Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
BONCHAP : ALL FAMILY Selamat Tinggal


__ADS_3

Seminggu setelah Adit dan Debby pulang dari Guangzhou, mereka jatuh sakit. Gara dan Nara langsung melarikan keduanya ke rumah sakit. Menurut hasil pemeriksaan, mereka terkena virus mematikan yang menyerang sistem saraf otak. Virus ini berkembang cepat menyerang berbagai organ penting dalam tubuh. Usia Adit dan Debby yang sudah berumur memperparah keadaan mereka.


Saat masuk ke rumah sakit, keadaan Adit sudah koma. Pria itu langsung dirawat di ICU, sedang Debby di ruang perawatan biasa. Namun kondisi Debby memburuk dengan cepat. Sarah terus berada di samping sahabatnya itu. Menceritakan banyak hal untuk membuat sahabatnya terus bertahan.


Namun takdir berkata lain. Setelah dua minggu berjuang, akhirnya Debby menghembuskan nafas terakhirnya. Gara dan Hanin tak dapat menahan tangisnya. Tapi mereka tetap mencoba mengikhlaskannya. Setidaknya di akhir hidup sang mama, mereka terus berada di sampingnya. Yang membuat Gara sedih, kepergian sang mama tidak diketahui oleh Adit. Papanya itu masih saja terbaring koma.


Dua bulan sudah Adit dirawat di ruang intensif. Tak ada tanda-tanda kemajuan yang ditunjukkannya. Ega benar-benar sedih melihat kakak sekaligus sahabatnya itu. Bahkan saat setahun lalu Tombak meninggal dunia, perasaannya tidak sesedih ini. Ikatan dirinya dengan Adit memang lebih kuat.


Seminggu terakhir, kondisi Adit terus mengalami penurunan. Satu perlu organ tubuhnya berhenti bekerja. Hanya alat medis yang melekat di tubuhnya saja yang masih menunjangnya tetap hidup sampai sekarang.


Gara terbangun dari tidurnya dengan nafas tersengal. Keringat membasahi kaos yang dikenakannya. Dia turun dari ranjang lalu beranjak ke dapur untuk membasahi kerongkongannya.


Gara termenung di depan meja makan mengingat mimpinya barusan. Sudah tiga hari berturut-turut dia selalu bermimpi hal yang sama. Adit mendatanginya dan memintanya melepaskan alat penunjang hidupnya. Awalnya Gara mengabaikan mimpi itu karena dianggapnya hanya sebagai bunga tidur. Dia juga beranggapan mimpinya hanyalah manifestasi ketakutannya akan kondisi sang papa.


Tapi keesokan harinya dia kembali bermimpi hal yang sama. Dan malam ini, mimpi yang sama kembali terulang bahkan terasa begitu nyata. Adit menangis meminta Gara merelakan kepergiannya.


“Gara.. papa mohon relakan papa. Bebaskan papa dari penderitaan ini. Papa ingin segera menyusul mamamu. Papa yakin kamu bisa menjaga Hanin dengan baik. Sampaikan salam papa untuk papimu dan mama Sarah. Peluk cium papa untuk Desta, Disti, Alya dan Alan. Katakan juga pada Elang, Farel, Ilan, Ily, Ziel, Yunda, Rey, Kia, Rain, Akhtar, Yoshi, Dimas, Rena, Iqis, Zahran dan Fikry kalau papa menyayangi mereka. maaf kalau papa tidak bisa berpamitan secara langsung.”


Gara menangis mengingat kembali perkataan sang papa di mimpinya tadi. Nara yang terbangun karena menyadari tak adanya keberadaan sang suami di sisinya segera menyusul keluar. Dia terkejut melihat Gara sedang menangis tersedu.


“Bang.. abang kenapa?”


“Papa Ra. Sudah tiga kali abang mimpi papa minta dibebaskan.”


Gara tak melanjutkan kata-katanya, dia kembali menangis. Nara memeluk suaminya itu. Matanya juga nampak berkaca-kaca.


🍁🍁🍁


Keesokan harinya Gara bertemu dengan Ega, Sarah, Dimas dan Rena. Dia menceritakan mimpi yang dialaminya tiga hari berturut-turut. Awalnya Ega menolak tegas rencana Gara. Namun Sarah membujuknya. Dokter pun sudah mengatakan kalau sudah tidak ada harapan hidup untuk Adit. Akhirnya setelah dipertimbangkan secara matang. Gara menanda tangani surat pernyataan mencabut semua alat medis penunjang hidup papanya.


Disaksikan seluruh keluarga besar. Satu per satu alat yang menempel pada tubuh Adit dilepaskan. Mata tua Ega tak henti mengeluarkan buliran bening. Sekali lagi dia harus mengikhlaskan kepergian orang yang disayanginya.


