
CUP
CUP
CUP
CUP
Empat kecupan mendarat di kening, kedua pipi dan bibir Ayunda, mengganggu aktivitas wanita itu yang tengah mengancingkan kemeja suaminya. Tangan Reyhan sendiri melingkar manja di pinggang Ayunda.
“Mas.. gimana kasus dengan pak Ahmad?”
“Alhamdulillah udah beres. Kemarin pak Ahmad nyabut tuntutannya. Dia bilang luka yang baru karena keteledorannya, bukan kesalahan saat operasi.”
“Oh Syukur deh. Akhirnya tuh orang sadar juga ya.”
“Hmm.. denger-denger kemarin dia didatengin Dewi Athena, makanya dia berubah pikiran, takut ngga bisa bernafas lagi.”
Ayunda memukul pelan lengan suaminya, namun tak ayal senyum terkulum di wajahnya. Ternyata gertakannya pada Ahmad membuahkan hasil.
“Makasih ya sayang. Kalau bukan karenamu, mungkin pak Ahmad masih bersikeras melakukan tuntutan.”
“Ngga usah berterima kasih. Aku kan istri mas, sudah seharusnya aku membantu mas. Lagi pula mas kan ngga salah. Itu semua kan akal bulusnya si burung hantu aja.”
“Udahlah ngga usah bahas orang itu, ngerusak mood aja. Oh iya, mas ada operasi siang ini jadi ngga bisa makan siang bareng kamu sayang.”
“Hmm.. aku juga sebenernya udah janjian sama Nara dan kak Iqis mau makan siang bareng. Boleh kan mas?”
“Boleh kok. Makan yang banyak ya, siapin tenaga buat nanti malam.”
“Dasar mesum. Emangnya yang tadi malem kurang apa?”
“Mas kan mau yang kaya gitu tiap malam biar cepat ada baby di sini.”
Reyhan mengusap perut istrinya. Ayunda melingkarkan tangannya ke leher Reyhan. Sambil berjinjit dia mencium bibir suaminya itu. Reyhan menahan tengkuk Ayunda, ciuman hangat langsung terjadi di antara mereka. Reyhan mengakhiri ciumannya kemudian mengambil dompet dari saku belakang celananya.
“Mas lupa aja mau kasih ini.”
Reyhan mengeluarkan tiga buah kartu lalu memberikannya pada Ayunda. Satu buah black card dengan saldo unlimited dan dua buah kartu debet platinum.
“Kartu kredit ini kamu aja yang pegang. Dan ini atm, satu berisi gaji dari rumah sakit, satu lagi gaji dari perusahaan. Dua-duanya kamu yang pegang. Kamu yang atur keuangan kita ya sayang.”
“Kalau dua kartu ini di aku, terus buat mas gimana?”
“Aku masih ada satu kartu lagi. Nanti setiap bulannya kamu transfer ke rekening itu.”
“Berapa?”
“Terserah kamu, yang penting cukup buat bensin sama uang saku selama sebulan.”
Ayunda mengambil dompet Reyhan lalu memeriksa isinya. Hanya ada lima lembar seratus ribuan di dalam dompet, ktp, sim, npwp, kartu asuransi, kartu kredit dengan limit terbatas dan kartu atm gold.
“Ini limitnya berapa?” Ayunda memegang kartu kredit berwarna hitam di tangannya.
“Hmm.. tiga puluh juta kalau ngga salah.”
“Aku bawa yang ini aja, yang unlimited di mas. Takutnya mas ada pertemuan dengan klien, kan malu kalau ngga cukup buat bayar-bayar.”
“Mas yang ini aja. Lagian kalau ada pertemuan dengan klien pasti mas ajak kamu. Nanti siang perginya sama Nara dan Bilqis aja?”
“Iya mas, kenapa?”
