Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Ara oh Ara


__ADS_3

Kediaman Irzal kembali sepi setelah tamu dan kerabatnya pulang. Saat Poppy akan menutup pintu, terlihat mobil Dimas berhenti di depan rumah. Setelah mengantar Firly dan kedua anaknya Dimas kembali ke rumah kakaknya itu.


“Loh Dim, ada yang ketinggalan?”


“Ngga teh. El mana?”


“Ada di ruang tengah.”


Dimas segera masuk kemudian menuju ruang tengah. Di sana semua anggota keluarga sedang berkumpul. Aslan terlihat sudah tidur di pangkuan Elang. Kedatangan Dimas mengejutkan semua orang. Lelaki itu segera menghampiri Elang.


“El, tolong lacak Ara. Hp nya mati, dari tadi om coba hubungi.”


“Emang Ara kemana om?”


“Dia tadi ijin ke ulang tahun temannya, tapi om curiga dia jalan sama Yama. Om ngga suka anak itu. Dia bawa pengaruh buruk buat Ara.”


Elang menyerahkan Aslan kepada Azkia, kemudian mengambil ponsel dari saku celananya. Dia segera menghubungi Jayden untuk melacak keberadaan Ara lewat GPS yang ditanam di kalung yang dipakai Ara. Hanya Jayden yang bisa mengakses lokasi GPS melalui kode yang hanya diketahui oleh Elang.


“Ara kenapa Dim?”


“Akhir-akhir ini anak itu susah diatur teh. Semenjak dia berteman dengan Yama, anak baru di kelasnya. Ngga tau apa yang udah berandalan itu tanamkan pada Ara. sekarang bukan cuma bohong, Ara juga sering ngebantah kalau dinasehati aku atau Ily.”


“Astaghfirullah.. kamu kok bisa kecolongan gitu sih.”


“Aku kan ngga bisa kontrol siapa yang dia temui di sekolahnya teh.”


“Om tenang aja. Ara pasti baik-baik aja,” Farel coba menenangkan.


Lima menit berselang, Elang telah menerima lokasi yang dikirimkan Jayden. Keningnya berkerut, seketika wajahnya berubah menjadi keras. Dimas yang menangkap perubahan pada wajah keponakannya, sudah bisa menebak pasti anaknya berada di tempat yang tidak semestinya.


“Di mana dia El?”


“Di Heaven and Earth. Itu night club om. Kenapa Ara bisa ada di sana?”


“Pasti si Yama yang ngajak dia.”


Tangan Dimas mengepal kuat, wajahnya sudah sangat mengeras, kulitnya yang putih sudah berubah merah. Dia berdiri hendak segera pergi namun Farel menahannya.


“Om, biar aku aja yang jemput dia. Om tunggu di rumah aja.”


“Aku ikut bang.”


“Ngga usah El. Udah biar gue aja yang jemput.”


“Farel benar. Lebih baik dia saja yang jemput. Dimas, kamu pulanglah, biar Farel yang menjemput dan mengantarkan Ara.”


Dimas menuruti nasehat Irzal. Dia pamit pulang dan mempercayakan Ara pada Farel. Kalau Dimas atau Elang yang menjemput, dipastikan akan terjadi keributan. Lebih baik Farel saja yang lebih bisa mengendalikan emosi.


Farel bergegas mengeluarkan mobilnya dari garasi. Dengan kecepatan penuh, dia segera memacu kendaraannya menuju Heaven and Earth Night Club yang berada di kawasan Braga.


Dua puluh menit kemudian Farel sudah sampai di salah satu klub terkenal yang ada di kota Bandung. Heaven and Earth adalah klub berkelas yang diperuntukkan khusus kalangan atas saja. Hanya member klub yang diperkenankan masuk.


Suara hingar bingar musik yang dimainkan **** DJ langsung menyapa gendang telinga Farel ketika pria itu melangkah masuk ke dalam klub. Beruntung dia mengenal pemilik klub, jadi diperbolehkan masuk.


Mata Farel menyapu semua penghuni klub di tengah remang-remangnya cahaya. Dia terus berkeliling mencari sosok Ara. Tak dipedulikannya sapaan para wanita seksi yang mengajak berkenalan atau berjoged.


Sementara itu di lantai atas, di salah satu ruangan VIP, Ara, Yama dan empat orang lainnya sedang duduk-duduk menikmati pesta ulang tahun salah satu teman Yama. Yama menuangkan champagne ke dalam gelas lalu memberikannya pada Ara namun ditolaknya.


“Sorry, gue ngga minum gituan. Gue minta orange juice aja.”


Ucapan Ara kontan mengundang gelak tawa yang lainnya, termasuk Yama. Tania, sang empu acara mengambil gelas dari tangan Yama lalu menyodorkannya pada Ara. Memaksa gadis itu untuk meminumnya.


“Ayo Ra minum dikit aja, buat ngerayain ultah gue.”


