
Dimas nampak cemas menunggu hasil pemeriksaan dokter. Sudah sejak pagi mereka ada di rumah sakit setelah Firly mengeluhkan perutnya yang terasa sakit berikut flek yang keluar dari area intimnya. Berdasarkan HPL, minggu ini memang merupakan waktunya kelahiran sang jabang bayi. Bidan yang membantu dokter menangani Firly keluar dari ruang tindakan.
“Pak Dimas silahkan masuk, pembukaan bu Firly sudah komplit.”
Dimas bergegas masuk kemudian berdiri di sisi bed seraya memegangi tangan Firly. Beberapa kali terlihat Firly menarik nafasnya sesuai instruksi bidan. Dalam hati Dimas tak henti mendoakan keselamatan istri dan anaknya. Meskipun ini bukan yang pertama bagi Dimas, tapi tetap kecemasan melandanya. Terlebih usia Firly yang masih muda, belum genap 20 tahun. Membuat resiko kelahiran lebih besar.
Sebenarnya Dimas sudah menawarkan untuk mengambil jalur operasi caesar. Namun istri kecilnya itu bersikukuh ingin melahirkan secara normal jika kondisinya memungkinkan. Dan di sinilah dia, sedang berjuang mengeluarkan buah hati mereka. Beberapa kali terlihat Firly mengejan, namun masih belum membuahkan hasil.
Semua yang ada di ruangan tak henti memberikan semangat pada ibu muda ini. Dimas dengan setia terus berada di samping sang istri. Akhirnya setelah perjuangan panjang, bayi seberat 3,2 kg itu berhasil keluar dengan selamat. Suara tangisnya terdengar sampai keluar ruangan. Dengan tangan bergetar, Dimas menerima bayi mungil di tangannya. Untuk sesaat dia terkesima melihat bayi tampan tersebut. Kemudian dia mulai melantunkan adzan di telinga kanannya. Airmata Firly jatuh berderai melihat buah hatinya berada dalam dekapan suaminya.
Setelah kondisi Firly stabil, dia dan bayi mungilnya dipindahkan ke kamar perawatan. Dimas sudah memesan kamar VVIP untuk anak dan istrinya. Ega dan Alea begitu bahagia melihat kelahiran cucu pertamanya. Wajah bayi tampan itu lebih condong ke Dimas. Alis tebal yang menjadi ciri khas Dimas, melekat indah bagai lukisan di dahinya. Begitu pula bentuk hidung dan bibirnya mengikuti sang papa. Hanya matanya yang mirip Firly.
Poppy tersenyum melihat bayi yang masih belum diproklamirkan namanya itu. Dia seperti sedang melihat duplikat Dimas dalam bentuk yang lebih kecil. Pintu kamar terbuka, masuklah rombongan sahabat Firly memenuhi ruangan. Gara merangsek maju untuk melihat keponakannya.
“Wih ganteng banget anak lo Ly, pinter juga lo bikin adonannya,” seru Gara.
“Namanya siapa Dim?” tanya Ega.
“Gemma Al-Faqih Saputra.”
“Panggilannya dedek Al aja ya om. Kasihan kalau dipanggil Gem.. Gem.. tar disangka gembel lagi,” celetuk Gara asal.
“Garrraaaaa!!! Enak aja lo ngatain anak gue gembel. Gue jahit bibir lo biar tau rasa!!” teriak Firly. Firlan mengeplak kepala sahabatnya ini.
“Ya ampun dedek lucu banget sih. Jadi pengen punya anak,” ucap Rain tak sadar.
“Yuk Rain kita nikah. Nanti kita bikin anak sebanyak yang lo mau,” Gara bersemangat.
“Najong!!!”
Semua tergelak mendengar jawaban singkat, padat nan menyakitkan dari Rain. Firlan dan Farel ikut-ikutan meledeknya, ditambah oleh Azriel. Suasana di dalam ruangan semakin riuh. Para orang tua hanya memandangi tingkah anak-anak mereka sambil tak henti menggelengkan kepala.
“Eh si Elang mana? Emang dia ngga mau lihat adek sepupunya yang sering nyusahin dia selama di perut emaknya,” Gara mengalihkan pembicaraan agar tak terus menjadi bahan bully-an sahabat tak berakhlaknya.
“Justru dia lagi menunaikan tugas terakhirnya. Gue suruh dia beli pizza yang lagi booming itu loh.”
