Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 1 : DEAR UNCLE Kata Terkutuk


__ADS_3

“Bi, bisa kita bicara?”


Alea menahan lengan Ega ketika hendak keluar kamar setelah beranti pakaian. Dia masih enggan berada satu kamar dengan istrinya setelah kejadian yang menimpa Firly beberapa hari yang lalu. Tanpa berkata apapun Ega berjalan menuju sofa dan mendaratkan bokongnya di sana. Alea menyusul duduk di sebelahnya.


“Apa yang mau kamu bicarakan?”


“Soal Ily.”


“Ada apa dengan Ily?”


“Apa tidak sebaiknya kita mengirimnya kuliah di luar negeri? Sepertinya dia butuh suasana baru supaya bisa melanjutkan hidupnya.”


Ega menatap Alea tak percaya. Entah terbuat dari apa hati istrinya itu. Setelah mengetahui apa yang terjadi pada putri mereka satu-satunya, Alea masih menutup mata dan hatinya. Telinganya seakan tuli untuk mendengar masukan orang lain.


“Maksud kamu apa Al? Kamu mau membuang Ily ke luar negeri gitu? Menjauhkannya dari orang-orang yang menyayanginya?”


“Bukan begitu bi. Aku hanya berpikir setelah semua yang terjadi, sepertinya dia butuh suasana baru. Aku minta maaf soal Radja, aku ngga menyangka kalau anak itu benar-benar brengsek. Aku hanya ingin membantu Ily keluar dari semua permasalahan ini.”


“Dan kamu tahu jawabannya, siapa yang bisa membuat Ily bahagia.”


“Dimas? Bagaimana kamu bisa yakin kalau dia bisa membahagiakan Ily. Justru dia yang telah membuat Ily seperti ini. Dia yang sudah membuat Ily berubah, dia merayu Ily sampai jatuh dalam pesonanya lalu dia pergi setelah menumbuhkan benih cinta di hati Ily.”


“Kamu yang membuatnya pergi Al! Sadarlah Al, sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu keras kepala seperti ini? Kenapa kamu selalu menyalahkan orang lain sedangkan yang jelas-jelas bersalah adalah kamu!”


Ega berdiri dari duduknya, kesabarannya sudah habis menghadapi istrinya yang begitu keras kepala.


“Dengar, keputusanku sudah bulat. Dengan atau tanpa restumu aku akan menikahkan Ily dengan Dimas. Sekali lagi kukatakan, jika kamu tetap tidak menerima semua ini, silahkan ajukan gugatan cerai.”


“Kalau kamu bersikeras menyetujui hubungan Ily dengan Dimas maka kamu akan kehilanganku selamanya! Aku lebih baik mati dari pada melihat mereka bersatu!”


“Terserah padamu, aku tidak peduli!!”


Ega keluar dari kamar lalu membanting pintu dengan kencangnya. Tubuhnya seketika membeku ketika melihat Firly berdiri di depan pintu kamarnya. Wajah Firly sudah rembas oleh airmata. Sepertinya gadis itu mendengar pertengkaran orang tuanya.


“Ily.”


“Maafkan aku pi hiks.. hiks.. karena aku mami dan papi bertengkar hiks.. jangan berpisah dari mami hiks.. aku... aku baik-baik saja. Aku.. re..la... ka.. aaaahhh”


Firly tak bisa menyelesaikan kalimatnya. Perutnya serasa ditusuk sembilu. Firly berjongkok untuk menahan rasa nyerinya. Ega mendekat lalu mensejajarkan dirinya.


“Ily, kamu kenapa sayang?”


“Sa..kit pi.. pe... rut I...ly hhhh...”

__ADS_1


Nafas Firly terasa sesak seperti ada batu besar menghimpit paru-paru. Beberapa kali dia berusaha menarik nafas panjang. Ega panik dibuatnya, dia berteriak memanggil Firlan.


“Ilan! Ilan!”


Mendengar teriakan Ega, Firlan dan Azriel berlari turun begitu pula Alea keluar dari kamarnya. Mereka terkejut melihat Ega yang membopong tubuh Firly.


“Cepat siapkan mobil, kita ke rumah sakit sekarang!”


Firlan berlari secepat kilat menuju garasi. Ega memasukkan Firly ke dalam mobil kemudian mengemudikannya dengan kecepatan tinggi. Di belakang Firlan, Azriel dan Alea menyusul menggunakan mobil lain.


Ega menunggu dengan cemas hasil pemeriksaan dokter. Dia berjalan mondar-mandir di IGD. Alea pun tak kalah cemasnya. Melihat wajah Firly begitu pucat membuatnya benar-benar khawatir. Dokter yang tak kunjung selesai memeriksa keadaan anaknya semakin membuat perasaannya tak menentu. Firlan mencoba menenangkan Alea dengan membawanya duduk di kursi tunggu.


Tirai pembatas blankar terbuka, dokter jaga yang memeriksa keadaan Firly keluar. Ega dan Alea bergegas menghampirinya.


“Dokter, bagaimana keadaan anak saya?”


“Sepertinya anak anda terkena maag kronis. Dokter spesialis penyakit dalam yang akan memeriksa kondisinya lebih lanjut. Saya sudah memberikan obat pereda nyeri padanya dan sebentar lagi anak bapak akan dipindahkan ke ruangan.”


“Terima kasih dok.”


