Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
BONCHAP : AZRIEL Kutil Tyrex


__ADS_3

“Assalamu’alaikum.”


Azriel masuk ke kediaman Rena. keningnya mengernyit orang yang membalas salamnya adalah Virzha. Sahabat dari abangnya itu tengah duduk anteng di ruang tamu. Azriel mendudukkan diri di samping Virzha.


“Weh.. bang Vir, ngapain di sini?”


“Kamu ngapain ke sini? Nara kan tinggal di rumah Gara.”


Bukannya menjawab, Virzha justru mengajukan pertanyaan balik. Azriel mendengus sebal padanya.


“Aku juga tahu bang, Nara tinggal di rumah bang Gara.”


“Eh ada bang Ziel. Tumben, mau ngapain ke sini?”


Khayra muncul dari dapur dengan membawakan segelas minuman dan camilan untuk Virzha. Khayra mendudukkan diri di samping lelaki dingin itu.


“Ya ketemu elo lah. Masa iya mau ngapelin tante Rena. Bisa dibedah gue ama om Fahri.”


“Ngapain ketemu Khay?”


Suara Virzha kembali terdengar, entah perasaannya saja atau bukan, suara Virzha terdengar dingin dan menusuk.


“Kepo..” jawab Azriel asal.


“Abang sendiri ngapain ke sini?” lanjutnya.


“Ngga usah kepo. Kamu tahu kan kepo bisa menyebabkan patah tulang.”


“Jiaaaahhh... setahu aku kepo menyebabkan bengek dan rorombeheun doang.”


“Mau coba?” Virzha menggeretakkan jari-jari tangannya.


“Set dah dasar Yeti...” ledek Azriel.


Khayra hanya tepok jidat mendengar perdebatan unfaedah antara Virzha dan Azriel. Dia kembali ke dapur mengambilkan minuman untuk Azriel. Tanpa bertanya pun sebenarnya Khayra sudah mengetahui tujuan lelaki itu datang. Dia pasti ingin mengorek informasi tentang Salma. Karena Khayra dan Salma satu kelas.


“Bang Ziel pasti mau kepoin soal Salma kan?” Khayra meletakkan minuman di meja.


“Kalau mau tahu soal Salma tanya aku aja, ngga usah ke Khay.”


“Ngga usah sok SKSD deh sama Salma.”


“Dibilangin ngga percaya. Lupa ya kalau aku satu kompleks sama dia? Dari dia ingusan aku udah kenal sama dia.”


“Serius bang? Jiaaahhh.. kenapa ngga dari kemarin aja. Bang.. bantuin dong ama Salma.”


Azriel menggerakkan tangan Virzha dengan gaya manja membuat Virzha melihat jijik ke arahnya. dengan cepat ditepisnya tangan Azriel.


“Berhenti berharap aja. Salma lagi ta’aruf sama seniornya di pesantren dulu.”


“Serius bang? Tapi baru ta’aruf doang kan, belum khitbah, jadi masih bisa ditikung.”


“Coba aja kalau bisa. Tapi aku sih ngga yakin. Mereka udah kenal lama dari jaman SMP. Jadi peluangnya kecil. Mending cari yang lain. Bukannya kamu lagi deket sama Yoshi, anaknya om Agam?”


“Hoax itu.”


“Yah gimana dong bang. Kurang gercep abangnya.”


“Bukan jodoh kali Khay. Udah ah gue balik dulu ya.”


“Ah mental kerupuk. Belum berjuang udah nyerah duluan,” ledek Virzha.


“Bukan gitu bang. Aku Cuma ngga mau nyakitin hati sesama kaumku. Mas El sama bang Ilan sama-sama pernah ngerasain merelakan orang yang dicinta ditikung orang lain. Jadi aku ngga mau jadi tukang tikung.”


“Beuh.. retorika. Bilang aja jiper duluan,” Virzha tergelak.


