Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Kabogoh


__ADS_3

Ayunda duduk sambil memangku dagu dengan kedua tangannya mendengarkan penjelasan Bilqis tentang konsep pernikahannya dengan Firlan. Matanya menatap Bilqis, telinganya pun mendengarkan apa yang disampaikan sepupunya itu namun pikirannya menerawang tak tentu arah. Membuat apa yang disampaikan Bilqis hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri.


“Gimana Yun, kamu setuju?”


Ayunda hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Bilqis menghela nafasnya, dia sudah tahu kalau sepupunya ini sedari tadi tidak fokus.


“Aku ke toilet dulu ya kak.”


Ayunda berdiri dari duduknya kemudian berjalan menuju toilet yang berada di ruangan sebelah. Lima menit kemudian dia keluar dari toilet. Saat akan kembali ke tempat Bilqis, tak sengaja dia mendengar suara Rain dari ruangan di sampingnya.


“Ampun deh tuh anak kenapa sih..”


“Ada apa sih Rain?” tanya Lita.


“Itu si Rey, kata temennya tadi dia berantem sama salah satu dokter di rumah sakit. Ngga biasanya dia kaya gini. Aku takut dia kena sanksi terus ujung-ujungnya malah bikin papa stress.”


Tubuh Ayunda menegang mendengar Reyhan berkelahi dengan rekan kerjanya. Biasanya pria itu selalu terlihat kalem dan mampu menahan diri dengan baik semarah apapun dirinya. Mendadak perasaan Ayunda tak enak. Bergegas dia kembali ke ruangan Bilqis. Disambarnya mini backpack miliknya lalu segera pergi meninggalkan Bilqis yang hanya terpaku melihat kepergiannya.


Sesampainya di depan kantor L’amour, Ayunda celingak-celinguk mencari taksi atau ojeg online yang kebetulan melintas. Ayunda memang tidak membawa kendaraan, dia ke sini diantar oleh Farel. Beberapa menit kemudian ojeg online melintas di depannya. Langsung saja Ayunda melambaikan tangannya. Ojeg itu berhenti di dekatnya.


“Pak ke rumah sakit Ibnu Sina ya.”


“Buka dulu aplikasinya neng.”


“Ah ribet pak, offline aja. Aku bayar seratus ribu mau?”


Tanpa berpikir, bapak itu langsung mengangguk. lumayan rejeki nomplok. Kalau ambil tarikan sesuai aplikasi pasti tarifnya jauh dibawah uang yang ditawarkan. Bapak itu memberikan helm pada Ayunda. Dengan cepat Ayunda memakai helm tersebut lalu duduk di belakang pengemudi.


“Gass pak.”


“Berangkat.”


Honda Vario itu segera bergerak menyusuri jalanan beraspal. Beberapa kali Ayunda menepuk pundak pengemudi itu untuk menambah kecepatannya. Jarak kantor L’amour dengan rumah sakit tempat Reyhan bekerja memang cukup jauh. Tapi berkat kepiawaian bapak ojeg mengendarai motornya bak Marc Marques, hanya dalam waktu lima belas menit mereka sudah sampai di rumah sakit.


Sesuai janjinya, Ayunda memberikan uang seratus ribu rupiah pada tukang ojeg itu. selesai membayar Ayunda bergegas memasuki lobi rumah sakit, namun tukang ojeg itu memanggilnya lagi.


“Neng! Helm bapak kembaliin!”


Ayunda memegang kepalanya kemudian berbalik menuju bapak tadi. Dibukanya helm yang menutupi kepalanya kemudian mengembalikan pada sang empu.


“Maaf pak hehehe..”


Pengemudi ojeg itu hanya geleng-geleng saja melihat Ayunda yang kembali melesat memasuki gedung rumah sakit. Gerakannya sangat cepat seperti sedang dikejar-kejar setan saja.


