Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE I Love You Goodbye


__ADS_3

Begitu keluar dari kediaman Ega, Ayunda tidak pulang ke rumahnya. Kakinya melangkah menuju rumah Regan. Dengan tangan bergetar dipencetnya bel yang ada di dekat pintu. Tak lama pintu terbuka, ternyata Reyhan yang membukakan.


“Ay..”


“Kak Rey.. aku harus bagaimana?” cetus Ayunda dengan suara tercekat. Matanya sudah nampak berkaca-kaca.


“Kamu kenapa Ay?”


“Aku harus bagaimana kak...”


Ayunda menghambur ke arah Reyhan, tangannya memeluk pinggang lelaki itu. Tangisnya seketika pecah di dada Reyhan. Sejenak Reyhan mematung, kemudian tangannya bergerak memeluk punggung Ayunda.


“Aku ngga bisa menyakiti bang Ilan..” ucap Ayunda di sela-sela tangisnya.


Reyhan mengurai pelukannya kemudian mengajak Ayunda masuk. Melihat kondisi Ayunda yang terus menangis, Reyhan membawa gadis itu ke ruang kerja Regan. Jika mereka bicara di ruang tengah, takut terdengar oleh Regan dan Sarah yang sedang berada di kamar.


Reyhan menutup pintu ruang kerja Regan. Membawa Ayunda duduk di sofa. Dia kembali keluar kemudian tak lama masuk lagi sambil membawa segelas air putih di tangannya. Ayunda meminum air yang diberikan Reyhan kemudian meletakkannya di atas meja.


“Kamu kenapa Ay?”


“Sejak tadi siang aku coba bicara dengan bang Ilan. Aku coba untuk membatalkan pernikahan kami, tapi aku ngga bisa kak. Aku ngga sanggup melihatnya terluka. Aku harus bagaimana kak?”


Ayunda kembali menangis. Reyhan menarik Ayunda ke dalam pelukannya. Membiarkan gadis itu menangis sepuasnya. Pikirannya pun melayang pada pembicaraan dengan Firlan tadi pagi. Jika bukan Ayunda yang melepasnya maka pria itu tidak akan melepaskan Ayunda. Melihat Ayunda tersiksa seperti ini pun Reyhan tak tega. Jika dirinya bersikeras maju, maka akan ada kegaduhan bahkan mungkin pertikaian antar keluarga. Belum lagi kesehatan Regan yang akhir-akhir ini terganggu, benar-benar membuat Reyhan dilema.


“Jangan lakukan apapun.”


Setelah berpikir cukup lama, akhirnya terdengar suara Reyhan. Ayunda melepaskan diri dari dekapan Reyhan kemudian memandang wajah pria itu cukup lama. Tangan Reyhan bergerak menghapus airmata yang masih mengalir di pipi.


“Apa maksud kakak?”


“Jangan lakukan apapun Ay.. kita hentikan semuanya sampai di sini.”


“Ngga.. aku ngga mau.”


“Kamu yang bilang ngga bisa menyakitinya, maka jangan teruskan. Aku yang akan mengalah, aku akan pergi dari hidupmu.”


“Ngga.. aku ngga mau..”


Ayunda menggelengkan kepalanya dengan keras. Tangisnya kembali pecah, berpisah dengan Reyhan adalah hal yang paling ditakutinya saat ini.


“Aku ngga mau.. jangan pergi kak... aku akan mengatakannya pada bang Ilan. Kalau perlu aku akan mengatakannya sekarang.”


Ayunda berdiri lalu hendak pergi dari ruang kerja itu. Reyhan beranjak menyusulnya kemudian memeluk Ayunda dari belakang, menahan langkah gadis itu.


“Lepas kak.. biarkan aku menemui bang Ilan.”


“Ngga Ay...”

__ADS_1


Ayunda melepaskan tangan Reyhan dari tubuhnya kemudian berbalik menghadap pria itu. Kini tatapan sendunya sudah berubah menjadi amarah.


“Kenapa? Kenapa kakak melarangku? Kenapa?”


“Kita duduk dulu Ay..”


