
Sena Pov
Namaku Sena, lengkapnya Sena Aletha Wiguna. Wiguna adalah nama belakang keluarga angkatku. Mereka adalah kerabat jauh dari kedua orang tuaku yang telah meninggal dunia saat aku berusia 12 tahun. Sejak saat itu aku tinggal bersama mereka di salah satu desa di daerah Cianjur.
Saat aku di kelas 10, aku berkenalan dengan senior yang baru saja pindah ke desaku. Namanya adalah Dashtan. Dia adalah seorang yang sangat tampan hingga banyak teman atau seniorku yang menyukainya, termasuk diriku.
Dari sekian banyak siswi cantik di sekolahku entah mengapa Dashtan malah memilihku. Dia mulai mendekatiku lebih dulu, membuatku cukup kesulitan menghadapi kejulidan para seniorku. Tapi peduli setan, aku pun menyukai Dashtan dan tak memperdulikan mereka semua.
Seiring berjalannya waktu kedekatan kami semakin bertambah dalam. Kami banyak menghabiskan waktu di luar maupun di dalam sekolah. Aku yang memang minim perhatian dari keluarga merasa sangat senang dengan kehadiran Dashtan. Semakin lama hubungan kami berkembang semakin jauh.
Hingga suatu hari Dashtan mengajakku berkunjung ke rumah neneknya. Di desa ini dia memang tinggal bersama sang nenek. Sedang kedua orang tuanya tinggal di Jakarta. Siang itu sepulang sekolah suasana rumah nenek Dashtan sangat sepi. Menurutnya, nenek sedang pergi ke kota untuk mengambil uang di bank.
Dashtan mengajakku ke kamarnya. Awalnya kami hanya berbincang sambil berbaring di kasur. Lama kelamaan, tangan Dashtan mulai merayap menyentuh tubuhku. Sejujurnya aku merasa risih, tapi karena rayuan gombal Dashtan, aku pun terbawa suasana. Hingga akhirnya kami melakukan hubungan terlarang untuk pertama kalinya. Aku menangis sejadinya, namun Dashtan berjanji akan bertangung jawab pada diriku dan aku pun percaya saja padanya.
Keesokan harinya Dashtan kembali melakukan hal yang sama, kali ini kami melakukannya di kamarku karena kebetulan keluargaku sedang pergi keluar kota. Bahkan kami melakukannya tidak hanya sekali tapi berkali-kali. Aku pun seperti kecanduan untuk melakukan lagi dan lagi dengannya. Hingga tak terasa sudah empat bulan lamanya kami melakukan hubungan intim tanpa pengaman sama sekali. Dan kami melakukannya hampir setiap hari. Bahkan beberapa kali melakukannya di gudang sekolah.
__ADS_1
Akhirnya petaka itu datang juga. Di hari terakhir ujian sekolah aku merasakan mual dan pusing yang luar biasa hebatnya hingga aku pingsan di dekat gerbang sekolah. Teman-temanku langsung membawaku ke puskesmas. Di sana dokter yang bertugas mengajak berbicara hanya berdua saja denganku dan mengatakan kalau aku tengah hamil 2 bulan. Duniaku seperti hancur, di usiaku yang baru saja 16 tahun sudah harus menanggung kehidupan lain di dalam perutku.
Dengan airmata berderai aku menemui Dashtan di rumah neneknya namun hanya kabar buruk yang kuterima. Selesai ujian nasional, Dashtan langsung dijemput kedua orang tuanya kembali ke Jakarta. Aku menangis sejadi-jadinya, nenek Dashtan yang bingung mencoba mengajakku berbicara tapi aku hanya mampu menutup mulutku rapat-rapat.
Tak ingin menjadi aib di keluargaku yang notabene tidak sepenuhnya menerima kehadiranku. Aku memutuskan untuk pergi dari rumah. Dengan berbekal uang tabungan dan beberapa perhiasan peninggalan almarhum ibu, aku pergi meninggalkan desaku menuju tempat lain untuk menyembunyikan kehamilanku dari orang-orang yang mengenalku. Tujuanku adalah Bandung. Aku bermaksud menemui salah satu keluarga jauh ibuku yang tinggal di kota kembang tersebut, teh Winda namanya.
Pertemuanku dengan teh Winda berlangsung mulus. Dengan mudah aku menemukan alamat tempat tinggalnya. Teh Winda juga orang yang ramah, sayang dia baru saja bercerai dengan suaminya karena pernikahan mereka tak direstui orang tua sang suami. Teh Winda merawatku hingga aku melahirkan bayi tampan yang kuberi nama Abimana Putra Aletha.