Reyhan tak menjawab, diambilnya ponsel Ayunda. Diutak-atiknya sebentar kemudian dihubungkan pada ponselnya. Setelah itu dia mengembalikan ponsel pada Ayunda.
“Ay.. kalau ada apa-apa, kamu press angka 1 agak lama. Nanti ponsel kamu langsung kirim lokasi kamu ke hp mas.”
“Ada apa-apa gimana?”
“Buat jaga-jaga aja sayang. Sekarang kan lagi muncul lagi tuh kawanan begal kapak merah. Inget ya.”
“Iya mas.”
“Mas berangkat dulu.”
Ayunda mengantar suaminya sampai di dekat mobil. Dia lalu mencium punggung tangan Reyhan yang dibalas dengan kecupan di kening. Reyhan masuk ke dalam mobil kemudian segera melaju. Ayunda tak langsung masuk ke dalam rumah. Dia memilih ke rumahnya untuk menengok Irzal sekaligus memberikan kabar gembira perihal pembatalan ke Munich.
🍁🍁🍁
Ketiga wanita yang belum lama melepas masa lajangnya terlihat duduk bersama di sebuah food court sambil menikmati makan siang. Terdengar celotehan dan cekikikan ketiganya. Mereka sedang asik membicarakan suami-suami mereka lengkap dengan aktivitas ranjangnya.
“Kalau bang Za orangnya kaya gimana sih kak? Kan kalau biasanya gayanya cuek, ngomongnya suka ceplas-ceplos, ngga jauh beda sama bang Gara deh.”
“Iya dia emang gitu orangnya santai. Beda sama bang Zi yang serius. Tapi kalau udah ngomongin hal penting, dia serius banget. Terus kalau dia ngelarang sesuatu terus aku ngga nurut, langsung deh tanduknya keluar.”
“Berarti bang Gara doang ya yang asoy geboy.”
“Kata siapa? Dia tuh galak tahu aslinya.”
“Serius?” tanya Ayunda dan Bilqis bersamaan.
“Serius.. galak di ranjang maksudnya hahaha...”
__ADS_1
“Dasar kampret.”
Nara tak bisa berhenti tertawa seraya memegangi perutnya. Puas sekali melihat wajah-wajah dongkol milik Ayunda dan Bilqis. Dia mengakhiri tawanya, berdehem beberapa kali kemudian memulai lagi wajah seriusnya.
“Kalau kak Rey gimana? Dia kan kalem tuh orangnya, kalau di ranjang gimana Yun? Kalem juga ngga?”
“Mas Rey tuh kaya cicak. Diam-diam merayap terus memanjat abis itu melahap.”
“Jadi 3 M dong, Merayap, Memanjat dan Melahap.”
Kembali terdengar tawa ketiganya, membuat beberapa orang yang duduk dekat mereka memalingkan wajah pada ketiganya. Pembicaraan mesum terus berlanjut, diam-diam mereka saling mempelajari gaya bercinta masing-masing pasangan.
Di tengah-tengah perbincangan Ayunda melihat Ara dengan seorang pemuda berdiri di depan food court. Ayuna menyipitkan matanya memastikan gadis yang memakai celana jeans pendek dengan tanktop bertali warna putih yang mencetak jelas dadanya dilapisi kemeja kotak-kotak yang tak dikancingkan adalah Ara.
“Eh itu Ara kan?”
Ayunda bertanya pada yang lain untuk meyakinkannya. Bilqis dan Nara kompak menoleh ke arah yang ditunjukkan Ayunda. Mereka ternganga melihat penampilan Ara yang cukup berani.
“Buset si Ara kesambet setan apaan. Berani amat tuh anak pake baju kaya gitu.”
“Itu bukannya Yama yang pernah diceritain om Dimas? Om Dimas kan ngga suka sama dia. Lihat aja dari gayanya begajulan gitu,” timpal Bilqis.
“Lihat tuh anting yang dipake, udah kaya anting penyanyi dangdut.”
