Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Hukuman Untuk Ara


__ADS_3

Jantung Ara hampir copot ketika melihat sosok Dimas duduk di pojokan dengan lampu temaram. Gadis itu memang baru saja pulang ke rumah. Dia memilih berdiam di rumah Rena karena masih takut untuk pulang.


Untuk sesaat Ara tercenung. Sudah lama sang papa tidak pernah duduk di sana lagi. Terakhir sebelum menikah dengan Firly. Saat itu Dimas masih belum bisa melupakan Sissy, ibu kandung Ara. Kini, Dimas kembali termenung di sana yang berarti ada masalah yang mengganggunya. Ara paham betul kebiasaan papanya.


Dengan langkah pelan Ara menghampiri Dimas. Diraihnya tangan Dimas lalu mencium punggung tangannya. Ara duduk bersimpuh di samping sofa tunggal yang diduduki Dimas. Rasa bersalah begitu menghantam perasaannya.


“Pa... papa kenapa? Papa marah sama Ara? Maafin Ara pa, kalau Ara udah bikin Ara kecewa.”


“Papa ngga marah sama kamu.”


“Terus papa kenapa murung kaya gini?”


“Papa cuma merasa malu pada alhamrhum mama juga nenekmu. Papa sudah gagal menjadi ayah yang baik untukmu. Bagaimana papa harus mempertanggung jawabkan dirimu di hadapan mereka dan Allah.”


Ara menangis tersedu, hatinya terasa diremas mendengar penuturan Dimas. Dia memeluk kaki Dimas kemudian merebahkan kepalanya di paha sang papa.


“Maafin Ara pa.. maaf... papa ngga salah, Ara yang salah. Ara janji akan nurutin papa, Ara juga akan jauhi Yama.”


“Baguslah kalau kamu mau melakukannya. Papa harap kamu menepati janji.”


“Papa jadi kan ke Madrid?”


“Ngga.. papa akan batalkan pekerjaan di sana.”


“Jangan pa, tolong jangan batalkan pekerjaan itu. Om Ringgo udah cerita ke Ara. Papa bisa bangkrut kalau papa batal ke Madrid.”


“Uang bisa dicari lagi, tapi papa ngga bisa kehilanganmu Ara. Siapa yang akan menjagamu kalau papa pergi? Kamu juga tidak mungkin ikut karena sebentar lagi kamu akan lulus SMA. Siapa yang menjamin kamu akan baik-baik aja selama papa tinggal.”


“Aku minta maaf kalau sudah mengecewakan papa. Tapi aku janji ngga akan macem-macem pa. Kalau perlu aku bakal tinggal sama bunda selama papa di Madrid.”


Dimas hanya menggeleng. Tinggal bersama Poppy dan Irzal bukan jaminan anak gadisnya akan berhenti berulah. Walaupun Ara tidak berhubungan dengan Yama namun Yama-Yama lain akan terus bermunculan. Kondisi sang anak yang masih labil yang membuatnya berat meninggalkannya.


“Kalau papa bangkrut gimana nasib Gemma sama Gavin?”


“Kamu tenang aja. Papa masih cukup mampu untuk menghidupi kalian semua.”


“Ngga pa. Aku ngga mau jadi penyebab hancurnya usaha papa. Tolong pikirkan lagi, pasti ada solusinya kan pa. Aku benar-benar menyesal pa. Aku akan menuruti semua apa kata papa asal papa jangan batalkan kerjasama itu.”


“Apa benar kamu akan menuruti semua keinginan papa?”


Ara mengangguk cepat. Apapun akan dilakukan agar Dimas tidak kehilangan semua hasil jerih payahnya sekaligus untuk membuktikan ucapannya kalau dia benar-benar menyesal. Dimas memandangi Ara cukup lama sebelum berbicara.


“Ada satu solusi untuk ini. Kalau kamu bersedia, papa akan pergi ke Madrid dan papa juga tenang meninggalkanmu di sini.”


“Apa pa?”


“Sebelum pergi, papa akan menikahkanmu dengan Farel.”


Ara seperti tersambar petir di siang bolong. Dia ternganga menatap Dimas tak percaya. Menikah di saat usianya baru 17 tahun dengan lelaki yang sudah dianggapnya kakak. Ara dengan cepat menggelengkan kepalanya.


“Ngga pa, Ara ngga mau. Ara masih muda pa, baru 17 tahun. Ara bahkan belum lulus SMA. Gimana papa bisa nikahin Ara sekarang? Bagaimana dengan sekolah Ara kalau ketahuan Ara sudah nikah.”


