Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Sengsara Membawa Nikmat


__ADS_3

Elang menghembuskan nafas kesal, sudah tiga kali dia bolak-balik masuk ke kamar hotelnya namun Ayunda masih belum beranjak pergi. Sejak pesta resepsi berakhir, gadis itu memilih parkir di kamar Elang dan Azkia. Padahal Elang sudah membayangkan malam panjang yang akan dihabiskan bersama sang istri. Aslan dibawa pulang oleh Erik, jadi Elang punya banyak waktu berduaan dengan Azkia. Dengan kesal dia menghempaskan tubuhnya di kasur. Diliriknya Ayunda yang masih berbicara dengan Azkia.


“Hmm.. kak... waktu malam pertama kakak, sakit ngga?” tanya Ayunda dengan suara pelan, takut terdengar Elang.


“Kalau pertama emang sakit tapi berikutnya udah ngga kok.”


“Waktu mas El jebol gawang, pelan-pelan apa main sodok aja.”


Wajah Azkia merona mendapat pertanyaan frontal dari Ayunda. Tapi dia bisa memaklumi keingintahuan dan ketakutan Ayunda karena dulu juga pernah berada di situasi yang sama.


“Ya ngga langsung main Yun. Pemanasan dulu atau foreplay, kaya cium-cium atau sentuh bagian sensitif kita.”


“Oh gitu ya.. jujur aku takut kak.”


“Kakak juga dulu gitu, awalnya takut. Tapi mas El mainnya lembut jadinya malah ketagihan akhirnya,” Azkia terkikik sendiri tak menyangka dirinya akan berbicara sevulgar itu.


Elang memandang keki pada kedua wanita yang bicaranya sudah seperti bisik-bisik tetangga. Akhirnya dia terpaksa menggunakan jurus terakhir. Diambilnya ponsel dari atas nakas lalu mengirimkan pesan pada adik ipar yang kamarnya berada tepat di sebelah kamarnya.


To Reyhan :


Rey.. jemput istri kamu!


Singkat, padat, jelas, pesan yang dikirimkan oleh Elang pada Reyhan. Dia meletakkan ponsel di atas kemudian kembali berbaring dengan kedua tangan sebagai bantalnya. Menunggu bel berbunyi karena tadi terlihat Reyhan sudah membaca pesannya.


Benar saja, tak lama suara bel terdengar. Elang langsung beranjak dari tidurnya lalu membukakan pintu. Reyhan berdiri di depannya, tubuhnya sudah terbalut kaos dan celana pendek selutut.


“Yunda! Suami kamu nih.”


Mendengar ucapan Elang, sontak Ayunda langsung berdiri. Sambil sedikit mengangkat gaunnya, dia berjalan menuju pintu. Elang langsung menyingkir begitu Ayunda sampai di dekatnya.


“Kamu lagi ngapain di sini? Kamar kita di sebelah Ay. Kamu kenapa diem di sini terus? Ganggu pengantin expired aja.”


Elang mendelik sebal mendengar julukan Reyhan untuknya. Tanpa menunggu jawaban Ayunda, Reyhan langsung menarik tangan istrinya keluar dari kamar. Belum juga Reyhan berpamitan, Elang sudah menutup pintu lebih dulu.


Reyhan membuka pintu kamarnya, namun Ayunda masih terpaku di tempatnya berdiri. Dia masih belum mau masuk ke kamar.


“Ay.. kamu mau masuk ngga? Atau aku telpon Helga aja ya buat gantiin kamu di kamar.”


“Enak aja!”


Ayunda mendorong tubuh Reyhan kemudian masuk ke dalam kamar. Dia ternganga melihat kamar pengantin sudah disulap sedemikian rupa. Seprainya juga sudah diganti, kelopak mawar berserakan di kasur juga lantai. Ditambah dengan beberapa lilin yang terpasang di beberapa sudut membuat suasana semakin syahdu. Seketika wajahnya memanas membayangkan dia dan Reyhan melakukan malam pertama di ranjang pengantin.


“Kenapa diem? Kamu suka dekorasinya?”