Nara tergelak sendiri melihat anting panjang sekitar tiga senti yang menjuntai di telinga Yama. Karuan Ayunda dan Bilqis ikut tertawa.
“Samperin si Ara, gue ngga rela dia jalan sama tuh curut satu,” tukas Nara.
“Ngga bakalan nurut sama kita mah. Telpon aja pawangnya,” usul Bilqis. Ayunda segera mengambil ponselnya.
“Eh tapi lo jangan telepon mas El atau om Dimas. Kasihan juga sama Ara.”
“Tenang aja. Kalau mas El yang mergokin bisa digundulin tuh si Ara. Kalau om Dimas, bakal langsung dikirim ke pesantren. Jadi gue kasih tahu bang Farel aja. Dia yang paling manusiawi di antara mereka bertiga.”
Dengan gerakan super kilat Ayunda mengetikkan pesan pada Farel. Nara dan Bilqis terus mengawasi Ara dan Yama. Jangan sampai mereka kehilangan jejak dua ABG labil itu.
To Bang Farel :
S.O.S Ara lagi ama Yama di food court The Ocean. Buruan ke sini sebelum target menghilang!!!
Pesan terkirim pada Farel. Beruntung pria itu sedang online hingga pesan langsung terbaca. Ara dan Yama masih berdiri di dekat food court. Tak lama kemudian keduanya beranjak menuju bioskop yang letaknya tak jauh dari food court. Ayunda, Bilqis dan Nara bergegas mengikuti.
Setelah membaca pesan dari Ayunda, Farel bergegas menuju mall The Ocean. Dia baru saja selesai meeting dengan Firlan. Jadi tak butuh waktu lama untuk sampai di mall yang letaknya bersebelahan dengan gedung kantor Gala Corp.
Ayunda lagi-lagi mengirimkan pesan kalau sekarang Ara dan Yama sudah berpindah ke bioskop. Dengan langkah panjang Farel menuju eskalator. Dia tetap menapaki anak tangga walau yang dinaikinya adalah tangga berjalan.
Selesai membeli tiket dan popcorn, Yama meminta Ara masuk lebih dulu ke dalam bioskop. Sedang dirinya akan ke toilet lebih dulu sekaligus membeli minuman untuk mereka. Tanpa curiga Ara menurut saja. Gadis itu segera masuk ke dalam studio.
Yama mengantri di counter minuman. Setelah mendapatkan dua gelas minuman bersoda, dia beranjak menuju sudut ruangan. Diletakkan minuman di salah satu kursi, kemudian tangannya mengambil bungkusan kecil dari saku celananya. Dimasukkannya bubuk tersebut ke dalam salah satu minuman kemudian dikoceknya menggunakan sedotan. Yama mengambil gelas tersebut kemudian berbalik.
“Saya sudah peringatkan kamu untuk menjauhi Ara. Tapi sepertinya kamu menganggap peringatan saya seperti angin lalu.”
“Maaf bang.. tapi saya mencintai Ara.”
“Cih.. cinta kamu bilang? Kalau kamu cinta ngga mungkin kamu meminta Ara melakukan hal yang tidak diinginkannya. Berpakaian seksi, mengajaknya berenang di private pool, ke night club. Lalu ini, apa yang sudah kamu masukan ke dalam minuman ini?”
“Bukan apa-apa bang, cuma gula.”
“Kamu mau bodohin saya hah? Buat apa minuman bersoda ditambah gula lagi? Kamu mau bikin Ara kena diabetes?”
Yama menelan ludahnya kelat. Ternyata aksinya memasukkan bubuk obat perangsang tertangkap oleh Farel.
“Kamu jangan menguji kesabaran saya. Tinggalkan Ara atau saya akan membuatmu menyesal.”
“Hak saya dong mau dekat sama Ara. Lagian Ara juga cinta sama saya. Kalau saya ngga mau gimana?”