“Ngga.. dikit atau banyak dosanya sama aja kali.”

__ADS_1


“Ah elo mah ngga asik. Lo sendiri pake baju seksi kaya gini juga dosa tau.”


“Makanya gue ngga mau nambah dosa dengan minum begituan.”


Ucapan Ara kembali mengundang gelak tawa. Yama merangkul bahu gadis cantik itu kemudian mendaratkan ciuman di pipi Ara. Tentu saja Ara terkejut, spontan dia menjauhkan diri dari Yama.


“Apaan sih lo Ma, main cium aja.”


“Dikit doang beb. Masa udah dua bulan kita pacaran, ngga boleh cium pipi doang.”


Ara hanya terdiam. Sebenarnya dia risih dengan sikap Yama malam ini. Bukan hanya memintanya berpakaian seksi, mengajak ke klub, menyodorkan minuman beralkohol, Yama juga sudah mulai berani menyentuh dan menciumnya. Kalau bukan karena cinta, ngga mungkin Ara mau.


BRAK!!


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Mata Ara membelalak melihat Farel yang datang. Rahang Farel mengeras melihat Ara tengah dalam rangkulan Yama, ditambah dengan pakaiannya yang seksi. Ara memang mengenakan mini dress tanpa lengan yang memperlihatkan punggung dan paha mulusnya.


“Ara! Pulang!!”


“Eh siapa loh dateng-dateng main suruh Ara pulang aja. Lo om-nya Ara?”


Tangan Farel mengepal keras, hampir saja dia melayangkan tinju pada bocah ingusan itu. Namun Farel masih bisa mengendalikan dirnya. Ditariknya tangan Ara kemudian menyeretnya pergi dari tempat tersebut. Yama berusaha menghalangi, tapi melihat raut wajah Farel membuat nyalinya ciut. Akhirnya pemuda itu hanya diam melihat kekasihnya dipaksa pulang.


Beberapa kali Ara berteriak dan mencoba melepaskan cengkeraman tangan Farel. Namun lelaki itu tak menggubrisnya. Dibukanya pintu mobil lalu memasukkan Ara ke dalamnya. Dengan cepat Farel masuk ke dalam mobil kemudian melajukan kendaraan tersebut.


“Bang Farel apa-apaan sih! Bikin malu Ara tahu!!”


“Bikin malu? Kamu yang bikin malu! Coba kamu ngaca, lihat bagaimana penampilan kamu!! Kamu juga tahu tempat apa itu, kenapa kamu mau aja di bawa ke sana hah?”


“Aku ngga ngapa-ngapain. Teman aku ulang tahun dan ngerayain di sana. Aku juga ngga minum alkohol, bang Farel aja yang parno.”


“Kalau kamu ngga ada niat macem-macem kenapa hp kamu matiin?”


“Biar ngga berisik. Papa tuh suka rewel nelponin aku.”


“Ya wajar kalau papa khawatir karena kelakuan kamu bikin papa khawatir. Kamu beruntung bukan papa kamu yang jemput. Kalau sampai papa lihat kamu kaya gini, bisa-bisa dipatahin kaki kamu.”


“Wajar kalau abang nasehatin. Abang tuh kakak kamu.”


“Abang ngga ada hak nasehatin aku. Abang tuh cuma..”


Ara tak meneruskan kalimatnya. Dia langsung bungkam karena sudah terlalu jauh berbicara. Farel yang tahu maksud dari ucapan Ara, segera menepikan mobilnya. Dipandanginya wajah gadis di sampingnya lekat-lekat.


“Kenapa ngga diterusin? Abang ngga ada hak karena abang cuma anak angkat ayah Irzal gitu? Ok.. kalau gitu abang nikahin kamu aja biar abang punya hak untuk melarang dan mendidikmu.”


“Abang gila!!”


“Kamu yang gila!! Apa yang ada di otakmu ini,” Farel mengetuk-ngetuk kepala Ara dengan telunjuknya.


“Apa papamu kurang memberikanmu kebebasan sampai kamu bersikap seperti ini? Papamu tidak seketat ayah dalam mendidik anak-anaknya. Kamu masih dibebaskan bergaul dengan lawan jenis, tidak dituntut berhijab, masih diijinkan keluar malam walau sebentar. Kurang apa lagi?? Apalagi yang kamu mau?”


“Aku cuma pengen ngerasain kaya anak lain. Bergaul sama yang lain. Selama ini bang Farel juga tahu kalau papa membatasi pergaulanku. Aku ingin hidup normal seperti anak yang lain!!”


“Normal? Begini yang kamu maksud normal? Berpakaian seksi? Berkunjung ke night club, itu normal menurut kamu?!”


Ara tak menanggapi ucapan Farel. Dia memilih diam sambil mengarahkan wajahnya ke jendela samping. Farel mengambil ponsel di saku celananya lalu mulai menelpon seseorang.


