus datang sekarang. Dan Deski, kenapa harus dia yang menjadi kakakku.”


“Itu sudah ketentuan Allah sayang, tidak ada yang bisa kita lakukan. Mas tahu ini berat untukmu, terima ini dengan perlahan. Kita hadapi ini bersama sayang.”


Elang mengecup puncak kepala Azkia beberapa kali. Tangis Azkia masih belum reda. Elang membiarkan sang istri menumpahkan segala kesedihannya sambil terus memeluk dan mengusap punggungnya hingga akhirnya Azkia tertidur.


🍁🍁🍁


Mendengar cerita Azkia tentang Agus membuat Deski geram bukan kepalang. Dia segera memerintahkan Paul untuk mencari keberadaan Agus. Dalam benaknya hanya satu, membalaskan rasa sakit adiknya. Kalau perlu mengirim pria itu ke neraka.


Pintu ruangan Deski terbuka. Paul masuk ke dalam. Dia telah berhasil menemukan keberadaan Agus. Semenjak Agus tahu kalau Elang berhasil menyelamatkan Azkia, dia memilih keluar dari apartemen yang disediakan oleh Deski. Setiap hari Agus selalu berpindah tempat. Namun waktunya lebih banyak dihabiskan di tempat perjudian atau klub malam.

__ADS_1


“Antar saya ke klub itu sekarang.”


Paul menganggukkan kepalanya. Deski menyambar ponselnya yang berada di atas meja, lalu bergegas keluar ruangan. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam saat dia keluar dari gedung perkantoran miliknya. Paul membawanya ke sebuah klub malam yang menyuguhkan musik dangdut sebagai hiburan.


Deski mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Suasana ruangan yang remang-remang, sedikit membuatnya kesulitan menemukan keberadaan Agus. Namun kemudian Paul menunjuk sebuah meja yang terletak paling ujung. Di sana duduk empat orang pria ditemani empat wanita berpakaian seksi, salah satunya adalah Agus.


Deski berjalan mendekat, dia memilih duduk di dekat meja Agus. Ingin mendengarkan apa yang dikatakan laki-laki itu. Agus yang sudah mabuk terus meracau. Ketiga orang temannya termasuk para wanita yang menemani hanya mendengarkan saja layaknya siaran radio.


“Anak itu memang memiliki banyak keberuntungan. Dari dulu sampai sekarang selalu saja lolos dari jebakan yang kubuat. Seandainya saja Deski si bodoh itu bisa menjalankan rencanaku, maka itu akan menjadi pembalasan yang sempurna.”


Agus menjeda ucapannya, diteguknya lagi botol minuman keras yang ada di dekatnya. Sudah tiga botol minuman beralkohol itu masuk ke dalam perutnya. Agus meletakkan botol ke atas meja dengan kencang hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.


“Erik Yudhistira! Pria brengsek itu sudah menodai Daniarku, wanita yang paling kucintai. Bahkan dia menanamkan benihnya di perut wanita itu. Azkia... aku sangat membenci anak itu!! Andai Deski berhasil menidurinya maka dendamku akan terbalaskan dengan sempurna. Seorang kakak menodai adiknya sendiri hahahaha.... aku akan sangat bahagia membayangkan betapa hancurnya perasaan Erik. Pria itu harus merasakan apa yang kurasakan dulu.”


Tangan Deski mengepal kencang mendengar semua racauan Agus. Paul bersikap waspada melihat wajah tuannya sudah memerah.


“Tapi semua rencanaku hancur berantakan! Semua karena si brengsek Elang, lagi-lagi dia menggagalkan rencanaku. Ditambah dengan kebodohan Deski yang tidak bisa memanfaatkan kesempatan. Cuiiihhh... lihat saja aku tidak akan berhenti sampai dendamku terbalaskan. Azkia juga Erik harus menderita untuk membayar semua penderitaanku.”


Deski sudah tidak tahan lagi mendengar ocehan Agus. Dia berdiri sambil menendang kursi yang didudukinya. Dengan mata nyalang dia menghampiri Agus. Tinggal beberapa langkah lagi, seseorang menahannya.


“Jangan bertindak bodoh. Ayo pergi.”


Elang memberi kode pada Paul untuk membawa Deski pergi. Keduanya segera menarik Deski yang sudah dikuasai amarah keluar dari klub. Sesampainya di luar Deski menghempaskan tangan Elang dan Paul dengan kencang.


“Kenapa kamu menghalangiku?! Pria itu sudah membuat Kia menderita, dia pantas mati El!!!”


