Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Ayunda, Rey dan Ilan


__ADS_3

Flashback On


Reyhan memandangi pesan untuk Ayunda yang baru saja selesai diketiknya. Ibu jarinya masih menggantung di udara, sedetik kemudian bergerak mengetuk icon send. Reyhan menyandarkan kepalanya ke jok. Tiba-tiba ponselnya berdering, diliriknya layar ponsel yang ternyata panggilan dari rumah sakit.


“Halo.”


“Halo dok. Ini dengan suster Bila. Ibu Sahila bersedia melakukan pengangkatan tumor di ususnya tapi dia ingin dokter yang mengoperasinya. Bagaimana ini dok?”


“Ya sudah saya ke sana sekarang. Jadwalkan saja operasinya.”


Reyhan mengakhiri panggilannya kemudian dia menoleh ke arah pak Amin yang masih konsentrasi mengemudi.


“Pak antarkan saya ke rumah sakit.”


“Baik mas.”


Tanpa banyak bertanya pak Amin mengarahkan kendaraannya menuju rumah sakit Ibnu Sina. Dia terpaksa berputar arah agar bisa sampai di rumah sakit tersebut.


Flashback Off


Reyhan baru saja selesai memeriksa keadaan Sahila, pasien yang akan menjalani operasi pengangkatan tumor esok hari. Reyhan keluar dari ruang perawatan kemudian berjalan menuju ruangannya. Namun di tengah jalan Friska menghalanginya.


“Dok..”


“Ada apa?”


“Ayunda kecelakaan dok. Sekarang dia ada di IGD.”


Reyhan langsung berlari mendengar ucapan Friska. Saking terburu-burunya, beberapa kali dia menabrak orang yang dilaluinya. Reyhan mengedarkan pandangannya begitu sampai di IGD. Diperiksananya bilik IGD satu per satu, hingga akhirnya dia menemukan gadis itu sedang terbaring di blankar.


“Siapa yang menangani pasien itu?” tanya Reyhan pada salah satu suster yang bertugas.


“Dokter Yudha.”


Reyhan segera menghampiri dokter Yudha yang sedang memeriksa salah satu pasien. Dia menunggu sebentar kemudian segera mendekat ketika dokter itu selesai dengan pasiennya.


“Dok, bagaimana keadaan Yunda?”


“Yunda?”


“Pasien yang datang karena kecelakaan, yang di sana,” Reyhan menunjuk blankar Ayunda.


“Oh, dia tidak mengalami cedera serius. Beruntung air bag di mobilnya melindungi benturan di kepala dan dadanya. Tapi ada masalah di lambungnya, sepertinya itu yang menyebabkan dia kecelakaan. Menurut orang yang mengantar, mobilnya terlihat oleng lalu menabrak pohon. Tapi dia harus menjalani pemeriksaan lanjutan, takut ada luka di lambungnya.”


“Baik dok, terima kasih.”


Regan kemudian menuju meja perawat. Dia menuliskan nomor Firlan di sehelai kertas lalu memberikannya pada perawat yang bertugas.


“Hubungi nomor ini dan katakan Ayunda dirawat di sini. Tolong masukan dia ke ruang perawatan VVIP.”


“Baik dok.”


Reyhan berjalan mendekati blankar Ayunda lalu mendudukkan diri di kursi. Digenggamnya tangan Ayunda kemudian menciumnya.


“Kamu kenapa sayang? Bagaimana aku bisa pergi kalau keadaanmu seperti ini,” Reyhan mengusap puncak kepala Ayunda.


Lama Reyhan memandangi wajah Ayunda yang pucat. Tangannya bergerak mengusap pipi serta bibir yang hampir membuatnya kehilangan kendali. Nampak kelopak mata Ayunda bergerak-gerak. Reyhan bangun dari duduknya kemudian memanggil salah satu suster. Reyhan pindah ke bilik sebelah seraya menarik tirai penutup.


Mata Ayunda terbuka. Dalam tidurnya tadi dia seperti mendengar suara Reyhan. Dia melihat ke arah samping namun tak ada siapa pun di sana, hanya suster yang sedang mengecek infusannya.


“Mba sudah bangun rupanya. Sebentar lagi akan kami pindahkan ke kamar.”


“Suster...”


“Iya.”

__ADS_1


“Apa tadi ada...”


“Yunda!!”


Teriak Nara begitu sampai di dekat blankar Ayunda. Nara langsung menghampiri sahabatnya itu lalu memeluknya. Sang perawat memilih pergi untuk memberikan waktu pada kedua wanita itu.


“Lo kenapa Yun? Katanya lo kecelakaan, kenapa bisa?”


