Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
BONCHAP : FAREL & ARA Abang.... Ini Apa?


__ADS_3

“Ra, sekarang kamu tahu siapa abang sebenarnya. Tanpa nama besar ayah, abang bukan siapa-siapa. Bahkan sejak dalam kandungan kehadiran abang tidak diinginkan. Orang yang mengurus abang pun membuang abang ke jalanan karena menganggap abang hanyalah beban. Bahkan papa kandung abang memanfaatkan abang demi keuntungannya sendiri. Sebelum semuanya terlambat, abang ikhlas kalau kamu mengakhiri hubungan kita.”


Usapan Ara di kepala Farel terhenti begitu mendengar ucapan suaminya. Sebenarnya ingin sekali gadis itu memukul kepala suaminya. Tapi sebisa mungkin dia menahannya, mencoba mengerti apa yang dirasakan Farel.


“Emang abang rela ngelepas Ara?”


Farel tak menjawab, dia merubah posisi kepalanya menghadap perut Ara kemudian memeluknya. Wajahnya terbenam di perut sang istri. Ara dapat meradakan kaos yang dikenakannya basah. Farel tengah menangis. Mata Ara pun ikut berkaca-kaca, namun dia berusaha kuat. Saat ini hanya dirinyalah yang menjadi sandaran Farel. Dibiarkannya pria itu menumpahkan semua kesedihannya.


Tak berapa lama kondisi Farel sudah lebih tenang. Tangisnya pun sudah berhenti. Ara menundukkan kepalanya lalu mendaratkan kecupan di puncak kepala suaminya. Farel mendongakkan kepalanya, Ara kembali menciumnya, kali ini bibir sang suami yang menjadi sasaran. Farel bangun kemudian duduk berhadapan dengan Ara.


“Abang belum jawab pertanyaan Ara. Apa abang rela ngelepas Ara?”


“Ngga,” jawab Farel dengan suara pelan.


“Kalau begitu jangan lepas Ara. Pegang terus tangan Ara, karena Ara juga ngga mau lepas dari abang. Ara sayang sama abang, Ara cinta sama abang.”


“Abang juga sayang dan cinta sama kamu.”


Farel menyatukan bibir mereka, me**mat bibir sang istri yang tak pernah bosan dicecapnya. Ara melingkarkan tangannya ke leher Farel kemudian naik ke pangkuan suaminya. Ciuman keduanya semakin dalam dan menuntut. Farel mulai berani menjelajah tubuh sang istri dengan tangannya, menyusup masuk ke dalam kaos.


Tubuh Ara seperti dialiri aliran listrik saat kulitnya bersentuhan dengan telapak tangan Farel yang hangat. Ara melepaskan tautan bibir mereka, kini dia memberikan akses pada Farel untuk menciumi lehernya. Lagi gelenyar aneh merambat dalam dirinya saat merasakan sesapan di lehernya.


Tahu cumbuannya sudah semakin jauh, Farel buru-buru menghentikannya. Dia menurunkan Ara dari pangkuannya lalu mengajaknya berbaring. Ara berdecak sebal karena Farel masih saja menahan diri. Ara menatap suaminya yang berbaring di sampingnya.


“Abang... sekarang Ara udah 18 tahun. Ujian juga udah beres. Ara udah siap kok kalau abang mau ambil hak abang sekarang.”


“Nanti aja kalau kamu sudah benar-benar lulus.”


“Ck.. Ara curiga abang ngga normal. Masa lebih seneng main sama sabun daripada sama Ara.”


CTAK


“Adaw!!”


Ara mengusap keningnya yang terkena sentilan suaminya. Dia menyebikkan bibirnya yang langsung disambar oleh Farel. Lagi ciuman panas tercipta di antara mereka. Kali ini Ara yang menelusuri tubuh sang suami dengan tangannya. Dia juga merapatkan tubuh mereka hingga tak berjarak.


Gairah Farel kembali tersulut ketika dada mereka bersentuhan. Ditambah dengan tangan Ara yang tidak diam, membuat bagian bawahnya menegang. Ara terus menggerakkan tangannya, mulai dari dada, turun ke perut sampai akhirnya sampai di benda pusaka sang suami. Dengan santainya Ara menyentuh batangan milik Farel yang sudah mengeras.