“Oh Delizioso Pizza? Busyet kan itu antriannya panjang banget. Kebayang tuh muka si El kaya apaan ya hahaha,” Gara terlihat bahagia sekali.
Tawa mereka terhenti ketika pintu ruangan terbuka. Akhtar diikuti Chalissa masuk ke dalam ruangan. Dengan tersenyum manis, Chalissa menghampiri Firly seraya menyerahkan bingkisan di tangannya.
“Selamat ya Ily.”
“Makasih kak.”
Akhtar mendekati boks bayi. Matanya memandangi dedek Gemma yang tertidur pulas. Sesekali dia bertanya pada Dimas yang sedari tadi tidak beranjak dari sisi boks. Chalissa mendekati Akhtar, ikut memperhatikan anak pertama dari sepupunya itu.
“Jiaaah bang Akhtar sama kak Lissa udah kaya truk gandeng aja kemana-mana berdua mulu. Kapan nih kasih kita job nyanyi di nikahan kalian,” goda Gara.
“Tunggu tanggal mainnya Gar,” Akhtar menjawab asal pertanyaan Gara.
Hati Rain memanas mendengar ucapan Akhtar. Terlebih ketika melihat pasangan itu saling bersitatap dengan sorotan penuh cinta. Firly melirik sahabatnya yang berdiri tepat di sampingnya. Digenggamnya tangan Rain, untuk memberikan kekuatan pada sahabatnya itu.
“Eh gue cabut duluan ya, ada panggilan dari rumah sakit. Kak, mau pulang bareng ngga?” tawar Reyhan.
“Udah lo cabut aja, soal Rain gue yang bakal anterin dia pulang,” pede sekali Gara.
__ADS_1
“Ya udah, gue duluan.”
Reyhan menghampiri para tetua untuk berpamitan seraya mencium punggung tangan mereka. Tak lupa berpamitan pada Dimas juga Firly. Baru saja Reyhan akan keluar, suara Rain menahannya.
“Rey, bareng. Gue mau ke cafetaria.”
Rain mengambil tasnya lalu bersama adiknya keluar dari ruangan itu. Pergi ke cafetaria hanya alasannya saja. Dia ingin menghindari pasangan yang sedang kasmaran itu. Selama lima belas menit lamanya Rain duduk di cafetaria menikmati minuman yang baru habis seperempatnya saja. Setelah menimbang-nimbang, Rain memilih untuk langsung pulang.
Dengan langkah lunglai Rain berjalan melewati lobi rumah sakit. Suasana sudah sedikit sepi karena hari memang sudah malam. Sambil berjalan Rain memesan taksi online melalui ponselnya. Tapi belum selesai dia memesan sebuah suara menginterupsinya.
“Rain,” Rain menoleh, terlihat Akhtar bersama Chalissa berjalan ke arahnya sambil bergandengan tangan.
“Kalau mau pulang ayo bareng,” tawar Akhtar.
“Ngga usah kak, makasih. Aku lagi nunggu Elang ini.”
“Oh gitu, kenapa ngga nunggu di atas aja?”
“Males digangguin Gara mulu,” jawab Rain sekenanya. Terdengar kekehan Akhtar.
“Kamu ngga apa-apa kan Lis, kita temenin Rain sampai Elang dateng?”
“Eh ngga usah, beneran. Bentar lagi Elang nyampe kok. Kasihan kak Lissa, lagian ini udah malem juga.”
“Beneran? Kamu ngga takut nunggu di sini sendirian?”
“Yaelah kak, takut apaan sih? Suster ngesot? Ngga akan bisa ngejar Rain dia mah,” Rain tergelak untuk menutupi hatinya yang perih.
“Ok deh, kakak duluan ya,” Akhtar mengusap puncak kepala Rain sebelum beranjak pergi. Dada Rain berdesir menerima perlakuan manis Akhtar.
Tiba-tiba seorang pria bertubuh tinggi, berambut gondrong tak beraturan dengan anting di telinga kirinya mencegat langkah Rain. Gadis itu menatap ke arah lelaki di hadapannya dengan wajah datarnya.
“Minggir!!”
“Galak banget. Keluarin dompet sama hp lo, baru lo boleh pergi.”
“Ogah! Lo mau duit? Kerja!!”
“Ini gue lagi kerja. Cepetan!!”
