Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Anger


__ADS_3

Elang menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Sudah seminggu lebih dia berada di Munich. Pekerjaan yang dipercayakan padanya sudah selesai dua hari lalu tapi entah mengapa Mr. Ludwig memintanya untuk merevisi beberapa bagian. Dan ini sudah ketiga kalinya dia merevisi namun partner bisnisnya itu tetap tak merasa puas.


Pikiran Elang bertambah kacau ketika tak ada kabar tentang Azkia. Farel mengatakan kehilangan jejak gadis itu. Sampai sekarang keberadaannya tidak ditemukan. Bahkan Jayden pun tak bisa menemukannya. Elang meremat rambutnya dengan kasar. Kecemasan sekaligus rasa bersalah melandanya.


Elang menyambar ponsel yang ada di nakas. Dia kembali menghubungi Azkia, dengan harapan gadis itu akan menjawabnya. Namun hanya kotak suara yang menjawab panggilan. Akhirnya Elang menghubungi Farel. Dia yakin ada yang disembunyikan oleh sang kakak. Setelah menunggu beberapa kali dering, Farel mengangkat panggilannya.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Bang gimana Kia?”


“Astaga El, baru tiga jam yang lalu lo nanya sekarang udah nanya lagi. Lo pikir gue ngga ada kerjaan apa? Kerjaan lo numpuk di sini, dan gue yang harus beresin. Ditambah lo terus nanya soal Kia, sekalian bunuh gue aja El.”


“Bang, ngga usah drama deh. Lo pasti nyembunyiin sesuatu. Lo pasti tahu soal Kia. Please bang kasih tahu gue.”


“Gue udah bilang belum dapet kabar soal tuh anak. Dia juga udah berhenti dari mini market. Udah kaya jin tomang dia, ngilang tak berbekas.”


“Bang, lo mau kasih tau gue atau gue cari tahu sendiri?”


“Lo ngga percaya gue El?”


“Oke kalau lo tetep diem. Malam ini gue bakal pulang ke Bandung. Gue ngga peduli ayah marah sama gue atau hukum gue lagi. Gue bakal pulang dan cari Kia sampe dapet.”


“Ayah bakal ngirim lo ke tempat yang lebih jauh lagi kalau lo nekad pulang sekarang.”


“Gue ngga peduli!! Sekalipun ayah buang gue ke antartika gue bakal tetap pulang. Gue harus nemuin Kia, harus!!!”


Terdengar helaan nafas Farel dari seberang sana. Sepertinya dia tak punya pilihan lain. Sebisa mungkin dia harus menahan Elang di sana. Setidaknya beberapa hari lagi.


“Sorry kalau gue nutupin. Gue lakuin ini supaya pikiran lo ngga terpecah dan tetap fokus sama kerjaan. Ibunya Kia meninggal beberapa hari yang lalu. Malam sebelum ibunya meninggal, bapaknya Kia dateng ke rumah. Dia nyiksa ibu, sampai Kia datang dan akhirnya dia yang terkena siksaan. Kia pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Melihat Kia, kondisi ibu Daniar drop dan besoknya meninggal. Setelah itu ngga ada kabar lagi soal Kia. Dia ngilang gitu aja.”


“Kapan kejadiannya bang?”


“Waktu Kia disiksa bapaknya, kejadiannya waktu elo ngurusin Rain.”


DEG


Ponsel di tangan Elang hampir saja terjatuh. Tubuhnya mendadak lemas. Berjuta penyesalan menyerangnya. Elang berteriak keras lalu melempar ponselnya ke dinding. Bergegas dia keluar dari kamar. Virza yang baru keluar kamar setelah mendengar suara gaduh dari kamar Elang, terkejut melihat keadaan temannya yang kacau.


“El, lo mau kemana?”


“Gue mau balik.”


“Balik kemana? Jangan gila lo, kerjaan kita belum selesai.”

__ADS_1


“Gue ngga peduli!!”


Elang hampir mencapai pintu ketika Virza berhasil mendahului dan menghalanginya. Mata Elang menatap nyalang ke arah sahabatnya.


“Minggir lo!!”


“Ngga! Balik ke kamar lo El.”


“Minggir!!”


Virza bergeming, membuat Elang bertambah geram. Ditariknya kaos Virza, namun pemuda itu balik mencengkeram tangan Elang. Tak ayal perkelahian terjadi di antara keduanya. Virza yang memiliki kemampuan bela diri dapat mengimbangi Elang. Virza mendorong tubuh Elang ke dinding, menahan dada pemuda itu dengan lengannya.


“El sadar lo!! Sadar!!!”


Elang mendorong tubuh Virza dan membalikkan posisi. Kini Virza yang terpojok ke dinding. Tangan Elang terkepal kencang. Sambil berteriak pemuda itu melayangkan tinjunya ke arah Virza.


BUGH


Elang memukul dinding di dekat kepala Virza. Seketika buku-buku tangannya terluka. Virza segera merangkul sahabatnya untuk menenangkannya setelah itu membawanya ke sofa. Dia mengambil sebotol minuman dingin dan kotak P3K. Elang meneguk minuman dingin itu sampai setengahnya dan setengahnya lagi diguyurkan ke kepalanya yang terasa panas. Virza mengobati tangan Elang yang terluka.


“Lo kenapa El?”


“Gue orang paling bego Vir.”


