
Resepsionis yang berjaga di kantor Gala Corp menahan nafasnya saat melihat Dimas melintasi lobi kantor. Sejak menjalin kerjasama dengan Ega membangun sekolah menengah khusus tata boga, Dimas cukup sering berkunjung ke kantor ini. Dan itu merupakan anugerah untuk para karyawan wanita di sana yang dapat menyaksikan secara langsung ketampanan pengusaha sekaligus chef terkenal tersebut. Status Dimas sebagai duda beranak satu justru semakin melejitkan popularitasnya sebagai the most wanted man of the year.
Rimba, sekretaris Ega menganggukkan kepalanya tatkala melihat kedatangan Dimas. Dengan sigap dia membukakan pintu ruangan Ega. Dimas masuk ke dalam ruangan, ada sedikit perasaan canggung mengingat pertemuan terakhir mereka. Dimas mendekat, meletakkan dokumen di tangannya ke atas meja kemudian menarik kursi di depan meja kerja Ega. Tanpa sepatah kata pun Ega membaca dokumen yang dibawa Dimas.
“Semua persiapan sudah selesai. Kalau tidak ada halangan, dua minggu lagi proses pembangunan akan dimulai begitu surat perijinan keluar,” terang Dimas.
“Oke, aku percayakan semuanya padamu.”
Dimas mengangguk, Ega kembali pada kesibukannya. Hati Dimas mencelos melihat sikap dingin Ega padanya. Ditatapnya ayah dari gadis yang dicintainya sejenak, setelah menarik nafas panjang Dimas mulai berbicara.
“Bang, bisa kita bicara sebentar?”
“Soal apa?”
“Soal Ily. Sebelumnya aku minta maaf kalau sudah mengecewakan abang, tapi apa yang kurasakan pada Ily itu serius bang. Aku ingin menikahinya karena aku mencintainya bukan untuk menjadikannya pengasuh Ara.”
Ega menghentikan aktivitasnya. Diletakkan berkas yang ada di tangannya kemudian melihat pada Dimas.
“Apapun alasanmu, aku ngga mengijinkannya. Pulanglah Dim, ngga ada yang perlu dibicarakan lagi. Aku anggap pembicaraanmu tempo hari dan sekarang tidak pernah ada. Demi hubungan baik kita Dim, lupakan niatmu itu.”
“Berikan alasannya bang, kenapa abang ngga menyetujui hubungan kami? Apa karena usiaku? Statusku? Apa perasaan yang kami miliki itu sebuah kesalahan bang?”
“Ily masih muda Dim, baru 18 tahun. Masih banyak hal yang bisa dilakukannya, belum waktunya dia terkungkung dalam ikatan pernikahan. Lalu bagaimana dengan perasaannya? Apa kamu yakin itu bukan hanya kekaguman sesaat aja?”
“Setelah menikah nanti Ily bisa tetap melanjutkan kuliahnya. Aku tidak akan mengekangnya bang. Aku membebaskannya meraih impiannya, aku akan mendukungnya selama itu untuk kebaikannya. Aku juga ngga akan membatasi pergaulannya karena aku percaya dia tahu batasannya sebagai seorang istri. Dan soal perasaannya itu resiko yang akan kutanggung sendiri.”
“Jangan memandang pernikahan dari kacamatamu sendiri Dim. Aku percaya padamu karena kamu pernah berumah tangga sebelumnya tapi Ily. Dia masih labil. Saat ini dia menggebu-gebu ingin menikah denganmu tapi bagaimana nanti? Aku ngga mau dia menyesali keputusannya saat semuanya sudah terlambat.
Aku mohon berhentilah bersikap egois Dim. Kalau kamu memang menyayanginya, lepaskan dia, biarkan dia menikmati masa muda seperti yang lainnya. Dia putriku satu-satunya Dim, aku ngga mau dia mengambil keputusan yang salah dalam hidupnya.”
“Aku sungguh berharap abang mau melihat kesungguhan kami. Dan maaf aku ngga bisa memenuhi keinginan abang. Aku sudah berjanji padanya untuk tidak menyerah. Sampai dia sendiri yang melepaskanku, aku tidak akan melepaskannya. Aku permisi dulu bang, assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Dimas meninggalkan ruangan Ega dengan perasaan tak menentu. Sebagai seorang ayah, dia mengerti kekhawatiran Ega. Namun apakah salah kalau dia berusaha memperjuangkan kebahagiaannya.
