
Lita berlari menaiki anak tangga menuju lantai paling atas, kemudian tanpa mengetuk segera memasuki ruangan. Rain yang sedang mengetik sesuatu dengan laptopnya tentu saja dibuat terkejut olehnya.
“Rain..”
“Ya ampun mba Lita, aku sampe kaget, ada apa sih?”
Lita berhenti di depan kursi Rain, dia mengatur nafasnya yang masih tersengal akibat berlari menaiki tangga. Kemudian tangannya mengambil ponsel dari saku celananya. Dengan cepat jarinya menyalakan ponsel dan mencari berita yang tadi membuatnya hampir jantungan.
“Rain, coba lihat ini.”
Rain mempehatikan video yang diperlihatkan ponsel Lita. Sebuah video yang diunggah di Insta Story seorang Chalissa Jovanka Bagja, desainer muda yang tengah naik daun. Dalam postingan video tersebut Chalissa mengunggah curhatan dirinya yang merasa tersakiti karena sang kekasih memutuskan pernikahan dan lebih memilih menikah dengan wanita lain. Tak tanggung-tanggung, Chalissa juga menyebutkan nama Rain dengan jelas sebagai pelakor yang menghancurkan hubungannya dengan Akhtar.
Video yang baru saja diunggah dua jam lalu itu langsung mendapat berbagai tanggapan dari warganet. Kebanyakan berisikan komentar dukungan untuk Chalissa dan cacian terhadap Rain.
“Tuh pelakor ngga ada matinya ya,” kesal Lita.
“Biarin ajalah mba. Ngga penting juga, dia mau gimana juga aku sama mas Akhtar udah nikah dan mas Akhtar juga udah cinta sama aku, jadi menurutku itu semua ngga penting.”
“Tapi masalahnya ngga cuma di situ aja Rain. Nama papa dan perusahaan papamu juga ikut terseret. Papamu disebut sebagai dalang gagalnya pernikahan Akhtar dengan Lissa dengan memberikan informasi palsu pada papa Lissa hingga membatalkan pernikahan mereka. Papamu dianggap menikung mereka demi bisa menjalin kerjasama dengan Traum Design, gila ngga? Bapak sama anak kelakuannya sama-sama bejat.”
Rain mengambil ponsel milik Lita lalu membaca artikel yang baru saja disebutkan olehnya. Tangan Rain mengepal keras. Belum juga hati papanya luluh akan sikap Akhtar, hal seperti ini sudah menerpa mereka kembali. Bukan hanya itu, Chalissa juga mengunggah foto-foto kebersamaannya bersama Akhtar, bahkan setelah pernikahannya dan menyebutkan kalau Akhtar terpaksa menikahi Rain dan dia tidak bahagia dengan pernikahan tersebut.
“Apa yang bakal kamu lakuin Rain? Kamu ngga mau kasih tahu Akhtar?”
“Aku ngga mungkin kasih tahu mas Akhtar. Dia lagi nanganin proyek penting di Filipina, aku ngga mau ganggu konsentrasi dia mba.”
“Terus? Kamu ngga mungkin diam aja Rain. Masalah ini juga merambat ke kita loh. Udah tiga klien kita batalin kerjasama gara-gara gosip ngga jelas ini.”
“Masa sih mba? Kok om Damar ngga bilang apa-apa?”
“Pak Damar bingung mau bilang ke kamu, makanya aku yang bilang.”
Rain terdiam sejenak, kemudian dengan cepat menyambar tasnya dan bergegas keluar ruangan. Dia tak mempedulikan teriakan Lita yang memanggilnya. Tujuannya hanya satu, bertemu dengan Jayden.
🍁🍁🍁
Suasana Rose cafe cukup ramai siang ini. Rain sengaja mengajak Jayden bertemu di cafe ini untuk membicarakan masalah tentang Chalissa. Sudah hampir sepuluh menit Rain menunggu, tapi sosok Jayden belum terlihat juga. Tiga orang wanita yang mengenali Rain, datang menghampiri dan langsung duduk di mejanya.
“Oh.. jadi ini perempuan perebut tunangan Lissa. Cih, tampang boleh lugu tapi kelakuan kaya setan.”
“Siapa lo? Kenal ngga main duduk aja, sana pergi!”
__ADS_1
“Dasar cewek ngga punya sopan santun. Percuma woi kalau cantik tapi hati lo busuk!”
“Elo pada yang ngga punya sopan santun, main duduk di meja orang tanpa permisi. Nuduh sembarangan, kalau ngga tahu permasalahan yang sebenarnya mending tutup mulut. Mau lo gue tuntut ke penjara?”
“Cih mentang-mentang bapak lo yang punya Rakan Putra Group jadi sombong ya. Gue doain lo ditinggal sama suami lo baru tahu rasa.”
Rain yang memang sudah kesal bertambah kesal mendengar mulut nyinyir tiga orang wanita yang tiba-tiba ingin menjadi pahlawan kesiangan bagi Chalissa. Dia menyambar gelas yang yang ada di hadapannya lalu menyiramkannya ke wajah salah satu wanita yang baru saja menghinanya.