“Dasar Yeti!! Khay.. lo pikir-pikir dulu deh kalau mau sama bang Virzha. Hidup lo kaga ada seru-serunya, lurus kaya jalan tol. Mending cari cowok lain, modelan gue gitu.”


Virzha melotot ke arah Azriel, tangannya sudah mengepal di depan wajah pemuda tengil itu. Azriel hanya terkekeh, setelah menghabiskan minumannya dia bergegas pergi.


🍁🍁🍁


Dengan langkah lunglai Azriel memasuki kediaman Regan. Dia langsung menuju ke halaman belakang. Menurut bi Mirna, Ayunda dan Nara sedang ngerujak bareng di sana. Terdengar tawa dua sahabatnya itu ketika kakinya hampir sampai di halaman belakang. Ayunda dan Nara tengah asik memakan rujak sambil berbincang.


“Gimana Yun, ramuan yang gue kasih? Tokcer ngga?”


“Gila lo, cape banget gue. Untung aja gue lagi hamil, jadi mas Rey ngga terlalu forsir gue. Kebayang kalau gue ngga hamil, bisa-bisa kaga turun dari kasur.”

__ADS_1


Nara tergelak mendengar kelutusan sahabatnya. Seperti halnya Azkia, Nara juga memberikan ramuan khusus pada Ayunda.


Azriel mempercepat langkahnya. Sesampainya di dekat mereka, dengan santainya dia merebahkan kepalanya di pangkuan Ayunda, membuat ibu hamil itu terkejut.


“Gila lo ngagetin aja. Gue kirain ada Iguana nemplok di paha gue.”


Nara sontak tergelak mendengarnya. Namun tidak dengan Azriel. Pemuda itu hanya berbaring diam sambil bersedekap dan mata menatap ke arah awan yang bergerak di atas sana. Ayunda bertanya tanpa suara pada Nara namun hanya dijawab dengan gendikan bahunya saja.


“Lo kenapa Ziel? Kok roman-romannya kaya orang lagi patah hati,” terka Nara.


“Gue emang lagi patah hati. Layu sebelum berkembang, padam sebelum menyala.”


“Sama siapa?”


“Salma.”


“Lo beneran naksir sama Salma?” tanya Ayunda.


“Hmm.. ini gara-gara lo nyumpahin gue. Tanggung jawab lo.”


“Dih apa salah gue?”


“Au ah..”


Azriel memilih memejamkan matanya. Ayunda dan Nara kembali saling berpandangan. Sepertinya sahabatnya ini benar-benar tengah patah hati. Tapi mereka pun tidak bisa banyak membantu. Salma memang lebih memilih ta’aruf dengan seniornya. Padahal Ayunda sudah mengatakan kalau Azriel tertarik padanya. Hati tidak bisa dipaksakan bukan.


“Ayo dong Ziel jangan lemes gitu, semangat. Masih banyak cewek lain di luar sana. Esa hilang dua terbilang. Salma hilang Yoshi menjelang.”


“Dih.. kaga di mana-mana si kurex mulu yang dibahas.”


“Siapa kurex?”


“Yang tadi lo sebut Yoshi, si kutil tyrex. Kerjaannya ngintilin gue mulu. Udah kaya kentut ama baunya.”


Ayunda dan Nara tergelak mendengarnya. Sudah setahun belakangan ini Yoshi memang menjadi penggemar Azriel. Bukan hanya sepak terjangnya di lapangan yang diikuti tapi Yoshi juga kerap mengorek informasi pribadi tentang Azriel pada para sahabatnya. Yoshi adalah anak bungsu pasangan Agam dan Ajeng. Wajahnya mewarisi garis keturunan Agam. Sekilas dia seperti artis Korea.


“Eh sembarangan lo kasih julukan. Kalau emak bapaknya denger bisa digorok lo.”


“Om Agam mah baik orangnya, asoy aja. Ngga kaya om Fahri mertuanya kak Iqis. Beuh.. bikin orang grogi kalau dilihatin ama dia. Kira-kira gimana ya rasanya kak Iqis jadi menantunya. Ngeri-ngeri sedap pastinya.”


