
Sudah hampir tiga jam Azkia berkeliling mencari barang-barang untuk hantaran pernikahan. Kakinya sudah pegal tapi dua wanita yang sedari tadi menemaninya masih sangat bersemangat. Selesai membeli pakaian, sepatu, tas, kosmetik, kini mereka menyeret Azkia masuk ke toko yang menjual pakaian dalam.
Mata Azkia membulat saat Debby menunjukkan lingerie berbahan tipis, dia langsung menggelengkan kepalanya. Tapi Debby mengira gadis itu tak menyukai pilihannya, dia kembali menyodorkan beberapa lingerie dengan model dan warna berbeda.
“Ma, buat apa beli yang kaya gini. Aku malu makenya,” bisik Azkia di telinga Debby. Tawa ibu dari Gara itu pecah seketika.
“Sayang, pakaian ini salah satu cara membahagiakan suami kamu.”
“Masa iya?”
“Iya, coba tanya mama Sarah dan tanya juga nanti sama bundamu.”
“Tapi ma..”
“Percaya sama mama. Elang bakal tambah klepek-klepek sama kamu.”
Debby memasukkan lima potong lingerie yang dirasa cocok untuk Azkia. Tak lama Sarah juga datang membawa beberapa pasang dalaman. Azkia hanya bisa menepuk jidatnya. Pasrah dengan keinginan dan pilihan para mama.
Dua orang pengawal yang ditugaskan Elang menjaga calon istrinya langsung mengambil barang belanjaan lalu membawanya ke mobil. Sarah mengajak Debby dan Azkia membeli minuman dingin. Saat sedang menunggu pesanan, sebuah pesan masuk ke ponsel Azkia.
From Mas El :
Dimana?
To Mas El :
Masih di mall mas. Baru selesai belanja.
From Mas El :
Tunggu sebentar, aku lagi di jalan. Kamu nunggu di mana?
To Mas El :
Di booth minuman Logo Tea.
Azkia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Minuman yang dipesannya sudah selesai. Debby mengajaknya duduk di salah satu kursi tak jauh dari booth tadi. Tenggorokan Azkia yang tadi kering kini sudah basah ketika minuman dingin itu memasuki kerongkongannya. Tiba-tiba terdengar suara yang familier memanggil salah satu wanita yang bersamanya.
“Nenek!”
Sarah menoleh bersamaan dengan Azkia. Nanaz setengah berlari menghampiri Sarah membuat Rain harus berjalan cepat untuk mengimbangi langkah putrinya. Sarah langsung menyambut cucu pertamanya. Rain menoleh ke arah Azkia.
“Kia.. ya ampun aku kangen.”
“Aku juga mba.”
Rain memeluk Azkia lalu mereka bercipika-cipiki. Sudah cukup lama mereka tidak bertemu. Rain merangkul Azkia.
“Kia, aku minta maaf ya. Malam itu saking paniknya aku ngga tahu kalau kamu ikut ke rumah. Kalau aja El ngga nemenin aku, kamu pasti ngga akan disiksa sama bapakmu.”
“Ngga apa-apa mba. Itu sudah berlalu.”
“Aku seneng banget loh kamu bakal nikah sama El. Inget ngga waktu itu aku pernah ngajak kamu ikut jalan-jalan? Nah rencananya aku tuh mau kenalin kamu sama El. Eh ngga tahunya udah nyantol sendiri.”
Rain tertawa kecil, Azkia jadi malu mendengarnya. Nanaz turun dari gendongan Sarah lalu menuju Azkia. Dia menarik-narik gamis yang dikenakan gadis itu. Azkia menundukkan kepalanya, tampak Nanaz mendongakkan kepala ke arahnya. Azkia berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan anak itu.
__ADS_1
“Nanaz udah besar ya, tambah cantik lagi.”
“Ia.. Ia..” Nanaz menyentuh wajah Azkia.
“Nanaz..”
Anak cantik itu menoleh ketika mendengar namanya dipanggil. Elang berjalan ke arahnya seraya melambaikan tangannya. Dengan langkah yang masih belum sepenuhnya lurus, Nanaz berlari ke arah Elang. Pemuda itu segera menggendongnya. Azkia tersenyum melihat kedekatan Elang dengan Nanaz. Calon suaminya itu memang mudah akrab dengan anak kecil.
Elang menghentikan langkahnya ketika sampai di dekat Azkia. Rain bermaksud mengambil Nanaz, tapi anak itu menolaknya. Dia menggelengkan kepalanya seraya memeluk leher Elang erat.
“Udah beres ma belanjanya.”
“Udah. Nih kita mau pulang. Besok jangan lupa kamu ke butiknya mami buat fitting baju, sekalian sama Kia juga.”
“Cie yang mau jadi pengantin,” Rain menggodanya.
“Naz, sini sama mama. Kasihan om El nya cape sayang.”
“Nda..” Nanaz menggelengkan kepalanya.
Elang berbisik di telinga Nanaz. Anak itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Elang berjongkok lalu menurunkan Nanaz. Anak itu menarik gamis Azkia memintanya untuk jongkok. Azkia berjongkok, dengan cepat Nanaz mencium pipi gadis itu.
CUP
“Makasih Nanaz sayang,” Nanaz menggeleng, tangannya menunjuk pada Elang.
“Om El..” kening Azkia berkerut tak mengerti.
“Maksud Nanaz itu ciuman dari om El, bener kan sayang,” sahut Rain dan Nanaz mengangguk.
Wajah Azkia memerah. Sarah, Debby dan Rain tak dapat menahan senyumnya. Sang pelaku hanya diam saja, menatap Azkia tanpa ekspresi. Azkia menggendong Nanaz, mencoba menyembunyikan wajahnya dibalik tubuh anak itu. Belum lama berada di gendongan Azkia, Nanaz meronta minta diturunkan begitu melihat kedatangan papanya. Azkia menurunkan Nanaz, tapi sebelumnya dia mencium pipi gembul itu.