Reyhan menarik tangan Ayunda kembali ke sofa. Mereka duduk dengan posisi menyamping agar bisa berhadapan. Tangan Reyhan menggenggam erat tangan Ayunda. Hatinya pun terasa sesak harus merelakan wanita yang dicintainya bersama pria lain.


“Aku akan bicara pada bang Ilan. Apa kak Rey ngga percaya padaku? Aku akan mengakhiri semuanya.”


“Jangan Ay... jangan lakukan apapun. Lanjutkan saja apa yang sudah direncanakan.”


“Tapi Kenapa? Kenapa kak? Apa kak Rey ngga mencintaiku?”


“Aku mencintaimu Ay.. sangat mencintaimu.. tapi aku ngga mau melihatmu menderita. Aku ngga sanggup melihatmu menerima cacian, hujatan atau umpatan karena keputusanmu membatalkan pernikahan. Bang Ilan tidak akan melepasmu kalau bukan kamu yang melepasnya. Tapi aku ngga mungkin membiarkanmu melakukan itu, menanggung tudingan dan cemoohan semua orang. Jadi biarkan aku yang mengalah. Mengetahui kamu membalas cintaku itu sudah cukup buatku Ay..”


Amarah Ayunda yang semula hendak meledak mendengar ucapan Reyhan mendadak surut begitu melihat buliran bening mengalir dari mata Reyhan. Jari lentik Ayunda bergerak menghapus cairan bening itu. Reyhan menangkap tangan Ayunda kemudian mengecupnya cukup lama.


“Maafkan aku Ay.. bukan hal mudah untukku mengambil keputusan ini. Tapi ini yang terbaik untuk kita semua. Kamu pernah mencintai bang Ilan, tidak sulit untuk menumbuhkan perasaan itu lagi. Sedang aku, anggap saja aku adalah pelangi yang akan hilang sinarnya begitu tak ada lagi tetesan air.”


“Hatiku bukanlah gelas kosong yang bisa diisi ulang. Jika cintaku sudah tak ada buat bang Ilan, bagaimana aku bisa mencintainya lagi. Sedang hatiku sudah sepenuhnya milik kakak.”


Reyhan kembali memeluk Ayunda, dekapannya lebih erat. Ayunda mengalungkan tangannya ke leher Reyhan. Keduanya saling memeluk diiringi derai airmata dari keduanya. Mengapa takdir tak berpihak pada mereka, kenapa mereka harus berpisah di saat hati sudah saling menaut.


Ayunda melepaskan pelukannya lebih dulu disusul oleh Reyhan. Keduanya saling menghapus airmata di wajah masing-masing. Ayunda membingkai wajah Reyhan dengan kedua tangannya.


“Harus Ay.. demi kebaikan semua orang.”


“Kalau itu keputusan kakak, aku akan menerimanya. Aku akan berusaha menjalani semua seperti yang kakak inginkan.”


“Aku hanya ingin kamu bahagia Ay..”


“Tapi kebahagiaanku bersamamu.”


“Tak ada kebahagiaan untuk kita kalau untuk meraihnya kita mengorbankan orang lain.”


“Baiklah.. aku akan mencoba bahagia dengan pilihan yang sudah kubuat sedari awal. Tapi biarkan malam ini aku menikmati waktu bersamamu. Anggap saja ini malam terakhir untuk kita.”


Reyhan mengangguk, seandainya bisa, dia ingin waktu berhenti saat ini juga. Ayunda menyandarkan kepalanya ke dada Reyhan, menikmati degupan jantung pria itu yang berdetak lebih cepat dari biasanya.


Reyhan pun mendekap tubuh Ayunda, memeluk punggung dan pinggang gadis itu seakan tak ingin melepasnya lagi. Dagunya diletakkan di kepala Ayunda, kemudian tanpa sadar bibirnya mengecup puncak kepala gadis itu yang terbalut hijab instan.


Ayunda menarik kepalanya, kemudian menegakkan duduknya. Untuk beberapa saat netra keduanya saling memandang dan mengunci. Kedua tangan Ayunda bergerak kemudian menangkup wajah Reyhan.