“Itu mudah. Kalian akad nikah saja dulu, resepsinya nanti setelah kamu lulus sekolah. Farel laki-laki yang baik. Kamu juga sudah mengenalnya sejak kecil. Dia juga sangat menyayangimu.”


“Tapi Ara ngga cinta sama bang Farel!”


“Cinta datang karena terbiasa. Dengan segala yang ada pada dirinya, papa rasa tidak sulit untuk kamu jatuh cinta padanya.”


“Please pa, jangan hukum Ara kaya gini. Ara janji ngga akan nakal lagi. Selama papa pergi, Ara akan tinggal dengan bunda. Papa juga bisa pekerjakan supir untuk antar jemput Ara di sekolah, kalau perlu tungguin Ara di depan kelas. Papa juga boleh pasang alat pelacak, atau pasang penyadap biar tahu kalau Ara ngga akan macam-macam. Ara akan terima semua itu pa, tapi please jangan nikahin Ara sama bang Farel.”


“Maaf sayang, papa ngga bisa. Kepercayaan papa padamu sudah hilang. Pilihanmu hanya dua, papa tetap tinggal di sini atau menikah dengan Farel.”


Dimas bangun dari duduknya lalu beranjak meninggalkan Ara tanpa mempedulikan rengekan gadis itu. Dimas berusaha menulikan telinganya, ini semua demi kebaikan sang putri. Dia sudah memikirkan matang-matang keputusannya akan hal ini. Menikahkan anak gadisnya dengan Farel adalah solusi terbaik untuk masalahnya kini. Dimas yakin Farel akan bisa mendidik Ara dengan baik.


“Mas.. ini Mr. Orlando telepon.”


Terdengar suara Firly menghentikan langkah Dimas yang akan menuju ruang kerjanya. Jantung Ara berdegup kencang mendengar nama partner bisnis papanya itu. Dimas meraih ponsel dari tangan Firly. Baru saja Dimas akan berkata, Ara langsung menginterupsi.


“Ara bersedia pa. Ara mau menikah dengan bang Farel. Tolong jangan batalkan kerjasama itu pa.”

__ADS_1


Dimas hanya menatap dingin ke arah Ara. Dia segera menuju ruang kerja sambil mulai berbicara dengan Mr. Orlando. Ara menghambur ke arah Firly. Tangis Ara pecah dalam pelukan Firly.


“Maafin Ara ma... maaf...”


Firly membelai lembut puncak kepala anak sambungnya ini. Walaupun dia merasa kecewa dengan sikap Ara akhir-akhir ini. Namun tak bisa melunturkan rasa sayangnya pada gadis itu.


Ara masih belum mau masuk ke kamarnya walaupun Firly telah menyuruhnya berkali-kali. Dia tetap ingin menunggu Dimas keluar dari ruang kerjanya. Sepuluh menit kemudian Dimas keluar. Ara langsung menghampirinya.


“Pa...”


“Papa sudah menyetujui keberangkatan ke Madrid. Tepati janjimu, menikahlah dengan Farel.”


“Iya pa.”


“Sekarang istirahatlah.”


Ara mengambil tasnya kemudian naik ke lantai atas menuju kamarnya. Ara melemparkan tas ke atas kasur lalu duduk lunglai di sisi ranjang. Berulang kali dia menarik nafas panjang. Mencoba menenangkan perasaannya yang gundah gulana. Dia terus bermonolog dalam hatinya, menguatkan diri menerima semua keputusan sang papa.


Kamu harus kuat Ra. Ini demi papa, mama, Gemma dan Gavin. Menikahlah dengan bang Farel. Hanya enam bulan, bertahanlah selama enam bulan. Jalani pernikahan itu sampai papa kembali ke sini. Kuatlah Ara, kamu pasti bisa.


🍁🍁🍁


Semua mata memandang ke arah Dimas. Tak biasanya Dimas meminta semua keluarga Irzal berkumpul. Bahkan Ayunda dan Reyhan diminta untuk hadir pula. Wajah Dimas sendiri tampak serius bercampur tegang.


“Ada apa sebenarnya Dim? Kenapa kamu mau bertemu kita?” Poppy membuka percakapan.


“Maaf kalau aku merepotkan teh. Aku hanya ingin membicarakan soal Ara. Kalian tahu sendiri kan bagaimana kelakuan anak itu akhir-akhir ini. Aku hanya ingin minta tolong pada kalian, khususnya Farel untuk menjaga Ara. Aku sudah menyetujui kerjasama dengan Mr. Orlando dan keberangkatanku dipercepat dua minggu dari jadwal.”