“Halo Wi.. bistro lo masih buka?”


“...”


“Ok.. gue ke sana sekarang.”


Farel kembali melajukan kendaraannya. Kini tujuannya adalah sebuah bistro milik temannya yang ada di jalan Banda. Setelah berkendara beberapa saat, Farel menghentikan kendaraannya di sebuah bistro yang telah tutup namun pintu rolling door-nya belum sepenuhnya tertutup.


Farel turun dari mobil, disusul oleh Ara yang nampak ogah-ogahan. Farel menarik tangan Ara, kemudian membawanya masuk ke dalam bistro. Dewi, teman Farel sudah menunggu kedatangan mereka.

__ADS_1


“Wi, cariin baju buat nih anak.”


“Baju model apa?”


“Apa aja yang penting sopan. Bisa jantungan bapaknya kalau lihat anaknya pake baju kurang bahan kaya gini.”


Dewi terkekeh kemudian mengajak Ara melihat koleksi baju yang dijualnya. Setelah beberapa saat memilih pakaian, akhirnya Ara keluar juga. Kini tubuhnya sudah terbalut celana jeans dan T-Shirt longgar. Farel mengambil dompetnya lalu mengeluarkan kartu debitnya. Dewi dengan cepat memproses transaksi kemudian mengembalikan kartu pada sang pemilik.


“Thanks ya Wi. Gue balik.”


“Eh ini baju yang tadi.”


“Buang aja.”


Farel bergegas keluar dari bistro. Ara berjalan di belakangnya dengan wajah cemberut. Mereka melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Tak ada pembicaraan selama dalam perjalanan. Ara memilih menutup mulut.


Sesampainya di kediaman Dimas, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas. Ara masih belum mau turun dari mobil. Sejujurnya dia takut untuk pulang. Sudah bisa dibayangkan kemarahan sang papa. Ara tersentak dari lamunannya ketika Farel membukakan pintu untuknya.


“Turun!”


“A.. aku nginep di rumah bunda aja.”


“Turun!”


“Bang... please aku nginep di bunda aja ya. Aku takut dimarahin papa.”


“Turun!”


Melihat Farel bergeming, mau tak mau Ara turun dari mobil. Dengan langkah pelan dia menuju ke rumah. Untuk beberapa saat dia mematung di depan pintu. Dia melihat kesal ke arah Farel yang langsung memencet bel sebelum dirinya siap.


“Berani berbuat, berani bertanggung jawab,” ucap Farel enteng.


Tak berapa lama pintu terbuka. Ara dapat menghela nafas lega karena yang membukakan pintu adalah Firly. Dia mencium punggung tangan Firly kemudian masuk ke dalam rumah. Farel memilih ikut masuk karena takut Dimas kehilangan kendali.


Ara terjengit ketika melihat Dimas sudah menunggunya di ruang tengah. Tatapan Dimas penuh intimidasi. Ara menelan ludahnya kelat, keringat dingin langsung membasahi telapak tangannya.


“Dari mana?”


“Habis dari ulang tahun teman pa.”


“Di mana?”


“Di klub,” jawab Ara dengan suara sangat pelan.


“DI MANA??!!!”


Ara terkesiap mendengar suara Dimas yang menggelegar. Matanya langsung berkaca-kaca, belum pernah Dimas semarah ini padanya. Firly segera menghampiri Ara, tangis Ara langsung pecah dalam pelukan ibu sambungnya itu.


“Mana hp kamu?”


Sambil terisak Ara mengambil ponsel dari dalam tas lalu memberikannya pada Dimas dengan tangan bergetar.


“Hp ini papa sita. Dan kamu mulai besok akan diantar jemput supir ke sekolah. Mana kartu atm dan kartu kredit kamu?”


Ara mengambil dompet lalu mengeluarkan kartu ATM dan kartu kredit yang baru didapatnya sebulan yang lalu. Setelahn Ara berumur 17 tahun, Dimas memberikannya kartu kredit dengan catatan memakainya dengan bijak.


“Mulai besok berikan uang jajan secukupnya pada Ara,” ucap Dimas pada Firly. Istrinya itu hanya mengangguk saja.


“Masuk kamar!! Renungkan semua kesalahanmu!!”


Ara berlari masuk ke kamarnya sambil menangis. Firly segera menenangkan Dimas yang masih kesal. Setelah memastikan keadaan Ara baik-baik saja, Farel buru-buru pamit pulang. Sebelum Dimas menanyakan tentang Ara.


🍁🍁🍁


**Kita ke cerita Farel bentar ya sambil nunggu persiapan pernikahan Ay dan Rey.

__ADS_1


Ara udah mulai nakal nih. Untung Farel yg jemput, kalau mas El, tamat riwayatmu Ara.


Pagi ini agak santai ya mamake karena anak² libur sekolah. Tapi dukungan buat mamake jangan libur. Like, comment and vote jangan sampai ketinggalan**.


__ADS_2