Sesampainya di dalam gedung, Ayunda mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi Reyhan. Baru saja dia akan menyentuh tombol panggil, sudut matanya menangkap Reyhan sedang berbicara dengan pasangan suami istri yang sudah berusia lanjut. Dia pun berjalan mendekat. Sayup-sayup terdengar perbincangan mereka.

__ADS_1


“Sekali lagi saya minta maaf, bapak, ibu, saya gagal menyelamatkan anak bapak dan ibu. Saya benar-benar minta maaf.”


“Dokter jangan bicara begitu, semua sudah menjadi ketentuan Allah. Mungkin umur Danu memang hanya sampai hari ini. In Syaa Allah kami sudah mengikhlaskannya. Apa kami bisa membawa pulang jenazahnya sekarang?”


“Bisa pak. Sebentar lagi jenazah pak Danu akan dimasukkan ke dalam ambulans.”


“Tapi.. apa boleh kami membayarnya nanti dok? Kami tidak punya uang untuk membayar ambulans.”


“Bapak tidak usah pikirkan soal itu. Semua sudah ditanggung pihak rumah sakit.”


“Benarkah? Alhamdulillah, terima kasih dokter.”


“Kalau boleh saya juga ingin ikut mengantarkan jenazah. Bapak dan ibu bisa ikut di mobil saya. Bapak hanya perlu memberitahu tujuannya pada supir ambulans.”


“Boleh dok, kalau dokter tidak sibuk dokter boleh ikut. Tapi apa kami tidak merepotkan?”


“Sama sekali tidak pak.”


Suster yang ditugaskan Reyhan mengurus kepulangan Danu menghampiri. Dia melaporkan kalau jenazah Danu sudah dimasukkan ke dalam ambulans. Reyhan segera mengajak kedua orang tua itu menuju mobilnya. Ayunda yang sedari tadi hanya mendengarkan, bergegas menyusul.


Reyhan membukakan pintu penumpang di bagian belakang untuk orang tua Danu. Dengan sedikit sungkan mereka naik ke dalam mobil. Reyhan membuka pintu kemudian duduk di belakang kemudian. Tiba-tiba pintu di sampingnya terbuka, masuklah Ayunda lalu duduk di kursi sebelah pengemudi.


“Ay..”


“Aku ikut ya kak,” Ayunda kemudian menoleh ke kursi belakang.


“Silahkan neng.”


Ayunda melemparkan senyuman pada kedua orang tua itu kemudian kembali menghadap ke depan. Reyhan hanya diam memandangi Ayunda yang sedang memasang sabuk pengaman. Tak lama dia pun menyusul memakai seat beltnya kemudian segera menjalankan kendaraan. Mobilnya mulai mengekori ambulans yang ada di depannya.


Menjelang ashar mereka sudah tiba di kediaman orang tua Danu, di daerah Jatinangor. Mereka memang tiba lebih cepat karena kekuatan suara sirine ambulans yang membuat pengguna jalan memberikan ruang untuk kendaraan tersebut melesat tanpa hambatan.


Para tetangga yang telah mendengar kabar soal Danu sudah berkumpul di kediamannya. Terlihat kursi tamu sudah dikeluarkan dari ruangan agar mereka bisa menggelasr tikar, bendera kuning juga sudah terpasang di beberapa titik. Beberapa ibu terlihat mondar-mandir membawa makanan ke dalam rumah.


Dua petugas yang menurunkan keranda segera diarahkan menuju masjid yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat parkir. Jenazah akan dimandikan dan dishalatkan di masjid tersebut. Para tetangga berdatangan untuk melaksanakan shalat jenazah tak terkecuali Reyhan. Setelah itu mereka segera membawa jenazah menuju peristirahatan terakhirnya.


Reyhan beserta tiga orang pemuda membantu mengangkat keranda menuju tempat pemakaman umum yang jaraknya sekitar 300 meter dari masjid. Gema lafaz kebesaran Allah menggema sepanjang perjalanan menuju tempat pemakaman. Ayunda menuntun ibu dari Danu yang berjalan di belakang keranda sang anak.


