Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 1 : DEAR UNCLE Melepasmu


__ADS_3

Dimas menyandarkan punggungnya di sandaran kursi setelah menanda tangani berkas terakhir. Dengan bantuan Irzal, semua permasalahan yang menimpa perusahaannya dapat diselesaikan dalam waktu tiga hari. Sebenarnya dia bisa menyelesaikan masalah ini lebih cepat sebelum semuanya menjadi runyam. Tapi karena menghormati Alea, dia menunggu wanita itu sendiri yang menghentikan perbuatannya. Namun ternyata kakak dan kakak iparnya tak sesabar itu.


Dimas memandangi layar ponselnya. Di wallpaper ponselnya terpajang foto Firly. Sudah hampir seminggu dia tidak bertemu dengan gadis itu. Ada kerinduan yang mendesak ingin bertemu tapi ditahannya semua itu. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Dimas mengernyitkan keningnya melihat panggilan berasal dari nomor telepon kediaman Ega.


“Assalamu’alaikum.’


“Waalaikumsalam. Pak Dimas maaf, ini bi Surti.”


“Oh iya, ada apa bi?”


“Ini pak. Bu Alea sudah tiga hari tidak mau keluar rumah. Bu Alea sakit tapi susah sekali makan. Sudah dari kemarin ibu tidak mau makan. Maaf kalau bibi lancang, apa bapak bisa ke sini? Tolong bujuk bu Alea.”


“Loh, bapak sama anak-anak mana?”


“Bapak membawa anak-anak tinggal di apartemen sejak empat hari lalu.”


Dimas terkejut, untuk beberapa saat dia terdiam. Suara bi Surti dari seberang membuyakan lamunannya.


“Halo pak.. pak Dimas.”


“Eh iya bi. Saya ke sana sekarang.”


“Baik pak. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Dimas membereskan berkas-berkas di mejanya kemudian bergegas meninggalkan ruangan. Dia tak mempedulikan panggilan Arini. Yang ada di pikirannya saat ini menemui Alea. Mendengar cerita bi Surti, dia mengkhawatirkan keadaan wanita itu.


Dalam waktu dua puluh menit Dimas sudah sampai di kediaman Ega. Bi Surti yang memang sedang menunggunya segera mempersilahkannya masuk. Sebelum masuk ke kamar Alea, Dimas memutuskan membuatkan bubur untuknya.


Semangkok bubur dan segelas air putih sudah siap di atas nampan. Dimas membawa nampan tersebut ke kamar Alea. Bi Surti bantu membukakan pintu. Dimas tertegun melihat Alea yang duduk menyandar di atas kasur. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Dimas mendekat lalu menaruh nampan di atas nakas. Dia menarik kursi dari meja rias kemudian duduk di dekat ranjang.


“Kak, kata bi Surti kakak sakit.”


Tak ada jawaban dari Alea, dia terus memandang ke depan. Dimas menghela nafas panjang. Penampilan Alea benar-benar memprihatinkan. Wajahnya pucat, lingkaran hitam nampak jelas di bawah matanya.


“Kak, aku ngga tahu masalah apa yang sedang menimpa kakak. Namun apapun itu kakak tetap harus makan. Kakak butuh tenaga untuk menghadapi semua masalah yang ada. Aku juga akan membujuk bang Ega untuk pulang. Jadi aku mohon kak, makanlah. Kasihan bi Surti, nanti dia yang akan disalahkan kalau terjadi sesuatu pada kakak.”


Bi Surti yang berdiri di dekat pintu menatap haru ke arah Dimas. Lelaki itu masih bisa bersikap baik setelah apa yang Alea lakukan padanya. Dimas bangun dari duduknya lalu menghampiri bi Surti.


“Bi, tolong pastikan ibu memakan buburnya. Dan tolong minta dokter Regan untuk memeriksa keadaannya. Kalau ibu ingin makan sesuatu hubungi saya saja bi.”


“Baik pak.”


Dimas memutuskan untuk pergi. Dia tak ingin kehadirannya justru memperburuk keadaan Alea. Tapi baru saja dia akan melangkah, terdengar suara Alea memanggilnya.


“Dim,” Dimas membalikkan badannya.


“Tolong lepaskan Ily. Lepaskan dia, aku mohon Dim. Jalan hidupnya masih panjang. Jika kamu yang melepasnya, Ily pasti akan menurutimu. Aku mohon.”


Airmata Alea menetes membasahi pipinya. Dimas memandangi Alea dengan pandangan yang sulit diartikan. Kemudian tanpa menjawab, dia memutar tubuhnya lalu melangkah pergi.


🍁🍁🍁


“Papa.”


Dimas baru saja akan masuk ke mobilnya ketika Ara memanggilnya. Gadis itu berlari menuju papanya. Dimas berjongkok menyambut putri kecilnya.


“Papa abis ngapain?” Ara melihat ke arah rumah Ega yang nampak sepi.


“Papa abis nengokin mami Alea, mami lagi sakit sayang. Ara mau lihat mami?”