Alih-alih menjawab, Ayunda malah menangis. Sontak saja Nara kebingungan, ditelitinya tubuh Ayunda, takut-takut ada yang terluka.


“Lo kenapa Yun? Ada yang sakit?”


“Kak Rey.... kak Rey pergi Ra. Dia pergi ninggalin gue.”


Nara terdiam kemudian menarik Ayunda ke dalam pelukannya. Reyhan menahan nafasnya mendengar isak tangis Ayunda. Ingin rasanya dia masuk kemudian memeluknya, namun sebisa mungkin menahan keinginannya itu.


Di dekat blankar Ayunda, langkah Firlan tertahan begitu mendengar gadis itu menyebutkan nama Reyhan. Setelah mendapat telepon dari rumah sakit, secepat kilat Firlan menuju IGD.


“Kak Rey.. dia pergi ke Munich, dia ninggalin gue Ra. Gue harus gimana, gue ngga bisa hidup jauh dari dia.”


“Yun...”


“Harusnya gue bilang ke bang Ilan soal perasaan gue. Harusnya gue jujur kalau orang yang gue cintai itu kak Rey..”


Hati Firlan mencelos mendengar pengakuan wanita yang dicintainya. Walau dia sudah bisa menebak kalau Ayunda mencintai Reyhan, namun tetap saja rasa sakit itu ada.


“Yun udah Yun..” Nara mencoba menenangkan sahabatnya.


“Gue mau ketemu kak Rey.. Nara tolongin gue, gue mau nyusul dia ke Munich. Gue... aaagghhh..”


Ucapan Ayunda berubah menjadi rintihan ketika gadis itu merasakan kembali rasa sakit di perutnya. Firlan yang berada di luar bergerak cepat memanggilkan dokter. Reyhan yang berada di bilik sebelah hampir saja masuk untuk memeriksa Ayunda. Namun gerakannya tertahan ketika mendengar suara dokter Yudha.


“Tiduran dulu ya. Biar saya periksa.”


Nara membantu Ayunda untuk berbaring. Dokter Yudha segera memeriksa keadaan gadis itu. Gadis itu menjerit tertahan ketika dokter Yudha menekan bagian perutnya.


“Baik dok.”


Suster itu berlalu beberapa saat lalu kembali dengan membawa suntikan di tangannya. dengan hati-hati dia menyuntikan obat pereda nyeri pada Ayunda. Seorang perawat pria datang dengan membawa mesin USG. Suster mengangkat pakaian Ayunda kemudian mengoleskan gel di perutnya. Dokter Yudha segera mengerakkan transduser ke perut Ayunda. Matanya menatap layar USG.


Dokter Yudha mengakhiri pemeriksaannya. Suster membersihkan sisa gel di perut Ayunda lalu menurunkan kembali pakaiannya. Saat yang bersamaan Firlan masuk ke dalam bilik.


“Bagaimana keadaannya dok?”


“Ada pembengkakan di lambungnya. Untuk sementara dia harus dirawat di rumah sakit.”


“Baik dok.”


Dokter Yudha beserta suster meninggalkan Ayunda. Firlan berjalan menghampiri Ayunda. Nara menyingkir, memberi ruang pada calon suami sahabatnya itu.


“Bang Ilan...”


“Sssttt... jangan banyak bicara dulu. Sekarang kamu istirahat aja.”


Dua orang perawat datang untuk memindahkan Ayunda ke ruang perawatan. Nara dan Firlan menyingkir, membiarkan perawat menjalankan tugasnya.


“Nara, aku titip Yunda. Aku sudah menelpon Elang, sebentar lagi dia ke sini.”


“Bang Ilan mau kemana?”


“Aku masih ada urusan.”


“Ya udah.”


Firlan memandangi bed yang membawa tubuh Ayunda. Di belakangnya Nara menyusul, mengantar gadis itu ke ruang perawatannya. Firlan baru saja akan pergi ketika melihat Reyhan keluar dari bilik IGD.

__ADS_1


“Rey..”


Reyhan menghentikan langkahnya ketika mendengar suara Firlan. Dia berbalik, Firlan berjalan mendekatinya.


“Bisa kita bicara?”


Reyhan mengangguk. Dia mengajak Firlan menuju rooftop. Suasana rooftop masih sepi ketika mereka tiba di sana. Keduanya duduk di salah satu bangku yang terbuat dari semen.


“Apa kamu akan pergi ke Munich?”


“Hmm.. setelah mengoperasi pasienku.”


“Rey... apa aku terlihat menyedihkan di matamu?”


Reyhan menoleh ke arah Firlan yang duduk di sebelah kanannya. Matanya menyiratkan pertanyaan atas ucapan Firlan barusan.


“Kenapa kamu pergi? Kamu pergi karena merelakan Ayunda untukku kan?”