🍁🍁🍁
Sepulang dari kantor Ega, Dimas memilih menenangkan diri di sebuah taman. Dia duduk di sebuah bangku taman dekat dengan sebuah pohon besar. Semilir angin menyentuh permukaan kulitnya. Dimas menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, berusaha mengisi rongga dadanya yang terasa sesak.
__ADS_1
Ya Allah kenapa sesulit ini jalan yang harus kulalui? Aku percaya tak ada yang salah dengan ketentuan-Mu, tapi kenapa Engkau menumbuhkan perasaan ini pada seseorang yang sulit kujangkau?
Dimas menutup wajahnya dengan kedua tangannya, kemudian meremas rambutnya dengan kasar. Sebuah tepukan di bahu mengembalikan kembali kesadarannya yang sedang melanglang buana. Dimas menoleh, tampak Ringgo sudah berdiri di sampingnya. Dengan santainya pria itu duduk di samping sahabatnya.
“Gimana pertemuan dengan bang Ega?”
“Alhamdulillah lancar, dia percayakan masalah pembangunan sama kita.”
“Bukan soal proyek. Gimana tanggapan bang Ega soal Ily?” Dimas mengesah panjang. Dari reaksi sahabatnya bisa diketahui kalau keadaannya tidak berjalan lancar.
“Dia ngga setuju soal elo sama Ily?”
“Hmm.. apa gue mundur aja ya Nggo. Bang Ega bener, Ily masih muda, rasanya gue egois banget kalau memaksakan hubungan ini. Jalan hidupnya masih panjang dan gue ngga mau keberadaan gue justru menghambatnya.”
“Gue rasa ngga ada salahnya lo bersikap egois demi kebahagiaan lo sendiri. Setelah tujuh tahun kepergian Sissy, ini pertama kalinya lo mau membuka hati buat perempuan lain. Pertama kalinya gue lihat elo tertawa bahagia, dan gue yakin Ara juga bahagia melihat perubahan elo. Jadi, please jangan nyerah Dim. Kejar kebahagiaan elo. Gue yakin perasaan Ily tulus sama elo, walaupun dia masih muda tapi cara berpikirnya sudah cukup dewasa. Dia juga bisa menjadi ibu sambung Ara.”
“Ngga tahulah Nggo. Banyak yang dipertaruhkan dalam hubungan ini. Kebahagiaan Ily, hubungan gue dengan orang tuanya, hubungan kakak gue dengan keluarga Ily. Gue ngga mau karena keegoisan gue, membuat tali silaturahmi di antara keluarga terputus.”
“Lo mending istirahat dulu. Gue tahu udah tiga hari ini lo begadang terus ngurusin pekerjaan. Lo harus jaga kesehatan. Jalan untuk memperoleh restu itu sulit, dan elo butuh stamina yang kuat untuk berjuang. Mending sekarang gue anter pulang.”
Ringgo mengambil kunci mobil Dimas kemudian menariknya masuk ke dalam mobil. Ringgo memacu kendaraan dengan kecepatan sedang. Dimas memperhatikan jalan dari jendela samping.
“Lo mau bawa gue kemana?” Dimas sadar kalau jalan yang diambil sahabatnya ini bukan arah kantor atau rumahnya.
Tanpa menunggu persetujuan Dimas, Ringgo membelokkan mobil memasuki gedung apartemen THE PALACE. Ringgo menekan tombol 16 sesaat setelah memasuki lift. Lima menit kemudian mereka sampai di lantai tempat unitnya berada. Ringgo memencet bel, tak berapa lama pintu terbuka. Muncul Sisil dari balik pintu.
“Sisil? Kamu ngapain di sini?”
Dimas bingung melihat Sisil di apartemen Ringgo. Dilihatnya Ringgo untuk meminta penjelasan, tapi pria itu hanya mengendikkan bahunya. Dengan santai dia mendorong tubuh Dimas masuk ke dalam. Dimas kembali terkejut karena melihat Firly juga berada di sana sedang duduk santai di sofa.
