
Satu bulan kemudian
Suasana meja makan hening, hanya terdengar bunyi denting sendok yang Hanin gunakan untuk memakan nasi goreng. Firlan keluar dari kamar lalu menuju ruang makan. Ditariknya kursi makan di seberang Hanin kemudian mendudukkan diri.
Firlan menyesap kopi hitam miliknya seraya memandangi Hanin yang dengan tenang menghabiskan sarapannya. Inilah kehidupan pasangan pengantin yang baru menikah sebulan lalu. Hanin selalu memasak sarapan dan makan malam. Firlan pun tak pernah menolak tapi tak pernah ada perbincangan hangat seperti yang dulu mereka lakukan.
Mereka berdua lebih terlihat seperti room mate saja. Tinggal di tempat yang sama, tidur di kamar terpisah dan tidak mencampuri kehidupan masing-masing. Namun seminggu belakangan ini ada yang menggelitik pikiran Firlan.
Perbincangan seriusnya dengan Elang dan Gara menyadarkan pria itu kalau ada yang salah dengan pernikahannya. Tepatnya kesalahan yang dilakukannya dalam pernikahan ini. Beberapa hari belakangan ini Firlan mulai mencari tahu tentang istrinya. Dan satu lagi yang disadarinya, tak ada notifikasi atas penggunaan kartu kredit yang diberikannya pada Hanin sehari setelah mereka menikah. Pun dengan kartu debit yang juga diberikannya untuk uang saku sang istri. Tak ada informasi mutasi uang keluar.
Firlan curiga Hanin tak pernah menggunakan kartu yang diberikannya. Tiga hari yang lalu dia juga mengetahui Hanin baru saja membeli laptop baru yang harganya tidak kurang dari 20 juta.
“Han.. apa kamu ngga pernah pake kartu yang aku kasih?”
“Ng... i..tu..”
“Terus laptop baru itu, kamu beli pakai uang siapa?”
“A.. aku beli pakai uangku sendiri bang. Aku emang udah nabung buat beli laptop itu.”
Firlan meletakkan kembali sendok yang sudah diangkatnya. Kini punggungnya bersandar pada kursi makan dengan mata menatap Hanin dengan tajam.
“Lalu bagaimana dengan kebutuhan sehari-hari. Untuk belanja bulanan, kebutuhan dapur. Apa itu semua kamu beli dengan uangmu juga?”
“Iya bang.”
Firlan meradang mendengar jawaban Hanin. Tangannya mengepal keras di atas meja. Niatnya ingin bicara baik-baik dengan sang istri lenyap sudah. Hanya kemarahan yang melingkupi hatinya kini.
“Apa kamu pikir pernikahan ini lelucon Han? Kamu yang minta menjalani pernikahan ini dengan serius. Kamu memintaku mengijinkanmu untuk bersikap layaknya seorang istri, memasak, membereskan rumah, mengurus semua kebutuhanku dan aku menerima semua itu. Setiap hari aku menyempatkan diri sarapan dan makan malam di rumah demi menghargaimu. Tapi yang kamu lakukan justru sebaliknya. Kamu membuatku menjadi suami yang buruk, bahkan kamu tidak mau memakai uang yang kuberikan sebagai nafkah lahirku padamu. Kita mungkin belum bisa menjalani pernikahan seperti pasangan umum lainnya tapi setidaknya biarkan aku bertanggung jawab atas kehidupanmu!”
Firlan mendorong kursi makan dengan kasar. Bergegas dia menyambar jas dan tas kerjanya lalu keluar dari unit apartemen seraya membanting pintu dengan keras. Jantung Hanin berdegup kencang mendengar bunyi pintu berdebam. Hanin meremas jari-jari tangannya. Belum pernah dia melihat Firlan semarah ini.
Belum hilang rasa terkejut Hanin, dia kembali dikejutkan dengan suara bel. Hanin berdiri lalu melangkah untuk membukakan pintu. Tampak Azkia dan Aslan berdiri di depan pintu. Dengan senyum sumringah Hanin menyambut kakak dan keponakannya itu.
