
Jet pribadi yang ditumpangi Akhtar dan Rain mendarat dengan selamat di bandara Husein Sastranegara. Regan, Sarah, Nino dan Kalila sengaja menjemput keduanya. Senyum Rain merekah melihat orang tua dan mertuanya. Para orang tua itu memeluk Rain bergantian, Akhtar hanya melihat itu semua dari belakang.
Semuanya menuju kendaraan masing-masing. Akhtar terpaksa ikut mobil Nino karena Rain tidak mau satu mobil dengannya. Sepanjang perjalanan, Kalila terus menasehati anaknya ini untuk tetap bersabar menghadapi Rain yang tengah hamil muda. Begitu pula dengan Nino yang memberikan tips-tips untuk menaklukan hati menantunya. Sebagai mantan playboy tentu saja Nino mempunyai banyak trik untuk meluluhkan hati wanita.
“Oh begitu ya mas. Ternyata kamu punya banyak trik ya buat naklukin hati perempuan. Udah berapa banyak perempuan yang kemakan gombalan kamu?”
“Ya ampun sayang, itu kan cuma masa lalu. Ngga penting berapa banyak perempuan yang aku gombalin tapi yang penting kamu yang nemenin mas sampai udah ubanan gini.”
“Berarti mama kemakan juga sama gombalan papa hahaha,” Akhtar tertawa lepas membuat Nino mendelik padanya. Kalila menghadiahi suaminya ini cubitan demi cubitan di pinggangnya.
Kendaraan yang ditumpangi Akhtar sampai juga di kediaman mertuanya. Terlihat mobil Regan sudah terparkir di sana. Bergegas Akhtar turun dari mobil. Rain baru saja menaiki tangga ketika Akhtar masuk ke dalam rumah. Secepat kilat dia menyusul langkah Rain, namun sayang istrinya tidak mempedulikannya sama sekali. Sesampainya di depan kamar, Rain berbalik menghadap Akhtar.
“Mas ngapain ngikutin aku ke sini?”
“Istirahat bareng kamu sayang.”
“Istirahat di kamar lain aja. Aku ngga mau deket-deket sama mas, bikin perut aku mual. Udah jangan ganggu, aku mau tidur.”
Rain masuk ke dalam kamar lalu segera menutup pintu kamar dan menguncinya. Akhtar hanya menghela nafas panjang seraya mengusap-ngusap dadanya. Dengan langkah gontai dia kembali ke bawah untuk bergabung dengan para orang tua. Dihempaskan tubuhnya ke atas sofa tepat di samping sang mama. Dia merebahkan kepalanya di pundak sang mama.
“Rain mana?”
“Istirahat ma.”
“Kamu kenapa di sini? Sana istirahat juga.”
“Aku diusir sama Rain, ngga boleh masuk kamar.”
Bukannya prihatin, Regan dan Nino malah terbahak mendengar ucapan Akhtar. Sarah hanya mengulum senyum saja, begitu pula dengan Kalila. Dengan penuh kelembutan Kalila mengusap puncak kepala Akhtar. Walaupun Akhtar bukan anak kandungnya, namun dia menyayanginya sepenuh hati.
“Sabar Tar. Sekarang ini perjuangan kamu untuk meluluhkan hati Rain.”
“Bener Tar, inget apa yang papa bilang tadi di mobil. Pelan-pelan aja.”
“Tenang aja, mama sama papa dukung kamu. Ya kan mas?” Sarah menoleh pada Regan yang hanya dijawab dengan anggukan olehnya.
__ADS_1
“Lebih baik kamu tidur di kamar tamu aja. Kamu pasti cape,” saran Regan.
“Iya pa, aku istirahat dulu.”
Akhtar melangkahkan kakinya ke kamar tamu yang terletak di samping ruang kerja Regan. Direbahkan tubuh letihnya di atas kasur berukuran king size tersebut, tangannya meraih guling lalu memeluknya erat. Dalam bayangannya Akhtar sedang memeluk sang istri. Tak lama dia sudah masuk ke alam mimpi.
Setelah beristirahat cukup lama, Rain keluar dari kamarnya. Tubuhnya terasa lebih segar sehabis mandi. Dengan langkah pelan dia menuruni anak tangga. Matanya berkeliling mencari sosok suaminya. Rain hampir saja menabrak bi Sumi, asisten rumah tangga yang baru bekerja menggantikan bi Minah.
“Mau makan non?” tawar bi Sumi.
“Hmm.. boleh. Bibi masak apa?”
“Tadi ibu yang masak non. Katanya makanan kesukaan non, soto betawi.”
Mata Rain berbinar mendengar soto betawi. Perutnya yang memang sudah keroncongan semakin meronta minta diisi. Bi Sumi segera menghangatkan kuah soto. Rain menarik kursi lalu duduk menunggu makanan favoritnya siap. Tak lama bi Sumi datang membawa semangkok soto dan sepiring nasi. Rain memandangi makanan di depannya.
