
Di tengah lamunannya, seseorang menarik kursi di depan Akhtar lalu duduk tanpa permisi. Akhtar mengangkat kepalanya. Dia menatap wanita yang duduk di depannya ini. Andrea, mantan asistennya Chalissa menatap ke arah Akhtar dengan wajah datarnya.
“Kamu.. Andrea kan? Asistennya Lissa.”
“Mantan asisten Lissa tepatnya.”
“Oh kamu sudah berhenti. Ada apa menemuiku?”
“Apa yang tante Kanaya katakan padamu? Apa dia memintamu untuk kembali pada Lissa? Menikahi Lissa?”
Akhtar terdiam, tak menyangka Andrea bisa menebak pembicaraan mereka. Andrea tersenyum tipis melihat reaksi Akhtar. Dia membuka tasnya lalu mengambil amplop yang berisikan lembaran foto. Andrea memberikannya pada Akhtar. Dengan cepat Akhtar membuka amplop tersebut. Matanya membulat melihat banyaknya foto Chalissa dengan seorang pria.
“Pria di foto itu namanya Jordy. Kamu masih ingat Jordy?”
“Orang yang sudah menaruh obat perangsang di minuman Lissa.”
“Hmm.. itu cerita yang kubuat atas perintah Lissa. Tapi yang sebenarnya, mereka melakukannya atas dasar suka sama suka. Kejadiannya pun sudah lama, bukan seperti yang kukatakan waktu itu.”
“Maksud kamu?”
“Maksudku, selama ini kamu sudah ditipu oleh Lissa. Selama hampir tiga tahun kalian berpacaran, hanya tahun pertama hubungan kalian murni tanpa terkontaminasi apapun. Tapi ketika Lissa sudah memulai kariernya, di situlah kebohongan dimulai. Chalissa dan Jordy bertemu dua tahun yang lalu. Dia tidur dengan Jordy karena penasaran dengan yang namanya ****. Dan ternyata menjadi kebutuhan baginya. Setiap mereka bertemu, mereka pasti tidur bersama. Bahkan menjelang pernikahan kalian dulu, Lissa pernah menghilang tanpa kabar bukan? Dia itu sedang liburan bersama Jordy di Hawaii.”
Tangan Akhtar mengepal keras mendengar penuturan Andrea. Harga dirinya seperti tercabik-cabik mengetahui selama ini Chalissa telah membohonginya. Rahangnya mengeras, nampak jelas gurat kemarahan di wajahnya.
“Aku mengatakan semua ini supaya kamu dapat berpikir jernih. Jangan sampai kamu membuang permata demi batu kerikil tidak berharga seperti Lissa. Dia itu sangat mencintai dirinya sendiri jadi tidak mungkin dia akan bunuh diri. Dulu, ancamannya bunuh diri juga sandiwara semata. Dia itu egois, di satu sisi ingin bersenang-senang dengan Jordy tapi di sisi lain tidak mau melepaskanmu dengan alasan cinta. Cih, kalau dia memang benar mencintaimu, tidak mungkin dia tidur dengan lelaki lain.”
“Lalu apa maksudmu mengatakan semua ini padaku?”
“Aku hanya ingin menghancurkan semua usaha Lissa mendapatkan dirimu. Anggap saja ini penebusan dosaku karena sudah membohongimu. Dan aku juga ingin melihat Lissa hancur, seperti dia telah menghancurkan pernikahanku. Sehari sebelum pernikahanku, dia menggoda tunanganku dan tidur bersamanya. Dasar perempuan murahan.”
Andrea menghapus airmatanya mengingat kisah pilunya. Pernikahannya batal karena dirinya memergoki tunangannya dengan Lissa tengah berhubungan badan di malam menjelang pernikahan mereka. Keluarganya harus menanggung malu yang luar biasa karena Andrea tak sudi menikah dengan tunangannya.
“Kuingatkan sekali lagi. jangan termakan ucapan Lissa atau mamanya. Pertahankan apa yang sudah kamu miliki saat ini. Percayalah, istrimu jauh lebih berharga dibanding perempuan murahan itu.”
Andrea menyambar tasnya lalu segera pergi meninggalkan Akhtar. Seperti dipukul oleh godam berkali-kali, Akhtar merasakan pusing di kepalanya. Marah, sedih, kecewa, semuanya bercampur menjadi satu. Dengan langkah gontai dia keluar dari restoran. Setelah menghubungi Agni soal kepulangannya, Akhtar melajukan kendaraannya kembali ke apartemen.