Azkia dan Aslan berjalan mengikuti Hanin ke arah meja makan. Diperhatikannya dua buah piring berisi nasi goreng yang ada di atas meja. Satu baru habis setengahnya, satu lagi belum tersentuh sama sekali, lengkap dengan secangkir kopi yang juga masih utuh. Azkia menduduki kursi yang tadi ditempati Firlan.
“Kakak tadi ketemu bang Ilan di depan lift. Dia kelihatannya marah, apa kalian sedang bertengkar?”
“Iya kak.”
“Kenapa?”
Hanin terdiam sebentar. Awalnya sedikit ragu untuk menceritakan apa yang terjadi dalam pernikahannya. Namun dia juga butuh teman untuk bertukar cerita. Akhirnya mengalirlah cerita Hanin tentang pernikahannya. Mulai dari awal pernikahan sampai kemarahan Firlan tadi.
“Han.. seharusnya kamu tidak melakukan itu. Wajar aja kalau bang Ilan marah karena kamu sudah melukai harga dirinya. Sebagai seorang laki-laki dia merasa terhina kalau uang yang diberikannya untukmu tidak digunakan sama sekali. Apalagi untuk kebutuhan sehari-hari kamu malah memakai uangmu. Dia itu lebih dari mampu untuk membiayaimu, dan itu yang membuatnya marah. Apa yang kamu lakukan justru semakin mempertebal tembok di antara kalian.”
“Terus aku harus bagaimana kak?”
“Kamu harus minta maaf sama bang Ilan. Dan mulai hari ini gunakan uang yang sudah dia berikan padamu. Kamu selama ini selalu melakukan kewajibanmu sebagai istri tapi kamu tidak membiarkan suamimu melakukan kewajibannya, memberimu nafkah lahir. Jangan ulangi lagi hal seperti itu, mengerti?”
“Iya kak.”
Azkia mengusap punggung tangan adiknya. Perasaan Hanin pun sudah lega bisa mengeluarkan beban yang selama ini menghimpit dadanya. Azkia kemudian mengajak Hanin menemaninya berbelanja sebelum gadis itu berangkat kuliah. Sambil menuntun Aslan, kedua wanita cantik itu keluar dari apartemen.
🍁🍁🍁
“Hanin!!”
Hanin menghentikan langkahnya keluar dari kelas begitu mendengar panggilan Farhat, teman sekelasnya. Pemuda bertubuh gempal itu bergegas menghampirinya dengan diikuti beberapa teman lainnya.
“Eh nyonya Firlan, traktir kita makan dong. Sejak lo nikah kita belum pernah ditraktir lagi nih,” seru Farhat.
__ADS_1
“Ya elah kirain apa. Ayo ke kantin, gue traktir sampe puas.”
“Eits jangan di kantin dong. Masa istri wakil CEO Gala Corp. Traktir kita di kantin kampus.”
“Terus maunya di mana?”
“Di Emerald restoran dong.”
“Lo mau meres gue ya?”
“Jangan pelit Han. Traktir kita di sana mah cetek buat lo. Lagian kan tuh restoran masih punya suami lo juga.”
Ucapan Farhat langsung disetujui teman-temannya yang lain, termasuk Disa, sahabat Hanin. Akhirnya Hanin hanya bisa pasrah mengikuti kemauan teman-temannya. Diiringi sorak sorai bergembira mereka berjalan menuju tempat parkir. Di tengah jalan mereka bertemu dengan Jose alias Asep Supriyatna yang langsung mengajukan diri sebagai relawan untuk mencicipi menu di restoran bintang lima tersebut. Ditambah dengan Jose, ada dua belas orang teman Hanin yang siap menampung menu makanan di Emerald restoran.
Suasana tenang Emerald restoran seketika riuh begitu Hanin dan kedua belas temannya datang. Mereka langsung meminta beberapa meja disatukan. Beruntung reservasi untuk hari ini tidak sepenuh biasanya, jadi masih ada tempat tersisa untuk mereka.
Tiga buah buku menu yang diberikan pelayan berpindah tangan dari satu ke yang lainnya. Mereka cukup tercengang melihat harga yang tertera di sana. Hanya untuk secangkir kopi hitam dibandrol tiga ratus ribu rupiah. Tapi berhubung yang akan mentraktir mereka adalah istri dari wakil CEO pemilik restoran ini, tanpa rasa malu dan ragu mereka memesan makanan tanpa mempedulikan harga.
