
Sehabis shalat shubuh Elang langsung bersiap. Koper telah siap di sudut ruangan, dia pun sudah berpakaian rapih. Waktu menunjukkan pukul lima shubuh, diraihnya ponsel di atas nakas. Elang kembali menghubungi Azkia, namun lagi-lagi hanya terhubung pada kotak suara. Sudah banyak pesan yang dia kirimkan namun hanya tanda checklist satu yang tertera.
Elang terduduk di sisi ranjang, ingatannya kembali pada peristiwa kemarin malam. Karena khawatir dengan keadaan Rain, dia sampai melupakan keberadaan Azkia. Bahkan tak menyadari kepergian gadis itu. hatinya tak tenang, tidak biasanya ponsel Azkia mati seperti ini. takut sesuatu terjadi pada gadis itu.
Pintu kamarnya terbuka, Farel masuk lalu duduk di samping sang adik yang masih melamun. Dia tahu persis siapa yang dipikirkan Elang saat ini, ingin rasanya mengatakan apa yang terjadi pada Azkia kemarin. Namun janjinya pada Irzal tak bisa dilanggar. Farel juga tidak akan sanggup menghadapi kemarahan Irzal nanti. Ditepuknya bahu Elang, menyadarkan pemuda itu dari lamunannya.
“Bang, bisa ngga gue mampir dulu ke suatu tempat? Sebentar aja bang.”
“Sorry El, kalau gue bisa gue pasti bakal anter elo tapi yang nganter elo langsung om Bara sendiri. Udah deh jangan nambah masalah lagi, ikutin aja apa kata ayah. Lo pasti lagi mikirin Kia kan? Telepon aja El.”
“Justru itu bang, hp nya ngga bisa dihubungi dari semalem.”
“Emang kejadian kemarin malem tuh gimana sih ceritanya?”
Elang menceritakan apa yang terjadi kemarin malam. Farel cukup gemas mendengarnya. Dia yang awalnya merasa iba pada Elang akhirnya mendukung keputusan Irzal untuk menyembunyikan keberadaan Azkia.
“Lo tuh keterlaluan El. Lo udah php-in anak orang tau ngga?”
“Maksudnya?”
“Astaga El. Dengan semua sikap lo sama Kia selama ini pasti bikin tuh anak baper. Jangan salahin dia kalau dia punya perasaan sama elo. Tapi dalam sekejap lo udah hancurin perasaannya. Kalau lo masih belum bisa move on dari Rain, jangan kasih harapan sama perempuan lain. Lo bilang ada yang naksir Kia kan, seniornya itu. Jangan halangin dia, lebih baik Kia sama tuh orang dari pada sama elo.”
“Bang jangan bikin kepala gue tambah pusing deh. Gue ngga rela ya dia sama si Adi Adi itu.”
“Jangan egois El. Lo ngga rela dia sama Adi tapi lo masih nyimpen perasaan sama Rain. Lo pikir sendiri kenapa Kia pergi ngga bilang-bilang, karena dia sakit hati lihat elo sama Rain. El, lo udah pernah kehilangan Rain. Jangan sampai lo kehilangan Kia juga. Karena kita ngga tahu seseorang itu berharga sebelum kita kehilangan orang itu. Jangan sampai lo nyesel El.”
“Terus gue harus gimana bang? Seandainya ayah ngga nyuruh gue ke Munich, gue bisa beresin masalah ini.”
“Lo harus pergi karena itu hukuman buat elo. Berulang kali ayah bilang untuk ngga ikut campur urusan Rain, tapi lo keras kepala. Soal dia serahin ke gue, biar gue yang cari Kia. Sekarang lo siap-siap, bentar lagi om Bara dateng.”
“Tapi janji ya bang, tolong cari tahu soal Kia dan kabarin gue secepatnya.”
“Iya.”
Farel berdiri lalu keluar kamar. elang masih termenung sebentar sebelum akhirnya bangun dan beranjak dari kamarnya. Dengan koper di tangannya, dia menuruni tangga satu per satu.
