Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY 3 Hari


__ADS_3

Makan malam di kediaman Irzal dipenuhi dengan obrolan. Ayunda tak henti berbicara tentang adik sepupunya yang baru saja lahir. Tak lupa juga menceritakan bagaimana menderitanya Farel di tangan ibu hamil yang tengah kontraksi. Informasi berharga itu dia dapatkan dari Azkia. Farel yang jadi objek pembicaraan hanya bisa mendengus kesal. Kalau bisa ingin rasanya menyumpal mulut adiknya itu dengan sambel level 5.


Berbeda dengan Elang hanya diam membisu. Dia nampak tak bersemangat menikmati makanannya. Bukan karena letih setelah menempuh perjalanan jauh. Tapi karena pikirannya masih tertuju pada Azkia.


“Yah, aku mau minta cuti beberapa hari boleh?” Elang memecah kebisuannya sendiri.


“Nanti kita bicara setelah makan malam.”


Elang mengangguk lalu meneruskan makannya. Poppy dan Irzal saling berpandangan. Sudah saatnya mereka menjalankan rencana yang telah disusun. Seusai makan malam, Irzal mengajak Elang berbicara di ruang kerjanya. Poppy juga ikut dalam pembicaraan. Farel dan Ayunda tidak diikut sertakan, tapi keduanya berinisiatif menguping di depan pintu.


“Ada apa yah?” tanpa basa-basi Elang langsung memulai pembicaraan. Sedari tadi ia sudah tahu kalau ada yang ingin dibicarakan kedua orang tuanya.


“El... sepertinya sudah saatnya kamu menikah nak. Bunda mau mengenalkanmu pada seorang perempuan. Bunda yakin kamu pasti akan menyukainya, dia gadis yang baik dan solehah.”


Elang terkejut mendengarnya. Dipandanginya Poppy dan Irzal bergantian, wajah keduanya nampak serius.


“Bun.. kenapa mendadak begini?”


“Ini semua demi kebaikanmu El. Ayah ngga mau peristiwa kemarin terulang lagi. Sudah saatnya kamu belajar bertanggung jawab yang sebenarnya. Bertanggung jawab pada seseorang yang akan menjadi istrimu bukan istri orang lain.”


“Aku janji yah kejadian kemarin ngga akan terulang lagi. Tapi tolong jangan seperti ini.”


“Apa kamu bisa menjamin kejadian kemarin tidak terulang lagi? Kalau Rain tiba-tiba merengek meminta tolong lagi padamu, apa kamu bisa menolaknya? Selama ini kamu selalu luluh jika menyangkut Rain. Ingat El, Rain itu sudah bersuami, bahkan kamu bersahabat dengan Akhtar. Apa kamu tidak mempertimbangkan perasaan Akhtar?”


“Aku tahu aku salah yah. Dan aku janji, ngga akan mengulang kesalahan itu lagi. Tapi tolong jangan seperti ini. Apa harus aku menerima perjodohan ini?”


“Apa yang salah dengan perjodohan? Ayah dan bunda juga dijodohkan, dan kamu lihat sendiri bagaimana kami. Dengar, bunda ngga akan memilih gadis sembarangan untuk menjadi istrimu. Percaya sama bunda.”


“Tapi aku sudah punya pilihan bun.”


“Siapa?”


“Namanya Azkia. Perempuan yang waktu itu aku ceritakan pada ayah juga bunda.”


“Kalau begitu bawa dia besok ke rumah,” seru Irzal.


Elang terdiam, bagaimana dia bisa membawa Azkia ke hadapan kedua orang tuanya kalau saat ini keberadaan gadis itu tak diketahuinya.


“Kenapa diam?”


“Aku... aku ada sedikit masalah dengannya yah. Aku butuh waktu untuk menyelesaikan masalah kami dulu. Setelah itu aku janji akan membawanya bertemu dengan ayah dan bunda.”


“Tiga hari. Ayah beri kamu waktu tiga hari untuk menyelesaikan masalahmu. Jika dalam tiga hari kamu tidak bisa membawa gadis itu, maka kamu harus setuju dengan pilihan bundamu.”


“Tapi yah...”


“Tidak ada tapi-tapian. Waktumu hanya tiga hari dan selama itu ayah membebaskanmu dari semua urusan kantor.”


Tanpa menunggu jawaban Elang, Irzal keluar dari ruang kerjanya. Poppy menghampiri Elang lalu memeluknya. Irzal terkejut mendapati Farel dan Ayunda ada di depan ruang kerjanya. Sebuah sentilan langsung mendarat di kening keduanya.


“Adaw.. sakit ayah,” Ayunda mengusap keningnya.


“Hukuman buat yang suka nguping.”