“Ini mas Rey yang dekor?”


“Menurutmu? Emangnya aku punya waktu buat ini semua?”


Ayunda hanya nyengir mendengarnya. Sudah jelas bukan Reyhan yang melakukannya. Tapi tetap saja pertanyaan itu mengalir dari mulutnya. Mungkin efek dari rasa gugupnya. Ayunda berjalan menuju ranjang kemudian duduk di sisinya.


“Kamu ngga ganti baju? Mau tidur pake baju itu?”


“Hehehe.. bentar mas, kaki aku pegel.”


Reyhan berjalan menuju Ayunda kemudian berjongkok di dekatnya. Dia menyingkap gaun bagian bawah kemudian membukakan high heels istrinya. Tangannya memijat betis Ayunda pelan. Dada Ayunda berdesir, sekaligus terharu dengan sikap suaminya. Bergantian, Reyhan memijat betis kanan dan kirinya.


“Masih pegel?”


“Udah lumayan mas, makasih.”

__ADS_1


“Kamu ganti baju dulu sana.”


Ayunda mengangguk kemudian beranjak ke lemari. Lagi-lagi dia dibuat ternganga karea semua pakaiannya raib, hanya menyisakan tiga buah lingerie yang tergantung di lemari. Parahnya semua lingerie berbahan tipis yang memperlihatkan anggota tubuhnya dengan model yang sangat seksi dan warna berbeda. Warna hitam, merah dan putih.


“Kenapa Ay?”


“Baju aku ngga ada mas. Cuma ada lingerie aja.”


Reyhan yang penasaran, mendekat ke arah lemari. Matanya membelalak melihat pakaian menggoda iman di depannya. Dia langsung membayangkan Ayunda memakai pakaian tersebut. Membuatnya meneguk ludah dengan kasar. Ini sudah pasti kerjaan kakaknya.


“Terus gimana? Masa kamu mau pakai gaun ini buat tidur.”


“Hmm...”


“Lagian nanti juga kamu ngga butuh baju lagi,” lanjut Reyhan dengan suara pelan.


“Apa mas?”


“Udah buka gaunnya, emang ngga gerah apa? Nanti lingerienya bisa dilapis bathrobe.”


Reyhan berusaha menenangkan istrinya. Dan usahanya berhasil. Ayunda duduk di kursi rias kemudian mulai membuka hijab yang membalut kepalanya. Reyhan lagi-lagi meneguk ludahnya kelat ketika melihat leher Ayunda yang putih menggoda.


Ayunda mengambil cairan remover kemudian mulai membersihkan wajahnya. Reyhan menghampiri, lalu membantu Ayunda membersihkan make up. Dia melepaskan bulu mata palsu dilanjut dengan membersihkan lipstik dengan remover. Akhirnya wajah Ayunda sudah bebas dari make up. Reyhan mengecup bibir Ayunda.


“Hmm.. mas.”


“Kenapa Ayang?”


“Tolong bantu bukain resletingnya dong.”


Ayunda berdiri kemudian menghampiri Reyhan. Dia berbalik membelakangi suaminya. Tangan Reyhan mulai menurunkan tali resleting pelan-pelan. Begitu tali semakin turun ke bawah, punggung putih nan mulus langsung terpampang nyata di hadapan Reyhan. Untuk sesaat Reyhan hanya terpaku memandangi punggung istrinya itu.


“Sebentar.”


Reyhan terus menurunkan resleting hingga ke ujungnya. Kemudian menggerakkan jari telunjuknya menyusuri punggung itu turun dari atas hingga ke bawah. Dilanjut dengan bibirnya yang menciumi punggung putih itu, naik hingga ke tengkuk. Tubuh Ayunda meremang dibuatnya. Kedua tangan Reyhan meremas pelan bahu sang istri sambil terus menciuminya. Tanpa sadar Ayunda mendongak, memberikan ruang untuk Reyhan menciumi lehernya.


“Mas... a.. aku mau mandi dulu. Badanku lengket rasanya.”