Adit dimakamkan di samping makam Debby. Sarah menatap sendu pada makam para sahabatnya. Alea, Poppy, Debby, telah meninggalkannya lebih dulu. Kini hanya dirinya dan Ega yang tersisa. Kemudian dia menatap makam sang suami. Ruang kosong di sebelah makam Regan sudah disiapkan untuknya.


Hari beranjak sore ketika semua yang mengantarkan kepergian Adit meninggalkan area pemakaman tersebut. Langit seakan turut berduka melepaskan pria itu kembali ke haribaan-Nya. Hanin terus menangis dalam pelukan suaminya. Firlan berusaha menenangkan sang istri. Takut kalau Hanin kembali drop. Kondisinya memang belum pulih pasca melahirkan seminggu yang lalu.


🍁🍁🍁


Seiring bertambahnya umur kondisi fisik Sarah mulai menurun. Perlahan tubuhnya mulai digerogoti penyakit. Ditambah kepergian sang sahabat semakin memperburuk keadaannya. Sarah lebih banyak menghabiskan waktunya di kasur. Rain dan Ayunda bergantian merawatnya.


Dua bulan pasca meninggalnya Adit, Sarah pun menyerah dengan hidupnya. Di pagi yang tenang ini, Reyhan terkejut mendapati Sarah yang terbaring dengan tatapan kosong. Sebagian tubuhnya sudah terasa dingin. Dia langsung saja menghubungi semua sahabatnya, tak lupa Ega, Dimas dan Rena.


“Kak.. aku mohon bertahanlah. Kalau kakak pergi juga, aku sama siapa?”


Ega menangis di samping Sarah yang sama sekali tak meresponnya. Matanya hanya menatap lurus ke arah pintu masuk. Rain, Akhtar, Reyhan dan Ayunda juga terus mengajaknya bicara namun tak ada respon sama sekali.


Semakin lama, nafas Sarah terdengar semakin berat. Elang meminta Reyhan untuk membimbing sang mama. Reyhan mendekat pada Sarah lalu membisikkan dua kalimat syahadat di telinga. Walau lambat, namun Sarah dapat menyelesaikannya dengan baik. Setelah itu tangannya terangkat seolah sedang menunggu seseorang menggandeng tangannya.

__ADS_1


Dalam pandangan Sarah, Regan masuk dari arah pintu. Dia menuggu sang istri di ujung ranjang. Senyum Sarah mengembang, matanya terus menatap ke arah suami yang begitu dirindukannya. Suami yang telah meninggalkannya selama enam tahun.


“Sayang.. ayo.. waktumu sudah tiba.”


“Mas.. maaf sudah membuatmu menunggu lagi.”


“Tidak masalah. Aku memang ditakdirkan untuk menunggumu.”


Regan mengulurkan tangannya, Sarah menyambutnya. Bertepatan dengan itu tangan Sarah jatuh terkulai, dia menutup mata untuk selamanya. Meninggalkan anak, menantu dan cucunya. Memenuhi panggilan Ilahi yang menjemputnya melalui sang suami.


Tangis Rain, Reyhan dan Ayunda langsung tumpah. Reyhan bahkan terus memeluk sang mama sambil tersedu. Rasanya dia masih belum puas mengurus sang mama. Ingin rasanya dia diberi kesempatan lebih lama lagi untuk berbakti pada ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya.


🍁🍁🍁


Sepeninggal Sarah, Ega benar-benar merasa kesepian. Semua kakak dan sahabat sudah meninggalkannya. Hanya anak dan cucunya yang membuatnya tetap bersemangat sampai sekarang. Setidaknya sebelum ajal menjemput, dia ingin menunaikan janjinya kepada semua yang telah berpulang.


Dimas pun lebih sering menemaninya sekarang di rumah. Dia kerap memasakkan masakan kesukaan mertuanya itu. Kadang mereka bermain catur bersama atau membantu mengurus Cakra, anak Firlan yang baru berusia enam bulan.


“Dim.. abang mau tidur dulu ya.”


“Iya bang.”


Ega memang lebih senang dipanggil abang oleh Dimas. Seperti panggilan menantunya itu sebelum menikahi anaknya, Firly. Ega berbaring di kasur, akhir-akhir ini tubuhnya cepat sekali lelah. Tak lama dia pun mulai masuk ke alam mimpi.


“Bi.”


Ega membuka matanya mendengar suara yang begitu dirindukannya. Nampak Alea duduk di sisi ranjang. Senyum mengembang di wajah cantiknya.


“Iya.. ayo bangun. Ada yang mau menemuimu.”


Alea menarik tangan Ega hingga terbangun dari tidurnya. Dia terus mengikuti langkah sang istri sampai di ruang tengah. Ega terkejut melihat mamanya, Santi berada di sana.


“Mama..”