Ara menggeleng dengan cepat, masih terekam jelas di ingatannya kejadian beberapa hari lalu. Pertengkaran papanya dengan Alea. Kata-kata tajam Alea begitu membekas dalam hatinya. Rasa sayangnya pada sang papa membuatnya belum bisa memaafkan Alea.

__ADS_1


“Papa, Ara mau ikut papa ke Milan.”


“Yang bener? Ara beneran mau?” Dimas berusaha meyakinkan apa yang barusan di dengarnya.


“Iya pa. Kemana papa pergi Ara mau ikut. Kapan kita pergi pa?”


“Hmm.. mungkin dua minggu lagi sayang. Papa harus mengurus surat kepindahanmu dulu juga visanya.”


“Ok papa. Sekarang papa mau kemana?”


“Papa mau ke kantor lagi. Ara mau ikut?”


“Ngga pa. Ara lagi ngerjain prakarya sama kak Farel.”


“Ya udah terusin sana. Papa pergi dulu ya.”


“Ok.”


Ara mencium pipi Dimas kemudian berlari menuju rumah Poppy. Dimas memandangi anaknya yang sudah tak terlihat lagi lalu masuk ke dalam mobilnya. Dia berdiam sebentar sebelum menghidupkan mobilnya. Tiba-tiba dadanya terasa sesak, ucapan Ara tadi semakin menguatkan keputusan yang akan diambilnya. Tapi entah kenapa dirinya seakan tak sanggup melakukannya. Dimas mengambil nafas panjang beberapa kali baru kemudian menghidupkan mesin mobilnya.


🍁🍁🍁


Ega membuka pintu apartemennya ketika terdengar suara bel. Dia terkejut saat melihat Dimas yang datang. Untuk sesaat Ega hanya terdiam memandangi Dimas. Walau pun tahu apa telah dilakukan istrinya namun lidahnya masih terasa kelu untuk meminta maaf.


“Maaf bang, boleh aku bertemu Ily?”


“Untuk apa?”


“Tolong bang, ada yang harus aku bicarakan dengan Ily. Aku janji ini yang terakhir kalinya bang. Aku mohon.”


Ega mengalah, dia melangkahkan kakinya menuju kamar anaknya. Dimas tak ada niatan masuk ke dalam karena Ega juga tak mempersilahkannya masuk. Tak berapa lama Ily keluar. Wajahnya berseri melihat siapa yang datang.


“Om.”


“Boleh om, sebentar Ily ambil tas dulu.”


“Ngga usah Ly. Kita bicara di rooftop aja gimana?”


Firly mengangguk kemudian mengikuti langkah Dimas menuju lift. Tak ada pembicaraan selama benda kotak persegi itu naik menuju rooftop. Sesekali Firly melirik pada Dimas, dia merasa ada yang tak beres dengan sikap Dimas.


TING


Bunyi suara lift membuyarkan lamunan Firly. Keduanya melangkah keluar kemudian menaiki anak tangga yang akan membawanya ke rooftop. Semilir angin langsung menyapa mereka begitu menjejakkan kaki di sana. Dimas memilih duduk di salah satu bangku yang tersedia.


Suasana hening kembali melanda keduanya. Lima menit, sepuluh menit hingga menit ke lima belas, Dimas tak jua membuka mulutnya. Sepertinya lelaki itu sedang menikmati momennya bersama gadis yang dicintainya ini. Pikirannya saat ini sedang berperang dengan perasaannya. Akankah dia mampu melakukan apa yang sudah direncanakannya sejak dua hari lalu.


“Om.”


Suara Firly menarik kesadarannya kembali. Di sampingnya kini tengah duduk seorang gadis yang masih menunggu apa yang ingin dikatakannya. Dimas menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan.


“Bagaimana keadaanmu akhir-akhir ini?”


“Alhamdulillah baik om. Om sendiri gimana? Keadaan perusahaan gimana? Ara juga gimana? Semua baik-baik aja kan?”


“Satu-satu dong nanyanya,” Dimas terkekeh.


“Habis udah hampir sepuluh hari om ngga ada kabar aku kan khawatir.”


“Alhamdulillah om dan Ara baik-baik aja, perusahaan juga baik. Maaf kalau om jarang menghubungimu akhir-akhir ini karena kesibukan om.”


“Syukur deh kalau semua baik-baik aja. Ily lega ternyata ngga ada kabar dari om karena om sibuk bukan karena sedang menghindari Ily.”


DEG

__ADS_1


Perkataan Firly langsung menusuk relung jiwanya. Menghindarinya, mungkin benar apa yang gadis itu katakan. Rumitnya hubungan mereka, membuat Dimas harus berpikir ulang. Terlebih ada banyak pihak yang akan tersakiti.


“Ily om minta maaf.”


“Untuk apa om?”


“Maaf karena om tidak bisa menepati janji om untuk berjuang bersama untuk hubungan kita.”


“Om bercanda kan?”