🍁🍁🍁
Rain bergegas pulang setelah mendapat telepon dari Agni kalau setelah makan siang Akhtar langsung pulang ke apartemen dengan alasan tidak enak badan. Dia langsung masuk ke dalam kamar sesampainya di unit apartemen. Tampak Akhtar sedang tiduran di atas ranjang dengan lengan menutupi matanya. Rain segera menghampiri.
“Mas..”
Rain menyentuh lengah Akhtar. Mendengar suara istrinya, Akhtar mengangkat tangannya, matanya memicing melihat ke arah sang istri. Rain menempelkan tangannya di kening Akhtar, suhu tubuhnya memang sedikit panas.
__ADS_1
“Kamu sakit mas. Udah makan?”
Akhtar hanya menggeleng. Rain bergegas ke dapur untuk membuatkan makanan. Dibukanya lemari dan juga kulkas, mencari bahan makanan yang bisa dibuat. Akhirnya dia memutuskan untuk membuat corn soup. Dengan cepat dia meracik semua bahan untuk dijadikan makanan favorit suaminya.
Setengah jam kemudian corn soup telah matang. Rain menaruh mangkok berisi corn soup dan segelas air putih di atas nampan lalu membawanya ke kamar. Melihat kedatangan Rain, Akhtar bangun lalu duduk menyandar di head board. Dengan telaten Rain menyuapkan soup pada Akhtar. Mata Akhtar menatap sendu ke arah istrinya, hatinya bergetar mendapatkan perhatian yang begitu besar.
Tak butuh waktu lama, soup di mangkok tandas di makan oleh Akhtar. Rain menyodorkan paracetamol pada Akhtar, yang dengan segera diminumnya. Setelah menaruh mangkok ke dapur, Rain kembali ke kamar. Diselimutinya tubuh Akhtar hingga ke dada.
“Kamu ikut tidur ya temani mas.”
Rain menurut, dia naik ke atas kasur lalu berbaring di samping suaminya. Akhtar menarik tubuh Rain lalu merebahkan kepala di dadanya.
“Ada yang mengganggu pikiran mas?”
“Hmm.. tadi tante Kanaya menemui mas. Dia meminta mas menikahi Lissa secara sirri.”
Rain terkejut, sontak dia melihat ke arah suaminya. Lalu dia teringat kata-kata Regan dahulu. Hatinya mendadak cemas, takut kalau Akhtar meminta ijinnya untuk menikahi Lissa.
“Lalu?” suara Rain terdengar pelan dan bergetar.
“Tidak usah dipikirkan. Untuk apa mas menikahinya. Kamu istri mas saat ini dan selamanya. Tak ada niatan untuk menambah istri lain, karena kamu sudah cukup untuk mas. Mas mengatakannya karena tak ingin merahasiakan ini darimu.”
Rain menghembuskan nafas lega, ternyata ketakutannya tak menjadi kenyataan. Dipeluknya tubuh Akhtar erat. Hatinya telah benar-benar yakin kalau kini suaminya telah mencintainya.
“Terus kenapa mas sampai sakit begini? Apa karena mas memikirkan hal itu?”
“Jangan bahas itu lagi mas. Kita hanya perlu maju ke depan sekarang. Ngga usah melihat lagi ke belakang. Aku bahagia menikah denganmu mas.”
Akhtar mengusap pelan wajah Rain. Dia mendekatkan wajahnya lalu membenamkan bibirnya ke bibir sang istri. Menyesapnya pelan, melepasnya lalu menyesapnya lagi. Rain balas memagut bibir Akhtar. Untuk beberapa saat mereka saling melepaskan ciuman.
“I love you, Rain,” bisik Akhtar.
Rain memeluk punggung Akhtar lalu mengusapnya pelan. Akhtar menyurukkan kepalanya ke dada sang istri, mencoba mencari kehangatan di sana. Tak berapa lama, matanya mulai memberat dan dia pun jatuh tertidur dalam pelukan Rain.
🍁🍁🍁
Sudah hampir dua minggu berlalu tapi Akhtar belum memberi kabar. Kanaya mulai cemas. Kondisi Chalissa yang sudah mulai tenang kembali histeris karena belum ada tanda-tanda Akhtar akan menikahinya. Akhirnya Kanaya memutuskan untuk menemui Akhtar lagi. Diantar sang supir Kanaya berangkat ke Bandung.