Ega segera menghambur ke arah sang mama. Santi memeluk anak bungsunya ini dengan erat, lalu mengajaknya duduk di sofa. Tak lama muncul Regan, Sarah, Irzal, Poppy, Nino, Adit dan Debby. Mereka duduk memenuhi ruang keluarga tersebut.


“Kalian semua di sini?”


“Iya Ga. Maaf kalau kami sudah meninggalkanmu lebih dulu,” Regan.


“Maaf kalau kemarin aku ngga sempat berpamitan langsung padamu,” Adit.


“Kamu merindukan kami Ga?” Nino.


“Tentu saja. Aku kesepian, kalian meninggalkanku satu per satu.”


“Maaf Ga. Tapi aku bangga padamu bisa bertahan sejauh ini. Terima kasih karena kamu sudah menjaga anak-anak dengan baik,” Irzal.

__ADS_1


“Kita semua ke sini mau menjemputmu bi. Sudah waktunya kamu pergi bersama kami.”


“Benar sayang? Aku bisa berkumpul dengan kalian lagi?”


Semua yang ada di ruangan sana hanya menganggukkan kepalanya. Senyum terbit di wajah Ega. Sudah lama sekali dia menantikan hal seperti ini.


“Sekarang bangunlah lalu berpamitan pada anak-anak.”


Alea mencium kening suaminya. Seketika mata Ega terbuka, dia terkejut melihat Rena, Dimas dan semua anak-anaknya sudah berkumpul di dekatnya.


“Pi.. papi akhirnya papi bangun juga,” Azriel langsung menghambur ke arahnya.


“Memang berapa lama papi tidur?”


“Dua hari pi,” jawab Reyhan.


Ega tak percaya, rasanya baru saja dia memejamkan matanya. Dia juga hanya berbincang sebentar dengan mama, istri dan sahabat-sahabatnya. Dilihatnya Firly juga Hanin sudah bersimbah airmata. Ega mengarahkan pandangannya pada yang lain lalu tersenyum.


“Kalian semua sudah besar sekarang. Papi sudah tenang sekarang. Ijinkan papi pergi sekarang ya. Nenek Santi, mami juga orang tua kalian sudah menjemput papi. Mereka menunggu papi.”


“Ngga.. papi jangan pergi.”


Firly kembali menangis, Dimas menariknya dalam pelukannya. Firlan juga tak kuasa menahan airmatanya. Azriel memeluk Ega lalu menangis sesenggukan.


“Dimas... Rena... abang titip mereka semua padamu. Kini giliran kalian yang harus menjaga mereka.”


Rena menganggukkan kepalanya karena sudah tak sanggup berkata-kata. Sekali lagi dipandanginya wajah-wajah yang sudah menemaninya selama ini. Kemudian dia melihat wajah teduh yang sering dirindukannya akhir-akhir ini.


“Ummi,” gumamnya pelan.


“Iya Ga. Ayo kita pulang, semua anak ummi sudah berkumpul, kecuali kamu. Ummi sudah kangen sama kamu.”


Mata Ega berkaca-kaca, dia menganggukkan kepalanya pelan. Lalu Ega melihat ke arah Firlan juga Azriel secara bergantian.


“Siapa yang mau membimbing papi?”


Firlan bergeming, dia hanya duduk bersimpuh di dekat Ega. Begitu juga Azriel yang masih menangis. Elang datang mendekat lalu bersimpuh di dekat Ega. Dengan suara bergetar dia membimbing Ega mengucapkan dua kalimat syahadat. Selesai mengucapkannya, Ega menghembuskan nafas terakhirnya.


Sudah tak didengarnya lagi tangis pilu anak dan cucunya saat nyawa meninggalkan raganya. Dia terus mengikuti ummi yang menggandeng tangannya. Wajahnya memancarkan kebahagiaan ketika Alea dan yang lainnya menyambut kedatangannya. Dia menengok sebentar ke belakang memandangi wajah-wajah sedih yang ditinggalkannya.


Selamat tinggal anak-anakku. Hiduplah dengan baik, papi sangat menyayangi kalian semua. Jangan lupakan kami dan teruslah berdoa untuk kami.


🍁🍁🍁


**Selamat jalan Debby, Adit, Sarah, Ega. Kalian sudah bersama lagi sekarang.


Bukan hal mudah buat mamake berpisah dengan pasangan Regan-Sarah, Irzal-Poppy dan Ega-Alea. Mereka semua sudah menemani mamake sejak CLBk. Buat kalian yang sudah baca CLBK pasti tahu bagaimana perjuangan berat mereka untuk bersatu. Setelah mamake persatukan mereka di dunia, kini mereka bersatu di keabadian.

__ADS_1


Ini masih belum berakhir. Masih ada kelanjutan tentang pasangan di Four Seasons. Setelah mereka berakhir bahagia, mereka akan pamit juga pada kalian.


Makasih dan jangan lupa dukungannya😘**


__ADS_2