Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 2 : BITTER SWEET ROMANCE Sadness


__ADS_3

Regan menghentikan langkahnya yang hendak masuk ke dalam kamar ketika mendengar suara bel. Dia terkejut ketika membukakan pintu rumahnya. Rain berdiri dengan berderai airmata.


“Papa..”


Rain langsung menghambur pada Regan. Tangisnya pecah, tangannya memeluk erat pinggang sang papa. Regan memeluk Rain, mengusap punggungnya pelan, berusaha meredakan tangis sang anak. Sarah yang mendengar suara bel, keluar dari kamar. Dirinya cukup terkejut melihat Rain yang menangis dalam pelukan suaminya.


“Rain.”


“Mama.”


Rain melepaskan diri dari Regan lalu menuju Sarah. Dipeluknya anak perempuannya ini, matanya memandangi Regan yang juga tidak tahu apa yang telah terjadi. Sarah membimbing Rain duduk di sofa.


“Kamu kenapa sayang,” Sarah membelai lembut rambut Rain.


“Mas Akhtar ma.”


“Ada apa dengan Akhtar? Apalagi yang dia perbuat padamu?”


Suara Regan menginterupsi pembicaraan ibu dan anak tersebut. Nadanya terdengar sedikit emosi. Sarah menggelengkan kepalanya pada Regan.


“Ada apa dengan Akhtar? Apa kalian bertengkar?”


Terdengar suara lembuat Sarah. Rain melepaskan pelukan mamanya lalu duduk dengan posisi tegak. Airmata masih terus membasahi pipinya. Dengan suara terbata-bata Rain menceritakan apa yang telah terjadi. Mulai dari hasil pemeriksaan sampai kabar kehamilannya. Jika sebelumnya dia mampu menahan semua seorang diri tanpa melibatkan orang tuanya. Tapi tidak kali ini, hatinya sudah terlalu lelah berjuang sendirian.


Tangis Rain kembali pecah setelah menceritakan masalah yang menimpanya. Sarah kembali menarik Rain dalam pelukannya. Regan menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. Tangannya memijat pelipisnya.


“Jadi sebentar lagi mama akan punya cucu ya,” Sarah mengusap perut Rain yang masih rata. Tangis Rain mulai mereda.


“Sekarang lebih baik kamu istirahat saja. Jangan banyak pikiran, jangan menangis, kasihan calon anak kamu. Ayo mama antar ke kamar.”


Sarah membimbing Rain naik ke lantai dua menuju kamarnya. Regan memandangi keduanya dengan tatapan sendu. Setelah mengantar Rain dan menenangkannya, Sarah kembali ke tempat semula. Dia duduk di sisi Regan yang sedang termenung.


“Mas,” Sarah mengusap punggung Regan.


“Kapan anak kita akan benar-benar bahagia sayang.”


“Ini ujian untuknya mas. Kita hanya bisa mendoakan, mendukung dan memberinya kekuatan. Ini masalah sensitif mas, kita ngga boleh bertindak gegabah. Apa mas mau menemui Akhtar?”


“Tidak dalam waktu dekat. Lebih baik kita tenangkan dulu Rain. Dia sedang hamil muda, pasti berat untuknya menghadapi masalah ini sendirian. Lagi pula mas takut khilaf kalau langsung menemui Akhtar.”


“Iya mas. Lebih baik jangan dulu temui Akhtar.”


“Besok antar Rain ke dokter kandungan. Kalau sudah buat janji kabari mas, nanti mas menyusul.”


“Iya. Sekarang lebih baik kita tidur.”

__ADS_1


Sarah menarik tangan Regan untuk masuk ke dalam kamar. Regan berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Sarah memandangi wajah suaminya. Ada gurat kesedihan di sana. Walaupun dirinya juga merasa sedih, tapi Sarah berusaha menahan diri. Lebih penting untuk menenangkan suaminya terlebih dulu. Jika Regan sampai emosi, maka masalah tidak akan terselesaikan dengan baik.


Sarah mengusap rahang Regan. Pria itu menolehkan wajah ke arahnya. Keduanya saling memandang dengan tangan Sarah terus mengusap rahangnya. Kemudian Sarah mendekatkan wajahnya dan mencium bibir suaminya.


“Mas ngga mau tidur sambil memeluk aku?”


“Mas ngga mungkin bisa tidur kalau ngga meluk kamu. Sini sayang.”


Regan memiringkan posisi tidurnya lalu merentangkan lengannya. Sarah mendekat, merebahkan kepalanya di lengan itu. Tangannya melingkar di pinggang Regan. Ditariknya tubuh Sarah hingga tak berjarak dengannya, kemudian dipeluknya tubuh itu. Keduanya mulai memejamkan matanya.


🍁🍁🍁


Rain memandangi hasil usg di tangannya. Hanya terlihat titik kecil saja di sana karena kandungannya baru berusia empat minggu. Mata Rain memanas mengingat pertemuannya dengan dokter kandungan yang ditemani oleh kedua orang tuanya. Harusnya Akhtar yang mendampinginya, harusnya mereka berdua yang pertama kali melihat makhluk kecil yang ada di perutnya saat ini.


Pintu kamar Rain terbuka. Sarah datang membawakan makanan untuk Rain. Sejak pagi Rain belum makan apapun dengan alasan mual. Sarah meletakkan nampan di atas nakas lalu duduk di sisi ranjang.


“Rain, makan dulu ya sayang.”


“Aku ngga laper ma.”