“Abang... ini apa?”


“Ara...” geram Farel dengan suara serak.


Bukannya berhenti Ara semakin mengencangkan pegangannya, membuat Farel tak dapat menahan dirinya. Dia segera naik ke atas tubuh istrinya.

__ADS_1


“Kamu yang minta, jangan menangis, jangan merengek, jangan minta berhenti sebelum selesai.”


“Kalau minta tambah boleh?”


Ara malah balas menantang Farel. Dengan gemas itu pria itu segera mencumbu sang istri. Leher Ara menjadi sasaran pertamanya. Kemudian dengan cepat melepaskan kaos yang membungkus tubuh bagian atas istrinya. Farel menelan kelat ludahnya melihat dua gundukan yang selalu membuatnya penasaran. Tangannya menelusup ke belakang tubuh Ara kemudian melepaskan pengait bra.


Dilepaskannya penutup yang menghalangi bukit kembar sang istri setelah itu meraupnya layaknya bayi yang tengah men**su. Ara men**sah merasakan hal yang baru dirasakannya. Tangannya meremat rambut Farel dan tanpa sadar membenamkan kepala sang suami lebih dalam ke dadanya.


Puas bermain di atas, kini Farel mulai menjelajah area bawahnya. Ara memalingkan wajahnya ke arah lain ketika Farel sudah melepaskan kain terakhir yang membalut dirinya. Tubuh Ara menggelinjang menahan rasa geli sekaligus nikmat yang menyerangnya bersamaan.


Farel melepaskan kaos yang melekat di tubuhnya kemudian melanjutkan cumbuannya. Dada Ara membusung ke atas ketika Farel memainkan area intimnya dengan bibir, lidah dan jarinya. Tak berapa lama terdengar lenguhan diiringi tubuhnya yang bergetar ketika Farel berhasil membuatnya merasakan pelepasan pertamanya.


Farel melepaskan kain yang tersisa di tubuhnya kemudian merangkak naik ke atas tubuh Ara. Kembali bibirnya menciumi bibir, leher dan bahu sang istri dengan kedua tangan tak henti meremat bulatan kenyal layaknya squishy.


Manik hitam Farel menatap iris Ara lekat. Nampak kabut gairah sudah melingkupi kedua insan ini. Perlahan namun pasti, Farel mulai memasukkan benda pusakanya ke inti tubuh Ara. Sakit, itulah yang dirasakan Ara saat ini. Gadis itu memejamkan matanya dengan kening berkerut menahan lesakan benda tumpul yang coba menerobos selaput tipis miliknya.


“Gigit atau cakar abang kalau kamu sakit.”


Ara mengangguk, dia mengeratkan pelukan di punggung suaminya. Farel kembali mencoba merobek dinding tipis yang menghalangi benda pusakanya masuk lebih jauh. Dengan sedikit hentakan akhirnya Farel berhasil merobeknya. Ara menggigit bahu Farel demi meredam rasa sakit yang menderanya.


Ara kembali dibuat menggila ketika gerakan pinggul Farel perlahan menggantikan rasa sakit menjadi kenikmatan yang tak dapat dijabarkan dengan kata-kata. Kini dia tahu kenapa beberapa temannya yang pernah melakukan s**s menjadi kecanduan. Ara memeluk erat punggung Farel ketika gelombang hangat kembali menghantamnya.


Tubuh Ara terkulai lemah, namun Farel kembali mencumbuinya. Sungguh ciuman, sesapan dan rematan sang suami tak mampu ditepis oleh Ara. Dalam waktu cepat, dia kembali berhasrat. Pergulatan panas mereka berlanjut. Farel memompa tubuhnya lebih cepat, deru nafas keduanya terdengar saling bersahutan disertai keringat yang keluar melalui pori-pori kulit mereka.


Ara merasakan intinya mulai berkedut, sebentar lagi dia akan merasakan pelepasan ketiganya. Farel menambah ritme kecepatannya membuat tubuh Ara di bawahnya ikut berguncang. Dunia keduanya mulai mengerucut ke satu titik hingga akhirnya Ara kembali mencapai pelepasan yang kemudian disusul Farel.


