Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 1 : DEAR UNCLE Jangan Menyerah


__ADS_3

Tepat jam tujuh Firly sampai di La Premiere, sebelumnya dia sudah melakukan reservasi di restoran bintang lima tersebut. Beberapa menit kemudian Radja datang, seorang pelayan mengantarnya menuju meja yang ditempati Firly. Lelaki itu tertegun melihat Firly yang begitu cantik malam ini. Dress dengan model cold shoulder berwarna lavender melekat begitu indah di tubuhnya. Wajahnya yang dipoles make up tipis dan liptint dengan warna senada dengan gaunnya semakin menambah kecantikannya. Radja menarik kursi di hadapannya kemudian mendudukkan diri di sana.


Seorang pelayan datang membawakan makanan yang telah dipesan oleh Firly. Radja benar-benar merasa senang diperlakukan begitu istimewanya oleh gadis di hadapannya ini. Matanya tak lepas menatap Firly sambil menikmati hidangannya.


“Radja,” Radja menoleh saat mendengar seseorang memanggil namanya. Matanya membulat melihat perempuan berpakaian seksi berdiri di sampingnya. Seketika tubuhnya menjadi tegang.


“Siapa Dja?”


“Ehmm.. dia.. dia..”


“Hai, kenalkan aku Sherly, temannya Radja.”


“Oh,” Firly mengulurkan tangannya pada Sherly. Dia melihat penampilan perempuan itu dari atas hingga bawah. Kemudian mengalihkan pandangannya pada Radja.


“Dja, kita boleh bicara sebentar?”


“Maaf Sher, kamu ngga lihat aku lagi apa?”


“Aku mau bahas kerjaan Dja. Coba lihat ponsel kamu.”


Sherly memberikan isyarat pada Radja untuk melihat ponselnya. Dengan malas Radja mengambil ponselnya, ada kiriman video yang masuk. Mata Radja membulat melihat video tersebut. Wajahnya mendadak pucat.


“Kamu mau ikut aku atau aku bicara di sini aja?” ancam Sherly.


“Ehem.. Ly, maaf ya aku mendadak ada urusan sama Sherly. Kamu ngga apa-apa aku tinggal sebentar?”


“Penting ya? Ngga bisa nunggu sampai makan malam kita selesai?” Radja melirik pada Sherly, perempuan itu hanya menatap tanpa dosa padanya.


“Maaf Ly, ini penting banget. Kamu ngga apa-apa kan?”


“Hmm.. ya udah deh.”


“Maaf, secepatnya aku akan kembali.”


Radja berdiri kemudian menarik tangan Sherly keluar dari restoran. Firly mengulum senyum tipis kemudian melanjutkan makannya dengan tenang.


Flashback On


Elang dan Farel berjalan memasuki sebuah cafe. Mereka mengambil tempat duduk di meja paling ujung. Tak berapa lama seorang perempuan berpakaian seksi yang tak lain adalah Sherly datang kemudian duduk berhadapan dengan keduanya.


“Kalian siapa?”


“Ngga penting kita siapa. Yang penting kamu harus melakukan apa yang kita perintahkan,” jawab Elang tanpa basa-basi. Sherly mengerutkan keningnya.


“Tugas kamu simple, dan bayarannya cukup besar. Nanti malam kamu temui Radja di La Premiere. Ajak dia pergi dari sana,” jelas Farel. Dia mengeluarkan sebuah amplop dan memberikannya pada Sherly. Perempuan itu segera membuka amplop tersebut, beberapa lembar uang berwarna merah muda terdapat di dalamnya.


“Itu cuma DP, sisanya akan ditransfer setelah pekerjaan kamu selesai.”


“Setelah aku ajak dia pergi terus apa? Aku harus tidur sama dia gitu? Males, dia itu cowo lemah, baru main sepuluh menit udah KO.”


“Terserah kamu mau ajak dia kemana atau mau melakukan apa. Tugas kamu hanya membawa dia pergi dari situ.”


