Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 2 : BITTER SWEET ROMANCE Berubah


__ADS_3

Rain memasukkan belanjaannya ke dalam kulkas. Dia baru saja belanja untuk keperluan seminggu, supaya tidak bolak balik ke pasar. Terdengar suara digit kunci digital pintu ditekan seseorang. Tak lama Akhtar masuk lalu menuju ruang kerjanya. Rain melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul lima lebih dua puluh menit. Suatu hal yang baru terjadi, karena biasanya Akhtar pulang di atas jam sepuluh malam.


Tanpa mempedulikan suaminya, Rain meneruskan aktivitasnya di dapur untuk memasak makan malam. Dia malas berhadapan dengan Akhtar setelah melihatnya berduaan dengan Chalissa siang tadi. Akhtar keluar dari ruang kerja lalu masuk ke kamar. Namun tak lama kemudian keluar lagi.


“Rain, tolong siapkan bajuku.”


Akhtar kembali ke kamar lalu masuk ke kamar mandi. Rain tak langsung melaksanakan perintah suaminya. Diselesaikannya dulu tumisannya baru kemudian masuk ke kamar. Dia mengambil pakaian santai untuk suaminya termasuk pakaian dalamnya kemudian diletakkan di atas kasur.


Pintu kamar mandi terbuka, Akhtar keluar hanya berbalut handuk yang membelit di pinggangnya. Rain memalingkan wajahnya, rasanya malu melihat Akhtar dalam keadaan setengah telanjang seperti itu. Walaupun mereka sudah menikah hampir dua minggu lamanya namun belum pernah keduanya memperlihatkan bagian tubuh masing-masing.


Rain bergegas keluar dari kamar. Mengetahui istrinya malu melihat dirinya, Akhtar hanya tersenyum simpul. Selesai berpakaian Akhtar keluar lalu menuju dapur. Mencium harum masakan dari arah dapur membuat kakinya melangkah ke sana. Terlihat Rain sedang berkutat di depan kompor.


Akhtar meneguk ludahnya kasar melihat istrinya dari belakang. Rambut Rain yang dicepol memperlihatkan leher jenjangnya. Ditambah pakaian yang dikenakannya memperlihatkan bagian bahunya. Tanpa sadar Akhtar mendekati Rain. Matanya terus tertuju pada leher dan bahu sang istri.


CUP


Rain terjengit merasakan kecupan di bahunya. Refleks dia membalikkan tubuhnya. Dadanya membentur dada bidang Akhtar yang ternyata berada begitu dekat di belakangnya.


“Masak apa?”


“A.. ayam kecap.”


“Pantes, harum.”


“Udah mateng?”


“Udah.”


Akhtar semakin mendekatkan tubuhnya kemudian tangannya terulur memutar kenop kompor hingga apinya mati. Kini matanya tertuju pada Rain, menatapnya dengan penuh kelembutan. Dada Rain berdebar mendapat tatapan yang begitu intens dari suaminya. Akhtar mendekatkan wajahnya kemudian


CUP


Sebuah kecupan mendarat di bibir ranum Rain. Mata Rain membelalak saking terkejutnya. Pipinya pun nampak merona. Akhtar semakin gemas melihatnya. Kemudian tangannya melingkari pinggang istrinya. Rain benar-benar dibuat bingung oleh sikap suaminya yang tak seperti biasanya. Tapi kemudian bayangan Chalissa memeluk lengan Akhtar kembali melintas. Dengan gerakan pelan Rain mendorong tubuh suaminya lalu melepaskan diri dari pelukannya.


“Aku mau mindahin dulu makanan. Kakak tunggu aja di meja makan.”


“Nanti aja habis maghrib makannya. Sebentar lagi maghrib, cepat bereskan masakanmu. Aku tunggu di kamar untuk shalat berjamaah.”


CUP


Akhtar kembali mengecup bibir Rain membuat gadis itu terpaku cukup lama. Bahkan dia tak menyadari kalau Akhtar sudah tak ada lagi di depannya. Terdengar suara adzan dari ponselnya menarik kesadarannya kembali. Bergegas Rain menata makanan di meja makan kemudian masuk ke dalam kamar.