Dimas memutar tubuhnya, menatap mata bulat yang kerap menghipnotisnya. Melihat bibir tipis yang selalu menggodanya untuk terus mencecapnya. Melihat senyumnya yang selalu dapat menghangatkan jiwanya.


“Maaf sepertinya om tidak bisa melanjutkan hubungan kita. Om takut kalau dipaksakan hanya akan menyakitimu.”


“Maksud om apa?”


“Jujur sebenarnya belakangan ini om memang menghindarimu. Selain sibuk karena urusan kantor, om juga ingin menguji perasaan om. Bagaimana rasanya kalau jauh darimu, tanpa berkomunikasi denganmu.”


“Memang apa yang om rasakan?”


Tersiksa, aku sangat tersiksa. Setengah mati aku harus menahan rindu padamu. Aku juga ngga tahu apa sanggup hidup berjauhan denganmu di saat hatiku sudah terisi olehmu.


“Biasa saja, seperti dulu saat kamu belum hadir dalam hidup om. Dari situ om sadar kalau perasaan yang om miliki padamu mungkin hanya sesaat. Di saat om kesepian kamu datang menawarkan diri dan yaah om sedikit tergoda.”


“Om bohong!!”


“Om ngga bohong. Ily.. om adalah pria dewasa yang pernah menikah. Kamu tahu seseorang yang pernah menikah lebih sulit menahan diri untuk tidak menyentuh lawan jenisnya. Itu yang terjadi pada om. Om benar-benar minta maaf, om memang laki-laki brengsek. Melihatmu yang cantik dan masih muda membuat om tergoda. Tergoda untuk menciummu, memelukmu bahkan melakukan hal yang lebih dari itu. Beruntung sikap orang tuamu menyadarkan om.”


“Ngga.. Ily ngga percaya. Om pasti bilang ini biar Ily ngejauh kan? Om ngga mau hubungan Ily dengan mami dan papi memburuk. Om juga sakit hati karena perkataan mereka.”


“Bohong kalau om bilang ngga sakit hati sama ucapan mereka. Tapi om bisa apa? Semua yang mereka katakan benar. Kamu tahu kenapa om selalu diam ketika mereka menghina om? Karena om merasa bersalah padamu. Om sudah memanfaatkanmu untuk melampiaskan nafsu om. Maaf Ily, om sayang kamu. Sejak kecil om ikut mengurusmu, om sudah menganggapmu seperti keponakan sendiri. Sekali lagi maaf karena om sudah khilaf.”


“Om jahat! Jahat!”


Firly memukul-mukul dada Dimas. Rasa kecewa sontak menderanya. Suara Dimas yang lembut saat mengatakan kata-kata yang menghujam jantungnya seketika membuat dadanya sesak. Dimas menangkap kedua tangan Firly.


“Om minta maaf, benar-benar minta maaf. Kamu masih muda Ily, jalanmu masih panjang. Om doakan kamu bertemu dengan lelaki yang baik, yang mencintaimu dan menyayangimu dengan tulus. Tidak seperti om.”


“Kalau gitu Ily mau terima perjodohan dengan Radja.”


“Jika memang dia yang terbaik untukmu, om setuju.”


Sakit, sungguh sakit mendengar jawaban seperti itu. Firly berharap Dimas akan marah kemudian meralat semua ucapannya barusan tapi ternyata tebakannya salah. Tangisnya mulai pecah. Hatinya benar-benar sakit dipermainkan oleh orang yang sangat dicintainya, orang yang menjadi cinta pertamanya. Firly melepas dengan kasar kalung juga gelang pemberian Dimas lalu melemparkan ke arahnya.


“Ambil lagi semua pemberian om. Ily ngga sudi untuk menerimanya!”


Firly bangun dari duduknya lalu berlari keluar dari rooftop. Dimas memandangi kepergian Firly dengan wajah sendu. Ingin rasanya dia menyusulnya, memeluknya dan mengatakan apa yang dikatakan tadi adalah kebohongan. Tapi Dimas menguatkan diri dan hatinya. Apa yang dilakukannya adalah untuk kebaikan semua orang. Diambilnya kalung dan gelang yang menjadi tanda rasa cintanya kemudian menggenggamnya erat.


🍁🍁🍁


**Mamake nyesek nulis part ini🤧


Mungkin di Milan nanti om Dimas bakal ketemu cewek lain yang menyayanginya juga Ara. Dan Ily bisa jadi ketemu seseorang yang baru di kampus nanti. Karena keinginan Ega buat menjodohkan Ily dan Elang sudah tidak mungkin lagi kan.


Kalian setuju alurnya seperti itu? atau mau Ily sama om Dimas balikan???


Hari ini mamake usahakan up lebih dari dua ya. Dan doakan juga mudah2an The Heart Chooses udah lolos review. Mamake cape ngintipin review yang ngga kelar2🤧


Like..


Comment..


Vote..

__ADS_1


See you soon😘😘😘**


__ADS_2