Bermacam menu tersaji di meja yang langsung disantap oleh teman-teman Hanin yang kebanyakan berstatus anak kost. Beberapa kali terdengar pujian dari mereka tentang rasa masakan. Emerald restoran memang salah satu restoran bintang lima terbaik di kota Bandung ini, selain Premium dan La Premiere.
“Han.. gue boleh pesan lagi ya,” ujar Farhat.
“Lo masih belum kenyang?”
“Buat dibawa pulang Han. Maklum anak kost. Kan ngga tiap hari bisa perbaikan gizi kaya gini.”
“Terserah lo deh.”
Senyum mengembang di wajah bulat Farhat. Dia melambaikan tangannya ke arah pelayan lalu dengan cepat memesan makanan untuk dibawa pulang. Ternyata bukan hanya Farhat yang berniat membawa pulang makanan. Ada delapan orang lain yang juga ikut memesan. Hanin hanya menggelengkan kepalanya, melihat teman-temannya merampok dirinya dengan tanpa perasaan bersalah sama sekali.
Sajian di meja sudah habis, pesanan yang dibawa pulang pun sudah siap kini tinggal membayar saja. Seorang pelayan mengantarkan tagihan pada Hanin. Mata gadis itu membulat melihat nominal yang harus dibayarnya. Total semua tagihan adalah sembilan juta lima ratus ribu rupiah.
Kampreto nih anak-anak, niat banget mereka malak gue. Haduh saldo di rekening kurang lagi, gimana dong. Eh.. kan ada kartu dari bang Ilan, gue pake aja gitu...
Hanin tercenung sejenak untuk menimbang-nimbang. Dikarenakan tak ada jalan keluar lain, akhirnya dia memutuskan untuk memakai kartu yang diberikan Firlan padanya. Tapi sebelumnya dia menghubungi Firlan terlebih dulu. Karena dia akan menggunakan uang untuk mentraktir teman-temannya bukan untuk keperluan di rumah.
Hanin beranjak menjauh dari teman-temannya seraya menempelkan ponsel ke telinganya. Dirinya harap-harap cemas menunggu panggilannya tersambung. Saat deringan ketiga Firlan mengangkat panggilan darinya.
“Assalamu’alaikum..”
“Waalaikumsalam. Hmm.. bang hmm.. Hanin lagi di Emerald restoran, teman-teman minta ditraktir makan di sini. Tapi uang Hanin kurang.”
“Kurang? Bukannya kamu ngga pernah pake uang di atm yang aku kasih? Emang berapa tagihannya? Kartu kredit yang aku kasih ke kamu itu saldonya unlimited.”
“Maksudnya uang di atm Hanin yang kurang. Apa Hanin boleh bayar pake kartu yang abang kasih?”
“Han.. abang kasih kartu itu ke kamu buat kamu pakai bukan buat pajangan di dompet kamu. Pake aja, itu hak kamu.”
Dada Hanin berdesir ketika mendengar Firlan kembali memanggil dirinya dengan sebutan abang bukan aku lagi.
“Iya bang, makasih ya. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Hanin mengakhiri panggilannya kemudian melangkah menuju meja kasir. Dia menyerahkan bill beserta kartu kredit milik Firlan. Kasir yang menerima kartu dari Hanin mengerutkan keningnya ketika melihat nama Firlan Cemal Prakarsa yang tertera di kartu. Dia memperhatikan Hanin lekat-lekat, kemudian memilih masuk ke dalam ruangan di belakang mejanya. Tak berapa lama dia kembali beserta seorang wanita yang lebih tua yang diperkirakan adalah supervisor kasir tadi.
“Maaf... apa hubungan mba sama pak Firlan? Kenapa kartu pak Firlan ada sama mba?” tanya sang supervisor yang tidak mengetahui status Hanin.
“Pak Firlan itu suami saya,” jawab Hanin jujur namun sayangnya kedua wanita di depannya tidak mempercayainya.
Supervisor itu kembali ke ruangannya untuk melakukan panggilan kemudian kembali ke meja kasir.