Dokter itu mengangguk kemudian berjalan menuju meja perawat. Dia meminta sang perawat menghubungi dokter spesialis penyakit dalam untuk memeriksa keadaan Firly lebih lanjut. Dua orang perawat datang mendorong bed yang akan membawa Firly ke ruang rawat inap. Ega mengikuti kedua perawat itu menuju lift.


“Ilan, hubungi om Dimas. Suruh dia ke sini. Bilang kalau Ily dirawat.”


“Bi!”


“Diam! Kalau kamu tidak suka silahkan pergi,” jawab Ega dengan dingin lalu meneruskan langkahnya. Firlan segera menghubungi Dimas sesuai perintah sang papi.


🍁🍁🍁


Dimas menjalankan mobil seperti orang kesetanan begitu mendapat telepon dari Firlan yang mengabarkan Firly masuk ke rumah sakit. Dalam waktu sepuluh menit Dimas sudah tiba di rumah sakit. Dia bergegas menuju lantai 10 tempat Firly dirawat. Dimas masuk ke ruang perawatan ketika dokter spesialis penyakit dalam selesai memeriksa Firly.


“Bagaimana kondisi anak saya dok?”


“Dia menderita maag kronis. Hal ini juga diperparah dengan obat tidur yang dikonsumsi tanpa aturan dari dokter. Untuk sementara anak bapak harus dirawat, lambungnya terluka. Dia tidak boleh banyak bergerak, dan yang terpenting tidak banyak pikiran. Sepertinya pemicu maag anak anda adalah stress yang berlebihan.”


“Apa dok? Stress? Lalu obat tidur, kenapa Ily mengkonsumsi obat tidur?” rentetan pertanyaan keluar dari mulut Dimas.


“Iya, nona Firly menderita maag kronis kemungkinan karena stress yang berlebihan dan diperparah dengan efek obat tidur yang dia konsumsi.”


Sang dokter permisi meninggalkan ruangan setelah memberi penjelasan. Dimas terhenyak mendengar penuturan dokter. Dipandanginya wajah Firly yang begitu pucat. Lalu pandangannya beralih pada Ega.


“Bang tolong katakan kenapa Ily sampai minum obat tidur?”

__ADS_1


“Dia menderita insomnia. Abang juga baru tahu belakangan ini.”


“Bang, aku menitipkan Ily pada abang. Aku putuskan untuk pergi demi memenuhi permintaan kalian karena aku percaya kalian akan menjaganya dengan baik. Tapi apa ini bang? Kenapa abang bisa kecolongan seperti ini?”


“Maaf Dim, abang memang lalai. Abang sudah gagal menjadi seorang ayah.”


Ega terduduk di sofa. Dia meremas rambutnya dengan kencang. Kalau saja dia bertindak lebih cepat, mungkin hal ini tidak akan terjadi.


“Sekarang mami puas? Melihat kak Ily seperti ini mami puas sekarang? Setelah kejadian Radja mami masih belum mengerti apa yang diinginkan oleh kak Ily. Sekarang lihat apa yang terjadi. Mami benar-benar egois!” Azriel yang selama ini bungkam mulai mengutarakan kekesalannya.


“Radja? Apa yang dilakukan anak itu?”


“Dia coba perkosa kak Ily, om.”


Tangan Dimas mengepal keras. Kemarahan, penyesalan dan kesedihan menjadi satu dalam hatinya. Dengan langkah gontai dia menghampiri Firly lalu duduk di samping bed sambil memandangi gadis itu yang masih memejamkan matanya.


“Dimas sebaiknya kamu pulang. Biar kami yang menjaga Firly,” suara Alea memecah keheningan yang baru saja terjadi. Dimas memutar tubuhnya melihat pada Alea.


“Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan tetap di sini sampai dia sadar. Terserah kakak mau mengatakan apa tapi aku akan tetap di sini. Kalian sudah tidak becus menjaga Ily. Aku sudah pernah katakan padamu kak, kalau sampai kakak menyakiti Ily, aku akan membawanya pergi dari kakak.”


“Ilan, Ziel kalian pulanglah dan bawa mami bersama kalian.”


“Bi...”


“Pulang Al!”


“Ngga! Aku mau di sini, dia anakku. Aku lebih berhak berada di sini dibanding dia,” Alea menunjuk pada Dimas.


“Apa kamu tahu kenapa Ily sampai pingsan? Karena dia mendengar pertengkaran kita. Dia merasa apa yang terjadi pada kita karena keselahannya. Tolong jangan membuat anakmu menderita lagi.”


“Itu karena kamu yang mendukungnya.”


“Alea! Tolong jangan menguji kesabaranku. Jangan sampai aku mengeluarkan kata terkutuk itu Al. Pulanglah dan renungkan semua yang terjadi.”


Firlan merangkul Alea lalu membawanya keluar ruangan. Pikiran Alea terasa kosong setelah mendengar ucapan terakhir Ega. Beberapa kali Alea hampir terjatuh jika Firlan tak memegang tubuhnya dengan benar.


🍁🍁🍁


**Hmmm... kira2 ada yang tau ngga kata apa yang dimaksud Ega?


Ily cepet sembuh, ada om Dimas di samping kamu tuh.


Dah ya hari ini up 3 episode loh. So jangan lupa ritualnya ya, like, comment and vote. Kalau kalian suka dengan cerita ini tolong bantu share ya di medsos kalian, biar semakin banyak yang baca cerita ini.

__ADS_1


Gamsa Hamnida💖💖💖**


__ADS_2