Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Mengikuti Jejak


__ADS_3

Di sebuah ruangan, tampak dua orang pria paruh baya sedang berbincang. Iqbal mengambil rokok dari atas meja lalu menyulutnya. Kepulan asal berpendar di sekitarnya. Erik hendak melakukan hal yang sama, namun dia segera menahannya.


“Inget kesehatan kamu Rik.”


“Look who’s talking,” Erik terkekeh.


“Jantungku baik-baik saja. Tapi tidak dengan jantungmu. Kapan kamu akan operasi pemasangan ring?”


“Ngga sekarang.”


“Hah.. kamu itu keras kepala. Sepertinya aku harus meminta Dirga pulang.”


“Jangan ganggu Dirga dengan keluarga kecilnya. Dia sedang fokus mengurus perusahaan tante Elena di Belanda. Kamu sendiri bagaimana? Kenapa tidak bilang kalau sudah menemukan anakmu.”


“Apa Yonas yang mengatakannya?”


Erik hanya mengangguk. Iqbal melihat kesal ke arahnya. Tak ada yang bisa disembunyikan dari pria di dekatnya ini.


“Yonas bekerja dengan baik untuk menemukannya. Sebaiknya kamu cepat cari pengganti Damian. Tidak mungkin Yonas bekerja untuk kita berdua di saat yang bersamaan.”


“Dua bulan lagi. Cukup dua bulan lagi Yonas menjadi asistenku. Damian akan kembali.”


“Baguslah.”


Iqbal menyesap rokok dalam-dalam lalu membuangnya ke dalam asbak. Sebelumnya dia mematikannya terlebih dulu. Kini dia menatap serius ke arah atasan sekaligus sahabatnya itu.


“Apa kamu tidak ada niatan menikah lagi? Sudah tiga tahun sejak kepergian Medina. Jujur awalnya aku ngga yakin dengan pernikahan kalian, tapi ternyata hanya maut yang memisahkan kalian.”


“Aku baik-baik saja. Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu sudah berbicara dengan anakmu?”


“Ngga sekarang, aku masih butuh waktu. Kalau waktunya sudah tepat, aku pasti akan bicara dengannya.”


“Terserah padamu, tapi lebih cepat lebih baik. Jangan sampai dia tahu dari orang lain.”


Iqbal hanya manggut-manggut saja. Kemudian dia teringat dengan pembicaraannya dengan Deski.


“Rik, aku takut Deski akan mengikuti jejakmu.”


“Jejak apa?”


“Menginginkan milik orang lain.”


Erik tercenung sejenak. Dia tahu pasti kemana arah pembicaraan sahabatnya ini. Pria itu mulai serius menanggapi ucapan Iqbal.


“Siapa?”


“Kamu ngga perlu tahu. Tapi aku akan mengawasinya, kalau sampai dia berbuat keluar batas, aku harap kamu ngga keberatan kalau aku bertindak.”


“Dia juga anakmu Bal. Kalau memang dia berbuat salah, dia harus menerima akibatnya.”


“Hmm.. masalah Deski biar menjadi urusanku. Kamu fokus saja pada kesehatanmu. Ingat untuk segera melakukan operasi pemasangan ring. Apa kamu ngga mau bermain dengan cucumu nanti?”


Erik terkekeh, sahabatnya itu memang cerewet jika menyangkut kesehatan dirinya. Melihat Deski yang masih senang hidup sendiri, rasanya tidak mungkin dirinya akan menimang cucu dalam waktu dekat.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Azkia baru saja menyelesaikan kuliahnya. Dengan beberapa temannya dia berjalan menuju gerbang kampus. Elang sedang dalam perjalanan untuk menjemputnya. Azkia memutuskan menunggu di kios rokok yang berada di depan kampus. Belum lama menunggu, tiba-tiba datang seseorang yang tidak ingin ditemuinya lagi.


“Apa kabar nyonya Elang?”


Azkia tercekat melihat Agus berdiri di depannya. Tubuh Agus sedikit kurus, wajahnya pun semakin kusam saja. Sejak dibebaskan oleh Adit, Agus tak punya tempat untuk bernaung. Tak ada orang yang mau memberinya uang. Fandy sebagai harapan satu-satunya masih mendekam di penjara. Agus tak punya pilihan selain menemui Azkia.


“Bapak butuh uang, keluarkan uangmu. Jangan bilang kalau kamu tidak punya uang. Sebagai istri seorang Elang, pasti kamu tidak akan kekurangan uang.”


“Bapak masih berani minta uang padaku setelah apa yang bapak lakukan padaku juga ibu? Apa bapak pikir suamiku akan membiarkan bapak menggangguku lagi?” entah keberanian dari mana, Azkia mampu melontarkan kata-kata itu.


“Cih.. sudah mulai berani kamu. Cepat berikan uangmu!”


“Kalau bapak butuh uang, lebih baik bapak kerja!”


“Dasar anak kurang ajar!!”


Agus hendak merangsek maju namun segera mengurungkan niatnya ketika melihat mobil Elang mendekat ke arah mereka. Bergegas dia meninggalkan Azkia. Elang membunyikan klakson, mengejutkan Azkia yang masih belum menyadari kedatangannya. Dengan cepat dia berlari lalu masuk ke dalam mobil.