Lalu Irzal beranjak dari sana. kedua tangannya menjewer telinga Farel dan Ayunda. Dengan terseok keduanya mengikuti langkah sang ayah.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Elang keluar dari rumahnya lagi-pagi sekali. Dia benar-benar memanfaatkan waktu yang diberikan Irzal padanya. Tujuan pertamanya adalah tempat tinggal Azkia dulu. Suasana di sekitar kediaman Azkia dulu masih tampak sepi. Elang memutuskan bertanya pada tetangga terdekat Azkia. Tapi hanya jawaban kurang memuaskan yang di dapatnya. Setelah kejadian malam itu tak ada lagi yang melihat Azkia. Bahkan di acara pemakaman, gadis itu tidak terlihat.


Tujuan selanjutnya adalah rumah sakit Ibnu Sina. Itu adalah rumah sakit terdekat dari rumah Azkia. Elang menuju bagian informasi mengecek apakah Azkia atau Daniar mendapatkan perawatan di rumah sakit ini. Tapi hasilnya lagi-lagi nihil. Irzal menutup semua akses tentang Azkia di rumah sakit ini.


Tak percaya dengan keterangan pada staf yang bertugas, Elang memutuskan untuk bertemu dengan Regan. Namun Regan menolak bertemu dengan alasan ada rapat untuk membahas operasi penting. Regan sengaja tak menemui Elang karena tak tega berhadapan dengan pemuda itu. Secara tidak langsung dia merasa bersalah karena hukuman dari Irzal disebabkan oleh Rain, anaknya.


Elang menuju kantin. Di sana dia mulai menghubungi rumah sakit yang kira-kira didatangi oleh Azkia. Sudah beberapa rumah sakit dihubunginya namun tak ada jejak Azkia maupun ibunya. Lalu dia teringat ucapan para tetangga yang mengatakan Azkia dan Agus dibawa orang tak dikenal. Mereka juga tak mengenal orang yang mengurus pemakaman Daniar.


Apa mungkin Adi yang sudah menolong Azkia?


Irzal menyambar ponsel dan kunci mobil dari meja lalu bergegas menuju mobilnya. Dengan kecepatan tinggi dia menuju kampus tempat Azkia menimba ilmu. Hanya sedikit info yang didapatnya di sana. Azkia memang datang kuliah kemarin tapi langsung pulang setelahnya. Mereka tak sempat berbicara banyak.


“Kalau Adi bagaimana?”


“Adi sudah beres sidang jadi jarang ke kampus paling ngurus buat wisuda aja. Eh tapi kabarnya besok Adi mau nikah.”


DEG


Jantung Elang hampir copot mendengarnya. Pikiran buruk langsung berseliweran di otaknya. Bagaimana jika benar yang menyelamatkan Azkia adalah Adi dan perempuan yang akan dinikahinya ada Azkia.


“Kamu tahu di mana Adi tinggal?”


“Yang aku tahu rumah orang tuanya di Ciwidey. Cari aja pesantren Ulul Ilmi. Bapaknya yang punya pesantren itu.”


Irzal mengangguk, setelah mengucapkan terima kasih dia segera menuju kendaraannya. Elang memacu mobilnya seperti orang kesurupan. Beberapa kali dia hampir menabrak kendaraan di depannya. Tangannya bahkan tak henti menekan klakson untuk menghalau kendaraan di depan yang menghalangi jalannya.


Setelah hampir dua jam berkendara, akhirnya dia tiba di pesantren milik ayah Adi. Salah seorang pengurus pesantren mengantarkan Elang ke rumah Adi. Dia juga membenarkan kalau besok Adi akan menikah. Hati Elang bertambah kacau mendengarnya. Tak butuh waktu lama, mereka tiba di kediaman Adi.


Elang duduk gelisah menunggu kedatangan Adi yang masih berada di dalam rumah. Kepada orang tua Adi, Elang memperkenalkan diri sebagai teman dari anak mereka. Adi keluar dari rumah, keningnya berkerut melihat Elang. Hubungan mereka tidaklah dekat, jadi cukup mengherankan melihat pemuda itu datang ke rumahnya. Pastinya bukan untuk memberikan ucapan selamat padanya. Adi berdehem, menyadarkan Elang dari lamunannya.


“Apa kabar?” Adi menyalami Elang.


“Alhamdulillah baik.”


“Ada apa nih kang Elang tiba-tiba datang ke rumah saya.”


“Saya mau bertemu dengan Kia.”


“Kia? Kenapa tanya ke saya kang?”


“Ngga usah pura-pura deh. Kamu kan yang bawa pergi Kia malam itu. Dan besok kalian akan menikah. Iya kan?”


“Tunggu.. tunggu.. saya ngga ngerti. Bukannya kang Elang yang nyelamatin Kia malam itu? Waktu saya ke rumahnya, tetangganya bilang soal kejadian malam itu dan ada orang yang bawa Kia, ibu dan Hanin. Saya pikir kang Elang.”


“Kalau saya yang melakukannya, untuk apa saya datang ke sini?”