“Ok, tapi sebagai imbalannya aku mau tidur sama kamu,” Sherly menunjuk pada Elang.

__ADS_1


“Ngga usah macem-macem. Kamu bakal dapet bayaran besar, lebih dari honor one night stand kamu,” sarkas Elang. Sherly tersenyum simpul, dia semakin tertarik dengan sosok Elang. Dia mencondongkan tubuhnya ke arah Elang.


“Sleep with me atau cari orang lain untuk melakukannya.”


“Ok, kalau kamu memaksa,” Sherly tersenyum senang, jarinya meraba punggung tangan Elang tapi langsung ditepis kasar oleh lelaki itu.


“Kamu lakukan seperti yang aku perintahkan atau video mesum kamu dengan tuan Pramudya akan sampai ke tangan istrinya. Kamu tahu, istri tuan Pramudya itu sangat menakutkan. Dia ngga akan segan-segan menyuruh orang untuk menghabisimu.”


Sherly terkejut, wajahnya mendadak memucat. Dipandanginya Elang dan Farel bergantian. Setelah berpikir sejenak akhirnya dia menyetujui penawaran Elang.


“Tapi aku ngga yakin Radja mau ikut denganku. Hubungan aku dengannya hanya sebagai partner **** saja. Aku juga baru dua hari lalu kenal dengannya.”


“Kamu tenang aja, aku udah kirim senjata untuk menaklukkannya. Cek hp kamu.”


Sherly menuruti ucapan Farel. Dia membuka ponselnya, sebuah rekaman video masuk ke ponselnya. Dia menutup mulut dengan tangannya, tak percaya melihat adegan ranjang dirinya dengan Radja dua hari lalu.


“Tunjukkan video itu dan bawa pergi Radja dari restoran. Selanjutnya terserah kamu, mau tidur bareng atau minta uang, aku ngga perduli.”


“Ok, sepertinya aku ngga punya pilihan. Tapi setidaknya kasih tahu namamu,” Sherly mengerling pada Elang.


“Nama gue Pay. Lengkapnya Paiman,” Farel hampir saja tertawa mendengar ucapan Elang. Adiknya itu segera pergi meninggalkan Sherly yang menatapnya dengan kesal.


Cih, sombongnya. Awas aja lo, gue bakal cari tahu siapa elo dan kasih elo pelajaran. Gue perkosa lo baru tahu rasa.


Flashback Off


Tanpa menghabiskan makan malamnya, Firly meninggalkan restoran. Dia bergegas menuju lantai 9, Elang mengabari kalau Dimas masih berada di kantornya. Dengan dada berdebar dia menaiki lift untuk bertemu dengan kekasihnya.


“Om,” Dimas membalikkan tubuhnya saat mendengar suara yang sangat dikenalnya. Firly menatap Dimas dengan mata berkaca-kaca. Kerinduan yang dirasakannya beberapa hari terakhir ini menyeruak begitu saja. Dengan langkah panjang Dimas menghampiri kemudian merengkuh tubuh Firly dalam pelukannya.


“Hiks.. hiks.. Ily kangen om.”


“Om juga sayang.”


Firly menyurukkan kepalanya di dada Dimas. Menghirup dalam-dalam aroma yang sangat dirindukannya ini. Dimas mengurai pelukannya, memberi jarak pada mereka berdua kemudian menghapus airmata di wajah gadisnya ini. Dimas mengajak Firly duduk di sofa.


“Kamu baik-baik aja sayang?”


“Iya om. Om sendiri gimana?”


“Om baik-baik aja. Selamat ulang tahun ya sayang. Maaf om terlambat ngucapin.”


“Ngga apa-apa om. Ketemu om sekarang Ily udah seneng banget.”


Dimas bangun dari duduknya kemudian berjalan menuju meja kerjanya. Dia membuka laci lalu mengambil kotak kecil dari dalamnya. Dimas kembali duduk di samping Firly.