Rain berjalan mendekati pria itu lalu melempar tasnya ke arah atas kepalanya. Dengan cepat tangannya menangkap tas tersebut, namun saat yang bersamaan Rain menendang perut pria itu dengan keras hingga terjatuh ke aspal. Rain merangsek maju lalu melayangkan kembali tendangan ke arah kepala pria itu. Tedengar lenguhan kesakitan dari mulutnya. Tak berhenti sampai di situ, Rain menginjak perut pria itu, menjejaknya hingga terdengar suara batuknya. Sepertinya Rain tengah melampiaskan emosi yang sedari tadi ditahannya.
“Rain, cukup!!”
Rain menghentikan aksinya ketika mendengar suara yang dikenalnya. Setengah berlari Elang mendekatinya.
“Lo apa-apaan sih?”
“Dia itu nodong gue barusan. Gue cuma membela diri,” sorot mata penuh amarah Rain tunjukkan pada pria yang terkapar di aspal akibat ulahnya.
Elang berjalan mendekati pria itu. Dia berjongkok di hadapannya. Mencengkeram rahang penodong tersebut dengan sebelah tangannya.
“Lo inget baik-baik muka adek gue. Kalau lo berani macem-macem sama dia, lo ngumpet di lubang semut sekalipun bakal gue kejar. Ngerti lo!!”
“I.. iya.. am.. ampun bang.”
__ADS_1
Elang mengambil tas milik Rain lalu bangun dan meninggalkan laki-laki itu yang masih mengerang kesakitan. Rain mengikuti langkah Elang. Tanpa banyak bicara, Rain masuk ke dalam mobil.
“Pesanan Ily udah lo anter?”
“Udah.”
“Lo kok bisa nemuin gue?”
“Bang Akhtar telpon gue, katanya lo nunggu gue di lobi rumah sakit.”
“Ck.. bisa ngga sih dia berhenti bersikap baik. Kalau dia terus seperti itu, gimana gue bisa move on coba.”
Rain menutup wajah dengan kedua tangannya. Punggungnya nampak bergetar, tak lama terdengar isakannya. Elang melirik Rain sekilas, disodorkannya tisu ke arah sahabatnya itu. Perjalanan pulang mereka diiringi isak tangis Rain.
Rain masih belum turun dari mobil walaupun kini mereka telah sampai di depan rumah Elang. Gadis itu masih mencoba menenangkan dirinya.
“Mata gue sembab ya El. Kalau papa nanya gue harus jawab apa,” Rain melihat wajahnya ke kaca spion yang ada di tengah.
“Bilang aja abis nonton drakor,” Elang terkekeh.
“Iya cerita drakornya tentang cewek yang cintanya bertepuk sebelah tangan,” Rain tersenyum getir menyindir dirinya sendiri.
“Gue mau lupain dia El. Lo mau bantu gue kan?”
“Bantu gimana?”
“Ingetin gue kalau gue mulai terbawa perasaan lagi sama dia.”
“Emang gue cenayang yang bisa tahu kapan lo kebawa perasaan.”
“Tinggal bilang iya apa susahnya sih El. Mulut lo asem banget hari ini.”
“BT gue, si Ily dari mulai mau lahiran sampe udah brojol masih aja ngerjain gue. Lo tahu berapa lama gue ngantri cuma buat dapetin tuh pizza? Begitu dateng, dianya udah molor. Tuh pizza dimakan sama si Gara.”
Rain tertawa terbahak-bahak, sejenak rasa sakitnya karena Akhtar bisa terlupakan. Elang melirik Rain, senyum tipisnya mengembang.
“Bahagia banget lo lihat gue menderita. Turun sana! Gue mau masuk nih, ngantuk.”
“Kaya bayi lo tidur jam segini,” Rain membuka pintu mobil lalu melenggang dengan santainya menuju rumahnya tanpa menutup pintu mobil.
“Woi!! Bukan ditutup pintunya.”
Elang menutup pintu mobil lalu turun. Setelah mengunci mobil, dia masuk ke dalam rumahnya. Tubuhnya benar-benar lelah hari ini. Seorang Firly benar-benar menguji kesabarannya.
🍁🍁🍁
**Selamat ya om Dimas, Ily atas kelahiran dedek Gemma.
Ngga nyangka ya, ternyata Rain garang juga. Kayanya gara-gara gaul sama Elang makanya jadi garang gitu😂
Selamat ya El, penderitaannya akhirnya berakhir juga😊
Ayo readers terus dukung mamake ya. Jangan lupa buat nge-like, comment and vote kalau masih ada.
Kalau kalian suka cerita ini dan cerita mamake lainnya, tolong bantu sebar di medsos kalian ya, thank you😘😘😘**
__ADS_1