Ayunda menatap kagum pada Reyhan. Bukan hanya mengantar, menggotong keranda, dia juga mau ikut menurunkan jenazah ke liang lahat. Bukan hanya Ayunda, kedua orang tua Danu juga dibuat kagum. Tidak semua dokter mau berbuat seperti itu pada pasiennya. Selesai memakamkan Danu, orang tua Danu mengajak Reyhan, Ayunda, supir ambulans dan rekannya untuk beristirahat di rumah.


Sebelum ke rumah, Reyhan mengambil pakaian ganti dari dalam mobil. Dia perlu membersihkan diri sepulang dari makam. Selama Reyhan mandi, Ayunda membantu tuan rumah menyiapkan makanan.


“Udah neng, biar ibu aja.”


“Ngga apa-apa bu.”

__ADS_1


“Neng geulis meni bageur pisan. Saha namina neng?”


“Ayunda bu.”


“Ai neng Ayunda teh kabogohna pak dokter?”


Wajah Ayunda bersemu merah mendengar pertanyaan ibu Danu. Tanpa sadar dia menganggukkan kepalanya. Ibu itu tersenyum melihat Ayunda yang malu-malu. Perhatian keduanya lalu teralihkan pada Reyhan yang baru keluar dari kamar mandi. Reyhan sudah berganti pakaian mengenakan polo shirt dengan blue jeans. Rambutnya yang basah semakin membuatnya terlihat segar.


“Mari sini dokter, diminum teh manisnya.”


“Terima kasih bu. Panggil aja Rey.”


Reyhan duduk di samping Ayunda yang tengah menyesap teh manis di tangannya. Sesaat pandangan mereka bertemu.


“Ini dimakan dulu, seadanya saja ya.”


Suara ibu membuyarkan lamunan keduanya. Mereka langsung memutus pandangan dan melihat ke arah lain.


“Terima kasih sekali lagi dokter Rey mau mengantarkan kami pulang. bahkan repot-repot ikut menguburkan anak kami.”


“Sama-sama, pak, bu. Maaf, hanya ini yang bisa saya lakukan.”


“Ini sudah lebih dari cukup. Neng geulis juga, terima kasih sudah mau bantu-bantu. Ibu doakan dokter sama neng geulis cepet-cepet nikah ya.”


Reyhan terbatuk mendengar doa ibu Danu. Refleks Ayunda mengusap punggung Reyhan, membuat lelaki itu menatap ke arahnya. Ibu Danu hanya tersenyum melihat interaksi pasangan muda di hadapannya.


Selepas maghrib, Reyhan dan Ayunda pamit pulang. Sebelum pergi, Reyhan menyerahkan amplop putih pada orang tua Danu. Awalnya mereka menolak tapi Reyhan memaksanya. Dengan diselimuti rasa malu mereka menerimanya diiringi ucapan terima kasih.


“Saya pulang dulu pak, ibu.”


“Hati-hati di jalan dok. Itu neng geulisnya cepetan dilamar biar tidak diambil orang.”


“Doain aja ya bu,” jawab Ayunda.


Reyhan menatap Ayunda dengan pandangan yang sulit diartikan. Ayunda hanya menyunggingkan senyumnya ke arah dokter tampan itu. Keduanya kemudian berjalan menuju mobil.


“Kak, sini aku aja yang nyetir. Pasti kak Rey cape kan.”


Reyhan bergeming, Ayunda segera mengambil kunci mobil dari tangan Reyhan lalu membuka pintu mobil. Dia langsung saja duduk di kursi kemudi. Reyhan tak punya pilihan selain mengikuti keinginan gadis itu. Tubuhnya memang cukup lelah.


🍁🍁🍁


**Cieee Yunda ngaku kabogohna akang dokter.


Mudah²an doa si ibu diijabah mamake ya😜

__ADS_1


Lunas ya mamake up 3x hari ini. So jangan pelit² buat tinggalin jejak, like, comment and vote**.


__ADS_2