
Elang berbaring dengan kepala di pangkuan Azkia dengan wajah menghadap ke perut. Tangan Elang melingkar di pinggang istrinya. Sesekali dia mengecup perut sang istri yang masih rata.
Mereka baru saja pulang dari dokter kandungan. Saat ini usia kandungan Azkia sudah sembilan minggu. Perkembangan janin pun sangat baik. Elang benar-benar menjaga istrinya, mulai dari asupan gizi sampai menjaga ketenangan batinnya. Dia tak ingin Azkia merasakan stress atau tertekan selama masa kehamilan.
Dan yang lebih menggembirakan lagi, sang dokter telah mencabut larangan berkunjung untuknya. Satu bulan penuh menahan hasrat terhadap istri sendiri bukanlah hal yang mudah. Apalagi Azkia kerap ingin dimanja, minta ditemani dan dipeluk saat menjelang tidur membuat adik kecilnya kadang terbangun. Ujung-ujungnya dia harus bersolo karier di kamar mandi.
“Sayang...”
“Hmm..” Azkia masih asik mengusap puncak kepala suaminya.
“Mas mau nengokin dede boleh ya?”
“Dedenya lagi main mas. Tar kalau udah pulang aja nengokinnya.”
Elang berdecak sebal mendengar candaan istrinya. Dia memasukkan tangannya ke dalam pakaian Azkia, meraba-raba bagian tubuh yang ada di balik pakaian. Azkia memejamkan matanya. Sebenarnya dia juga sudah ingin merasakan sentuhan sang suami. Apalagi di masa kehamilannya, rasa ingin disentuh dua kali lipat dari biasanya.
Elang menarik tengkuk Azkia lalu ******* bibir ranum itu. Perlahan dia menegakkan tubuhnya, mengubah posisi mereka. Tangannya mulai melucuti pakaian Azkia. Bukit kembar Azkia terlihat menyembul dari kain penutupnya membuat Elang semakin terbakar gairah.
Dengan gerakan cepat dilepaskannya kaos beserta celana yang menutupi tubuhnya. Saat akan membuka kain terakhir yang membalut bagian bawahnya, Azkia menahannya seraya menggelengkan kepalanya.
“Kenapa Yang?”
“Biar aku aja. Mas tiduran.”
Elang menuruti titah istrinya. Azkia melepaskan pengaman terakhir sang suami. Kemudian dia juga melepaskan sisa benang yang membungkus kulit mulusnya. Elang menelan ludahnya kelat melihat tubuh Azkia yang mulai berisi. Erangannya terdengar ketika Azkia memainkan adik kecilnya. Elang meracau tak karuan saat Azkia terus memainkan juniornya.
Puas memainkan adik kecil suaminya. Azkia merangkak naik lalu memulai percintaan mereka dengan posisi yang sangat disukainya, woman on top. Elang menikmati permainan sang istri yang semakin agresif saja. Membuatnya semakin tergila-gila. Beberapa kali dia mengingatkan dirinya untuk bermain lembut sesuai instruksi dokter Cheryl.
Elang memacu tubuhnya sambil terus mencumbu sang istri. Ciuman, sesapan, l*m**an terus menghujani wajah dan tubuh Azkia. Membuat ibu hamil itu tak bisa diam, mulutnya terus mengeluarkan d**ah*n dan lenguhan. Setelah dua kali membuat istrinya pelepasan, akhirnya Elang berhasil mencapai puncaknya bersamaan dengan Azkia untuk yang ketiga kalinya.
Dada Azkia nampak turun naik seiring dengan deru nafasnya. Elang merapihkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya. Kalau boleh jujur, dia ingin bermain kembali namun tak tega begitu melihat sang istri begitu kelelahan. Direngkuhnya tubuh mungil Azkia ke dalam dekapannya. Tak lama mata Azkia terpejam dengan tangan memeluk pinggang suaminya.
🍁🍁🍁
Para pria baru saja selesai berlatih taekwondo. Poppy sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Azkia yang hendak membantu dilarang oleh Poppy. Akhirnya dia hanya duduk di ruang makan sambil memakan buah. Ayunda yang biasanya ikut berlatih tidak terlihat batang hidungnya.
Satu jam kemudian ketiga pria tampan di keluarga Ramadhan sudah bergabung di meja makan. Sarapan hari ini adalah ketupat sayur betawi sesuai keinginan ibu hamil. Tak lama Ayunda bergabung. Tak seperti biasanya, gadis itu nampak pendiam pagi ini. Farel melihat bingung ke arah adiknya yang biasanya berkicau kini menutup mulut rapat-rapat.