“Ayo dimakan non. Oh iya, sebentar bibi ambilkan sambal sama jeruk nipisnya.”
Rain masih belum menyentuh makanannya walaupun bi Sumi sudah menambahkan sambal beserta perasan jeruk nipis ke dalam soto. Rasa mual kembali menderanya, dengan cepat dia menutup mulutnya.
“Bi, mama sama papa kemana?”
“Ibu sama bapak pergi ke undangan non.”
“Kalau mas Akhtar?”
“Wah kalau den Akhtar, bibi ngga tau non. Mungkin ikut pulang sama bu Kalila.”
Wajah Rain berubah sendu mendengar Akhtar pulang ke rumah orang tuanya. Tiba-tiba saja rasa laparnya hilang entah kemana. Akhtar yang sudah keluar dari kamar, tersenyum mendengar Rain menanyakannya.
“Bi, tolong siapin makanan ya, saya lapar.”
Rain dan bi Sumi menoleh bersamaan ke sumber suara. Dengan santai Akhtar berjalan menuju meja makan, dia sengaja mengambil tempat yang cukup jauh dari Rain. Bi Sumi segera menyiapkan makanan untuk Akhtar. Rain pura-pura tak peduli dengan kedatangan Akhtar, dia sibuk mengaduk-aduk sotonya. Semangkok soto dan sepiring nasi telah siap untuk Akhtar. Dengan lahap pria itu memakan makanannya. Sesekali matanya melirik ke arah Rain yang masih belum mulai makan.
“Rain, cepat makan nanti sotonya keburu dingin lagi.”
__ADS_1
“Hmm..”
Rain kembali mengaduk sotonya, memasukkannya sedikit ke atas piring. Dia menyuapkan nasi ke mulutnya. Rasa mual masih menderanya, namun ditahannya. Susah payah ditelannya nasi tersebut. Akhtar yang tak tega segera menghabiskan makanannya lalu berpindah duduk di sisi Rain. Diambilnya sendok dari tangan sang istri, lalu mendekatkan mangkok beserta piring padanya.
“Mas suapin ya.”
“Ngga usah.”
“Ayo sayang, demi anak kita.”
Akhtar menyodorkan sendok ke arah mulut Rain. Cukup lama ibu hamil itu hanya diam, namun akhirnya membuka mulut juga. Rasa mual yang tadi dirasakannya menghilang entah kemana ketika Akhtar mulai menyuapinya. Tak butuh waktu lama untuk Rain menghabiskan makanannya. Akhtar tersenyum senang melihatnya.
“Sekarang kamu mau apa sayang?”
“Mau nonton tv aja. Awas jangan deket-deket!”
Akhtar hanya mengangguk lalu mengikuti langkah sang istri menuju ruang tengah. Akhtar memilih duduk di sofa tunggal yang jaraknya tidak terlalu dekat. Rain berbaring di sofa sambil menonton tayangan televisi.
“Sayang, kakinya mau mas pijetin ngga?”
“Ngga usah modus.”
“Siapa yang modus? Katanya kalau ibu hamil itu kakinya suka pegel. Mas pijetin ya.”
Tanpa menunggu jawaban Rain, Akhtar maju lalu duduk bersila di lantai. Tangannya mulai memijat betis istrinya. Mata Rain terpejam menikmati pijatan demi pijatan yang diberikan suaminya. Akhtar memang cukup pandai memijat, Rain kerap merasakan pijatan sang suami.
Rain begitu menikmati pijatan Akhtar hingga jatuh tertidur. Melihat istrinya tertidur, Akhtar menghentikan pijatannya. Didekatinya wajah Rain lalu mendaratkan kecupan di bibir ranumnya. Akhtar membopong Rain lalu membawa ke kamarnya. Dengan hati-hati dibaringkan tubuh itu ke kasur. Akhtar ikut naik ke kasur kemudian berbaring di sampingnya.
Rain mengubah posisi tidurnya membelakangi Akhtar seraya memeluk guling erat. Akhtar merapatkan tubuhnya lalu memeluk Rain dari belakang. Beberapa kali dia mengecup pundak dan punggung istrinya kemudian membenamkan wajahnya ke punggung Rain. Sesekali tangannya mengelus perut sang istri yang masih rata. Dalam hatinya tak hentinya berdoa agar hubungannya dengan Rain kembali membaik.
🍁🍁🍁
**Buat readers tercinta, mamake minta maaf karena dua hari ngga up. Mamake lagi sibuk di dunyat dan sempat hilang mood juga buat nulis. Mudah2an ke depannya bisa lancar lagi ya up nya🤗
Jangan lupa loh, buat kasih like, comment and vote nya. Thank you all😘😘😘**
__ADS_1