“Gila lo!!”
“Iya gue emang gila! Kalau kalian ngga pergi, bukan cuma air yang kena wajah kalian tapi sekalian gue siram air raksa, mau lo!! Pergi sana!!”
Suasana gaduh langsung terjadi di dalam cafe. Beberapa orang pelayan segera melerai perkelahian yang mungkin saja akan terjadi. Salah seorang pengunjung terlihat asik merekam kejadian tersebut dan saat akan mengunggahnya sebuah tangan menarik ponsel tersebut dan menghapus video tersebut.
Wanita yang ponselnya diambil paksa itu tentu saja marah, tapi seketika amarahnya hilang begitu melihat senyum manis Jayden. Jayden mengembalikan ponsel kepada pemiliknya.
“Sorry video yang barusan lo ambil gue hapus dan sebagai gantinya gue kasih lo kuota gratis selama tiga bulan, cek aja say,” Jayden mengedipkan matanya kemudian berjalan menuju meja Rain yang masih terjadi keributan.
“Ladies... please stop!!”
Keributan terhenti begitu Jayden berteriak ke arah mereka. Semua menoleh ke arah Jayden, hanya Rain yang menatapnya dengan kesal sedang sisanya menatap wajah tampan Jayden tanpa berkedip.
“Kamu siapa? Jangan-jangan kamu selingkuhan si pelakor ini ya? Cih udah ngerebut tunangan orang lain, selingkuh pula.”
“No.. no.. no.. she’s my cousin, so please stop bothering her or....”
“Atau apa hah??”
“Aku bisa upload semua aib kalian ke medsos.”
“Cih, ngancem ngga mutu.”
Jayden tersenyum, dia mengambil ponselnya lalu menggerakkan jarinya dengan cepat lalu tak lama kemudian sebuah notifikasi pesan muncul di ponsel wanita tersebut. Mata wanita tersebut membelalak melihat foto dirinya tengah mengenakan bikini bersama seorang pria paruh baya terpampang di media sosialnya. Dia menatap pada Jayden dengan marah.
“Apa-apaan ini? Hapus ngga?!!”
Jayden hanya mengangkat bahunya lalu dengan cuek menarik kursi di dekat Rain tanpa mempedulikan ucapan wanita itu. Wanita itu berusaha menghapus postingan tersebut tapi sia-sia, foto tersebut tak dapat dihapus begitu saja.
“Tolong hapus foto itu,” wanita itu mulai memelas.
“Apa kata-kata yang kalian ucapkan pada sepupuku bisa terhapus begitu saja seperti aku menghapus fotomu di medsos? Ngga kan? Kata-kata kalian sudah masuk ke indra pendengarannya dan menancap di hatinya, terlebih kalian melakukannya di depan umum. Tunggu sampai satu jam dan kita lihat berapa banyak yang melihat postinganmu, baru aku akan menghapus foto itu supaya kamu merasakan apa yang sepupuku rasakan. Dan buat kalian berdua lebih baik pergi atau kalian akan bernasib sama dengannya.”
__ADS_1
Merasa tak ingin membuat masalah dengan Jayden, ketiga wanita itu akhirnya memilih untuk pergi. Para pelayan kembali ke tempatnya karena keributan sudah berhasil diatasi.
“Sorry ya Rain gue telat. Gara-gara salah makan gue kena diare tadi.”
“Hmm..”
“Terus lo mau gimana?”
“Lo bisa hapus postingan si Lissa? Sama pemberitaan yang nyudutin papa?”
“Itu sih soal kecil tapi gue yakin tuh mak lampir pasti udah nyiapin banyak jurus kali ini. mending serang balik aja gimana? Gue bisa posting adegan en*-**a dia ama Jordy di medsos, biar tahu rasa dia.”
“Jangan, si Jordy kan bukan orang sembarangan juga. Nanti masalahnya malah kemana-mana.”
“Yaelah kan bisa diblur mukanya si Jordy.”
“Justru lebih parah, nanti kalau Lissa ngaku-ngaku kalau itu mas Akhtar gimana?”
“Ya terus gimana?”
“Hapus dulu deh artikel sama videonya terus cariin semua bukti kalau tuduhan Lissa itu ngga benar. Gue akan minta papa Nino adain konferensi pers. Ini menyangkut nama baik perusahaan juga akhirnya.”
“Siap nyonya. Kapan lo butuhnya?”
“Besok ya. Besok gue mau adain konferensi pers.”
“Done!”
Rain tersenyum lega, di saat seperti ini dia masih bisa mengandalkan Jayden untuk membantunya karena tak mungkin juga dia meminta bantuan Elang. Setidaknya Rain harus membuktikan diri pada semua orang, terutama sang papa kalau dia bukan wanita yang lemah.
🍁🍁🍁
**Ayo semangat Rain, gempur habis si Lissa.
Jangan lupa juga ya buat ritualnya abis baca
Like..
Comment..
Vote**..
__ADS_1