“Saya akan buat Ara menyadari siapa kamu sebenarnya. Dan saya bisa membuatmu dikeluarkan dari sekolah dan tidak diterima di sekolah manapun. Kalau perlu saya akan membuat usaha ayahmu gulung tikar. Jadi pikirkan baik-baik, tinggalkan Ara atau saya akan membuatmu dan keluargamu sengsara. Pergi kamu!”
Tak ingin membuat masalah dengan Farel, Yama memilih untuk pergi. Namun sebelum pergi, dia sempat menyunggingkan senyum licik. Sepertinya ada yang direncanakan oleh anak ingusan itu.
Farel terus memperhatikan Yama sampai pemuda tanggung itu keluar dari area bioskop. Kemudian dia menghampiri Ayunda dan yang lainnya yang berdiri tak jauh dari pintu masuk bioskop.
“Yun, tolong kasih ke Rey. Suruh dia uji minuman ini apa ada kandungan zat berbahaya di dalamnya. Aku curiga dia masukin obat perangsang di sini.”
“Biar aku aja bang. Abis dari sini aku mau ke rumah sakit, ketemu papa,” Nara mengambil gelas minuman dari Farel.
“Ara mana?”
“Ara udah masuk duluan bang ke studio.”
“Ya udah, abang susul Ara dulu. Kalian kalau udah beres langsung pulang. Jangan terlalu sore atau malam, sekarang bahaya di jalanan.”
“Iya bang,” jawab ketiganya kompak.
Ayunda, Bilqis dan Nara langsung membubarkan diri. Bilqis kembali ke L’amour, Nara ke rumah sakit sedang Ayunda langsung pulang. Sepeninggal ketiga wanita itu, Farel menuju tempat pembelian tiket. Tak lama dia bergegas masuk ke dalam studio.
Saat masuk ke dalam studio, lampu belum dipadamkan. Jadi Farel dengan mudah mencari keberadaan Ara. Dia berjalan menuju deretan paling atas. Ara terlihat duduk di bagian paling ujung sambil menikmati popcorn-nya. Farel mendekat kemudian menghempaskan bokongnya di kursi sebelah Ara, membuat gadis itu terkejut.
“Bang Farel ngapain di sini?”
“Nonton.”
__ADS_1
“Tapi kenapa duduknya di sini? Ini kan kursinya Yama.”
“Si Yama pulang, katanya dia diare jadi ngga bisa ikut nonton.”
“Bohong.”
“Terserah kalau ngga percaya.”
Farel duduk santai di kursinya. Dengan tenang tangannya meraup popcorn di tangan Ara kemudian memasukkannya ke dalam mulut. Ara terlihat dongkol sekali. Dia menyerahkan bucket Popcorn pada Farel kemudian pergi. Farel langsung mengikutinya. Bucket popcorn yang masih penuh itu diberikan pada salah satu penonton yang duduk di kursi yang dilewatinya.
“Mau kemana kamu?” tanya Farel sambil terus mengikuti langkah Ara dari belakang.
“Pulang!!”
Farel menyusul Ara kemudian menarik tangan Ara menuju departemen store. Beberapa kali Ara mencoba melepaskan diri namun gagal. Farel terus menarik tangan Ara melewati deretan pakaian yang terpajang kemudian berhenti di depan pakaian wanita.
“Cepet pilih baju yang pantas!”
“Ngga mau!!”
“Kamu mau bikin papa marah lihat penampilan kamu kaya gini hah?”
Mengingat Dimas, Ara segera melakukan apa yang diperintahkan Farel. Dengan asal dia mengambil sebuah dress selutut kemudian menyerahkannya pada Farel.
“Ngga dicoba dulu?”
“Ngga usah! Cepetan bayar!”
Farel segera menuju kasir. Setelah membayar, dia meminta Ara untuk berganti pakaian. Dengan wajah ditekuk Ara menuju toilet. Lima menit kemudian dia keluar mengenakan dress yang dipilihnya tadi. Tawa Farel meledak melihat pakaian yang dikenakan Ara.