“Ily.”
“Mending lo ngobrol sama Ily. Bicarain apa yang menjadi pikiran elo belakangan ini. Jangan ambil keputusan sepihak, biar bagaimana pun lo harus melibatkan dia karena ini menyangkut kehidupan kalian berdua. Sil, ayo kita ngopi dulu di bawah.”
Sisil mengangguk, Ringgo segera menarik tangan gadis itu kemudian keluar dari unit. Dimas berjalan mendekati Firly kemudian mendudukkan dirinya di sofa tepat di sebelah Firly. Firly memandangi Dimas lekat-lekat, terlihat guratan kelelahan di wajahnya. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, matanya sayu, nampak banyak sekali hal yang membebaninya. Firly menyentuh tangan Dimas dengan lembut, mendekatkan ke mulutnya kemudian mengecupnya.
“Om kenapa?”
“Ngga apa-apa sayang. Om cuma cape aja, akhir-akhir ini banyak pekerjaan,” Dimas merebahkan kepalanya di pangkuan Firly, menggenggam tangan mungil itu erat lalu membawa ke dadanya.
__ADS_1
“Ly, apa om egois kalau ingin memilikimu? Apa om egois kalau ingin menghabiskan sisa umur om bersamamu?”
“Ily yang egois om. Ily yang menggoda om, Ily udah mengganggu hari-hari tenang om dan membuat om terikat pada Ily. Ily yang salah om, ini semua salah Ily hiks.. hiks.”
Airmata Firly merembas membasahi pipinya. Dimas mengangkat tangannya kemudian menghapus butiran bening itu.
“Jangan menangis sayang. Kamu ngga salah apa-apa. Tidak peduli siapa yang memulai lebih dulu, yang jelas kini kita saling mencintai. Hati om memang sudah terpaut padamu. Kamu mau kan terus berjuang di sisi om?”
“Iya om, Ily akan buktikan pada semua orang kalau perasaan yang Ily miliki itu besar dan kuat.”
“Apa kamu siap menjalani hidup bersama om?”
“In Sya Allah, Ily siap lahir dan batin. Cuma om yang Ily mau menjadi pendamping hidup dan imam Ily.”
“Makasih sayang,” Dimas mengecup punggung tangan Firly.
“Boleh om begini sebentar? Om cape, ingin istirahat.”
“Om tidur aja. Ily ngga akan kemana-mana.”
Dimas memiringkan tubuhnya, tangannya memeluk pinggang ramping Firly dan wajahnya terbenam di perutnya. Firly mengusap lembut kepala Dimas. Tak berapa lama kemudian Dimas sudah tertidur.
Tak jemu-jemu Firly memandang wajah tampan yang sedang tertidur nyenyak. Sesekali dia mengusap pipi Dimas dan pria itu tak terganggu sama sekali. Dia terus memejamkan matanya, sepertinya rasa kantuk benar-benar menderanya hingga membuatnya sulit membuka mata.
Ponsel Firly bergetar, sebuah pesan dari Firlan masuk. Firly mengambil bantal sofa, perlahan dia mengangkat kepala Dimas lalu menggeser tubuhnya. Dia mengganti pahanya dengan bantal sofa kemudian merebahkan kepala Dimas di sana. Firly berjongkok di dekat Dimas.
“Ily pulang dulu ya om. Maaf ngga bisa menunggu om bangun. Tidur yang nyenyak dan jangan lupa makan. Ily sayang sama om,” Firly mendaratkan kecupan di kening, pipi dan bibir Dimas. Setelah itu berdiri, mengambil tas selempangnya lalu berjalan keluar unit.
🍁🍁🍁
**Jujur mamake agak nyesek bikin part ini. Di satu sisi mamake mengerti perasaan Ega sebagai orang tua tapi di sisi lain ngga tega dengan perjuangan dua orang yang saling mencinta tapi terhalang restu.
Mamake harus gimana dong? Membuat Ily dan Dimas bersatu apa pertemukan mereka dengan yang lain? Bantu mamake ya..
Jangan lupa ritualnya juga
Like..
Comment..
__ADS_1
Vote..
Thank you😘😘😘**