Sesampainya di Bandung, Kanaya langsung menghubungi Akhtar namun panggilannya selalu ditolaknya. Karena kesal, Kanaya memutuskan menemui Akhtar di kantornya. Dengan sedikit mendesak Kanaya bersikeras menemui Akhtar, membuat Agni mau tak mau membiarkannya. Dengan tergesa Kanaya membuka pintu ruangan, Akhtar yang sedang menanda tangani berkas dibuat terkejut olehnya.
“Tante.”
“Akhtar kenapa kamu selalu menolak panggilan tante? Kamu tahu pasti kalau tante berharap padamu.”
__ADS_1
Kanaya langsung mencecar. Akhtar bangun dari kursi kerjanya lalu menghampiri Kanaya. Dia meminta wanita itu duduk di sofa lalu menyusul ikut duduk.
“Tante maafkan aku, tapi akhir-akhir ini aku lagi banyak pekerjaan.”
“Apa jawabanmu Tar? Kamu bersedia kan menikahi Lissa?”
“Maaf tante, aku ngga bisa. Aku ngga bisa mengkhianati Rain. Selama ini sebagai istri dia tak pernah melakukan kesalahan. Bagaimana mungkin aku menikahi perempuan lain di belakangnya.”
“Kamu laki-laki Tar. Kamu bisa menikahi Lissa tanpa persetujuan Rain.”
“Tapi aku ngga mau tan. Aku mencintai istriku dan aku ngga akan pernah mau menikahi wanita lain, walaupun itu Lissa.”
Kanaya tak habis akal, dia segera bersimpuh di depan Akhtar. Mencoba menarik simpati lelaki muda di hadapannya. Di luar dugaannya, Akhtar bergeming. Pintu ruangan terbuka, Rain datang membawakan makan siang. Dia tertegun melihat pemandangan di depannya.
“Tante mohon Akhtar, tolong nikahi Lissa. Tante ngga mau kehilangan dia. Dia kembali histeris akhir-akhir ini. Hanya kamu yang bisa mengembalikan semangat hidupnya.”
Melihat kedatangan Rain, Akhtar langsung berdiri menyambutnya. Tak ingin membuatnya salah paham. Kanaya menatap ke arah Rain. Kadung basah, dia pun memohon pada Rain.
“Rain, tante mohon ijinkan Akhtar menikahi Lissa. Atas ijinmu Akhtar pasti mau menikahi Lissa. Tante mohon demi kehidupan Lissa, biarkan dia memperoleh semangat hidupnya lagi. Tante janji kehadiran Lissa dalam pernikahan kalian tidak akan mengganggu sama sekali. Dia hanya butuh status dari Akhtar.”
Rain membeku di tempatnya, lidahnya terasa kelu. Tak menyangka Kanaya memohon langsung padanya.
“Tante, aku mohon jangan teruskan. Keputusanku sudah bulat tan. Aku tidak akan pernah menikahi Lissa. Tolong jangan ganggu aku lagi tan.”
“Tapi Akhtar...”
Akhtar menarik tangan Rain keluar dari ruangan tanpa mempedulikan teriakan Kanaya. Hatinya sudah lelah berhadapan dengan Chalissa dan keluarganya. Rain mengikuti kemana Akhtar membawanya tanpa bertanya.
Akhtar membawa Rain ke rooftop. Mereka menuju gazebo yang ada di sana. Dia mendudukkan istrinya yang masih dalam mode diam.
“Mas, tante Kanaya.”
“Mas udah bilang, ngga usah dipikirin. Mas udah tegaskan sama tante Kanaya kalau mas ngga bisa memenuhi permintaannya.”
“Tapi Lissa..”
“Ngga usah dipikirin sayang. Mas udah ngga mau lagi tertipu akal bulusnya. Sekarang kita harus fokus pada pernikahan kita saja. Jangan pikirin yang lain, ok.”
Akhtar memeluk Rain. Perasaan Rain menjadi lega, sungguh tadi jantungnya hampir bergeser dari tempatnya melihat Kanaya memohon padanya mengijinkan Akhtar menikahi Chalissa. Akhtar mengambil kotak bekal yang masih dipegang oleh Rain lalu menatanya.
“Kita makan dulu ya,” suara Akhtar membuyarkan lamunan Rain. Dengan cepat dia membantu Akhtar menata makanan. Mereka pun mulai makan bersama. Sesekali Akhtar membicarakan hal lain, membuat Rain melupakan kejadian mengejutkan barusan.
🍁🍁🍁
__ADS_1
**Tenang aja ya readers, Akhtar udah bucin sama Rain sekarang jadi ngga akan luluh lagi😁
Jangan lupa ya ritualnya, like, comment and vote kalau masih ada😚**