“Kenapa ketawa? Ngga lucu tahu!”
“Ra, tadi pas ganti baju kamu ngga ngaca apa?”
“Emang kenapa?”
“Ngaca dulu sana.”
Walau enggan, Ara masuk kembali ke dalam toilet. Dia tercengang melihat pantulan dirinya di cermin. Ternyata pakaian yang diambilnya adalah pakaian untuk ibu hamil. Bagian perutnya terlihat sangat longgar. Tubuh kecil Ara tenggelam dalam baju yang dipakainya. Sialnya ukuran XL yang diambilnya.
Ara keluar dari toilet dengan wajah cemberut. Farel kembali tertawa melihatnya. Tapi kemudian tawanya hilang begitu melihat Ara menangis.
“Hiks.. hiks.. bang Farel jahat ngetawain aku terus. Aku ngga mau pake baju ini, udah kaya ondel-ondel.”
“Ya udah beli baju lagi aja,” Farel berusaha menahan tawanya.
“Ayo.”
Ara berjalan di belakang Farel, dipeganginya kemeja Farel. Wajahnya tertunduk, malu rasanya bersitatap dengan orang-orang yang berpapasan dengannya. Sesampainya di toko pakaian. Ara melepaskan pegangannya kemudian mulai memilih-milih baju. Bukan hanya satu, tapi dia mengambil tiga buah dress sekaligus ditambah sepatu. Anggap saja ini pembalasan Ara pada Farel yang sudah menertawakannya.
Usai berbelanja dan mengganti pakaiannya lagi, Farel mengantar Ara pulang. Sepanjang perjalanan gadis itu masih dengan mode ngambeknya. Farel sendiri terlihat tak peduli. Dia hanya menatap lurus ke depan sambil mengemudikan mobilnya.
🍁🍁🍁
“Assalamu’alaikum,” terdengar suara Reyhan dari seberang menjawab panggilan Ayunda.
“Waalaikumsalam.”
“Di mana Ayang?”
“Lagi di jalan mau pulang. Mas Rey di mana?”
“Baru keluar dari rumah sakit. Mau langsung pulang.”
“Ketemu di rumah ya. Mas Rey mau makan apa buat nanti malam? Nanti aku masakin.”
“Apa aja yang kamu masak pasti mas makan.”
“Racun mau?”
“Racun cinta kamu pasti maulah.”
“Dasar gombal,” terdengar tawa Reyhan.
“Udah dulu ya mas. Sampai ketemu di rumah. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Ayunda mengakhiri panggilannya karena tidak baik menelpon sambil berkendara. Jalanan di sore hari ini cukup lengang, mungkin karena dia mengambil jalan pintas yang jarang dilalui kendaraan. Tiba-tiba sebuah Avanza menyalip mobilnya kemudian berhenti beberapa meter di depan menghalangi jalannya. Ayunda mengerem mobilnya kuat-kuat demi menghindari tabrakan.
CIIIIITTTT
Kepala Ayunda hampir saja terantuk kemudi. Dia menatap kesal mobil di depannya. Kemudian dari mobil tersebut turun tiga orang laki-laki berwajah seram. Tangan mereka dipenuhi tato. Salah satu di antara mereka memegang kapak dengan gagang berwarna merah. Kelima pria itu berjalan mendekati mobilnya.
🍁🍁🍁
**Ternyata kang dokter itu punya moto 3M kaya kampanye demam berdarah🤣
Makanya Ara kalau beli baju dilihat dulu jangan asal samber aja.
Mudah²an ngga terjadi apa² sama Yunda ya.
__ADS_1
Ini up terakhir buat hari ini tapi panjang loh, 2000 kata lebih😎
Jadi tinggalin jejaknya juga jangan males ya😉**