“Dek.. kamu lagi sakit gigi apa sariawan? Tumben anteng.”
“Ngga apa-apa.”
“Kesambet setan gagu kali.”
“Ish...” Ayunda mendelik sebal pada Elang. Tapi seperti biasa, kakaknya itu nampak cuek saja. Dia malah asik menyuapi Azkia.
Ayunda telah menyelesaikan sarapannya. Dliriknya sang ayah yang baru saja menghabiskan sarapannya. Beberapa kali dia menarik nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya.
“Yah...”
“Hmm...”
“Yunda mau minta maaf sama ayah sama bunda.”
“Minta maaf apa sayang?” sahut Poppy.
“Yunda ngga bisa jaga diri dengan baik.”
“Maksud kamu apa?” Poppy mulai tegang. Semua yang ada di meja makan menatap Ayunda dengan wajah penuh tanda tanya.
“Kemarin.. kemarin kak Rey udah cium Yunda huaaaaaaa...”
__ADS_1
Elang tersedak mendengarnya. Beberapa kali Azkia menepuk-nepuk punggung suaminya yang terbatuk. Farel membelalakkan matanya. Ayunda menangis di pelukan Poppy. Hanya Irzal yang terlihat santai.
“Kenapa bisa Rey cium kamu? Ceritain!” suara Elang mulai meninggi.
Ayunda menenangkan dirinya sejenak. Poppy memberinya minum lebih dulu. Dengan suara terbata-bata Ayunda menceritakan kejadian yang dialaminya kemarin.
“Waktu kemarin studi banding, kak Rey kan ikut sebagai dokter relawan. Waktu kita istirahat di vila, aku kecebur ke kolam renang. Ngga tau kenapa badanku lemes banget, aku kaya yang ngantuk dan ngga bertenaga. Aku ngga bisa berenang. Hal terakhir yang kuingat, kak Rey masuk ke kolam. Abis itu semuanya gelap. Pas aku sadar, ternyata kak Rey lagi nempelin mulutnya ke mulutku huaaaaaa..”
Ayunda menutup wajahnya, tangisnya kembali pecah. Farel maupun Elang melongo mendengar cerita sang adik. Tak lama terdengar gelak tawa keduanya.
“Ya ampun dek, itu namanya dia kasih nafas buatan sama kamu bukan ciuman. Astaga, kamu pengen banget ya dicium sama Rey sampe ngehalu gitu hahaha,” ledek Farel.
“Sama aja bang. Dia kan nempelin bibirnya ke bibir aku, terus apa namanya kalau bukan ciuman. Ish bang Farel nyebelin, mas El juga. Ayah kenapa diem aja? Marahin tuh kak Rey, sembarangan dia merawanin bibir Yunda.”
PLETAK
Poppy menyentil kening anak gadisnya ini yang mulutnya kelewat lemes. Mungkin karena sering bergaul dengan Azriel dan Nara, jadi mulutnya sudah dol seperti rem blong.
“Ayah sudah tahu. Kemarin Rey sudah cerita semuanya ke ayah. Ada teman kamu yang masukin obat penenang ke minuman kamu, makanya kamu ngga bisa apa-apa begitu jatuh ke kolam. Untuk beberapa saat detak jantung kamu berhenti. Makanya dia lakukan CPR dan kasih nafas buatan buat kamu.”
Elang mengepalkan tangannya mendengar cerita Irzal. Wajahnya sudah memerah. Rasanya dia ingin menghajar orang yang sudah berani menyelakai adiknya. Azkia mengusap punggung suaminya.
“Siapa orangnya? Cari mati ya dia berani ganggu kamu dek,” suara Elang masih terdengar emosi.
“Rey sudah mengurusnya El. Tenang saja.”
“Halah Rey itu orangnya terlalu baik yah. Palingan orangnya cuma dikasih peringatan doang terus dilepasin gitu aja,” kelutus Farel.
“Kamu tanya sendiri aja sama Rey. Sebentar lagi anaknya ke sini.”
“Hah kak Rey mau ke sini? Aaaaa...”
Ayunda yang masih malu bertemu dengan Reyhan bergegas beranjak dari tempat duduknya. Namun terlambat, orang yang dibicarakan sudah sampai. Ayunda memalingkan wajahnya begitu bertemu pandang dengan Reyhan. Pipinya sudah seperti tomat rebus saja. Tanpa melihat ke arah Reyhan lagi, dia langsung ngacir ke kamarnya.