“Ah biasa aja sih kata gue. Ayah juga gayanya kaya om Fahri,” celetuk Ayunda.


“Justru karena om Agam baik, makanya mending lo jadi menantunya aja,” saran Nara.


“Ogah, bisa bengek gue punya bini model dia. Denger ya, kak Ily, Hanin, elo sama Yunda itu setipe semua. Somplak bin sengklek, masa iya gue mau nambah deretan orang kaya kalian jadi bini gue hiiiii...”


“Gue sumpahin lo bucin ama dia. Sumpah gue ini manjur tau.”


Ayunda memberi kode pada Nara. Dengan cepat Nara mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada Yoshi untuk datang menemui mereka. Di luar dugaan, Yoshi langsung membalas pesannya. Nara mengangkat jempolnya ke arah Ayunda.


“Yun.. anak lo cewek apa cowok?” tanya Ziel sambil mengelus perut buncit Ayunda.


“Cowok.”


“Yah.. kenapa ngga cewek. Kalau cewek kan nanti bisa gue nikahin kalau udah gede.”


“Sembarangan lo!”


Ayunda menjitak Azriel yang masih berbaring di pangkuannya. Pemuda itu malah tergelak mendapat siksaan dari sahabatnya itu.


“Ziel.. udah bosen hidup kamu?!”


Azriel sontak mengangkat kepalanya dari pangkuan Ayunda begitu mendengar suara Reyhan dari arah belakangnya. Pemuda itu hanya cengar-cengir melihat Reyhan yang menatapnya dengan tajam.


“Gue kaga ikutan ya. Cabut ah...”


Nara segera menyambar tasnya kemudian berlalu dari halaman belakang meninggalkan Azriel yang seperti maling ketahuan mencuri. Di ruangan tengah Nara berpapasan dengan Yoshi yang baru datang. Dia segera menyuruh gadis itu menyelamatkan sahabatnya dari amukan Reyhan.


“Bang Ziel.”


Sungguh suara cempreng Yoshi seperti dewa penyelamat bagi Azriel. Dengan senyum tiga jarinya Azriel menyambut kedatangan Yoshi. Dirangkulnya bahu gadis cantik itu. Walaupun terkejut, tapi Yoshi menikmatinya. Dia balas memeluk pinggang Azriel.


“Lama banget sih beb, abang udah karatan nungguin kamu di sini. Cabut yuk. Bang Rey, kita pergi dulu. Daagghh Yun.”


Azriel buru-buru membawa Yoshi pergi demi menyelamatkan dirinya. Reyhan duduk di samping Ayunda. Hatinya masih kesal melihat kepala Azriel berbaring di pangkuan sang istri. Apalagi tadi Azriel sempat mengusap perut Ayunda.


“Kamu kayanya nyaman banget ya sama Ziel. Sampe ngusap-ngusap perut segala.”

__ADS_1


“Ya ampun mas, masa sama Ziel cemburu.”


Reyhan tak menjawab, dia malah mengangkat tubuh Ayunda lalu didudukkan di pangkuannya. Ayunda melingkarkan tangannya ke leher Reyhan lalu mencium bibir suaminya itu.


“Ayang.. ke kamar yuk.”


“Ngapain?”


“Bobo barenglah.”


“Cuma bobo ajakan?” Ayunda menatap curiga pada sang suami.


“Iya bobo tapi abis nidurin adeknya mas ya.”


“Maasss...” rengek Ayunda.


Rengekan Ayunda terhenti ketika Reyhan membungkam mulutnya dengan l**atan di bibirnya. Diangkatnya tubuh sang istri yang sudah membuncit perutnya. Dengan hati-hati dia menaiki tangga kemudian masuk ke dalam kamar. Reyhan membaringkan Ayunda di kasur. Dia mulai membuka pakaiannya satu per satu.


Nara kampreto!! Cape lagi nih gue, nasib-nasib...