Dua buah sajadah sudah tergelar di lantai. Akhtar juga sudah siap dengan baju koko dan kopeahnya. Rain masuk ke kamar mandi untuk berwudhu, tak lama dia keluar. Untuk pertama kalinya pasangan suami istri itu menunaikan shalat berjamaah. Hati Rain bergetar mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an dari bibir suaminya ketika memimpin shalat.


Malam ini Rain merasakan hal yang berbeda dari suaminya. Setelah shalat bersama dilanjut dengan makan malam. Bahkan mereka berbincang cukup lama sambil menunggu waktu isya. Akhtar menanyakan tentang kuliah dan aktivitasnya di L’amour. Dia juga menceritakan kondisi perusahaan yang sudah mulai stabil. Ketika adzan isya terdengar, Akhtar segera mengajak sang istri untuk shalat berjamaah.

__ADS_1


Cukup lama juga Akhtar berkutat di ruang kerjanya menyelesaikan pekerjaan yang masih tersisa. Selesai dengan pekerjaannya dia keluar lalu mencari keberadaan istrinya. Setelah pertemuan dengan sang mama tadi siang, dia memutuskan untuk memulai kehidupan pernikahannya dengan sang istri layaknya pasangan normal lainnya.


Flashback On


Akhtar dan Chalissa memasuki restoran tempat mereka biasa makan siang seminggu terakhir ini. Chalissa yang selalu mengancam akan mogok makan membuat Akhtar terpaksa mengabulkan keinginannya untuk makan bersama.


Tanpa diduga, mama Akhtar, Disty juga ada di sana. Dengan langkah santai Disty menghampiri meja mereka lalu duduk berhadapan.


"Maaf Lissa, apa mama boleh bicara berdua dengan anak mama?"


"Iya, silahkan ma."


Walau kesal Chalissa terpaksa pindah ke meja lain, membiarkan ibu dan anak itu berbicara. Disty memandangi anaknya sejenak sebelum mulai berbicara


"Nak, apa kamu tidak bahagia dengan rumah tanggamu?"


"Maksud nama?"


"Kenapa kamu lebih senang makan bersama perempuan yg bukan muhrimmu dari pada dengan istrimu sendiri?"


Akhtar terdiam, ucapan mamanya begitu menyentil perasaannya.


"Kamu tahu nak, ternyata mama dan Rain itu bernasib sama. Kita sama-sama menikahi pria yang tidak mencintai kita. Tapi setidaknya papamu menjalani pernikahan dengan sungguh-sungguh. Dia menunaikan kewajibannya sebagai suami, bahkan dia juga sangat menyayangimu yang bukan darah dagingnya. Tak pernah sekalipun dia berkhianat dengan wanita manapun selama menikah dengan mama.


Flashback Off


Terdengar suara tawa Rain dari arah balkon ketika Akhtar masuk ke dalam kamarnya. Ditajamkan telinganya, mencari tahu dengan siapa istrinya berbicara. Tangannya terkepal begitu terdengar kata ‘el’ keluar dari mulut Rain. Hatinya mendadak panas, rasanya tak terima melihat istrinya berbicara sambil tertawa dengan Elang. Dia berdehem cukup keras membuat Rain tersadar dan mengakhiri panggilannya.


“Habis telepon siapa?” cecar Akhtar begitu Rain memasuki kamar.


“El.”


“Kamu punya hubungan apa sama El?”


Rain melihat Akhtar dengan pandangan aneh. Menanyakan kembali hubungannya dengan Elang di saat dia sudah menjadi istri sahnya.


“Jawab Rain! Apa hubunganmu dengan Elang?”


“Kakak tahu sendiri apa hubunganku dengan Elang.”


“Kamu harus ingat Rain, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri. Apa pantas seorang perempuan yang sudah bersuami melakukan panggilan telepon dengan lelaki yang bukan muhrimnya dalam waktu lama?”


