
Seharian ini Bilqis hanya melamun saja kerjanya. Dia juga tidak bisa berkonsentrasi meeting dengan klien. Rain bukannya tidak menyadari keanehan pada adik iparnya itu, namun berusaha mengabaikannya.
Terdengar hembusan nafas berat Bilqis beberapa kali. Semenjak bertemu dengan Ardi, Bilqis mencoba berteman dengan laki-laki itu demi menggorek informasi tentang Reyhan. Dan hal mengejutkan baru saja didengarnya. Ternyata selama ini Reyhan menyukai Ayunda, sepupunya sendiri.
Rain mendekati Bilqis yang masih asik melamun. Diletakkannya gelas platik berisi Thai tea di depan gadis itu. Lamunan Bilqis seketika buyar. Kepalanya langsung menoleh dan mendapati Rain sudah duduk di sampingnya.
“Ngelamun mulu, mikiran apa sih?”
“Ngga mikirin apa-apa kak.”
“Ngga usah bohong. Tuh diminum dulu, biar seger dan kepalanya dingin lagi. Keliatan dari tadi kayanya udah ngebul.”
Bilqis tersenyum mendegarnya. Tangannya meraih gelas berisi Thai tea kemudian menyeruputnya. Kerongkongannya langsung terasa sejuk setelah tersentuh air dingin tersebut.
“Kak, waktu itu kan aku ke rumah sakit, jenguk temen. Kata temennya Rey, si Rey lagi ngeceng Yunda. Emang bener ya?”
“Beeuuhh.. udah dari kapan tau tuh anak ngeceng si Yunda. Eh tapi kayanya dia udah nembak si Yunda, tapi belum tau tuh jawabannya apa.”
“Oh ya?”
Bilqis tersenyum getir mendengarnya. Hatinya mencelos, perasaan sakit, kecewa, sedih, marah, semua bercampur menjadi satu. Hidup terasa tak adil untuknya, kenapa dia harus menjadi saudara sesusu Reyhan.
“Eh, gimana hubunganmu dengan bang Za?”
“Hubungan apa? Kita cuma temenan doang kok.”
“Temen tapi mesra maksudnya?”
“Ish.. ngga.. beneran temen. Lagian akunya juga sukanya sama yang lain.”
“Oh ya? Siapa?”
Ingin rasanya Bilqis meneriakkan nama Reyhan, namun dia belum punya cukup keberanian. Akhirnya Bilqis hanya menjawab dengan senyuman saja, sebuah senyuman getir berbalut kekecewaan.
🍁🍁🍁
Bilqis mengendarai mobilnya pulang ke rumah. Saat melewati taman yang ada di dekat rumahnya, sudut matanya menangkap Reyhan dan Ayunda sedang bermain di sana dengan Aslan dan Nanaz. Hati Bilqis serasa tercubit. Didorong rasa cemburu, dia menghentikan mobilnya lalu turun. Bilqis menghampiri Reyhan dan Ayunda yang asik mengasuh para keponakan.
“Rey..” panggil Bilqis.
“Baru pulang Qis?”
“Iya. Kamu ngga kerja?”
“Libur, dua minggu berturut-turut aku ngga libur jadi ngambil off sekarang.”
__ADS_1
Bilqis hanya manggut-manggut saja. Diliriknya Ayunda yang masih asik mengawasi para keponakannya bermain perosotan tanpa mengetahui kehadirannya.
“Cuma berdua aja? Inget loh laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim berduaan, yang ketiganya pasti setan.”
“Kamu ngga lihat Qis, tuh udah ada dua tuyul yang gangguin kita,” Reyhan tergelak. Bilqis hanya tersenyum miring. Dia lalu menghampiri Ayunda.
“Eh kak Iqis, kapan dateng?”
“Baru aja. Gimana rasanya Yun?”
“Gimana apaan kak?”
“Dikejar dua cowok.”
“Maksudnya?”
“Gimana rasanya dikejar Rey sama Ilan? Asik pastinya ya, hari ini jalan ama Rey, besok jalan sama Ilan,” nyinyir Bilqis.
Dalam hati kecilnya Bilqis terkejut juga kenapa bisa mengatakan itu semua pada sepupunya. Tapi kecemburuan yang mendorongnya berbuat seperti itu. Ayunda memandangi Bilqis dengan heran. Tidak biasanya Bilqis bersikap ketus begitu padanya.
“Kak Iqis kenapa sih? Kok ketus gitu ngomongnya. Emang aku ada salah apa sama kakak?”
Reyhan yang mengamati dari tempat yang agak jauh segera mendekat ketika melihat ketegangan di antara keduanya.
“Ada apa?”
Sepeninggal Ayunda, suasana hening sejenak. Reyhan mengajak Bilqis duduk di bangku taman. Tapi belum sempat duduk, Bilqis memeluk Reyhan dari belakang. Reyhan yang terkejut berusaha melepaskan diri namun Bilqis mengeratkan kedua tangannya di depan perut Reyhan.
Ayunda yang kembali ke taman karena topi Aslan ketinggalan terkejut melihat pemandangan di depannya. Seketika perasaan marah, kesal muncul ke permukaan. Sambil berdehem keras, Ayunda mendekat kemudian mengambil topi Aslan.