“Kamu kenapa sayang?”


“Tadi ada bapak, mas.”


“Apa dia menyakitimu?”


“Ngga mas.”


“Ngga usah mas.”


“Jangan membantah.”


Azkia tak lagi berbicara, membantah suaminya saat ini bukan pilihan yang tepat. Mendengar Agus mendatanginya, wajah Elang sudah mengeras. Kalau suaminya sudah dalam mode seperti ini, Azkia tak punya keberanian untuk berbicara lagi.


Dari balik pepohonan, Agus mengamati mobil yang dikendarai Elang. Dia bernafas lega karena Elang tak mencarinya. Baru saja kakinya hendak me;angkah pergi, dua orang bertubuh besar menghampirinya.


“Siapa kalian?”


“Ikut kami!”


Tanpa banyak bicara, kedua peria itu membawa Agus pergi. Pria paruh baya itu hanya pasrah mengikuti kedua orang itu. Mereka membawa masuk Agus ke dalam mobil lalu menunggu di luar. Agus mengamati lelaki muda yang duduk di sebelahnya. Yonas membuka tas kerjanya lalu mengeluarkan sebuah amplop coklat. Dilemparkannya amplop tersebut ke pangkuan Agus.


“Apa ini?”


“Gunakan uang itu untuk keperluanmu, tapi jangan dekati Azkia lagi. Kalau kamu masih mendekati Azkia, maka kamu bukan lagi masuk ke penjara tapi ke liang lahat.”


Agus membuka amplop coklat tersebut. Matanya membeliak melihat beberapa gepok uang seratus ribuan di dalamnya. Kira-kira jumlahnya tak kurang dari seratus juta.


“Baiklah, saya tidak akan mengganggu anak itu lagi.”


Yonas mengibaskan tangannya. Agus bergegas keluar dari mobil. Dua pria yang tadi membawanya segera masuk ke dalam mobil. Tak lama kendaraan roda empat itu meninggalkan dirinya yang masih terpaku di pinggir jalan.


Siapa orang itu? Sepertinya dia bukan suruhan Elang. Hmm.. aku harus cari tahu. Sekarang waktunya menghabiskan uang.

__ADS_1


Agus mencium amplop di tangannya. Dengan senyum sumringah dia berjalan menuju tempat favoritnya menghabiskan uang dan berfoya-foya.


🍁🍁🍁


Yonas mengetuk pintu besar berwarna coklat, kemudian tangannya mulai menggerakkan handle. Lelaki itu berjalan masuk lalu berhenti di depan meja besar. Iqbal menghentikan pekerjaannya setelah kedatangan asistennya itu. Sejak dia mengetahui tentang Azkia, pria itu memindahkan pekerjaannya ke Bandung untuk sementara waktu.


“Apa kamu sudah menemuinya?”


“Sudah pak.”


“Awasi dia dengan baik. Dia itu pria licik. Jangan lepaskan pengawasan darinya dan jangan biarkan dia mendekati Azkia lagi.”


“Baik pak.”


“Soal Daniar, apa kamu sudah mengetahui di mana Daniar dimakamkan?”


“Ibu Daniar dimakamkan di pemakaman keluarga milik bapak Irzal Ramadhan.”


“Baiklah, besok sore antarkan saya ke sana.”


Yonas hanya mengangguk saja. Iqbal termenung sebentar, untuk beberapa kali terdengar helaan nafasnya. Andai saja dia bisa menemukan Daniar lebih cepat, mungkin wanita itu masih hidup.


“Bagaimana dengan Dirga?”


“Pak Dirga sudah sampai di Bandung. Saat ini pak Dirga sedang dalam perjalanan menuju Premium restoran.”


“Ayo kita pergi sekarang.”


Iqbal berdiri, mengambil jas dari kapstok. Setelah memakai jas, dia berjalan keluar ruangan ditemani oleh Yonas. Dia hendak bertemu dengan Dirga untuk membicarakan tentang operasi yang akan dijalani Erik.


Jalanan kota Bandung yang lengang memungkinkan Iqbal sampai di gedung Humanity Corp bersamaan dengan Dirga. Iqbal segera menghampiri Dirga dan Diva. Iqbal memeluk Dirga cukup lama. Sejak dulu dia sudah menganggap Dirga sebagai adiknya sendiri.


“Kamu baik-baik aja Dir?”


“Alhamdulillah baik bang.”


“Mana Prima?”


“Dia ngga ikut bang. Selama aku di sini, dia yang handle perusahaan.”


“Anak itu sudah besar sekarang. Diva, bagaimana kabarmu?”


“Baik bang.”


Iqbal segera mengajak Dirga dan Diva ke restoran Premium, Yonas mengikuti mereka dari belakang.


🍁🍁🍁


**Eh ada Dirga.. jadi kangen sama kuartet gesrek😂


Hmm.. jadi siapa sih bapaknya Azkia???🤔


Yuk ah tinggalin jejak dulu, like, comment and vote nya jangan lupa loh. Mamake usahakan up lagi nanti sore😘😘**

__ADS_1


__ADS_2