Adi langsung terdiam, begitu juga Elang. Keduanya hanyut dengan pikirannya masing-masing. Gadis yang mereka cintai menghilang begitu saja tanpa jejak.


“Beneran bukan kamu yang bawa Kia? Terus besok kamu nikah sama siapa?”


“Saya beneran ngga tau kang. Saya nikah dengan orang pilihan orang tua saya, dia anak sahabat orang tua saya. Lagi pula Kia sudah menolak lamaran saya. Jadi bukan akang juga yang udah bawa Kia?”


Elang menggeleng. Adi mulai dilanda kecemasan. Biar bagaimana pun rasa untuk Azkia masih tersimpan rapih di hatinya.

__ADS_1


“Saya akan bantu cari.”


“Ngga usah, Kia urusan saya. Dia tanggung jawab saya.”


“Urusan akang? Kalau benar Kia itu tanggung jawab akang, terus di mana akang waktu dia dalam kesulitan?”


Pertanyaan Adi seperti anak panah yang menghujam tepat di jantung Elang. Pemuda itu tak bisa berkata apa-apa. Kerongkongannya serasa tercekat.


“Dengan atau tanpa persetujuan akang, saya akan mencari Azkia.”


Adi berdiri hendak berpamitan pada orang tuanya namun Elang segera mencekal pergelangan tangannya.


“Jangan ikut campur. Lebih baik kamu fokus dengan pernikahanmu. Apa kata calon istrimu kalau tahu kamu mencari perempuan lain sehari sebelum pernikahan kalian?”


Adi tersadar kalau besok dia akan menikah. Dia meremat rambutnya frustrasi. Di satu sisi dia ingin mencari keberadaan Azkia, namun di sisi lain dirinya sudah berjanji akan menikah dengan wanita pilihan orang tuanya. Terlebih besok adalah hari pernikahannya. Elang berdiri, dia memutuskan untuk pulang.


“Akang harus temukan Kia, harus!! Alasan saya melepaskannya karena saya tahu dia hanya mencintai akang.”


“Saya akan menemukannya, bagaimana pun caranya. Terima kasih.”


Elang menepuk pundak Adi kemudian berlalu meninggalkannya. Sebelum menjalankan mobilnya, dia terlebih dulu menelpon Jayden untuk melacak keberadaan Azkia lagi. Setelah itu kendaraannya mulai melaju.


Elang menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Seharian berkendara mencari keberadaan Azkia cukup melelahkannya. Belum lagi tidak ada satu pun yang bisa dijadikan petunjuk untuk menemukan Azkia. Bahkan Jayden kehilangan jejaknya begitu keluar dari gerbang kampus. Pintu kamar Elang terbuka, Farel masuk lalu ikut berbaring di sisi Elang.


“Gimana ada kabar soal Kia?”


“Ngga ada bang. Tadi gue ke rumah Adi tapi anak itu juga ngga tahu apa-apa.”


“Bener kan yang gue bilang, anak itu hilang tanpa jejak.”


“Tapi kemarin dia ada ke kampus. Kira-kira siapa ya yang bawa Kia? Kenapa tiba-tiba jejaknya hilang gitu aja. Kaya sengaja dihapus biar ngga ditemukan. Gue bingung, masa si Jay ngga bisa ngelacak dia. Pasti ada seseorang dibalik ini semua, orang yang berkuasa pastinya.”


Farel melirik ke arah Elang yang tampak serius berpikir. Dia harus melakukan sesuatu agar perhatiannya teralihkan. Jika Elang terus menyelidiki, bukan tidak mungkin adiknya itu akan tahu siapa yang telah menyembunyikan Azkia.


“El, anak-anak besok mau nengok Ily. Lo ikut kan? Mereka nanyain lo terus soalnya. Dari dateng kan lo belum ketemu mereka.”


“Nengok ke rumah?”


“Ya ke rumah sakitlah, kan si Ily belum boleh pulang. Lo dateng kan? Bentaran doang.”


“Hmm..”


“Ya udah, mandi sana. Bunda udah nyuruh turun buat makan malem.”


Farel bangun lalu bergegas keluar dari kamar sang adik. Dengan malas Elang bangun kemudian menuju kamar mandi. Guyuran air dingin di tubuhnya serta merta menghilangkan kepenatan yang dirasakannya. Cukup lama dia berdiri di bawah pancuran air, menikmati tetesan air yang membasahi kepalanya.


🍁🍁🍁


**Duh kasihan banget mas El. Gimana ya kalau mas El tahu kalau yang ngumpetin neng Az ayahnya sendiri😁


Pagi² sebelum daring mamake sempatin buat up nih. Jangan lupa juga sempatin buat tinggalin jejaknya, like, comment and vote nya ya readers kecehku😉😘😘😘


Mas El pusing nyari² neng Az ngga ketemu juga. Kusut beud mas El😁**


__ADS_1


__ADS_2