🍁🍁🍁


Setelah membawa pergi Yoshi dari rumah Regan, Azriel meninggalkan gadis itu begitu saja di ruang tengah rumahnya. Dirinya segera masuk ke dalam kamar. Yoshi jadi mati gaya sendiri. Tak ada siapa pun di rumah ini kecuali asisten rumah tangga yang berada di dapur tengah menyiapkan makan malam.


Untuk menghilangkan kegabutan, Yoshi memilih ke dapur. Dia meminta ijin pada sang asisten rumah tangga untuk membuat hidangan penutup atau dessert. Setelah mendapat ijin, Yoshi segera membuat dessert yang diajarkan Ajeng.


Dalam waktu satu jam mango cheese cake sudah selesai dibuatnya. Yoshi menata hidangan dessert itu ke dalam beberapa gelas kecil lalu memasukkannya ke dalam kulkas. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, dia pun memutuskan untuk pulang. Sebelumnya dia menemui Azriel di kamarnya.


TOK


TOK


TOK


Azriel membukakan pintu begitu mendengar suara ketukan. Pemuda itu berdiri di depan Yoshi dengan rambut acak-acakkan.


“Ada apa?”


“Aku pulang dulu ya bang.”


“Bentar aku antar.”


Azriel merapihkan rambutnya sebentar kemudian keluar dari kamarnya. Mereka berdua menuruni tangga. Setelah mengambil kunci mobil dari lemari kecil, Azriel menuju ke mobilnya. Yoshi hanya mengikuti Azriel dalam diam.


Tak ada pembicaraan selama di mobil. Perjalanan mereka hanya ditemani alunan lagu yang berasal dari audio mobil. Yoshi melirik ke arah Azriel. Cukup lama dipandanginya wajah lelaki yang sudah setahun ini mencuri hatinya. Namun apa daya sekeras apapun usaha Yoshi pada Azriel, pemuda itu tak pernah menganggapnya ada.


Di balik tingkah ceria dan senyum yang menghiasi bibirnya, Yoshi memendam perasaan sakitnya seorang diri. Sepertinya dia sudah salah melabuhkan hatinya. Teringat nasehat maminya, Ajeng untuk berhenti mengejar orang yang tak mencintainya. Ajeng tidak mau anaknya merasakan sakit yang sama ketika dulu dirinya mengejar Vano.


Mobil yang dikendarai Azriel berhenti di depan kediaman Agam. Azriel membuka sabuk pengamannya kemudian turun dari mobil. Walau tak ada rasa untuk Yoshi, namun Azriel cukup bertanggung jawab mengantarkan gadis itu sampai ke depan pintu rumah.


“Mau masuk dulu bang?”


“Ngga usah Yos, udah mau maghrib.”


“Makasih ya bang udah mau nganterin. Maaf ya kalau aku selalu ngeribetin abang. C’est le dernier.”


Azriel mengernyitkan keningnya, tak mengerti apa yang dikatakan Yoshi di akhir kalimatnya. Namun pemuda tak ambil pusing.


“Salam buat papi sama mami. Aku pulang. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Azriel berbalik lalu kembali ke mobilnya. Yoshi masih terus berdiri sampai kendaraan Azriel tak terlihat lagi. sambil masuk ke dalam rumah, gadis itu terus meyakinkan hatinya untuk melupakan Azriel. No more Azriel, Yoshi. Kalimat itu yang terus didengungkan dalam hatinya.


🍁🍁🍁


**Ternyata Reyhan jadi korban ramuan Nara😂


Eh tapi korbannya Rey apa Ay sih?🙊


Di bonchap ini mamake sisipin kisahnya Ziel dikit, nyempil kaya upil, biar adil pada dapet jodohnya😁


Makasih buat semua yang masih setia ngikutin kelanjutan kisah ini dan terus kasih dukungannya😘😘😘


Azriel, atlit Bulu Tangkis yg tengil abis**


__ADS_1


Kutil Tyrex alias Yoshi, anak bungsu Agam & Ajeng



__ADS_2