
Regan meninggalkan Ega dan Alea sebelum mereka sempat mengatakan apapun. Sikap Regan seperti menyindir mereka secara tidak langsung. Selama ini mereka tidak pernah mendengarkan apapun yang orang katakan. Kini giliran mereka yang harus merasakan hal serupa. Saat keluar Regan berpapasan dengan istrinya juga Poppy yang ingin melihat keadaan Firly.
“Bagaimana Ily mas?”
“Dia baik-baik saja.”
“Aku mau lihat dia dulu.”
Regan hanya mengangguk lalu melanjutkan langkahnya kembali ke rumahnya. Sarah dan Poppy masuk ke dalam. Saat berpapasan dengan Ega dan Alea, Poppy tak meliriknya sedikit pun. Dia bergegas naik ke lantai atas.
Tanpa mengetuk Poppy langsung masuk ke dalam kamar, mengejutkan tiga kakak beradik itu yang sedang mengobrol. Poppy langsung menghambur ke arah Firly, diperiksanya setiap inci tubuh gadis itu.
“Kamu ngga apa-apa sayang?”
“Ngga bunda, Ily baik-baik aja.”
Poppy memeluk Firly, mendapat pelukan hangat dari Poppy, Firly kembali menangis. Melihat Poppy mengingatkan gadis itu akan Dimas. Wajah kakak beradik itu memang begitu mirip.
“Kalau sesuatu terjadi pada kamu, bagaimana bunda akan mengatakannya pada Dimas. Tolong jangan lakukan hal-hal yang membahayakan dirimu sayang. Dimas dan Ara sangat menyayangimu, ingat itu sayang.”
“Iya bunda hiks.. hiks.. maafin Ily.”
Poppy mengurai pelukannya kemudian menghapus airmata Firly. Sarah menghampiri kemudian berdiri di samping Firly dan memeluknya dari samping. Firlan dan Azriel terharu melihat perhatian dan kasih sayang Poppy dan Sarah pada saudaranya.
“Dengar Ily, kalau ada yang mau kamu ceritakan, rumah mama dan bunda selalu terbuka untukmu. Kalau mamimu melarang bertemu dengan kami, maka kami yang akan menjemputmu, ingat itu sayang.”
“Iya ma.”
“Ini juga berlaku buat kalian, Ilan, Ziel.”
“Iya ma,” jawab keduanya kompak.
“Mama pulang dulu ya sayang, kamu istirahat aja ya.”
“Bunda juga pulang dulu. Nanti bi Diah anterin makanan buat kalian.”
“Makasih mama, bunda.”
Bergantian Sarah dan Poppy mencium kening dan memeluk Firly, kemudian keduanya keluar dari kamar. Ega langsung menghampiri Poppy yang baru saja turun dari tangga. Namun Poppy tetap mengabaikannya.
“Kak.”
“Aku ke sini untuk melihat Ily, bukan untuk bertemu kalian. Aku pulang.”
“Kak sebentar kak, aku mau bicara.”
“Ngga ada yang perlu dibicarakan lagi. Sebelum kalian meminta maaf dengan benar pada Dimas, jangan pernah menemuiku.”
Ega memandang sendu melihat kepergian Poppy. Wanita yang dulu begitu menyayangi dan peduli padanya kini bersikap dingin padanya. Alea berjalan menghampiri Ega, ditepuknya pundak suaminya itu.
__ADS_1
“Bi, aku...”
“Tolong Al, aku ingin sendiri dulu.”
Ega berlalu meninggalkan Alea lalu masuk ke ruang kerjanya. Dia menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Pikirannya benar-benar kacau, semua orang menjauhinya. Bahkan anaknya sendiri melarangnya bertemu dengan Firly. Ega mengambil ponselnya kemudian menghubungi asistennya, Dima.
“Ya pak.”
“Urus masalah Radja. Hubungi Ridho dan pastikan anak itu mendapat hukuman yang setimpal. Lalu putuskan semua kontrak kita dengan Airlangga. Aku tidak mau lagi menjalin kerjasama dengan mereka.”
“Baik pak.”
Sementara itu Alea masuk ke dalam kamarnya. Rasanya percuma dia memaksa Ega untuk bicara, karena suasana hati mereka memang sedang tidak baik. Menemui Firly pun dia tak bisa, karena Firlan dan Azriel masih melarangnya. Alea mendudukkan dirinya di sisi ranjang, pikirannya melayang entah kemana.