Berkat dukungan teh Winda aku mengikuti program kejar paket C dan berhasil mendapatkan ijazah SMA. Setelah itu aku juga didaftarkan untuk mengikuti kuliah D1 supaya nanti aku bisa bekerja di belakang meja bukan hanya sekedar menjadi office girl atau cleaning service. Tekadku untuk belajar begitu kuat, hingga akhirnya aku bisa mneyelesaikan studi hingga jenjang D3.
Anakku pun tumbuh menjadi anak yang tampan dan pintar. Dia selalu mendapatkan peringkat pertama di sekolahnya. Aku benar-benar bangga pada Abi sekaligus takut. Takut kalau keluarga Dashtan sampai mengetahui tentangnya, karena wajah Abi sangat mirip dengan Dashtan.
Tapi tiga tahun lalu, tepat setelah Abi berulang tahun ke tujuh teh Winda harus berpulang ke Rahmatullah setelah berjuang selama dua tahun lebih akibat penyakit kanker rahim. Usaha catering kami pun terpaksa tutup karena modalnya kami gunakan untuk berobat. Terkadang kang Bima membantu untuk biaya terapi tapi masih belum cukup. Hingga akhirnya takdir berkata lain.
Setelah kepergian teh Winda hanya tinggal aku dan Abi saja di rumah warisan teh Winda yang sebenarnya adalah rumah pemberian kang Bima. Aku pun mulai mencari pekerjaan, lewat bantuan kang Bima aku memperoleh pekerjaan di cafe Rembulan yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Sehari-hari aku meminta Nadya, salah satu tetanggaku yang baru lulus SMA untuk menjaga Abi. Hitung-hitung pekerjaan paruh waktu sebelum dia memperoleh pekerjaan.
__ADS_1
Kehadiran Nadya tentu saja sangat membantuku. Aku sedikit tenang meninggalkan Abi. Walau pada dasarnya Abi adalah anak yang mandiri, namun aku tetap takut meninggalkannya sendirian di rumah.
Tiga tahun kehidupan kami berjalan normal dan baik-baik saja. Nadya yang tak kunjung mendapatkan pekerjaan akhirnya secara tetap menjadi baby sitter untuk Abi. Tidak hanya menjaga, Nadya juga merangkap menjadi guru pribadi Abi untuk membantunya mengerjakan tugas sekolah. Dan aku tetap bekerja di cafe Rembulan, bahkan kini jabatanku sudah naik menjadi manajer cabang. Aku menangani cabang baru cafe Rembulan yang berdiri di sebrang salah satu rumah sakit ternama di kota Bandung ini. Rumah Sakit Internasional Pasundan.
Aku punya cukup banyak kenalan di rumah sakit itu selama setahun memegang cabang di sana. Salah satunya adalah dokter Fero. Dokter Fero adalah dokter anak yang pernah merawat Abi, karena Abi sempat mengalami alergi makanan laut. Abi tidak bisa memakan kerang, udang, cumi, kepiting dan sejenisnya. Tapi berkat terapi yang dilakukan dokter Fero keadaannya berangsur-angsur membaik.
Dokter Fero bersama teman-temannya sering menghabiskan waktu makan siangnya di cafe Rembulan. Sebagian besar dokter di sana memang menjadi pelanggan tetap cafe tempatku bekerja. Selain rasa makanan yang enak, cafeku dinilai cukup higienis ketika menyajikan makanan. Tak heran banyak dokter berkumpul di sana.
Hidupku yang datar dan normal berubah ketika aku mengenal salah satu teman seprofesi dokter Fero. Seorang dokter bedah yang baru saja dua bulan lalu pindah tugas ke rumah sakit internasional pasundan yang juga merupakan sahabat dokter Fero masa kuliah dulu. Dokter Arkhan namanya, pria dingin yang tak banyak bicara dan memiliki pandangan yang cukup menusuk jika melihatnya tetapi berwajah tampan. Harus kuakui dokter Arkhan bukan hanya tampan tapi sangat tampan. Kudengar banyak dokter dan suster yang tergila-gila padanya.
Kehadiran dokter Arkhan menjungkirbalikkan duniaku lewat penawarannya yang menurutku gila, sangat gila. Tapi anehnya aku tertarik dengan tawarannya, entah apa aku yang memang ikut dalam kegilaannya atau aku memang memiliki kebutuhan yang sama dengannya. Yang jelas, sejak kehadirannya hidupku sudah tidak sama lagi seperti dulu.
💮💮💮
Buat yang ikuti kelanjutannya, cuss aja ke apk Gonovel. Di sana sudah up sampai bab 20. Jangan takut, di sana juga gratis kok bacanya ngga harus buka gembok. Mamake tunggu ya.. Tapi ingat, novel ini khusus untuk area dewasa, buat yg masih jomblo and kinyis² mendingan melipir aja😁
__ADS_1