“Ini kado untuk kamu sayang,” Firly menerima kotak kecil dari tangan Dimas. Dibukanya kotak itu, nampak sebuah gelang emas dengan inisial namanya. Dimas mengambil gelang itu lalu memasangkannya di pergelangan tangan Firly.


“Kamu suka sayang?”


“Suka om, gelangnya cantik. Makasih ya.”


CUP

__ADS_1


Firly mencium pipi Dimas kemudian merebahkan kepalanya di dada bidang om sekaligus kekasihnya itu. Tangan keduanya saling bertautan erat, sejenak hanya ada keheningan di antara mereka.


“Om, sampai kapan kita akan terus seperti ini?”


“Kamu sabar ya, om masih berusaha untuk meyakinkan mami dan papi kamu.”


“Mami mau jodohin Ily sama anak temen bisnisnya papi. Ily ngga mau om,” Firly mendongakkan wajahnya ke arah Dimas.


“Kita kawin lari aja yuk,” Firly mencetuskan ide gilanya.


“Jangan Ly, kasihan nanti penghulunya capek ngejar-ngejar kita. Aaaawwww,” Dimas menjerit kesakitan mendapat cubitan dari Firly.


“Om ih, diajak ngomong serius juga.”


“Om juga serius Ily. Kita ngga bisa begitu, kamu ngga mikirin dampaknya apa? Sekarang kamu fokus aja sama kuliah kamu. Sebentar lagi kamu kan mulai kuliah. Soal mami dan papi biar jadi urusan om.”


“Om ngga akan nyerah kan?”


“Iya sayang. Kamu sabar ya,” Firly mengangguk. Terdengar notifikasi pesan masuk ke ponselnya, Firly membuka pesan tersebut.


“Om, Ily ngga bisa lama. Ilan udah jemput di bawah.”


“Iya sayang. Kamu hati-hati ya.”


“Om, Ily kangen sama Ara. Besok Ily bisa ketemu Ara?”


“Iya, om akan bicarakan sama Elang. Nanti dia yang akan antar Ara ketemu kamu.”


Dimas berdiri kemudian meraih tangan Firly. Keduanya berjalan keluar ruangan. Suasana di lantai itu sudah sepi, Ringgo dan Arini sudah pulang sedari sore. Mereka berdiri menunggu lift sampai ke lantai 9. Firly berdiri menghadap Dimas, dia berjinjit kemudian mencium bibir Dimas sekilas.


Pintu lift terbuka, saat Firly akan masuk tangan Dimas menahannya. Ditariknya tubuh Firly mendekat padanya kemudian bibirnya mulai memagut bibir tipis Firly. Untuk sesaat mereka saling memagut dan mencecap, kemudian Dimas mengakhiri ciumannya.


“Hati-hati sayang.”


“Iya om. Jangan pulang terlalu malam, kasihan Ara.”


Dimas mengangguk, Firly masuk ke dalam lift dengan langkah berat. Ditatapnya wajah Dimas sebelum pintu lift menutup sempurna. Dia menyandarkan tubuhnya ke dinding lift, matanya terpejam. Tak berapa lama lift sudah sampai di lantai dasar. Wajah Firlan langsung terlihat setelah pintu lift terbuka. Dia meraih tangan Firly kemudian menariknya keluar dari kotak besi tersebut. Keduanya berjalan keluar gedung, Firly mendongakkan kepalanya ke atas, berharap Dimas bisa melihatnya dari atas sana.


Jangan menyerah om, karena Ily ngga akan menyerah. Ily percaya perjuangan kita tidak akan sia-sia.


🍁🍁🍁


**Ngga ada perjuangan yang sia2 Ily, tetap semangat ya. Buat Elang hati2 ada cewek yang mau perkosa kamu tuh😂


Terus dukung mamake ya biar tetap semangat up cerita ini tiap harinya.


Like..


Comment..


Vote..


Thanks😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2