“Abang sendiri yang bilang tidak melepaskannya kalau bukan Yunda sendiri yang memintanya padamu. Yunda tidak bisa melakukan itu dan kalau pun dia bisa melakukannya, aku akan mencegahnya. Aku tidak bisa melihatnya menerima cercaan dari semua orang. Bayangkan bagaimana reaksi mami, papi, ayah dan bunda kalau dia membatalkan pernikahan kalian. Semua orang akan mengarahkan jari padanya, menuduhnya mempermainkan perasaanmu dan jika ada konflik di keluarga kalian, maka Yunda yang akan dituding sebagai penyebabnya. Aku tidak bisa melihatnya menanggung semua itu.”


Firlan berdiri lalu berjalan sedikit menjauh dari Reyhan. Pandangannya lurus ke depan, menatap beberapa burung yang melayang di dekat gedung yang ada di seberang.


“Dia memang tidak akan menerima cercaan jika tetap menikah denganku. Tapi dia tidak akan bahagia hidup denganku. Apa kamu juga memikirkan hal itu?”


“Dia pernah mencintaimu bang. Dengan sedikit waktu dan cinta yang abang punya, perasaannya akan kembali lagi padamu.”


Firlan tertawa pelan. Dia membalikkan tubuhnya menghadap Reyhan. Disandarkan tubuhnya di salah satu pohon yang tertanam di sana.


“Apa kamu bisa melupakan dengan mudah perasaanmu pada Yunda?” Reyhan terdiam.


“Yunda pun seperti itu. Dia memang pernah mencintaiku tapi cinta itu sudah tergantikan olehmu. Selama dua tahun dia mencintaiku dalam diam, dia masih bisa menahan diri ketika melihatku berduaan dengan Salsa. Bahkan dia masih berpikir rasional ketika Salsa datang dan mengajakku kembali. Tapi lihat apa yang terjadi padanya ketika kamu meninggalkannya? Dia seperti orang kesetanan menyusulmu ke bandara. Dia menangis tersedu saat tahu kamu sudah pergi. Kamu dengar sendiri apa yang dikatakannya tadi.”


Masih belum ada tanggapan dari Reyhan, pria itu masih setia mengatupkan mulutnya. Firlan kembali ke tempat duduknya semula.


“Jangan pergi Rey, tetaplah di sisinya. Beri aku waktu untuk menyelesaikan semuanya. Tugasmu hanya mendampinginya saja.”


“Bang...”


“Bukan kamu saja yang bisa mengorbankan perasaanmu untuk melindunginya. Aku juga akan melindunginya. Aku yang akan membatalkan pernikahan ini. Aku yang akan menanggung semuanya.”


“Bang... maaf... bukan maksudku merebut Yunda darimu.”


“Kamu ngga merebutnya. Aku yang hadir di tengah-tengah kalian. Saat aku melamarnya, ternyata benih-benih cinta untukmu sudah tumbuh di hatinya. Aku hanya mengembalikannya padamu. Mengembalikan ke tempat di mana dia seharusnya berada. Aku titip Yunda padamu Rey, tolong bahagiakan dia.”


Firlan berdiri, sebelum pergi disentuhnya pundak Reyhan lalu menepuknya pelan. Dia berlalu meninggalkan Reyhan yang masih termenung di tempatnya. Walau perasaannya hancur, namun setidaknya dia bisa melindungi gadis yang dicintainya.


Reyhan bangun dari duduknya. Saat akan keluar dari rooftop, terlihat Helga berjalan menghampirinya.


“Dokter Helga.. maaf..”


“Saya mengerti dokter Rey. Saya akan membatalkan pengajuanmu ke rumah sakit Saint Peter. Saya sudah bilang, kapan pun dokter berubah pikiran, saya akan membantu. Saya kembali ke Munich hari ini. Sukses dengan karirmu di sini dan jangan lupa kirimkan undangan pernikahan kalian. Saya akan mengusahakan datang.”


“Terima kasih dok.”


“Sama-sama.”


Helga mengulurkan tangannya ke arah Reyhan. Pria itu menjabat tangan Helga. Kemudian keduanya keluar dari rooftop bersama-sama.


🍁🍁🍁


**Uuuhhh bang Ilan aku padamu😍


Kalian puaaaaassss???


Sesuai anjuran dokter Rey, harusnya mamake cuma up 3x tapi berhubung kalian minta, nih mamake kasih. Tapi klo over dosis mamake ngga tanggung Zaenab yeee...

__ADS_1


Udah empat kali up, jangan pelit and males komen juga ya... ditunggu loh komen kalian semua sama like and vote nya kalau masih ada😎**


__ADS_2