Elang berpamitan pada Poppy juga Irzal. Poppy memeluk Elang cukup lama, walau berat melepas anaknya pergi namun ini sudah menjadi keputusan suaminya. Elang menghampiri Irzal, tak banyak yang pria paruh baya itu katakan pada anaknya. Elang juga tahu kalau sang ayah masih kecewa padanya. Dia hanya berharap kemarahan ayahnya mereda dan bisa pulang secepatnya.
Begitu Bara datang, tanpa membuang waktu Elang segera berangkat menuju bandara. Sebelum berangkat berulang kali dia mengingatkan Farel untuk menemui Azkia. Tak lama kendaraan yang ditumpangi mulai melaju meninggalkan kediaman kedua orang tuanya.
Sepeninggal Elang, Poppy duduk termenung di sofa. Baru saja dokter Ambar menelpon dan mengabarkan kalau kondisi Daniar drop.
__ADS_1
Flashback On
Sepeninggal Irzal dan Farel, Poppy mengajak Daniar berbincang sambil menunggu Azkia dipindahkan ke ruang perawatan. Di sela-sela pembicaraan, tiba-tiba Daniar merasa sesak. Dia memegangi dadanya dan tak lama kemudian jatuh pingsan. Poppy langsung meminta pertolongan, seorang perawat laki-laki segera membopong tubuh Daniar lalu membaringkannya ke blankar.
Dokter Ambar yang masih berada di IGD segera memeriksa keadaan Daniar. Mereka terpaksa melakukan intubasi karena Daniar kesulitan bernafas. Setelah mendengar penjelasan Hanin tentang kondisi ibunya, dokter Ambar langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh pada Daniar.
Poppy masih memperhatikan apa yang dilakukan dokter wanita itu dengan perasaan cemas. Dihampirinya Hanin yang sedang menangis. Melihat dua orang yang sangat disayanginya terbaring di atas blankar, tentu saja membuat gadis itu ketakutan. Poppy merangkul Hanin dan mengajaknya duduk. Saat yang bersamaan Irzal dan Farel datang.
“Ada apa?”
“Ibu Daniar pingsan a. Tadi dia sempat sesak nafas.”
Irzal berjalan mendekati blankar Daniar. Dokter Ambar masih memeriksa keadaan Daniar. Dia sudah berhasil mengembalikan kesadaran Daniar. Namun selang oksigen tetap menempel di hidungnya karena wanita itu masih kesulitan bernafas. Dokter Ambar menghampiri Irzal.
“Apa yang terjadi dok?”
“Ibu Daniar menderita maag kronis. Dia juga mempunyai riwayat asma. Melihat kondisinya yang seperti ini saya curiga ada masalah di paru-parunya. Belum lagi kondisi lambungnya yang terluka parah.”
“Tolong obati dia dok. Semua biaya perawatannya saya yang akan menanggungnya. Jika diperlukan operasi laukan saja, dan kalau dokter membutuhkan donor atau apapun itu katakan saja. Sebisa mungkin saya akan membantu.”
“Baik pak, saya sudah melakukan pemeriksaan darah. Begitu hasilnya keluar, kita bisa melakukan tindakan selanjutnya.”
Irzal dan Poppy mendekat. Irzal mendudukkan Poppy di kursi sedang dirinya berdiri di belakangnya. Daniar menggenggam tangan Poppy erat. Dengan suara lemah dia mulai berbicara.
“Ibu Poppy, terima kasih atas pertolongan dan kemurahan hati kalian.”
“Ibu jangan bicara seperti itu. Sebagai sesama manusia kita wajib tolong menolong.”
“Sekali lagi terima kasih.”
“Sama-sama bu. Sebelumnya kami minta maaf jika mengatakan di saat yang tidak tepat. Sebenarnya kami ingin menjadikan Kia istri untuk Elang jika ibu berkenan.”