Melihat Ayunda, Reyhan segera melepaskan diri dari pelukan Bilqis. Ada gurat kemarahan di wajah Ayunda. Setelah mengambil topi, gadis itu bergegas pergi tanpa mempedulikan panggilan Reyhan. Sebelum pergi Ayunda melayangkan tatapan penuh kemarahan. Reyhan berusaha menyusul Ayunda, namun tangannya ditarik oleh Bilqis.
“Rey..”
“Lepas Qis.”
“Ngga.. aku ngga mau lepasin kamu. Aku sayang sama kamu Rey. Sesak dada aku terus memendam perasaan ini. Aku cinta sama kamu Rey.”
Reyhan memejamkan matanya, hal yang selama ini ditakutkan akhirnya terjadi juga. Bilqis mendekatkan diri kemudian menyandarkan kepalanya di punggung Reyhan. Tangisnya mulai pecah.
“Qis..”
“Aku tahu Rey, perasaan ini salah tapi ngga mampu untuk menahannya. Aku mencintaimu Rey. Kalau kamu merasakan hal yang sama, walaupun seluruh dunia menentang kita, aku ngga peduli Rey. Aku ingin menghabiskan hidup bersamamu.”
“Jangan gila Qis, kita ini saudara sesusu.”
__ADS_1
“Aku ngga peduli! Aku ngga peduli dengan itu semua!! Aku cuma mau kamu Rey, kamu!”
Bilqis mulai histeris, tangisnya semakin keras. Reyhan membalikkan tubuhnya, menatap Bilqis yang bersimbah airmata. Tak ada getaran untuk perempuan di hadapannya ini, karena dia hanya menganggap Bilqis sebagai adik, tidak lebih.
“Tolong katakan kalau kamu juga mencintaiku Rey.”
“Aku menyayangimu Qis, sebagai adik. Di luar hubungan saudara yang kita miliki, aku memang tidak memiliki perasaan apapun kepadamu. Kumohon jangan seperti ini. Jangan habiskan energimu untuk hal yang sia-sia. Lihatlah ke sekeliling, ada lelaki lain yang mencintaimu.”
“Tapi aku hanya menginginkanmu.”
“Aku percaya itu cuma perasaan sementara aja. Sejak kecil kita menghabiskan waktu bersama, jadi kamu salah mengartikan kalau perasaan itu adalah cinta. Sudah jangan menangis di sini, banyak orang yang melihat. Ayo aku antar pulang.”
Reyhan menarik tangan Bilqis kembali ke mobilnya. Dia membukakan pintu penumpang untuk Bilqis lalu memintanya naik. Reyhan berputar kemudian naik ke belakang kemudi. Dengan kecepatan pelan dia melajukan kendaraan menuju rumah Bilqis.
Sesampainya di rumah, Bilqis langsung berlari masuk ke dalam rumah. Kalila yang berada di teras terkejut melihat keadaan anakknya yang sedang menangis. Tak berapa lama Reyhan datang menyusul. Dia segera mencium punggung tangan Kalila.
“Bilqis kenapa Rey?”
“Sepertinya suasana hatinya sedang tidak bagus ma.”
“Apa kalian bertengkar?”
“Ngga ma. Lebih baik mama langsung tanya dia. Aku pulang ya ma. Assalamu’alaikum,” Reyhan menyerahkan kunci mobil pada Kalila.
“Waalaikumsalam.”
Selepas Reyhan pergi, Kalila bergegas menuju kamar anaknya. Kalila langsung masuk tanpa mengetuk. Terlihat Bilqis sedang menelungkup di atas kasur dengan kepala terbenam di bantal. Punggungnya nampak bergetar, tanda kalau dia sedang menangis. Kalila menghampiri, dia duduk di sisi ranjang. Tangannya terulur, mengusap puncak kepala putrinya.
“Kamu kenapa sayang.”
Untuk beberapa saat Bilqis masih tetap dengan posisinya. Tapi kemudian dia bangun lalu duduk berhadapan dengan Kalila.
“Kenapa ma? Kenapa mama harus menjadi ibu susu buat Rey. Kenapa?!!”
“Qis...” Kalila membeku mendengar ucapan anaknya.
“Aku mencintai Rey ma, mencintainya. Tapi mama sudah menghancurkan harapanku! Aku benci mama!!”
Kalila terhenyak, ketakutannya kini menjadi kenyataan. Putrinya benar-benar jatuh cinta pada Reyhan. Harusnya dia mempercayai ucapan Akhtar waktu itu. Mata Kalila berkaca-kaca, Ditariknya Bilqis dalam pelukannya, keduanya menangis tersedu.
🍁🍁🍁
**Lupain Rey, Qis. Biar bagaimana pun kalian ngga bisa bersama. Kalau diterusin juga sia², ibaratnya seperti melukis di atas air.
Ayunda cemburu nih.. kak Rey harus bisa nenangin neng Ay, biar kesempatan tetap terbuka.
__ADS_1
Aku udah up 2x jangan lupa tinggalin jejaknya ya gaessss..
Sekali lagi mamake ingetin, Wild Romance udah up sampai bab 25. Buat yg mau baca langsung aja ke Go novel ya😉**