“Itu cerita si Yunda gimana sebenarnya Rey?” sembur Elang.
“Biasa mas, ada temannya ngga suka sama Yunda. Mungkin karena merasa dia anak pejabat, jadi berbuat seenaknya gitu.”
“Cewek apa cowok?”
“Dua-duanya.”
Flashback On
Reyhan mendaftarkan diri menjadi dokter relawan ketika mendengar Yunda akan studi banding. Jurusan tempat Ayunda kuliah memang mengajukan adanya dokter relawan yang ikut bersama mereka. Didorong rasa sayangnya, Reyhan pun mendaftarkan diri.
Saat sedang beristirahat di vila, tanpa sengaja Reyhan mendengar pembicaraan dua orang mahasiswa. Reyhan yang awalnya tak peduli, mulai mencuri dengar ketika salah seorang di antaranya menyebutkan nama Ayunda.
“Gimana? Udah lo masukin obat penenang ke minumannya?”
“Udah tenang aja. Begitu dia tidur, gue bakal langsung bawa ke kamar. Gue bakal puas-puasin main sama dia. Pasti masih perawan tuh anak, secara disentuh ama cowok juga ngga pernah. Gue jadi makin penasaran.”
“Terserah elo mau ngapain si Yunda. Pokoknya bikin dia merasa seperti sampah. Gue benci sama dia, apa sih kelebihannya sampai hampir semua cowok yang gue suka, naksir dia semua.”
Tangan Reyhan mengepal kencang. Awalnya dia ingin membereskan dua orang itu tapi keselamatan Ayunda lebih penting. Bergegas dia menyusuri area vila, mencari keberadaan gadis itu.
Ayunda sedang berjalan-jalan di halaman belakang vila. Setelah meneguk minuman yang diberikan temannya, mendadak kepalanya pusing. Tubuhnya juga terasa lemas. Dengan langkah sempoyongan Ayunda terus berjalan. Pandangannya mulai memudar, tanpa sadar kakinya melangkah mendekati kolam renang yang ada di sebelah kanannya dan
BYUURR
Ayunda terjatuh ke kolam. Dia mencoba untuk berenang, namun tubuhnya terasa lemas untuk digerakkan. Beberapa kali kepalanya timbul tenggelam, tangannya menggapai-gapai di permukaan air. Sialnya tak ada seorang pun di dekat kolam. Beberapa kali air kolam tertelan olehnya. Pandangannya semakin kabur. Kemudian dia melihat Reyhan berlari ke arah kolam kemudian pandangannya gelap.
__ADS_1
Reyhan menarik tubuh Ayunda keluar dari kolam. Beberapa mahasiswa yang mengetahui kejadian itu segera berkerumun, begitu juga dengan dosen pendamping. Reyhan membaringkan Ayunda di pinggir kolam. Dia menepuk-nepuk pipi Ayunda. Tak ada reaksi dari gadis itu.
Reyhan memegang pergelangan tangannya, nadinya sangat lemah lalu menempelkan telinganya ke dada Ayunda. Reyhan segera melakukan CPR. Beberapa kali dia melakukan kompresi, tapi detak jantung Ayunda tak kembali. Akhirnya Reyhan memutuskan memberi nafas buatan. Dijepitnya hidung Ayunda, kemudian mulai memberikan nafas buatan melalui mulutnya.
Ayunda membuka matanya, wajah Reyhan begitu dekat dengannya. bahkan bibir mereka menempel satu sama lain. Melihat Ayunda tersadar, Reyhan menarik kepalanya menjauh. Ayunda terbatuk sambil mengeluarkan air dari mulutnya. Reyhan membantu Ayunda bangun lalu membawanya ke salah satu kamar yang ada di vila.
Setelah memeriksa dan memastikan keadaan Ayunda baik-baik saja, Reyhan bergegas mencari dua mahasiswa yang telah mencelakai gadis itu. Reyhan meminta informasi pada dosen pendamping tentang identitas kedua orang tersebut. Reyhan mengambil ponselnya lalu menghubungi Rado, karyawan Rakan Putra Group yang bertanggung jawab di bidang IT.
“Halo bang Rado. Aku minta informasi detil dari dua orang. Aku kirim nama sama fotonya sekarang. Jangan pake lama ya bang.”
Tak butuh waktu lama, Rado sudah mengirimkan semua data orang yang diminta Reyhan. Kini keduanya sudah duduk di hadapan Reyhan.
“Ada apa dok manggil kita ke sini?”