Daniar terkejut mendengarnya namun tak ayal senyuman tersungging di bibirnya. Dalam hatinya bersyukur karena doa-doanya sebentar lagi akan menjadi kenyataan. Genggamannya di tangan Poppy semakin erat.
“Terima kasih ibu sudi menjadikan Kia menantu ibu.”
“Kia anak yang baik. Saya percaya dia bisa membuat anak saya bahagia dan menjadi laki-laki yang lebih baik lagi.”
“Nak Elang anak yang baik. Berulang kali dia membantu Kia. Dan Kia juga mencintainya. Saya benar-benar berharap dia bisa bahagia. Sudah banyak penderitaan yang dirasakan anak itu. Kalau boleh, saya ingin minta sesuatu.”
“Apa itu bu? Katakan saja.”
__ADS_1
“Jika sesuatu terjadi pada saya, saya titip Kia juga Hanin. Selain saya mereka tidak punya siapa-siapa lagi. Jangan sampai bapaknya menemukan mereka.”
“Ibu tidak perlu khawatir. Mulai sekarang Kia dan Hanin menjadi tanggung jawab kami.”
Bukan Poppy yang menjawab melainkan Irzal. Poppy menganggukkan kepalanya pada Daniar untuk menegaskan kembali ucapan suaminya. Nampak kelegaan di wajah wanita itu.
“Satu lagi yang perlu kalian tahu. Agus bukanlah ayah kandung Kia.”
“Lalu siapa ayah kandung Kia. Kami perlu bertemu dengannya untuk meminta ijin.”
“Tidak perlu.”
Dengan airmata berlinang Daniar menceritakan peristiwa naas yang menimpanya 21 tahun yang lalu tanpa menyebutkan nama lelaki yang yang telah merenggut kesuciannya. Walaupun berat dia harus mengatakan semua meski dengan resiko Poppy dan Irzal membatalkan niat mereka menjadikan Azkia menantu.
“Kia tidak bersalah, saya yang bersalah. Dia anak yang baik, kekuarangannya hanya satu, dia lahir dari wanita seperti saya. Tapi jika bapak dan ibu merasa terganggu dengan latar belakangnya, saya ikhlas.”
“Ibu bicara apa? Tak sedikit pun niat kami berubah. Saya sudah menyayangi Kia seperti anak sendiri. Tidak peduli siapa ayah kandungnya, kami tetap akan menjadikan Kia menantu di keluarga kami.”
“Terima kasih banyak bu. Saya sudah tenang sekarang.”
“Ibu jangan banyak pikiran. Sekarang lebih baik ibu istirahat.”
Daniar mengangguk, dia memejamkan matanya. Perasaannya lega setelah berbicara dengan Poppy. Mengetahui sudah ada yang bersedia bertanggung jawab atas kedua anaknya, hatinya menjadi tenang.
Flashback Off
Irzal datang lalu duduk di samping istrinya. Poppy masih belum menyadari keberadaannya. Sebuah kecupan didaratkan di pipi Poppy. Membuat wanita itu sadar dari lamunannya.
"Ada apa sayang?"
“Tadi dokter Ambar telepon, kondisi bu Daniar drop.”
“Ya udah kita ke rumah sakit sekarang.”
Irzal meraih tangan Poppy kemudian membantunya berdiri. Mereka keluar rumah sambil bergandengan tangan. Poppy tersenyum, akhir-akhir ini suaminya kerap bersikap romantis. Ingin mengenang masa lalu katanya.
🍁🍁🍁
**Buat yg gemes sama mas El tolong dipahami, mas El itu ngga pernah deket sama cewek kecuali Rain & Ily. Jadi harap maklum kalau mas El masih susah move on dari Rain, cinta pertamanya. Makanya doain mas El ya biar cepat move on dan sadar akan perasaannya sama neng Az.
Sebelum jalan² malam Minggu jangan lupa tinggalin jejaknya ya, like, comment and vote nya ya biar enak malmingnya😉😎**
__ADS_1