“Ciuman tadi buat aku kan?”
Azkia terbatuk mendengar ucapan Elang, wajahnya kembali memerah. Rain memutar bola matanya, baru kali ini dia melihat sahabatnya bersikap genit seperti itu.
“Ayo ah ma, mas kita pergi. Berasa jadi obat nyamuk ngga berasap kita. Gini nih kalo barengan sama yang lagi bucin,” seru Rain.
“Sana pergi, ganggu aja lo.”
“Dih.. dasar bucin,” Rain menjulurkan lidahnya ke arah Elang, kemudian menarik Akhtar pergi dari sana. Sarah dan Debby pun mengikuti langkah mereka.
“Udah selesai kan belanjanya?”
“Udah mas.”
“Masih ada yang mau dibeli?”
“Ngga.”
“Ya udah ayo pulang.”
Azkia mengangguk lalu mengikuti langkah Elang. Di depan mereka berjalan sepasang kekasih sambil bergandengan tangan. Azkia menundukkan kepalanya. Matanya melihat ke arah tangan Elang yang tak jauh dari tangannya. Rasanya ingin sekali merasakan genggaman tangan pemuda itu. Azkia menggelengkan kepalanya, mengusir hal yang baru saja melintas di pikirannya.
Elang membukakan pintu untuk Azkia lalu memutari badan mobil lalu masuk ke dalamnya. Elang baru saja memasang sabuk pengaman namun kembali dilepaskan ketika melihat Azkia kesulitan menarik tali seat belt-nya. Elang mendekatkan tubuhnya, tangannya menarik tali sabuk pengaman namun tak berhasil.
__ADS_1
Elang terus berusaha menarik tali tersebut. Azkia menahan nafasnya karena jarak mereka yang begitu dekat. Elang semakin mendekatkan tubuhnya. Tangan kirinya berpegang pada kepala jok yang diduduki Azkia, sementara tangan kanannya terus menarik tali yang macet.
Akhirnya tali tersebut dapat ditarik. Saat akan memasangkan sabuk, Elang baru menyadari posisinya yang begitu dekat dengan Azkia. Saking dekatnya mereka dapat merasakan hembusan nafas masing-masing. Elang menatap wajah Azkia yang begitu dekat. Matanya menelusuri setiap indra di wajah cantik itu. Dimulai dari mata, hidung dan terakhir pandangannya terhenti di bibir ranum Azkia. Dada Elang berdebar kencang, beberapa kali dia menelan salivanya.
Tak jauh berbeda, Azkia pun merasakan debaran yang sama. Baru kali ini dia melihat wajah Elang dari dekat. Wajahnya sudah seperti pahatan yang sempurna. Untuk sesaat keduanya saling berpandangan. Elang mendekatkan wajahnya. Jantung Azkia semakin berdegup kencang. Tanpa sadar dia memejamkan matanya. Wajah Elang semakin dekat, hanya tinggal beberapa senti lagi bibir keduanya akan bertemu dan
TOK
TOK
TOK
Elang segera menjauh ketika kaca jendela mobilnya diketuk seseorang. Dia kembali ke posisi semula lalu membuka kaca jendela. Nampak wajah Debby dari baliknya.
“Kia, ini mama lupa perlengkapan kamu buat luluran. Jangan lupa, sabun sama lulurnya dipakai ya. Mulai besok kalau mandi pakai ini.”
Debby menyerahkan paper bag pada Azkia. Dengan cepat Azkia mengambilnya. Debby menatap curiga pada Azkia juga Elang yang terlihat gugup. Terlebih wajah Azkia sudah memerah seperti kepiting rebus.
“Kia, kamu sakit? Ini muka kamu kenapa merah gini.” Debby meraba kening Azkia. Suhu tubuhnya biasa saja. Lalu Debby melihat ke arah Elang.
“El, nyalain AC-nya, Kia kepanasan ini.”
“I.. iya ma.”
“Ya udah. Besok kita ketemu di butik.”
Debby segera beranjak pergi meninggalkan pasangan itu dalam kecangggungan. Elang berdehem beberapa kali sebelum menjalankan kendaraannya. Selama dalam perjalanan tak ada pembicaraan di antara keduanya. Masing-masing tenggelam dalam pikiran dan rasa malunya.
Mobil Elang berhenti di depan rumah Dimas. Azkia membuka sabuk pengamannya. Sebelum turun, dia menoleh ke arah Elang.
“Mas, jangan lupa besok fitting baju sehabis jam makan siang.”
“Iya sayang.”
BLUSH
Wajah Azkia kembali merona. Namun tak ayal senyuman tersungging di wajahnya mendengar panggilan Elang padanya. Dia mengarahkan pandangannya ke arah lain karena malu Elang terus melihatnya.
“Az..”
“Ya mas.”
“Lihat aku.”
Bukannya melihat ke arah Elang, Azkia malah menundukkan kepalanya. Namun tak lama kemudian dia memberanikan diri menatap wajah calon suaminya.
“I love you.”
“I love you too mas.”
Setelah itu Azkia bergegas turun dari mobil. Malu sekali rasanya, dengan fasih dia membalas ungkapan cinta Elang. Elang memandangi Azkia yang memasuki kediaman om-nya itu. Beberapa kali dia menggelengkan kepalanya mengingat kelakuannya barusan.
🍁🍁🍁
**Ya ampun mas El, hampir aja ya bibir kalian ngga perawan lagi😂
__ADS_1
Pagi² sebelum daring mamake sempatin buat up. Jadi jangan lupa juga dukungannya, like, comment and vote.
Happy Friday😎**