“Kamu Monalisa dan kamu Fredy benar?”
“Cih.. langsung aja dok. Ada apa mau ketemu kita? Apa dokter mau minta tolong sama aku buat kasih posisi di rumah sakit yang ada di Bandung?”
Monalisa berkata dengan sombongnya. Sepupu gadis itu juga dokter dan teman seangkatan Reyhan. Setahunya, Reyhan hanya mahasiswa kere yang bisa kuliah dengan modal beasiswa.
“Kenapa kalian mencelakai Ayunda?”
“Kita celakain Ayunda? Helo dokter, dia sendiri yang jatuh ke kolam, bukan salah kita keles.”
“Itu karena dia sudah mengkonsumsi obat dari kalian.”
“Apa dokter punya bukti?”
Reyhan mengeluarkan ponselnya lalu memutar rekaman percakapan Monalisa dan Fredy. Keduanya terdiam, tapi tak ada ketakutan di wajah mereka.
“Terus dokter mau apa? Laporin kita ke polisi gitu? Dengan bukti itu? Dokter punya siapa di belakang dokter? Saya ingetin, dokter ngga usah ikut campur atau dokter akan menyesal,” cibir Monalisa.
“Ngga usah sok jadi pahlawan kesiangan dok. Kalau dokter masih mau tangannya bisa dipake bekerja.”
Fredy menekan jari-jari tangannya hingga terdengar suara tulang-tulangnya. Fredy memang memiliki tubuh yang tegap.
“Apa kamu tahu Mona, kalau papamu sedang bersiap mengikuti ajang pemilihan kepala daerah? Dia mencalonkan diri sebagai Gubernur Jawa Barat. Apa kamu tahu siapa yang mendanai kampanyenya? Bagaimana kalau pihak KPU tahu kalau ayahmu menggunakan dana ilegal untuk kampanyenya? Dan Fredy, apa kamu siap menerima tuntutan dari dua orang perempuan yang telah kamu lecehkan? Kemarin mereka tidak memiliki bukti apapun, karena papamu menutupinya. Tapi kali ini kamu tidak akan aku biarkan lolos.”
Reyhan melakukan panggilan. Tak lama dua orang pria bertubuh tegap masuk ke dalam ruangan. Baik Monalisa maupun Fredy menatap bingung. Bagaimana mungkin dokter kere seperti Reyhan bisa mengetahui hal yang tidak orang lain tahu dan memiliki dua orang bodyguard.
“Bawa dua orang ini. Amankan mereka sampai saya memutuskan hukuman apa yang tepat buat mereka.”
Kedua pria itu segera Monalisa juga Fredy. Tapi belum juga mereka pergi, Reyhan menghentikannya. Dia menghampiri Fredy.
“Dasar banci! Lawan gue kalau berani, jangan pake bodyguard gini,” tantang Fredy. Reyhan memberi kode pada pengawalnya.
“Gue juga ngga akan biarin lo pergi begitu mudahnya setelah apa yang lo lakuin ke Yunda. Lo mau nidurin dia? Langkahi dulu mayat gue!”
Fredy yang sudah dibakar amarah segera menyerang Reyhan. Dengan cepat pemuda itu berkelit lalu melayangkan pukulan ke wajah juga perut Fredy hingga tubuhnya mundur beberapa langkah ke belakang. Reyhan tak menghentikan serangannya. Dia terus menghajar Ferdy. Rasa marah, kesal yang sedari tadi ditahannya dilepaskan begitu saja.
Wajah Fredy sudah tak berbentuk lagi. Darah keluar dari bibir, hidung dan mulut lelaki itu. Fredy mengerang kesakitan ketika tubuhnya terhempas menabrak tembok setalah mendapat tendangan Reyhan. Salah satu pengawal segera menenangkan Reyhan. Dengan cepat dia mengambil Fredy yang sudah tidak berdaya.
Wajah Monalisa pucat pasi melihat kondisi Fredy. Reyhan menatap tajam padanya. Matanya menunjukkan kemarahan. Beberapa mahasiswa yang melihat itu bergidik ngeri. Reyhan yang biasa terlihat tenang dan senantiasa bersikap ramah berubah menjadi sosok yang menakutkan.
Flashback Off
🍁🍁🍁
**Akhirnya mas El buka puasa juga ya.
Widih Rey kalau marah serem juga ya. Nah itu udah mulai mamake bocorin nih buat season ke empat.
__ADS_1
Jangan lupa juga buat kasih dukungannya, like, comment and vote nya ya gaaaeesss😉**