🍁🍁🍁
Paginya, Firly ikut bergabung di meja makan seperti tidak terjadi apapun. Bi Ina menawarkan untuk membawakan sarapan ke kamar tapi ditolaknya. Ega dan Alea memandangi anaknya yang bersikap seperti biasanya. Dia menikmati sarapan dengan tenang.
“Ily, hari ini gimana kalau jalan-jalan? Kita pergi kemana Ily mau.”
“Ily mau kuliah mi.”
“Lebih baik kamu ngga usah kuliah dulu sayang. Pergi sama mami ya.”
“Ngga mi. Kemarin-kemarin Ily udah bolos waktu ikut papi ke London.”
“Ily, soal Radja mami minta maaf.”
“Papi akan pastikan Radja mendapatkan hukuman yang setimpal.”
“Ngga perlu pi. Toh Ily juga ngga apa-apa. Bebasin aja Radja.”
Hati Ega mencelos melihat Firly. Gadis itu sama sekali tidak ingin memperlihatkan kesedihan, kekesalan atau kemarahannya.
“Ily, apa ada yang kamu inginkan nak? Kalau ada bilang aja, mami akan berusaha memberikannya.”
“Ngga ada mi.”
“Benar tidak ada yang kamu inginkan? Liburan? Mobil baru? Atau apapun, katakan saja.”
Firly meletakkan sendoknya. Kemudian dia memandang ke arah Ega dan Alea bergantian. Alea balik menatap anaknya seraya melemparkan senyum.
“Katakan sayang.”
“Apa mami yakin akan mengabulkannya? Jangan menjanjikan hal yang tidak bisa mami tepati.”
“Mami janji akan menepatinya.”
“Oh ya? Mami atau papi tahu apa yang kuinginkan bukan? Tapi selama ini mami dan papi menutup mata dan telinga rapat-rapat. Ngga ada hal lain yang kuinginkan selain dia. Kalau mami atau papi tidak bisa mengabulkan, lebih baik diam saja. Aku baik-baik saja, seperti keinginan kalian berdua. Aku akan menjalani hidup seperti yang kalian inginkan. Seberapa sulit pun itu aku akan berusaha menjalaninya, demi kalian. Karena seseorang yang kucintai juga tengah melakukan apa yang kalian inginkan, semua karena rasa sayangnya pada mami dan papi.”
__ADS_1
Firly segera berdiri kemudian pergi tanpa menghabiskan sarapannya. Sebelum airmatanya tumpah, dia lebih baik menjauh. Baginya kini pantang menitikkan airmata di depan kedua orang tuanya. Alea berusaha mengejarnya tapi Firlan melarangnya.
“Jangan kejar Ily mi. Biarkan dia pergi. Perlu energi besar untuk Ily berada di dekat mami dan papi. Tapi saat ini dia sedang tak sekuat itu. Kalau mami dan papi tidak bisa mengabulkan keinginannya setidaknya jangan paksakan dia melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan. Aku hanya ingin melihat Ily tersenyum dan tertawa dengan bahagia lagi, bukan seperti sekarang. Dia tertawa tapi hatinya menangis.
Mami dan papi tahu benar siapa orang yang bisa membawa senyum Ily kembali. Tetapi sesulit itukah kalian melakukannya? Baru sekarang aku sadar, ternyata kebahagiaan kami tidak lebih penting dari pada ego kalian," akhirnya Firlan bisa juga mengeluarkan yang mengganjal di hatinya.
Firlan mengambil tas ranselnya kemudian pergi meninggalkan ruang makan. Begitu pula dengan Azriel. Mulutnya yang biasanya tidak bisa mingkem kini hanya diam seribu bahasa. Hanya pandangan penuh kekecewaan yang dia layangkan pada kedua orang tuanya.
“Aku akan menemui mas Irzal menanyakan keberadaan Dimas. Kalau perlu aku akan bersujud padanya sampai dia memberitahuku. Aku akan membawa Dimas kembali bagaimana pun caranya. Kamu setuju atau tidak, aku sudah mengambil keputusan. Jika kamu masih tetap dengan keputusanmu, silahkan ajukan gugatan cerai untukku.”