“Om ngga usah khawatir, aku pasti akan menjaga Ara.”


“Ara itu keras kepala. Sekarang dia sudah sulit diatur. Kamu mungkin perlu tali untuk mengikatnya Rel agar dia mau menurut padamu. Dan om akan memberikan tali itu untukmu.”


“Maksud om?”


“Menikahlah dengan Ara.”


Poppy tercengang mendengar ucapan sang adik. Menikahkan Ara dengan Farel di usia Ara yang masih muda. Dia melihat ke arah Irzal, suaminya itu nampak santai menanggapi permintaan Dimas.


“Maaf om... aku ngga bisa. Ara masih sekolah om.”


“Kalian akad dulu saja. Resepsi diadakan setelah Ara lulus sekolah. Om mohon Rel, hanya dengan cara ini om bisa pergi dengan tenang. Cuma kamu yang om percaya untuk menjaga Ara. Om juga tahu kamu mencintainya kan.”


Farel tertunduk malu, ternyata bukan hanya Irzal yang menyadari perasaannya pada Ara. Bahkan ayah gadis itu pun menyadarinya. Poppy kembali dibuat ternganga dengan kenyataan yang didengarnya.


“Aku ngga setuju om. Jangan jadikan bang Farel tumbal untuk Ara. Apa om tahu bagaimana kelakuan anak itu pada bang Farel? Bukan hanya melawan tapi dia juga sudah menghina bang Farel. Membawa status bang Farel, jujur aku ngga suka om. Ada atau tidaknya hubungan darah antara bang Farel dengan kami. Dia tetap anak ayah dan bunda, kakak dari aku dan Yunda.”


“Om tahu El, atas nama Ara, om minta maaf. Om juga menyayangi Farel sama seperti menyayangimu juga Yunda. Karena itulah om ingin menyerahkan harta berharga om padanya. Om tahu kalau Farel selama ini menahan diri terhadap Ara, karena merasa tak ada hak untuk melarang atau mendidik anak itu. Karena itu om mau memberikan hak itu pada Farel. Supaya dia bisa mendidik, menjaga dan melindungi Ara dengan baik.”


“Tapi Ara ngga cinta sama bang Farel. Aku ngga mau bang Farel menderita karena Ara.”


Ayunda yang sedari tadi diam mulai bersuara. Dia yang tadinya mendukung hubungan Farel dan Ara mulai berubah haluan begitu mendengar cerita Elang tentang Ara yang telah menghina Farel. Dia tak rela kakaknya itu menjadi bulan-bulanan keegoisan Ara.


“El, Yun.. bisa kita bicara sebentar?”


Farel mengajak Elan dan Ayunda ke halaman belakang. Dia merasa perlu untuk menenangkan kedua adiknya ini. Mereka duduk di kursi taman dengan Farel berada di antara Elang dan Ayunda.


“Jangan bilang bang Farel setuju soal ini,” sembur Ayunda.


“Lupain Ara bang. Abang berhak mendapatkan perempuan yang lebih baik dari Ara.”


Jujur Farel merasa terharu dengan sikap Elang dan Ayunda. Mereka lebih memilihnya yang notabene hanya kakak angkat saja dan mengabaikan Ara yang jelas-jelas mempunyai hubungan darah dengan mereka.


“Kalian harus pahami posisi om Dimas juga. Bukan hal mudah om Dimas melakukan ini semua. Meninggalkan Ara di saat keadaan anak itu sedang kacau. Tapi kalau om Dimas ngga pergi, maka usahanya akan bangkrut. Bahkan om Dimas bisa kehilangan semua asetnya untuk membayar penalty. Apa kalian tega membiarkan itu semua terjadi?”


“Tapi Ara ngga cinta sama abang. Pasti abang bakalan banyak sakit hati nantinya.”


“Enam bulan. Kasih waktu abang menjalani ini semua selama enam bulan. Kalau dalam waktu itu abang ngga bisa membuat Ara mencintai abang, maka begitu om Dimas pulang, abang akan mengembalikan Ara pada om Dimas. Dan abang akan meneruskan hidup abang, mencari wanita lain sebagai pendamping.”


“Pernikahan bukan mainan bang,” protes Elang.

__ADS_1


“Abang tahu dan abang bukan ingin mempermainkannya. Abang akan menjalani pernikahan ini dengan serius. Tapi jika sampai om Dimas kembali kami belum bisa saling menerima, maka abang akan mengakhiri semuanya. Demi kebaikan abang juga Ara.”