Farel menciumi wajah Ara ketika dirinya masih berada di atas sang istri, kemudian menjatuhkan diri di sampingnya. Setelah menahan diri selama empat bulan, akhirnya Farel dapat menyalurkan hasratnya yang terpendam. Ara tak kalah bahagia dari Farel, dia puas sudah bisa memberikan hak untuk suaminya. Dengan begitu dirinya sudah menjadi milik Farel sepenuhnya. Tak akan ada lagi kata melepas untuk mereka berdua.


🍁🍁🍁


Farel mencium kening sang istri yang masih terpejam. Perlahan Ara membuka matanya. Wajah Farel berada begitu dekat dengannya. Dipagutnya bibir sang istri yang masih terdiam memandanginya.


“Pules amat tidurnya istri abang.”


“Ngantuk. Abang ngajakin begadang soalnya.”


“Kan kamu yang mau.”


“Abis enak.”


Ara menutup mulut dengan kedua tangannya. Farel hanya terkekeh, gemas melihat tingkah sang istri. Sehabis membuka segel, Farel bermaksud membiarkan istrinya istirahat lebih dulu. Tapi Ara malah memberi kode untuk dimasuki lagi. Alhasil mereka melakukannya sampai lewat tengah malam. Sesudahnya Ara mengeluh bagian bawahnya sakit dan perih sampai tak sanggup berjalan ke kamar mandi.


“Sarapan yuk. Tuh makanannya udah siap.”

__ADS_1


Ara bangun dari tidurnya. Farel membantu sang istri melepaskan mukena yang masih melekat di tubuhnya. Sehabis shalat shubuh, Ara langsung naik ke kasur. Selain masih mengantuk, tubuhnya juga lelah. Ternyata bercinta sangat menguras tenaga. Mata Ara berbinar melihat sarapan yang telah disiapkan. Dengan cepat dia melahapnya.


“Bang.. kita jangan pulang dulu ya. Kan aku juga masih libur habis ujian.”


“Boleh, nanti abang tinggal telpon El. Kamu mau ke mana?”


“Kita nginep di vila aja bang.”


“Mau di vila mana? Vila papa Nino di puncak? Vila papa Regan di Leuwiliang? Vila ayah di Ciwidey? Vila papi Ega di Lembang? Atau vila papa Adit di Subang?”


“Hmm.. di vila papa Regan aja bang. Sekalian aku pengen jalan-jalan ke curug yang ada di sana.”


“Boleh.. abang telpon papa Regan dulu.”


Farel mengambil ponselnya lalu mulai menghubungi Regan. Sedang Ara, setelah menghabiskan sarapannya kembali naik ke kasur. Tangannya memencet remote televisi. Setelah mengganti-ganti saluran, pilihannya jatuh pada salah satu tv kabel yang menayangkan drama Korea.


Setelah menghubungi Regan, Farel ikut naik ke kasur lalu membaringkan diri di samping Ara yang duduk menyender. Tangannya menelusup masuk ke dalam kaos Ara lalu meraba bukit kembar yang masih terbungkus rapih.


“Abang nakal..”


“Tapi kamu suka kan?”


“Ngga.. ngga salah maksudnya,” Ara terkekeh dengan jawabannya sendiri.


“Mau lagi ngga?”


“Idih abang. Kemarin aja sok-sok nahan, giliran udah dikasih ketagihan.”


“Hilih kaya kamu ngga aja.”


“Tapi Ara kan mmpphh..”


Ara tak dapat melanjutkan ucapannya ketika bibir Farel sudah menyumpal mulutnya. Sedetik kemudian tubuh Ara sudah berada dalam kungkungannya. Dan tak butuh lama bagi Farel untuk membuat tubuh keduanya polos. Sehabis sarapan mereka kembali membakar lemak dengan berolahraga pagi di ranjang.


🍁🍁🍁


**Akhirnya bang Farel buka segel juga. Abis dibuka mau lagi dan lagi ya bang🙊


Dasar Tom & Jerry mau Mindo aja mesti adu mulut dulu😂


Nah dua pasangan kan udah bahagia. Jadi cuma tinggal beberapa episode lagi, kisah cinta empat musim ini akan berakhir🤧


Jangan lupa dukungannya terus ya readers kecehku😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2