“Andai waktu itu gue anterin dia pulang, dia ngga akan terluka. Mungkin ibunya masih baik-baik aja. Gue bener-bener bego Vir. Gue udah nyakitin dia, ngecewain dia. Ayah bener harusnya gue ngga ngurusin Rain lagi. Dan sekarang dia pergi ninggalin gue Vir.”


“Ngga El, lo belum kehilangan dia. Lo jangan putus asa kaya gini. Mana El yang kuat, yang optimis. Kejar dia lagi El kalo lo bener-bener cinta sama dia. Tapi pertama-tama lo harus beresin urusan di sini supaya kita bisa cepat pulang. Dan gue bakal bantu lo nyari dia.”


Elang menegakkan tubuhnya. Ucapan Virza telah membangkitkan semangatnya lagi. Dia menuju meja makan yang telah dirubah menjadi meja kerjanya. Virza menyusul di belakangnya. Keduanya mulai membereskan kertas yang berserakan kemudian menyusunnya kembali. Elang fokus di depan laptop, Virza membantu dengan beberapa dokumen yang menunjang pekerjaan mereka.


Waktu telah menunjukkan pukul empat dini hari. Elang masih berkutat di depan laptopnya. Virza tertidur dengan posisi kepala di atas meja. Elang menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri. Akhirnya revisi proposal sesuai keinginan Mr. Ludwig selesai. Ditepuk-tepuk tengkuknya yang terasa pegal. Elang bangun lalu berjalan menuju sofa, tak lama tubuhnya terhempas di sana.


🍁🍁🍁


“Maaf El, Mr. Ludwig minta revisi lagi.”


“Yang bener aja om. Ini udah empat kali kita revisi proposal.”


Elang dan Virza saat ini sedang berada di cafe untuk bertemu dengan Luthfi, orang yang dipercaya Irzal untuk menjadi perantara antara Elang dengan Mr. Ludwig.


“Dan anehnya bagian yang direvisi itu selalu berpindah-pindah. Kenapa ngga sekalian aja sih om? Sekarang minta apalagi yang direvisi?”


“Ngga banyak El, cuma bagian promo aja.”

__ADS_1


Luthfi memberikan note tentang hal yang harus direvisi. Elang mengambil laptopnya kemudian melakukan revisi. Tak butuh waktu lama, dia sudah selesai dengan pekerjaannya. Elang membereskan laptopnya kemudian bangun dari duduknya.


“Mau kemana kamu El?”


“Aku mau ketemu langsung Mr. Ludwig.”


“Biar om aja.”


Elang tak mempedulikan ucapan Luthfi. Bergegas dia keluar dari cafe lalu menaiki taksi yang sedang mangkal di depan cafe. Elang harus menemui Mr. Ludwig secara langsung agar pekerjaannya cepat selesai. Dia curiga Luthfi sengaja mengulur waktunya lebih lama di sini.


Luthfi segera menghubungi Irzal ketika melihat Elang nekad menemui Mr. Ludwig sendiri. Virza pun tak bisa berbuat apa-apa. Dia takut sahabatnya itu kalap lagi seperti semalam. Lufthi bernafas lega karena Irzal membiarkannya. Dia meminta Virza bersiap, karena sepertinya Elang akan pulang hari ini juga.


Mr. Ludwig dengan serius membaca proposal yang telah direvisi oleh Elang. Penjelasan Elang yang tidak berbelit-belit membuatnya mengerti dengan cepat. Dalam hatinya kagum dengan kecerdasan yang dimiliki pemuda ini.


“Wie wäre es mit Mr. Ludwig hast du noch fragen? (Bagaimana Mr. Ludwig, apa ada yang ingin ditanyakan lagi?).”


“Nein, ich stimmeallem zu. Deine idee gefällt mir richtig gut. (Tidak, saya setuju semuanya. Saya sangat senang dengan idemu).”


“Dann können wir den vertrag jetzt unterschreiben? (Kalau begitu bisa kita tanda tangani kontraknya sekarang?)”


“Selbstverständlich. (Tentu saja).”


Elang tersenyum lega, pekerjaannya dapat diselesaikan dengan baik. Mr. Ludwig meminta sekretarisnya mengeprint kontrak yang akan ditanda tangani. Setelah menyetujui butir-butir kontrak yang tertera, keduanya segera menandatanganinya.


Elang keluar dari kantor Mr. Ludwig dengan senyum mengembang. Virza telah menunggunya di depan gedung.


“Kita pulang sekarang Vir?”


“Pesawat sudah menunggu.”


Elang tersenyum senang, dengan cepat dia masuk ke dalam mobil. Tak sabar rasanya kembali ke Bandung. Pikiran Elang selama dalam perjalanan hanya tertuju pada Azkia saja. Berharap ada jalan untuknya kembali pada gadis itu.


🍁🍁🍁


**Nyesel kan mas El, makanya berhenti urusin Rain lagi. Good luck ya semoga bisa ketemu sama neng Az lagi.


Makasih buat semua apresiasinya atas karya mamake. Mamake ngga marah cuma minta kita saling mengerti aja. Kalau sempet mamake bakalan up lagi malam. Semoga bisa ya🤗


Jangan lupa juga buat like, comment and vote nya biar mamake tetap semangat up untuk kalian semua😉


Love you all😍


Mas El kecapean sibuk kerja sampe bela²in begadang demi bisa ketemu neng Az lagi. Tidurin mas biar seger lagi tuh mata🥰**

__ADS_1



__ADS_2