“Aku tahu apa yang kulakukan saat ini adalah sebuah dosa. Tapi ini adalah dosa terindah yang pernah kubuat. Dan aku akan mengenang dosa indah ini seumur hidupku. I love you kak Rey.”


Kepala Ayunda mendekat kemudian menempelkan bibirnya ke bibir Reyhan. Matanya terpejam menikmati pertemuan bibir mereka. Bibir keduanya hanya menempel saja, karena Ayunda memang belum pernah berciuman sebelumnya.

__ADS_1


Saat akan menarik bibirnya, tangan Reyhan bergerak menahan tengkuk Ayunda. Pria itu mulai menyesap bibir bawah dan atas Ayunda bergantian. Ayunda membuka matanya karena terkejut. Terlihat mata Reyhan terpejam sedang bibirnya me**mat lembut bibir Ayunda. Gadis itu memejamkan kembali matanya, menikmati bahkan mencoba membalas ciuman Reyhan walau masih terasa kaku.


Reyhan mengakhiri ciumannya. Mata keduanya terbuka dan langsung melihat satu sama lain. Reyhan menyatukan kening mereka.


“I love you Ay..”


“Ayang.. panggil aku Ayang..”


“I love you Ay..ang.”


“I love you mas Rey...”


Reyhan kembali membenamkan bibirnya ke bibir Ayunda. Lu**tan dan pagutan kembali terjadi di antara keduanya. Bahkan Reyhan sudah berani memasukkan lidahnya ke rongga mulut Ayunda. Reyhan menghentikan ciumannya ketika merasakan ciuman mereka semakin dalam dan menuntut.


“Pulanglah Ay.. sebelum aku kehilangan kendali.”


“Mau mengantarku pulang?”


“Tentu saja.”


Keduanya berdiri kemudian keluar dari ruang kerja. Suasana di luar ruangan masih tetap sepi. Sepertinya Regan dan Sarah tidak ada minat untuk keluar dari kamarnya. Sambil bergandengan tangan pasangan yang memutuskan untuk berpisah itu keluar dari rumah.


Keduanya berjalan menuju rumah Ayunda dengan langkah pelan bahkan sangat pelan. Genggaman tangan mereka semakin erat ketika jarak rumah Ayunda semakin dekat. Gadis itu memilih masuk ke dalam rumah melalui pintu samping.


Reyhan dan Ayunda berhenti di depan pintu. Hening, tak ada pembicaraan di antara keduanya. Tangan mereka masih saling menggenggam seakan enggan untuk melepaskan. Reyhan melepaskan genggamannya kemudian memeluk Ayunda. Mungkin ini adalah pelukan terakhir darinya.


Setelah beberapa detik, Reyhan mengurai pelukannya. Kemudian mencium kening Ayunda cukup lama. Ayunda memejamkan matanya, menikmati bibir hangat milik Reyhan di keningnya.


“Masuklah...”


“Terima kasih kak.. terima kasih untuk malam indah ini.”


“Malam ini akan menjadi kenangan terindah untukku. Terima kasih sudah datang dalam hidupku walau sekejap. Aku harap kamu berbahagia dengan bang Ilan. Dia pria yang baik, dia pasti bisa membahagiakanmu.”


“Aku harap kakak juga bahagia bersama siapapun itu.”


“Aku pulang...”


Dengan berat hati Reyhan membalikkan tubuhnya lalu melangkah pergi. Kakinya seperti dipasangi rantai besi, begitu sulit untuk melangkah. Namun begitu, dia berusaha menguatkan hati untuk terus berjalan meninggalkan wanita terindahnya. Malam ini akan terus menjadi kenangan untuknya. Malam di mana mereka saling mengungkapkan cinta sekaligus perpisahan. Malam yang berbalut kebahagiaan sekaligus luka. I love goodbye, mungkin itu ungkapan yang tepat untuk mereka saat ini.


🍁🍁🍁


**🥺🥺🥺🤧🤧🤧


Like...


Comment..

__ADS_1


Vote**..


__ADS_2