“Kami hanya membicarakan pekerjaan. Elang cuma menanyakan temannya yang akan menikah menggunakan jasa L’amour, hanya itu.”


“Tapi kamu terlihat bahagia sekali sampai tertawa seperti itu.”

__ADS_1


“Ada apa denganmu kak?”


“Ada apa? Hakku sebagai suami menegurmu Rain. Apa yang kamu lakukan tadi tidak pantas.”


“Aku hanya berbicara via telepon dan membicarakan bisnis, tapi kakak sudah semarah ini. Lalu bagaimana dengan kakak? Apa pantas seorang laki-laki yang sudah beristri makan siang berdua dengan perempuan lain dan membiarkan perempuan itu memeluk lengannya?”


Akhtar terkesiap, seketika lidahnya menjadi kelu. Sepertinya Rain melihatnya bersama dengan Chalissa tadi siang.


“Sudah berapa kali kakak bertemu dengannya, makan berdua dengannya? Atau jangan-jangan selama ini kakak tidak pernah makan di rumah karena kakak selalu makan dengannya, iya?!”


“Maafkan aku Rain. Aku melakukannya karena Chalissa masih sakit, dia tidak mau makan kalau tidak denganku.”


“Kakak menolakku ketika aku ingin melakukan kewajibanku sebagai istri. Tapi kakak tidak bisa menolak mantan pacar kakak karena tidak tega. Ternyata aku ngga lebih berharga dari kak Lissa. Kakak lebih memilih mengecewakanku yang telah halal untukmu dan memilih perempuan lain yang haram untukmu.”


Rain membalikkan tubuhnya, rasa kecewa yang disimpannya sejak awal mereka menikah akhirnya keluar sudah. Dia berjalan keluar kamar karena tak ingin menangis di hadapan suaminya. Namun Akhtar berhasil menahan langkahnya. Dengan cepat dia memeluk tubuh Rain dari belakang.


“Maaf.. maafkan aku. Tolong beri aku kesempatan untuk memulainya dari awal. Aku tidak akan menemui Lissa lagi. Tadi siang adalah yang terakhir kalinya, aku mohon Rain.”


Akhtar mempererat pelukannya. Airmata yang sedari tadi ditahannya akhirnya meluncur juga mengenai tangan Akhtar yang tengah memeluk bahunya. Akhtar membalikkan tubuh Rain lalu menghapus airmata di wajah cantik itu dengan jari-jarinya. Ditariknya Rain ke dalam pelukannya. Perlahan tangannya mengusap punggung istrinya yang bergetar karena tangisannya. Rasa bersalah menyeruak ke dalam dadanya.


“Maaf...”


Akhtar mengurai pelukannya, dihapusnya kembali buliran bening yang terus membasahi pipi Rain. Kemudian diciumnya kening dan kedua mata istrinya dengan lembut. Hati Rain menghangat mendapat perlakuan manis dari suaminya.


“Ternyata benar ya kata Elang kalau kamu itu cengeng,” kekeh Akhtar. Rain memukul lengan suaminya. Akhtar menyatukan kening mereka.


“Maaf Rain.. maafkan aku.. apa kamu mau memaafkanku?”


Rain mengangguk pelan. Perlahan Akhtar menyatukan bibir mereka. Dia menyesap bibir Rain dengan begitu lembut. Akhtar tahu kalau ini adalah ciuman pertama istrinya. Dia ingin Rain merasakan ciumannya yang lembut dan mesra bukan ciuman penuh nafsu. Rain mulai membalas ciuman Akhtar walau masih terasa kaku.


“Sudah malam, kita tidur ya.”


🍁🍁🍁


**Hai readers tercinta, terima kasih ya atas doa kalian semua. Alhamdulillah keadaan mamake sudah lebih baik. Jadi mamake up hari ini. Tapi berhubung belum pulih benar, jadi cuma bisa up satu aja ya.


Gimana nih menurut kalian, apa ini awal kebahagiaan Rain?


Tetap dukung mamake ya..


Like..


Comment..


Vote**..

__ADS_1


__ADS_2