Ega bangun dari duduknya. Tanpa melihat pada istrinya dia pun beranjak pergi. Cukup sudah dia berdiam diri. Dia tak ingin menghancurkan hati putrinya lagi. Baginya kebahagiaan Firly lebih penting, walaupun keutuhan rumah tangganya sebagai taruhannya.
🍁🍁🍁
Udara di Milan saat ini mencapai suhu 10 derajat celcius. Hal ini biasa terjadi di saat musim gugur melanda negara yang berada di benua Eropa. Dimas merapatkan jaketnya ketika berjalan menyusuri trotoar menuju rumahnya sepulang dari restoran. Baru saja kakinya masuk ke dalam rumah, dia dikagetkan oleh teriakan Elena.
“Ara! Ara bangun!”
Dimas bergegas berlari menuju ruang tengah tempat biasa Ara belajar dengan Elena. Dimas terkejut melihat Elena tengah memangku kepala Ara. Tubuh Ara nampak terkulai tak berdaya. Buru-buru Dimas menghampirinya.
“Ara kenapa?”
“Sepertinya alergi dinginnya kambuh lagi. Tadi dia sempat sesak nafas beberapa saat. Aku sudah menelpon dokter Pablo tapi sebelum dia datang, Ara pingsan.”
Dimas mengangkat tubuh Ara lalu membawanya ke kamar. Dengan hati-hati dibaringkannya tubuh anaknya di atas kasur. Tak lama dokter Pablo datang. Elena segera mengajaknya ke kamar.
Dimas berjalan mondar-mandir ketika menunggu dokter Pablo memeriksa Ara. Ara bukanlah anak yang memiliki fisik lemah. Oleh karenanya Dimas begitu takut sesuatu yang buruk terjadi pada Ara. Dia tak mau kehilangan Ara seperti dulu dia kehilangan Sissy. Dokter Pablo selesai memeriksa Ara, dia kemudian mengajak Dimas berbicara di luar. Membiarkan Ara dalam pengawasan Elena.
“Ada apa dengan Ara dok?”
“Saya sudah katakan kalau Ara alergi udara dingin. Terlebih suhu udara saat ini mencapai 10 derajat celcius. Jangan anggap remeh penyakit ini tuan Dimas. Hal fatal bisa saja terjadi kalau daya tahan tubuhnya menurun. Apalagi sebentar lagi akan memasuki musim dingin yang suhunya bisa mencapai di bawah nol derajat celcius.”
“Jadi apa yang harus lakukan?”
“Pindahlah ke tempat yang hangat, itu yang bisa saya sarankan. Karena kalau suhu udara kembali drop, maka kondisi seperti tadi tidak bisa terelakkan bahkan mungkin bisa lebih buruk lagi. Jika tuan menyayangi nona Ara, pertimbangkan saran saya.”
“Baiklah dok, terima kasih.”
“Sama-sama. Silahkan lanjutkan obat yang kemarin saya resepkan. Saya permisi.”
Dimas mengantar dokter Pablo sampai ke pintu. Kemudian dia memutar tubuhnya menuju kamar anaknya. Ara sudah tertidur setelah dokter Pablo menyuntikkan obat padanya. Dimas duduk di sisi ranjang memandangi wajah anaknya.
“Dim, apa tidak sebaiknya kalian kembali ke Indonesia? Sepertinya Ara tidak cocok tinggal di sini. Aku takut dia mengalami hal yang lebih buruk lagi.”
Dimas menghela nafasnya, apa yang dikatakan Elena benar adanya. Dia tak bisa mempertaruhkan keselamatan Ara hanya demi keegoisannya saja. Dimas meraih ponselnya untuk menghubungi Irzal. Dia ingin meminjam pesawat pribadi kakaknya untuk kembali ke Indonesia hari ini juga. Entah kebetulan atau tidak, ternyata pesawat itu memang sedang berada di London setelah mengantarkan salah satu rekan bisnisnya kembali ke negara asalnya. Dimas pun bergegas untuk bersiap dibantu oleh Elena.
🍁🍁🍁
**Yeaaaay om Dimas pulang. Kira2 gimana ya pertemuan om Dimas dengan Ily???
__ADS_1
Jangan lupa ya terus dukung mamake dengan like, comment and vote kalau masih belum terpakai biar mamake semangat buat up tiap hari😉**