“Jangan begitu sayang. Sekarang kamu ngga sendiri lagi. Kamu harus makan. Anakmu butuh nutrisi untuk berkembang.”


“Aku mual ma.”


“Kamu mau makan apa?”


“Kamu ngga boleh egois sayang. Ayo makan dulu, biar sedikit yang penting ada yang masuk. Jangan biarkan perut kamu kosong seperti ini.”


“Setiap aku coba makan pasti keluar lagi ma. Aku ngga akan mual kalau...”


“Kalau apa sayang?”


“Kalau mas Akhtar yang suapin aku.”


Rain tak dapat menahan tangisnya lagi. Kerinduannya pada sosok suaminya begitu besar. Dia yang terbiasa diperlakukan manis beberapa hari belakangan ini mulai menginginkan kehadiran Akhtar.


“Aku baru bisa makan kalau mas Akhtar yang suapin aku. Aku juga baru bisa tidur kalau dia meluk aku ma. Hiks.. hiks.. aku harus gimana ma. Anakku selalu ingin bersama ayahnya tapi ayahnya tidak mau mengakuinya.”


Sarah menarik Rain dalam pelukannya. Hatinya teriris melihat buah hatinya terluka seperti ini. Regan yang baru akan masuk menghela nafasnya mendengar pembicaraan keduanya. Tangannya mengepal kencang namun sebisa mungkin dia meredam emosinya.


🍁🍁🍁


Sudah hampir seminggu lamanya Rain tinggal di rumah orang tuanya. Selama itu pula Akhtar tak pernah menghubunginya. Sehari-hari Rain hanya mengurung diri di kamar. Tubuhnya terlihat lebih kurus, wajahnya pucat karena terus menerus merasa mual dan memuntahkan apa yang dimakannya. Belum lagi setiap malam dia tak pernah bisa tidur nyenyak.


Sarah terus berada di samping Rain. Kadang mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengobrol. Dia juga mendatangkan sahabat Rain agar bisa menghiburnya. Sarah bersyukur Rain bisa makan ketika kedatangan para sahabatnya. Dimas juga menyempatkan diri memasakkan sesuatu untuk ibu hamil itu. Namun begitu semua sahabatnya pulang, kesedihan kembali menggelayuti hatinya.

__ADS_1


Regan yang prihatin dengan keadaan anaknya tak bisa tinggal diam. Dia memutuskan untuk menemui Irzal di rumahnya. Setelah dipikirkan selama beberapa hari, sepertinya dia harus mengambil keputusan ini. Mendengar kedatangan Regan, Irzal keluar kemudian bergabung dengannya di teras rumah.


“Ada apa nih mas, kayanya penting banget.”


“Sebelumnya aku minta maaf Zal, kalau permintaanku ini membuatmu tak nyaman.”


“Soal apa mas?”


Regan pun mulai menceritakan tentang masalah yang menimpa Rain. Irzal mendengarkan dengan seksama. Secara naluri dia sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan Regan. Namun dia tetap membiarkan Regan menyelesaikan ceritanya.


“Sekarang bagaimana keadaan Rain mas?”


“Masih sama Zal. Makanya aku mau minta tolong sama kamu.”


“Apa itu mas?”


“Kalau boleh untuk beberapa hari aku mau membawa Rain ke London. Boleh aku minta tolong sama Elang untuk membujuk Rain. Kamu tahu sendiri Rain itu keras kepala. Dia cuma nurut sama Elang. Mungkin karena dia benar-benar menganggap kalau Elang adalah Rakan. Aku yakin setelah bertemu Elang, Rain akan bisa kembali berpikir jernih. Ada sesuatu yang mencurigakan dengan masalah mereka. Aku sendiri akan menyelidikinya tapi aku ingin Rain tenang dulu.”


“Tapi mas kan tahu bagaimana perasaan Elang sama Rain. Aku takut El tidak bisa berpikir jernih melihat kondisi Rain seperti ini. Selama beberapa bulan ini juga dia berusaha keras untuk melupakan perasaannya untuk Rain. Aku takut El ngga bisa mengendalikan diri.”


“Kamu ngga percaya dengan anakmu sendiri Zal? Lagi pula di sana ada Farel. Dia pasti bisa menenangkan adiknya.”


Irzal terdiam, dia bingung harus memutuskan apa. Di satu sisi dia prihatin dengan kondisi Rain. Tapi di sisi lain dia tak ingin melihat anaknya terluka lagi.


“Aku telepon El dulu mas. Supaya dia bisa mempersiapkan diri. Tapi kalau El menolak, aku harap mas menghormati keputusannya.”


“Iya Zal. Kalau El menolak aku tidak akan memaksa. Terima kasih sebelumnya, maaf kalau aku merepotkanmu.”


“Jangan sungkan mas. Rain juga anakku.”


“Ya sudah kalau begitu aku pulang.”


“Aku ikut mas. Aku mau melihat keadaan Rain.”


Regan mengangguk, kedua pria itu berdiri kemudian berjalan menuju rumah Regan yang hanya terhalang satu rumah, yakni rumah Ega. Mendapat kunjungan Irzal, kondisi Rain sedikit membaik. Dia mau makan walau sedikit. Sepertinya nasehat Irzal cukup mempengaruhi dirinya.


🍁🍁🍁


**Selamat Hari Raya Idul Adha. Mohon maaf kemarin mamake ngga bisa up🙏


Jangan lupa tinggalin jejaknya ya..


Like..


Comment..

__ADS_1


Vote**..


__ADS_2