“Apa kamu pikir Kia akan berterima kasih kalau kamu membunuhnya? Ngga Des, justru dia akan semakin membencimu.”


“Aku ngga peduli! Yang penting aku bisa melenyapkan orang yang sudah membuatnya menderita! Kamu dengar sendiri kalau dia tidak akan berhenti untuk mencelakai Kia.”


“Kalau kamu membunuhnya maka kamu akan kehilangan kesempatan menjadi kakak untuknya. Pikirkan baik-baik, kamu ingin menjadi seorang pembunuh atau kakak yang menyayangi dan melindunginya?”


Deski terdiam, kata-kata Elang mulai dapat dicernanya dengan baik. Namun masih ada peperangan dalam hatinya. Dia takut kalau Agus akan menyakiti adiknya kembali. Deski meremas rambutnya frustrasi.


“Berikan Kia sedikit waktu lagi. Percayalah, lambat laun dia akan memaafkan dan menerimamu. Tapi selama itu jangan melakukan tindakan bodoh yang akan membuatnya semakin membencimu. Soal Agus, aku yang akan mengurusnya. Aku suaminya, aku yang akan menjaganya. Ingat juga papamu, apa yang akan terjadi padanya kalau kamu sampai menjadi seorang pembunuh. Pulanglah, Paul antar tuanmu pulang.”


Paul mengangguk lalu membawa Deski menuju mobilnya. Setelah memastikan Deski telah pergi, barulah Elang meninggalkan tempat tersebut. Untung saja dia meminta salah satu anak buahnya memata-matai Deski. Dengan temperamen Deski, dia yakin pria itu akan mencari Agus.


Sementara itu di dalam klub, Agus masih meneruskan kegiatannya minum-minum bersama ketiga orang temannya. Wanita yang menemani Agus kembali menuangkan minuman ke dalam gelas. Agus menarik wanita itu hingga jatuh ke pangkuannya lalu mencumbunya.

__ADS_1


Seorang pria berperawakan tambun datang menghampiri lalu duduk di dekat Agus, dengan isyarat dia menyuruh wanita yang sedang bersama Agus untuk menjauh.


“Gus.. kamu dicari bang Tigor,” ucap laki-laki tersebut.


“Ngapain bang Tigor nyari gue hah??”


“Ya apalagi kalau bukan nagih utang.”


“Bilang sama dia gue ngga punya uang!!”


“Jangan macem-macem kamu Gus. Bisa-bisa habis kamu sama bang Tigor kalau ngga bayar hutang.”


“Aku ngga peduli!! Pesretan dengan Tigor atau siapapun itu!”


Agus berdiri lalu dengan langkah sempoyongan dia berjalan keluar dari klub. Agus terus berjalan di tengah tetesan hujan yang mulai turun membasahi bumi. Dia berjalan menyusuri jalan setapak, sesekali masih terdengar racauannya. Di tengah jalan yang sepi, lima orang pria bertubuh kekar menghadangnya.


“Siapa lo? Kenapa halangin jalan gue, minggir.”


“Kita diutus bang Tigor buat nagih utang sama lo!”


“Gue ngga punya duit! Bilang sama bang Tigor, kapan-kapan aja gue bayar utangnya, oke.”


Agus mengangkat jempolnya ke arah pria itu. Tubuhnya tampak oleng akibat minuman yang diteguknya. Pria dengan banyak tato di lengannya itu memberikan isyarat pada keempat rekannya. Serempak keempat orang itu mendekati Agus dan mulai memukulinya.


Tubuh Agus terhuyung ketika mendapat pukulan. Dia menjadi bahan bulan-bulanan keempat orang tersebut. Pukulan dan tendangan mendarat di tubuhnya hingga akhirnya dia jatuh tersungkur. Bukannya berhenti, keempat orang itu terus menghajarnya tanpa mempedulikan rintihan Agus. Darah keluar dari mulut serta hidungnya.


Setelah puas memukuli Agus, kelima orang itu bergegas pergi. Agus tergeletak di jalanan dengan luka di sekujur tubuhnya. Dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk berdiri. Hujan turun semakin deras. Agus meringkuk di pinggir jalan, menahan sakit dan dinginnya air hujan yang menimpa tubuhnya.


🍁🍁🍁


**Agus.. terimalah apa yang sudah kamu tebar.


Dukungannya ya gaessss..


Like..


Comment..


Vote**..

__ADS_1


__ADS_2