“Lepas dulu pakaianmu di sini,” jawabnya masih menciumi Ayunda.


“Tapi mas..”


“Sssttt... diam. Tunggu sebentar.”


Reyhan menghentikan ciumannya lalu mengambil bathrobe dari dalam lemari. Dibukanya kaitan bra Ayunda, membuat gadis itu menjengit. Tanpa mempedulikan protes yang keluar dari mulut istrinya. Reyhan melepaskan gaun dari arah belakang kemudian memasang bathrobe dengan posisi di belakang sang istri. Ketika gaun jatuh ke bawah, Ayunda buru-buru mengikat tali bathrobenya lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi. Reyhan hanya tersenyum gemas melihat istrinya yang masih malu-malu.


Lima belas menit kemudian Ayunda keluar. Tubuhnya terbalut lingerie yang dilapisi bathrobe. Reyhan yang sudah duduk di atas kasur menepuk ruang kosong di sebelahnya. Ragu-ragu Ayunda naik ke atas kasur lalu duduk di samping suaminya dengan punggung bersandar pada headboard ranjang. Dadanya tak berhenti berdendang. Untuk sesaat suasana menjadi sunyi.


“Ayang...” suara Reyhan memecah keheningan.


“Hmm..”


“Tumben diem, biasanya ngga berhenti ngoceh,” goda Reyhan.


“Ngantuk,” jawab Ayunda asal.


“Masa?”


“Huum.”

__ADS_1


Ayunda memalingkan wajahnya ke arah lain. Jantungnya benar-benar tak bisa dikompromi, terus berdetak cepat bahkan semakin cepat saja. Reyhan sebenarnya sudah ingin menerkam istrinya. Namun melihat Ayunda yang masih menjaga jarak dengannya, dia jadi bingung sendiri.


“Ya udah kamu tidur aja. Aku tidur di sofa kalau kamu ngga nyaman.”


Reyhan baru saja akan beranjak, tapi tangan Ayunda langsung menahan lengan suaminya. Reyhan melihat lengannya yang dipegang kedua tangan Ayunda.


“Hmm.. mas Rey, ngga mau malam pertama gitu?”


“Kalau kamunya belum siap, aku ngga akan maksa. Katanya tadi ngantuk kan, mending kamu tidur aja.”


Ayunda menggeleng cepat. Dengan memberanikan diri, dia mendekatkan wajahnya lalu mendaratkan kecupan di bibir Reyhan. Dari bahasa tubuhnya, Ayunda tahu kalau suaminya menginginkannya. Dia tak ingin mendapat kutukan dari para malaikat di hari pertamanya sebagai istri.


Kecupan dari Ayunda dirasakan Reyhan seperti sebuah sinyal untuknya. Maka tanpa sungkan, Reyhan mencium bibir Ayunda. Dil**atnya bibir yang sedari siang terus menggodanya. Ayunda juga sudah mulai berani membalas ciuman Reyhan. Cukup lama keduanya saling beradu bibir, saling membelit lidah dan bertukar saliva.


Kini bibir Reyhan mulai menelusuri leher jenjang Ayunda. Tangannya menarik tali bathrobe perlahan. Dia terus mencumbu sang istri hingga Ayunda terbuai dan tak sadar kalau bathrobe-nya sudah terlepas. Reyhan menghentikan cumbuannya lalu melihat tubuh Ayunda yang hanya terbalut lingerie tipis. Ayunda yang menyadari arah tatapan Reyhan langsung menutupi bagian dadanya yang transparan dengan kedua tangannya.


Reyhan menarik tangan Ayunda lalu meletakkannya di atas kepala. Bibirnya kembali bergerilya di leher Ayunda, menyesapnya sedikit kencang hingga meninggalkan bercak kemerahan. Tangannya kemudian menyusup ke balik lingerie. Mengusap perut rata Ayunda terus naik ke atas hingga sampai di bukit kembarnya. Terdengar de**han Ayunda ketika Reyhan meremat bulatan kenyal miliknya.