__ADS_1
“Maaf dek, bukannya kami tidak percaya tapi banyak perempuan yang mengaku kekasih, tunangan bahkan istri pak Firlan hanya untuk makan gratis di sini. Saya tadi coba konfirmasi ke pak Firlan, tapi beliau sedang tidak ada di ruangannya. Jadi maaf, kami belum bisa memproses transaksi.”
“Ibu beneran ngga percaya saya istrinya pak Firlan? Ya udah deh, saya bayar pakai kartu debit aja.”
Hanin mengeluarkan kartu atm yang diberikan Firlan padanya. Supervisor itu kembali terdiam begitu melihat nama yang tertera di kartu tetap sama. Kali ini wanita itu berusaha mempercayai ucapan Hanin. Dia memerintahkan kasir untuk memproses transaksi.
“Silahkan masukan no pinnya,” pinta sang kasir.
Hanin mendekat, namun jarinya tertahan ketika hendak menekan no pin. Hanin merutuki dirinya yang tidak menanyakan no pin kartu pada suaminya. Kediaman Hanin membuat sang supervisor kembali mencurigainya.
“Kenapa dek? Ngga tahu no pinnya? Adek beneran istrinya pak Firlan?” mata supervisor itu memicing melihat ke arah Hanin.
“Bener bu, tapi saya lupa tanya no pinnya.”
“No pinnya tanggal lahirmu sayang.”
Hanin menoleh ke belakang ketika mendengar suara Firlan. Petugas kasir dan supervisor langsung menunduk hormat ketika melihat kedatangan Fidi rlan. Hanin sendiri masih terbengong ketika mendengar kata sayang keluar dari mulut Firlan, hingga pelukan Firlan di pinggangnya menyadarkan dirinya.
Firlan memasukan enam digit no pin ke mesin EDC dan transaksi pembayaran pun diproses. Hanin memandangi Firlan yang masih memeluk pinggangnya. Selesai memproses transaksi, sang kasir mengembalikan kartu pada Firlan.
“Maaf pak Firlan kalau kami sempat meragukan adek eh ibu Firlan,” ucap sang supervisor.
“Ngga apa-apa. Tolong diingat baik-baik ya, dia ini Hanin Hanania Afrizal, istri saya. Lain kali kalau dia dan teman-temannya datang ke sini, langsung saja masukan tagihannya atas nama saya.”
“Baik pak. Sekali lagi kami minta maaf.”
Firlan mengangguk lalu membawa Hanin pergi menuju meja di mana teman-temannya berada. Melihat kedatangan Firlan, Farhat mewakili yang lain berdiri untuk mengucapkan terima kasih.
“Pak Firlan, makasih ya atas makanannya.”
“Sama-sama. Saya harap kalian suka dengan hidangannya.”
“Suka banget pak. Rasanya juga enak.”
“Apalagi kalau gratis, tambah enak pak,” timpal Jose.
Hanin melotok ke arah Jose. Playboy cap kadal bunting itu sepertinya sudah putus urat malunya. Firlan hanya terkekeh pelan, lalu melihat ke arah Hanin.
“Habis ini masih ada acara atau kuliah?”
“Ngga bang.”
“Kamu ditunggu mami di butik. Malam ini kita harus ke acara ulang tahun salah satu kolega papi. Mami udah siapin baju buat kamu.”
“Iya bang.”
“Kamu tunggu aja di sana nanti abang jemput.”
“Iya.”
“Abang pergi dulu ya. Mari.. saya tinggal dulu.”
“Iya pak.. makasih ya pak.”
Firlan hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia melepaskan pelukannya di pinggang Hanin kemudian mendaratkan kecupan di kening Hanin. Setelah itu dengan santainya pergi meninggalkan Hanin yang mendapat sorakan dari teman-temannya. Wajah Hanin memerah, bukan karena sorakan teman-temannya tapi karena sikap Firlan padanya. Jantungnya berdegup dengan kecang, berharap apa yang terjadi barusan bukan khayalannya saja.
🍁🍁🍁
**Cie.. cie.. bang Ilan udah mulai luluh nih... gasskeun Han jangan kasih kendor😁
Maaf ya kemarin mamake ngga bisa up karena anak mamake sakit, dua²nya kompak sakit barengan. Mamake minta doanya supaya kesayangan mamake cepat sembuh..🙏**
__ADS_1