“Hiks.. Hiks.. Yunda ngga rela. Abang orang baik, kenapa harus menderita kaya gini.”


“Yun.. ngga ada kebahagiaan yang datang tanpa rasa sakit atau penderitaan. Sebelum kamu bahagia dengan Rey, kamu juga merasakan cinta tak berbalas, merasakan dilema saat harus memilih dua orang pria yang mencintaimu. Begitu juga kamu El. Ingat bagaimana hancurnya kamu saat harus merelakan Rain. Tapi lihat sekarang, kamu berbahagia dengan Kia. Sekarang tinggal abang yang harus menjalani semua ini. Tolong bantu abang. Dukungan dan doa dari kalian akan memberikan kekuatan untuk abang.”


Ayunda memeluk Farel, dia masih saja menangis. Andai Ara mencintai Farel, dia akan sangat bahagia. Tapi mengetahui sepupunya hanya memandang sebelah mata pada Farel, membuat hatinya sakit.


Setelah meyakinkan kedua adiknya ini, Farel mengajak mereka kembali ke ruang tengah.


“Bagaimana Rel?” tanya Dimas sedikit cemas.


“Ara sendiri bagaimana om? Apa dia menerima pernikahan ini?”


“Iya, dia menerimanya.”


“Baiklah om, kalau Ara setuju, aku juga setuju.”


“Alhamdulillah, terima kasih Rel. Pernikahan akan dilaksanakan sehari sebelum keberangkatan om ke Madrid. Apa kamu setuju?”


“Aku ikut aja om.”


“Anak bunda. Bunda ngga tahu harus bilang apa sayang. Tapi bunda doakan kamu mendapatkan kebahagiaan dalam pernikahanmu nanti.”


Poppy memeluk Farel. Anak yang telah dibesarkannya selama 22 tahun, kini akan segera melepaskan masa lajangnya dengan keponakannya sendiri. Farel melepaskan diri dari Poppy lalu memeluk Irzal.


“Doakan aku yah.”


“Ayah pasti akan selalu mendoakanmu.”


Farel menyusut sudut matanya yang berair. Elang juga memeluknya, di tengah kekhawatirannya, ayah dari Aslan itu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk sang kakak. Farel kemudian menghampiri Ayunda yang masih menangis dalam pelukan Reyhan.


“Jangan nangis lagi dek. Nanti perut abang dibedah ama Rey.”


Ayunda mencubit perut Farel, membuat pria itu meringis. Reyhan juga mendelik sebal ke arahnya tapi kemudian berganti senyuman. Dia juga memeluk Farel yang disusul oleh Ayunda.


Pembicaraan pernikahan dadakan Farel dan Ara usai sudah. Ayunda dan Reyhan pamit pulang ke kediaman Regan. Melihat wajah istrinya yang masih bersedih, Reyhan berjongkok di depan istrinya.


“Ngapain mas?”


“Ayo naik, mas gendong sampai ke rumah. Biar kaya di drakor-drakor yang biasa kamu tonton.”


Ayunda naik ke punggung suaminya lalu melingkarkan kedua tangannya di leher kokoh itu. Ayunda membenamkan wajahnya ke punggung Reyhan. Punggung suaminya sama hangatnya dengan punggung Irzal atau Elang.


“Mas..”


“Hmm..”


“Menurut mas, gimana pernikahan bang Farel sama Ara? Aku takut bang Farel sakit hati sama sikap Ara.”


“Kita doakan aja yang terbaik sayang. In Syaa Allah kalau niat bang Farel tulus dan ikhlas, Allah akan memberikan mereka kebahagiaan.”


“Mas..”


“Hmm..”


“Aku udah selesai dateng bulan loh. Mas ngga mau ambil jatah gitu?”


Ayunda mencium pipi Reyhan lalu meniup telinganya dan memberikan gigitan kecil di sana untuk menggoda suaminya. Reyhan seperti disetrum jutaan volt ketika Ayunda meniup dan menggigit telinga. Dia mempercepat langkahnya menuju rumah. Dalam hati dia tidak mengampuni sang istri yang sudah berani menggodanya. Akan dibuatnya Ayunda merengek minta berhenti.


🍁🍁🍁


**Hmm.. siap² gempor ya Ay🤭


Yang kuat ya bang Farel, perjuanganmu sebentar lagi dimulai. Ara... tunggu aksi Farel yang sebenarnya hahaha😎


Gaya Lo Mak, dah kaya mafia kejepit papan catur.


Like, comment and vote😉**

__ADS_1


__ADS_2