Ayunda terbaring lemas di ranjang setelah pelepasannya. Dadanya turun naik menandakan nafasnya yang tersengal. Matanya menatap Reyhan yang sedang melepas pakaian di tubuhnya satu per satu. Wajah Ayunda memerah begitu melihat dada bidang suaminya lengkap dengan roti sobeknya. Wajahnya bertambah merah ketika kain terakhir yang melekat di tubuh Reyhan terlepas. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain.


Reyhan merangkak naik ke atas kasur. Dia memulai lagi cumbuannya dari awal. Ayunda memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Reyhan ketika suaminya mulai memagut bibir. Kini Ayunda sudah bisa membalas ciuman suaminya. Gairah Ayunda kembali naik ketika Reyhan kembali bermain dengan bukit kembarnya.


“Kita mulai ya Ayang,” bisik Reyhan.


“Pelan-pelan ya mas, aku takut.”


“Iya sayang.”


Ayunda menjerit tertahan ketika sesuatu merangsek masuk ke dalam dirinya. Tangisnya pecah ketika Reyhan berhasil menembus gawangnya. Reyhan menciumi wajah Ayunda, tangannya menghapus airmata yang keluar dari kedua matanya.


“Maaf.. sayang.. maaf..”


“Sakit mas hiks.. hiks..”


“Mau berhenti?”


“Jangan.. kata kak Kia abis sakit baru enaknya. Masa aku kebagian sakitnya aja, enaknya ngga.”


Ingin rasanya Reyhan menjitak kepala istrinya ini. Dalam posisi intim dan di tengah rasa sakitnya masih sempat melawak. Melihat kondisi Ayunda sudah membaik, Reyhan mulai menggerakkan tubuhnya. Ayunda memejamkan matanya, menahan rasa sakit sekaligus perih. Tapi kemudian rasa sakit itu berangsur hilang dan berganti dengan kenikmatan. Benar apa kata kakak iparnya, ini sengsara membawa nikmat.


Reyhan terus menggerakkan pinggulnya, sedang bibirnya tak henti mencium wajah, bibir, leher atau men**lum bulatan kenyal sang istri. Ayunda merasakan miliknya berkedut, dipeluknya erat punggung Reyhan saat gelombang hangat kembali menghantam dirinya. Reyhan pun hampir sampai di puncaknya. Pergerakannya semakin cepat, hingga akhirnya dia berhasil menyemburkan lahar panas di rahim Ayunda.


Reyhan membaringkan tubuhnya di samping Ayunda. Keduanya masih nampak terengah setelah pergulatan panas mereka. Dia lalu merubah posisinya menjadi menyamping kemudian menarik pinggang Ayunda hingga tubuh mereka tak berjarak. Dirapihkannya rambut Ayunda yang acak-acakan, lalu mendaratkan kecupan di keningnya.


“Makasih sayang.. I love you.”


“I love you too.”


Reyhan bangun lalu membopong Ayunda ke kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa percintaan. Ayunda mendesis ketika merasakan sakit saat menggerakkan kakinya. Reyhan kembali membopong istrinya kemudian membaringkannya di kasur. Dia sendiri ikut membaringkan tubuhnya di samping Ayunda kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.


Ayunda merapatkan tubuhnya pada Reyhan. Membenamkan wajahnya ke dada bidang suaminya. Tubuhnya terasa lelah, seperti habis lari sprint tujuh putaran. Reyhan mendekap Ayunda erat membuat sang istri cepat masuk ke alam mimpi. Dia pun mulai memejamkan matanya. Hasratnya yang menggelora sejak siang akhirnya bisa tersalurkan malam ini.


🍁🍁🍁


**Akhirnya goooolllll....


Yunda sempet²nya bikin komen nyeleneh, untung kang dokter kaga ilfil😂


Maaf ya berhubung mamake masih volos jadi adegannya juga ngga terlalu hot sampe dower, takut ngga lolos review juga🙊

__ADS_1


MP-nya udah, yg belum dukungannya nih. Wajib komen ya hehehe... like and votenya kalau masih ada boleh juga😉**


__ADS_2